Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah malam yang pekat, ketika bintang-bintang enggan menampakkan diri dan bulan bersembunyi di balik awan tebal, seorang pencari kebenaran duduk termenung di sudut kamarnya yang sunyi. Ia baru saja terlibat dalam pertengkaran sengit dengan sahabat karibnya. Kata-kata pedas telah terucap. Harga diri telah terluka. Dan kini, di dalam dadanya, ada sesuatu yang menyala-nyala. Sesuatu yang panas, yang membara, yang terus-menerus membisikkan kalimat-kalimat pembenaran: ”Engkau benar. Dialah yang salah. Engkau berhak marah. Engkau berhak membalas.”
Api itu bernama kebencian. Dan setiap manusia pernah merasakan nyalanya.
Namun, di tengah gelapnya malam dan panasnya amarah, sang pencari mendengar sebuah suara. Suara yang bukan berasal dari luar, melainkan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Suara itu melantunkan syair yang menusuk hingga ke sumsum kesadaran:
”Tidak ada kebencian yang membawa kebaikan. Orang yang menyimpan dendam adalah orang yang menyimpan kepedihan dan sungguh dengan menyimpan dendam sesungguhnya malapetakalah yang mereka harapkan. Orang yang memelihara kebencian dan dendam adalah orang yang mewarisi sifat-sifat Syaitan dan Allah tidak akan membuka pintu surga bagi orang yang memiliki sifat-sifat syaitan.”
Syair ini bukanlah puisi biasa. Ia adalah isyarah—petunjuk dari alam malakut yang turun untuk membedah hati manusia hingga ke akar-akarnya. Ia tidak hanya berbicara tentang akhlak atau etika pergaulan. Ia berbicara tentang nasib ruhani, tentang surga dan neraka yang sesungguhnya bukan hanya menanti di akhirat, tetapi sudah mulai dirasakan di dalam dada. Mari kita masuki syair ini dengan hati yang telanjang, tanpa pembelaan diri, dan biarkan ia melukai kita—sebab hanya dengan luka itu kita bisa sembuh.
Api yang Dikira Cahaya
Kalimat pertama syair ini sederhana, namun mematikan: Tidak ada kebencian yang membawa kebaikan. Betapa sering kita menipu diri sendiri dengan mengatakan, “Aku membenci karena cinta kepada kebenaran. Aku membenci karena membela agama. Aku membenci karena menegakkan keadilan.” Kita membungkus api dengan kertas bertuliskan “cahaya”, lalu kita peluk erat-erat, dan kita heran mengapa dada kita terbakar.
Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali membedah penyakit hati ini dengan pisau analisis yang sangat tajam. Beliau menjelaskan bahwa hati manusia adalah bejana. Bejana itu hanya bisa diisi oleh satu jenis cairan. Jika ia diisi dengan cinta, ia tidak bisa diisi dengan kebencian. Jika ia diisi dengan cahaya, ia tidak bisa diisi dengan kegelapan. Tidak ada kompromi. Tidak ada percampuran. Maka, setiap tetes kebencian yang kita tuangkan ke dalam hati adalah racun yang mengusir cinta dan memadamkan cahaya. Dan kebencian—dengan alasan apa pun—tidak akan pernah berubah menjadi kebaikan. Ia tetaplah racun. Ia tetaplah api.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam kitabnya yang agung Jami’ul Ushul fil Auliya’, menegaskan bahwa salah satu syarat mutlak untuk mencapai ma’rifatullah—pengenalan langsung kepada Allah—adalah hati yang saliim, hati yang selamat, hati yang tidak mengandung penyakit. Dan di antara penyakit hati yang paling mematikan, menurut beliau, adalah hiqd (dendam) dan bughd (kebencian). Penyakit ini, tulis Al-Kamasykhanawi, adalah hijab yang paling tebal. Ia menghalangi cahaya Ilahi masuk ke dalam hati, dan tanpa cahaya itu, seorang hamba akan berjalan dalam kegelapan, meskipun ia mengira sedang berjalan di atas jalan yang terang benderang.
Mengapa demikian? Karena hati adalah organ ma’rifah. Sebagaimana mata adalah organ penglihatan fisik, hati adalah organ penglihatan spiritual. Jika mata terkena debu, ia tidak bisa melihat benda-benda fisik. Jika hati terkena debu kebencian, ia tidak bisa melihat af’al Allah, ia tidak bisa melihat asma’ Allah, ia tidak bisa melihat Wajah Allah yang hadir di balik setiap peristiwa. Maka, orang yang membenci adalah orang yang buta secara spiritual. Dan dari kebutaan itulah lahir segala macam kesalahan, kezaliman, dan kehancuran.
