Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah malam yang hening, ketika langit bertabur bintang dan bumi terlelap dalam gelap, seorang pencinta duduk sendiri di tepi danau. Airnya tenang, memantulkan langit dengan sempurna, seakan-akan ada dua semesta yang saling berhadapan: satu di atas, satu di bawah. Ia merenungkan pantulan itu. Bukankah dirinya juga seperti bayangan di atas air? Tampak ada, tetapi tidak memiliki wujud sendiri. Bergerak, tetapi digerakkan. Berkehendak, tetapi kehendaknya hanyalah gema dari Kehendak yang lebih besar.
Di tengah keheningan itu, sebuah syair kuno bergetar di dalam dadanya—syair yang bukan sekadar untaian kata, melainkan peta menuju samudra makna:
”DIA adalah ADA. Dengan keadaan-Nya yang ADA, Dia mampu menciptakan segala sesuatu yang awalnya tidak ada menjadi ada. Dan diciptakan-Nya dari sesuatu yang ada dalam keadaan yang tiada. Dengan mengadakan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada dengan keadaan yang tiada, artinya Sang ADA adalah Dzat Yang Kuasa dalam mencipta, maka DIA adalah Sang Pencipta. Mustahil bagi Sang Pencipta dalam mencipta tanpa ada arah tujuan, maka DIA wajib berencana sebelum mencipta. Rencana dan Tujuan Sang Pencipta mencipta adalah ‘Agar Ciptaan-Nya berencana untuk mengerti pada-Nya’, dengan mengerti kepada-Nya maka ‘Ciptaan-Nya dapat beribadah kepada-Nya’, dan itulah tujuan yang dikehendaki-Nya. Perbedaan Kehendak Sang Pencipta (Allah) dengan kehendak yang dicipta (makhluk) adalah ‘Kehendak Sang Pencipta bersifat Qadim (tetap), sedang kehendak makhluk bersifat berubah-ubah’. Di dalam rencana Allah, tidak ada rencana makhluk, sedang di dalam rencana makhluk terdapat rencana Allah. Di dalam keinginan Allah tidak ada keinginan makhluk, sedang di dalam keinginan makhluk terdapat keinginan Allah. Di dalam kehendak Allah, tidak ada kehendak makhluk, sedang di dalam kehendak makhluk terdapat kehendak Allah. Keinginan manusia bukan keinginan Allah, tapi keinginan Allah ada bersama keinginan manusia. Rencana dan kehendak manusia, bukan rencana dan kehendak Allah, sedang rencana dan kehendak Allah ada bersama rencana dan kehendak manusia.”
Syair ini adalah isyarah—petunjuk halus—yang memadukan ontologi, teleologi, dan dialektika kehendak dalam untaian yang begitu padat. Ia bukan sekadar penjelasan tentang bagaimana Allah menciptakan alam; ia adalah peta bagi setiap musafir ruhani untuk memahami posisinya di hadapan Kehendak Mutlak, dan akhirnya melebur ke dalam-Nya.
DIA adalah ADA: Fondasi yang Mengguncang Eksistensi
”DIA adalah ADA.”
Tiga kata ini adalah fondasi dari segala sesuatu. Ia begitu sederhana, tetapi mengguncang seluruh struktur realitas. Jika DIA adalah ADA, maka segala sesuatu selain DIA adalah tiada. Kita, alam semesta, bintang-bintang, galaksi—semuanya pada hakikatnya adalah ‘adam (ketiadaan). Kita tampak ada, tetapi keberadaan kita hanyalah pinjaman dari Sang ADA. Seperti bayangan di atas air: ia tampak, tetapi tidak memiliki substansi sendiri. Ketika cahaya berpindah, bayangan itu lenyap tanpa bekas.
Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi menulis bahwa al-Wujud adalah sifat Allah yang paling fundamental. Semua sifat lainnya—al-Qadir, al-‘Alim, al-Murid—hanya bisa dipahami setelah al-Wujud ditegakkan. Beliau menekankan bahwa seorang salik harus menyaksikan dengan bashirah (mata batin) bahwa wujud dirinya dan seluruh alam adalah ‘ariyah (pinjaman) dari al-Wujud al-Haqqi. Ketika penyaksian ini telah meresap sempurna, maka runtuhlah seluruh klaim kepemilikan. Bagaimana mungkin aku merasa memiliki sesuatu, jika aku sendiri tidak memiliki diriku? Bagaimana mungkin aku sombong, jika aku hanyalah bayangan?
