SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menyiapkan program beasiswa bagi 1.100 santri dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur pada tahun 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pesantren sekaligus memperluas diversifikasi profesi santri berbasis akademik dan teknologi.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, program beasiswa santri telah berjalan sejak era Imam Utomo dan terus dikembangkan hingga saat ini.
“Ini kita mencoba terus menguatkan kualitas SDM di Jawa Timur, diversifikasi akademik dengan memberikan akses para santri dari berbagai pondok pesantren,” ujar Khofifah saat launching Beasiswa Pemprov Jatim bersama Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur, Rabu (10/6).
Menurutnya, program tersebut dimulai sejak 2006 pada masa Imam Utomo, kemudian berlanjut pada era Soekarwo dengan beasiswa jenjang S1. Pada periode kepemimpinannya, program diperluas hingga S2, S3, serta beasiswa ke Universitas Al-Azhar.
Pada tahun 2026, Pemprov Jatim membuka beasiswa untuk jenjang S1, S2, dan S3 dengan total kuota 1.100 penerima. Tahun ini juga menghadirkan jalur baru berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Economics, and Mathematics) guna memperluas peluang profesi santri di bidang akademik dan teknologi.
Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur Abdul Halim Subahar menjelaskan, kuota beasiswa STEM mencapai 60 orang, terdiri dari 40 penerima jenjang S1 dan 20 penerima jenjang S2.
Selain itu, beasiswa reguler tetap dibuka dengan kuota masing-masing 20 orang untuk S1, 15 orang untuk S2, dan 10 orang untuk S3. “Total keseluruhan mencapai 1.100 penerima, termasuk kuota 30 orang untuk mahasiswa S2 di Al-Azhar,” jelasnya.
Ia menambahkan, jumlah perguruan tinggi yang bekerja sama dalam program ini terus bertambah. Tahun ini tercatat sebanyak 64 perguruan tinggi terlibat. “Secara keseluruhan sejak 2019 hingga sekarang sudah menjangkau 150 perguruan tinggi, termasuk kerja sama dengan Al-Azhar yang dimulai akhir 2021,” imbuhnya.
Untuk beasiswa ke Al-Azhar, calon penerima harus melalui seleksi ketat. Termasuk penguasaan kitab kuning, kemampuan bahasa Arab, serta hafalan Alquran sesuai jenjang pendidikan. “Untuk S1 minimal hafal 5 juz, sedangkan S2 minimal 15 juz dan ditargetkan lulus dengan 30 juz. Artinya lulusan S2 Al-Azhar dari program ini diharapkan menjadi hafiz,” pungkasnya.(*)