Dendam: Racun yang Kita Minum Sendiri
Syair ini berlanjut dengan kalimat yang lebih dalam lagi: Orang yang menyimpan dendam adalah orang yang menyimpan kepedihan dan sungguh dengan menyimpan dendam sesungguhnya malapetakalah yang mereka harapkan. Kalimat ini membongkar dua lapisan kesadaran. Lapisan pertama: dendam adalah kepedihan yang disimpan. Lapisan kedua: dendam adalah harapan akan malapetaka.
Mari kita mulai dari lapisan pertama. Dendam adalah luka yang tidak diobati. Ia adalah ingatan tentang sakit hati yang terus-menerus diputar ulang, seperti rekaman kaset yang macet dan tidak bisa maju ke lagu berikutnya. Setiap kali seseorang mendendam, ia sebenarnya sedang membuka kembali luka lamanya. Ia menyentuh luka itu, ia menggaruknya, ia meneteskan air jeruk ke atasnya, dan kemudian ia berteriak, “Sakit! Sakit!”—seolah-olah yang membuatnya sakit adalah orang lain, padahal dirinyalah yang terus-menerus mengobok-obok lukanya sendiri.
Seorang sufi pernah berkata, ”Dendam adalah racun yang engkau minum dengan harapan orang lain yang akan mati.” Betapa tepat perumpamaan ini. Orang yang mendendam menyangka bahwa dendamnya akan menyakiti orang yang ia benci. Padahal, orang yang ia benci mungkin tidak tahu, tidak peduli, atau bahkan sudah lupa. Sementara si pendendam, setiap hari, setiap jam, setiap detik, meracuni dirinya sendiri dengan kepedihan yang ia simpan rapi-rapi. Ia adalah korban sekaligus algojo bagi dirinya sendiri.
Lapisan kedua lebih gelap lagi. Syair ini menyingkapkan bahwa di dalam dendam, ada harapan akan malapetaka. Ini adalah kenyataan yang paling tidak nyaman untuk diakui. Tetapi mari kita jujur: ketika kita mendendam kepada seseorang, bukankah ada bisikan kecil di dalam hati yang berkata, “Aku ingin dia menderita. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin dia jatuh, hancur, dan menyesali perbuatannya”? Bisikan ini adalah racun yang paling pekat. Ia adalah su’ al-zann (buruk sangka) yang berubah menjadi su’ al-iradah (kehendak buruk). Dan kehendak buruk terhadap sesama makhluk adalah kebalikan dari sifat al-Rahman yang seharusnya menjadi akhlak seorang mukmin.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, merekam sebuah kisah yang sangat menyentuh tentang bagaimana para wali Allah menyikapi luka. Suatu hari, seorang budak perempuan milik Imam Ali Zainal Abidin tidak sengaja menumpahkan air panas ke tubuhnya. Kulit sang Imam melepuh. Rasa sakitnya pasti luar biasa. Tetapi apa yang dilakukan oleh Imam? Ia tidak membentak, tidak memaki, tidak menyimpan dendam. Ia justru memandang budak itu dengan lembut dan berkata, “Engkau merdeka karena Allah.”
Ketika murid-muridnya bertanya, “Mengapa engkau membebaskannya, wahai Imam?” Ali Zainal Abidin menjawab dengan jawaban yang menggetarkan langit: “Aku ingin Allah membebaskanku dari api neraka, sebagaimana aku membebaskan dia dari perbudakan.” Inilah hati yang bersih. Ia tidak melihat luka sebagai alasan untuk membenci. Ia melihat luka sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah. Ia melepaskan budak itu bukan karena budak itu berhak, tetapi karena ia ingin Allah melepaskannya dari api neraka. Ia mengubah kepedihan menjadi doa, mengubah musibah menjadi rahmat, mengubah dendam menjadi pembebasan.
Warisan dari Musuh Abadi
Klimaks dari syair ini adalah peringatan yang paling keras: Orang yang memelihara kebencian dan dendam adalah orang yang mewarisi sifat-sifat Syaitan dan Allah tidak akan membuka pintu surga bagi orang yang memiliki sifat-sifat syaitan. Kalimat ini mungkin terasa sangat menakutkan. Tetapi di balik kengeriannya, ia menyimpan pelajaran yang sangat dalam.