”Dengan keadaan-Nya yang ADA, Dia mampu menciptakan segala sesuatu yang awalnya tidak ada menjadi ada. Dan diciptakan-Nya dari sesuatu yang ada dalam keadaan yang tiada.”
Bait ini menguraikan misteri penciptaan. Allah menciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihilo), tetapi juga dari “sesuatu yang ada dalam keadaan yang tiada.” Apa maksudnya? Dalam kosmologi Ibn ‘Arabi, ini merujuk pada a’yan tsabitah—entitas-entitas permanen yang “ada” dalam ilmu Allah sebagai potensi, tetapi “tiada” dalam realitas eksternal. Sebelum penciptaan, segala sesuatu telah “ada” dalam pengetahuan-Nya, seperti sebuah lukisan yang telah sempurna dalam imajinasi pelukis sebelum ia menyentuh kanvasnya. Penciptaan adalah tajalli—penampakan—dari potensi yang tersembunyi di dalam ilmu-Nya ke dalam alam nyata.
Secara psikologis, ini bisa direnungkan sebagai hubungan antara alam bawah sadar dan kesadaran. Di dalam alam bawah sadar kita, terdapat potensi-potensi, ingatan-ingatan, dan dorongan-dorongan yang “ada” tetapi “tiada” dalam kesadaran. Ia ada sebagai kemungkinan, tetapi belum termanifestasi. Ketika potensi itu muncul ke permukaan—melalui mimpi, melalui tindakan, melalui kata-kata—ia menjadi “ada” dalam realitas. Tetapi ia selalu sudah ada sebelumnya, dalam lipatan-lipatan jiwa yang gelap.
Penciptaan Memiliki Tujuan: Mengerti dan Beribadah
”Mustahil bagi Sang Pencipta dalam mencipta tanpa ada arah tujuan, maka DIA wajib berencana sebelum mencipta.”
Allah bukanlah pencipta yang main-main. Ia tidak menciptakan alam semesta sebagai eksperimen kosmis atau hiburan sesaat. Ia menciptakan dengan rencana, dengan tujuan, dengan telos. Al-Qur’an menegaskan: “Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main” (QS. Al-Anbiya’: 16).
”Rencana dan Tujuan Sang Pencipta mencipta adalah ‘Agar Ciptaan-Nya berencana untuk mengerti pada-Nya’, dengan mengerti kepada-Nya maka ‘Ciptaan-Nya dapat beribadah kepada-Nya’, dan itulah tujuan yang dikehendaki-Nya.”
Inilah inti teleologis syair ini. Tujuan penciptaan dirumuskan dalam dua tahap yang saling terkait: mengerti (ma’rifah) dan beribadah (‘ibadah). Urutannya sangat penting. Ma’rifah adalah fondasi; ibadah adalah bangunannya. Ibadah tanpa ma’rifah adalah ritual kosong—gerakan tanpa ruh, kata-kata tanpa makna. Tetapi ma’rifah tanpa ibadah adalah pengetahuan yang mandul—cahaya yang tidak menerangi.
Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ merekam perkataan Dzun Nun al-Mishri: “Orang yang mengenal Allah, maka ia akan beribadah kepada-Nya dengan cinta. Dan orang yang beribadah tanpa ma’rifah, maka ibadahnya hanyalah beban yang berat.” Ma’rifah adalah cahaya yang menerangi ibadah. Tanpanya, shalat hanyalah gerakan naik-turun, puasa hanyalah lapar dan dahaga, zakat hanyalah transaksi. Tetapi dengan ma’rifah, setiap sujud adalah pertemuan, setiap lapar adalah kerinduan, setiap pemberian adalah pelukan.
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa ma’rifatullah adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual. Seorang salik yang telah mencapai ma’rifah akan menyaksikan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Ibadahnya bukan lagi kewajiban yang memberatkan, melainkan kebutuhan yang tidak bisa ditahan—seperti napas, seperti detak jantung. Ia beribadah bukan karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena Allah layak disembah.
Dalam perspektif psikologi eksistensial, kebutuhan akan makna dan tujuan adalah kebutuhan fundamental manusia. Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, menulis bahwa manusia bisa bertahan dalam penderitaan apa pun selama ia memiliki why—alasan untuk hidup. Syair ini memberikan why yang paling fundamental: kita diciptakan untuk mengenal dan beribadah kepada Allah. Di luar itu, semua tujuan adalah sekunder, semua makna adalah cabang dari Makna Utama.
Kehendak Qadim dan Kehendak Hadits: Jurang yang Tak Terjembatani
”Perbedaan Kehendak Sang Pencipta (Allah) dengan kehendak yang dicipta (makhluk) adalah ‘Kehendak Sang Pencipta bersifat Qadim (tetap), sedang kehendak makhluk bersifat berubah-ubah’.”
Bait ini menyingkapkan jurang ontologis antara Kehendak Allah dan kehendak manusia. Kehendak Allah bersifat qadim—tidak bermula, tidak berubah, tidak bergantung pada apa pun. Ia adalah kehendak yang mutlak, yang darinya seluruh alam semesta mengalir. Sebaliknya, kehendak manusia bersifat hadits—baru, berubah-ubah, dipengaruhi oleh suasana hati, oleh hormon, oleh lingkungan, oleh bisikan setan.
Siapa yang tidak mengenali perubahan kehendak ini dalam dirinya sendiri? Pagi hari kita bertekad untuk bangun malam, tetapi ketika alarm berbunyi, kita mematikannya dan kembali terlelap. Hari ini kita berniat untuk berkata jujur, tetapi besok, ketika ada kepentingan, kita tergoda untuk berdusta. Kehendak kita seperti air: ia mengambil bentuk wadah yang menampungnya. Jika wadahnya adalah nafsu, ia menjadi keruh. Jika wadahnya adalah iman, ia menjadi jernih. Tetapi ia tetaplah berubah-ubah, tidak stabil, tidak bisa diandalkan.
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa istiqamah adalah menyelaraskan kehendak pribadi dengan Kehendak Allah. Orang yang istiqamah tidak lagi diombang-ambingkan oleh perubahan suasana hati. Ia teguh dalam satu arah: Allah. Tetapi mencapai istiqamah bukanlah perkara mudah. Ia memerlukan mujahadah—perjuangan batin yang terus-menerus melawan gelombang kehendak yang selalu berubah.
Paradoks Kehendak: Tidak Ada dan Ada Secara Bersamaan
”Di dalam rencana Allah, tidak ada rencana makhluk, sedang di dalam rencana makhluk terdapat rencana Allah. Di dalam keinginan Allah tidak ada keinginan makhluk, sedang di dalam keinginan makhluk terdapat keinginan Allah.”
Inilah inti metafisika kehendak yang paling rumit dan paling indah. Ia tampak paradoksal, tetapi sesungguhnya sangat presisi. Rencana Allah bersifat mutlak dan mandiri. Ia tidak membutuhkan dan tidak bergantung pada rencana siapa pun. Oleh karena itu, di dalam Rencana Allah, tidak ada rencana makhluk—artinya, Rencana Allah tidak terpengaruh, tidak tercampur, dan tidak bergantung pada rencana makhluk. Allah tidak perlu “berkonsultasi” dengan siapa pun. Ia tidak perlu “menyesuaikan” rencana-Nya dengan keinginan makhluk. Rencana-Nya telah sempurna sejak zaman azali.
Namun, di dalam rencana makhluk, terdapat Rencana Allah. Artinya, setiap rencana yang dibuat oleh makhluk hanya bisa terjadi jika ia berada dalam bingkai Rencana Allah. Tidak ada satu pun rencana makhluk yang bisa terwujud tanpa izin dan kehendak-Nya. Engkau boleh merencanakan apa saja, tetapi yang terjadi hanyalah apa yang telah direncanakan Allah.
Ini adalah tauhid af’al dalam bentuknya yang paling murni: tidak ada pelaku sejati kecuali Allah. Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis bahwa seluruh kejadian di alam semesta adalah tajalli dari Kehendak Allah. Makhluk “berkehendak,” tetapi kehendaknya itu sendiri adalah ciptaan Allah. Gerakan tanganmu, detak jantungmu, bahkan bisikan hatimu—semuanya terjadi dalam medan Kehendak-Nya.