Siapakah Syaitan? Al-Qur’an menceritakan bahwa Syaitan—yang bernama Iblis—adalah makhluk yang menolak sujud kepada Adam. Ia menolak karena istikbar, kesombongan. Ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Kesombongan ini kemudian melahirkan hasad, kedengkian. Ia dengki kepada Adam dan seluruh keturunannya. Ia bersumpah akan menyesatkan manusia, akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka, akan membuat mereka menderita sebagaimana ia menderita. Inilah asal-usul kebencian. Kebencian pertama di alam semesta lahir dari hati Iblis. Maka, setiap kali seorang manusia memelihara kebencian dan dendam, ia sedang meniru Iblis. Ia sedang mewarisi “DNA spiritual” dari musuh abadinya sendiri. Ia tidak sadar bahwa api yang ia kira sebagai senjata untuk membalas musuhnya, sebenarnya adalah rantai yang mengikatnya ke neraka. Ia mengira sedang melawan kezaliman, padahal ia sedang dibentuk menjadi serupa dengan sumber segala kezaliman.
Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menulis sebuah kalimat yang merindingkan: “Hati yang dipenuhi kebencian adalah singgasana bagi sifat-sifat iblis. Dan sebagaimana iblis terusir dari rahmat Allah, demikian pula hati yang mewarisi sifat-sifatnya akan terusir dari pintu surga.” Pintu surga yang dimaksud di sini bukan hanya pintu surga di akhirat. Ia adalah pintu ma’rifah, pintu kedekatan dengan Allah, pintu ketenangan dan kedamaian yang sudah bisa dirasakan di dunia ini. Orang yang memelihara kebencian tidak akan merasakan manisnya iman. Ia tidak akan merasakan nikmatnya munajat. Ia tidak akan merasakan sejuknya bersandar kepada Allah. Karena hatinya telah menjadi singgasana bagi musuh Allah, dan musuh Allah tidak akan pernah mengantarkan kepada Allah.
Jalan Pembebasan: Fana’ ul-Fana’
Lalu, apakah jalan keluarnya? Bagaimana kita bisa membersihkan hati dari racun kebencian dan dendam yang telah bertahun-tahun mengendap? Bagaimana kita bisa memutus rantai warisan iblis yang telah mencekik leher kita?
Syariat mengajarkan untuk memaafkan. Tarekat mengajarkan untuk bersabar. Hakikat mengajarkan untuk melihat bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Tetapi puncak dari semuanya, sebagaimana diajarkan oleh para sufi, adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap, sirna dari sirna.
Apa itu fana’? Fana’ adalah proses peleburan ego. Selama masih ada “aku”—aku yang merasa benar, aku yang merasa tersakiti, aku yang merasa berhak marah, aku yang merasa mulia—selama itu pula ada potensi kebencian. Karena kebencian lahir ketika “aku” merasa diserang. Dendam lahir ketika “aku” tidak bisa menerima bahwa ia telah dilukai. Semua penyakit hati berpusat pada satu titik: ana’iyyah, keakuan, ego. Maka, jalan yang paling radikal adalah menghancurkan ego itu sendiri. Inilah fana’. Dalam Jami’ul Ushul, Al-Kamasykhanawi menguraikan tiga tingkatan fana’.
Pertama, fana’ fi al-af’al: lenyapnya penyaksian terhadap perbuatan selain perbuatan Allah. Dalam maqam ini, seorang hamba tidak lagi melihat bahwa ada makhluk yang bertindak secara mandiri. Semua perbuatan adalah af’al Allah. Maka, kepada siapa ia akan membenci? Ia tidak bisa membenci alat yang digerakkan oleh Allah. Ia justru merenungkan: apa hikmah di balik peristiwa ini? Apa pesan yang ingin disampaikan Allah melalui orang yang menyakitiku?
Kedua, fana’ fi al-sifat: lenyapnya penyaksian terhadap sifat-sifat selain sifat Allah. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi memiliki sifat-sifat manusiawi seperti amarah, dendam, atau iri. Semua sifatnya telah lebur dalam sifat-sifat Allah. Maka, bagaimana mungkin ia membenci, jika sifat benci itu sendiri telah lenyap dari dirinya?