Dalam perspektif psikoanalisis Lacanian, subjek manusia bukanlah tuan atas hasratnya sendiri. Hasrat manusia adalah desire of the Other—hasrat yang dibentuk oleh bahasa, budaya, dan struktur simbolik yang melampaui individu. Kita mengira bahwa kita menginginkan sesuatu karena pilihan bebas kita, tetapi sebenarnya hasrat kita telah dibentuk oleh kekuatan-kekuatan di luar kesadaran kita. Dalam kerangka tauhid, the Other yang sesungguhnya adalah Allah. Keinginan manusia selalu berada dalam medan Keinginan Allah, sebagaimana gelombang selalu berada dalam medan samudra.
Keinginan Bersama: Transendensi dan Imanensi
”Keinginan manusia bukan keinginan Allah, tapi keinginan Allah ada bersama keinginan manusia.”
Bait ini adalah puncak keseimbangan antara tanzih (transendensi) dan tasybih (imanensi). “Keinginan manusia bukan keinginan Allah”—ini adalah penegasan transendensi. Allah tidak sama dengan makhluk. Kehendak-Nya tidak identik dengan kehendak kita. Jangan pernah mengira bahwa apa yang kita inginkan otomatis adalah apa yang Allah inginkan. Jangan pernah memakai nama Allah untuk melegitimasi ambisi pribadi. Allah melampaui segala sesuatu.
Tetapi ”keinginan Allah ada bersama keinginan manusia”—ini adalah penegasan imanensi. Allah tidak jauh. Ia hadir, mengetahui, dan meliputi setiap keinginan dan rencana kita. Tidak ada satu pun keinginan yang muncul di dalam hati yang luput dari pengetahuan-Nya. Tidak ada satu pun rencana yang kita susun yang berada di luar jangkauan-Nya. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al-Hadid: 4).
Ma’iyyah (kebersamaan) adalah konsep kunci dalam tasawuf. Tetapi kebersamaan ini bukan berarti pencampuran antara Zat Allah dan makhluk. Ia adalah kebersamaan dalam ilmu, kuasa, dan kehendak. Allah hadir dalam setiap detik kehidupan kita, mengetahui setiap rencana kita, dan mengizinkan atau menolaknya sesuai dengan Hikmah-Nya. Kesadaran akan ma’iyyah ini melahirkan ihsan—engkau beribadah seakan-akan melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.
Puncak Perjalanan: Fana’ ul-Fana’ dalam Kehendak
Bagaimana semua pemahaman ini bermuara pada fana’ ul-fana’? Mari kita lacak tahapannya.
Tahap pertama adalah fana’ al-iradah—peleburan kehendak pribadi. Seorang salik yang memahami perbedaan antara Kehendak Qadim dan kehendak hadits akan mulai melatih dirinya untuk melepaskan keinginannya sendiri. Ia tidak lagi memaksakan kehendaknya, tetapi berusaha menyelaraskan dirinya dengan apa yang dikehendaki Allah. Ini adalah maqam taslim—penyerahan diri. Ia berkata dalam hatinya: _”Ya Allah, bukan keinginanku yang harus terjadi, tetapi keinginan-Mu.”_
Tahap kedua adalah fana’ fi al-iradah—larut dalam Kehendak Ilahi. Pada tahap ini, sang hamba tidak hanya menyerahkan kehendaknya, tetapi juga menyaksikan bahwa kehendaknya sendiri tidak pernah ada secara mandiri. Ia melihat bahwa setiap keinginan yang muncul dalam dirinya—bahkan keinginan untuk taat, untuk shalat, untuk berpuasa—adalah ciptaan Allah. Ia hanyalah alat, mazhhar (tempat penampakan) dari Kehendak Ilahi.
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa pada tahap ini, seorang hamba menyadari bahwa “di dalam keinginan makhluk terdapat keinginan Allah.” Ia tidak lagi berkata “aku ingin shalat,” tetapi “Allah menginginkan aku untuk shalat melalui diriku.” Ia tidak lagi berkata “aku ingin bertaubat,” tetapi “Allah menginginkan aku untuk kembali kepada-Nya.”
Tahap ketiga adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap. Setelah menyaksikan bahwa keinginannya adalah tajalli dari Keinginan Allah, masih ada residu yang sangat halus: “aku” yang menyaksikan, “aku” yang menyadari, “aku” yang merasa telah fana’. Residu ini adalah ‘ujb khafi—kesombongan tersembunyi yang paling sulit dideteksi.
Dalam fana’ ul-fana’, residu ini dihapuskan. Al-Kamasykhanawi menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Tidak ada lagi “aku” yang menginginkan, “aku” yang menyerahkan, “aku” yang menyaksikan. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah al-Haqq yang berkehendak melalui hamba-Nya.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ merekam perkataan seorang wali yang mencapai maqam ini: “Aku tidak lagi memiliki keinginan. Jika aku berpuasa, itu karena Dia menginginkanku berpuasa. Jika aku berbuka, itu karena Dia menginginkanku berbuka. Aku hanyalah bayangan yang bergerak mengikuti gerak Pemilik bayangan.”
Pada titik ini, bait ”Keinginan manusia bukan keinginan Allah, tapi keinginan Allah ada bersama keinginan manusia” mencapai realisasinya yang paling sempurna. Keinginan manusia telah larut sepenuhnya dalam Keinginan Allah. Tidak ada lagi dualitas antara “aku ingin” dan “Dia ingin.” Yang ada hanyalah Keinginan Tunggal yang mengalir melalui hamba yang telah kosong dari dirinya sendiri.
Implikasi Psikospiritual: Dari Kecemasan ke Ketenangan
Syair ini memiliki implikasi yang sangat mendalam bagi kehidupan modern. Banyak kecemasan, stres, dan kekecewaan yang kita alami berakar pada satu ilusi: bahwa kitalah yang memegang kendali. Kita menyusun rencana dengan detail, dan ketika rencana itu gagal, kita frustrasi. Kita menginginkan sesuatu dengan sangat kuat, dan ketika keinginan itu tidak terpenuhi, kita kecewa.
Syair ini menawarkan jalan keluar yang radikal: lepaskan ilusi kontrol. Sadarilah bahwa rencanamu hanya akan terwujud jika berada dalam Rencana Allah. Keinginanmu hanya akan tercapai jika selaras dengan Keinginan-Nya. Ketenangan sejati bukanlah ketika semua rencana berjalan lancar, melainkan ketika engkau menyerahkan seluruh rencana kepada Allah.
Inilah tawakal dan ridha. Orang yang bertawakal tidak berhenti berusaha, tetapi hatinya tidak terikat pada hasil. Ia bekerja, tetapi ia tahu bahwa yang menentukan adalah Allah. Ia merencanakan, tetapi ia siap jika rencananya diubah oleh Rencana yang lebih besar. Ia menginginkan, tetapi ia rela jika keinginannya ditolak oleh Keinginan yang lebih bijaksana.
Penutup: Kembali ke Bayangan di Atas Air
Lelaki yang duduk di tepi danau itu akhirnya bangkit. Malam semakin larut, dan bintang-bintang kini mencapai puncak keindahannya. Ia menatap bayangannya di atas air untuk terakhir kalinya. Bayangan itu masih di sana—tampak, tetapi tidak memiliki wujud sendiri. Bergerak, tetapi digerakkan.
Ia tersenyum. Ia mengerti sekarang. Seluruh hidupnya adalah bayangan di atas air Kehendak Ilahi. Rencananya hanyalah riak kecil di permukaan Samudra Rencana Allah. Keinginannya hanyalah setetes air yang menguap di bawah sinar Keinginan-Nya. Dan justru dalam kesadaran itu, ia menemukan kebebasan yang paling aneh: kebebasan dari keharusan untuk menjadi “seseorang,” kebebasan dari beban untuk mengendalikan segalanya.
“DIA adalah ADA.” Kalimat itu kini bukan lagi sekadar konsep. Ia adalah kenyataan yang meliputi seluruh dirinya. Dan dalam ADA itu, ia rela melebur. Seperti bayangan yang lenyap ketika cahaya berpindah. Seperti tetesan yang kembali ke samudra.
Wallahu a’lam bi al-shawab.