Ketiga, fana’ fi al-dzat: enyapnya penyaksian terhadap wujud selain Wujud Allah. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi menyaksikan dirinya ada. Maka, bagaimana mungkin “aku” yang tiada bisa membenci atau mendendam? Semua potensi kebencian telah dimusnahkan bersama dengan musnahnya ego.
Tetapi perjalanan tidak berhenti di sini. Setelah mencapai ketiga tingkatan fana’ ini, seorang hamba mungkin masih memiliki kesadaran: “Aku telah fana’. Aku telah bersih. Aku tidak lagi membenci.” Kesadaran ini adalah residu ego yang paling halus. Ia adalah ‘ujb khafi, kesombongan tersembunyi yang merasa telah mencapai maqam yang tinggi. Selama masih ada “aku” yang bangga dengan pencapaian spiritualnya, selama itu pula ada celah bagi iblis untuk masuk. Maka, diperlukan fana’ ul-fana’: penghancuran terhadap kesadaran kefanaan itu sendiri. Al-Kamasykhanawi menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi merasa bahwa “aku telah bersih dari kebencian,” karena “aku” yang merasa bersih itu telah lenyap. Ia tidak lagi berkata, “aku tidak membenci,” karena “aku” yang berkata telah tiada. Yang ada hanyalah Allah. Allah yang Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Allah yang tidak memiliki sifat benci kecuali terhadap kebatilan, dan itu pun dalam kerangka keadilan-Nya yang mutlak.
Syekh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, menulis dengan bahasa yang menggetarkan: “Fana’ adalah ketiadaanmu dalam dirimu; dan fana’ dari fana’ adalah ketiadaan pengetahuanmu tentang ketiadaanmu. Inilah baqa’ sejati, karena engkau tetap dalam Wujud al-Haqq tanpa dirimu.” Dalam konteks syair kita, fana’ ul-fana’ adalah ketika peringatan “janganlah menyimpan dendam” tidak lagi terdengar sebagai perintah dari luar, tetapi telah menjadi kenyataan dari dalam—bahkan tidak ada lagi “dalam” dan “luar”, karena semuanya adalah Dia.
Surga yang Dimulai dari Hati
Pembaca yang budiman, syair yang telah kita renungkan ini adalah cermin. Ia memantulkan kembali kepada kita, apakah ada warisan iblis di dalam dada kita. Apakah kita masih menyimpan dendam kepada seseorang? Apakah kita masih memelihara kebencian terhadap suatu kelompok? Apakah kita masih mengharapkan malapetaka bagi mereka yang pernah menyakiti kita? Jika jawabannya ya, maka mungkin kita perlu berhenti sejenak. Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: kepada siapa sebenarnya aku mewarisi sifat-sifat ini? Kepada Nabi Muhammad Saw., atau kepada Iblis?
Jalan keluar ada. Selalu ada. Selama napas masih berhembus, selama pintu taubat belum tertutup, selama matahari masih terbit dari timur, selama itu pula ada kesempatan untuk membersihkan hati. Mulailah dengan berdoa. Mintalah kepada Allah agar Dia membersihkan hatimu dari kebencian, karena engkau sendiri tidak mampu melakukannya. Mintalah kepada-Nya agar Dia melepaskan rantai dendam yang membelenggu lehermu, karena engkau sendiri tidak memiliki kuncinya.
Dan kemudian, melangkahlah ke dalam perjalanan panjang yang bernama fana’. Perjalanan yang dimulai dengan memaafkan, dilanjutkan dengan menyaksikan af’al Allah di balik setiap peristiwa, dan berujung pada peleburan total ego dalam Samudra Wujud Ilahi. Di ujung perjalanan itu, tidak ada lagi “yang membenci” dan “yang dibenci.” Yang ada hanyalah Allah, al-Wadud, Yang Maha Mencintai, yang membuka pintu surga-Nya untuk hati yang telah bersih dari segala sesuatu selain Dia.
Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang membersihkan hati sebelum ajal menjemput, yang melepaskan dendam sebelum pintu taubat tertutup, dan yang kelak dipanggil dengan panggilan mesra: “Masuklah ke dalam surga-Ku”—surga yang pintunya terbuka lebar bagi mereka yang di dalam hatinya tidak ada kebencian, tidak ada dendam, tidak ada warisan iblis, tidak ada apa pun selain Aku.
Wallahu a’lam bi al-shawab.


