Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)-
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah surau kecil di pinggiran kota, seorang lelaki duduk sendiri di atas sajadah yang mulai memudar warnanya. Lampu minyak di sudut ruangan berkedip pelan, menari mengikuti angin malam yang menyusup dari celah dinding. Ia baru saja selesai shalat. Tetapi ia belum beranjak. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya, sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia jawab dengan lisan.
Ia ingin berserah diri kepada Allah. Ia ingin menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. Tetapi ketika ia mencoba melakukannya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa belum siap. Ia merasa masih ada yang tersisa di dalam dirinya. Sesuatu yang belum bersih. Sesuatu yang belum suci.
Lelaki itu kemudian teringat sebuah teks yang pernah didengarnya dari seorang guru tua di pesantren, bertahun-tahun silam. Teks itu kini kembali bergema di dalam dadanya, pelan namun menghujam:
”Apabila engkau berkeinginan berserah diri kepada Allah, apakah engkau sudah persiapkan dirimu tentang apa yang engkau pikirkan dan apa yang engkau inginkan? Bukankah menyerahkan diri itu harus bersih, dan harus dalam keadaan suci? Bukankah bersih itu adalah bersih dari segala debu yang menempel pada tubuhmu, pikiranmu, dan nafsumu? Bukankah keadaan suci itu adalah menjaga kesucian hatimu dari niat dan keinginan semu? Bukankah niat dan keinginan semu itu hanya untuk menyenangkan dirimu? Bukankah berserah diri itu juga harus berani mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu? Bukankah di dalam berserah diri itu engkau harus bersikap jujur pada dirimu, pada sekelilingmu, dan pada Tuhanmu? Bukankah berserah diri itu engkau harus membawa diri sebagai abdi Allah? Bukankah dalam berserah diri engkau harus mengakui hanya Allah tempat berserah diri? Maka bersihkan dan sucikan dirimu ketika mau menghadap Tuhanmu.”
Teks ini bukan sekadar nasihat tentang kepasrahan. Ia adalah isyarat, petunjuk halus dari alam malakut, yang membedah anatomi taslim sebagai proses penyucian total. Ia menegaskan bahwa berserah diri bukanlah tindakan pasif yang dilakukan tanpa persiapan. Berserah diri adalah tindakan aktif yang menuntut kesiapan, kebersihan, kesucian, tanggung jawab, dan kejujuran.
Kesiapan yang Diperiksa
Bait pertama teks itu langsung menghunjam: ”Apakah engkau sudah persiapkan dirimu tentang apa yang engkau pikirkan dan apa yang engkau inginkan?”
Pertanyaan ini bukan pertanyaan retoris yang bisa dijawab dengan anggukan. Ia adalah pertanyaan yang menuntut pemeriksaan mendalam. Berserah diri kepada Allah bukanlah tindakan spontan yang dilakukan tanpa persiapan. Ia menuntut kesadaran tentang apa yang kita pikirkan dan apa yang kita inginkan.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa syarat pertama bagi seorang salik, penempuh jalan spiritual, adalah tashfiq al-niyyah, pembersihan niat. Tanpa niat yang bersih, seluruh perjalanan spiritual akan sia-sia. Niat adalah fondasi. Jika fondasinya rusak, bangunan di atasnya akan runtuh, sebagaimana bangunan yang didirikan di atas pasir akan roboh ketika badai datang.
Lelaki di surau itu mulai memeriksa pikirannya. Ia mulai mengakui bahwa pikirannya masih dipenuhi oleh ambisi duniawi. Ia masih memikirkan jabatan yang ingin ia raih. Ia masih memikirkan harta yang ingin ia kumpulkan. Ia masih memikirkan pujian yang ingin ia terima. Semua itu masih ada di dalam pikirannya. Dan semua itu membuatnya belum siap untuk berserah diri.
Ia juga mulai memeriksa keinginannya. Ia mulai mengakui bahwa keinginannya masih bercampur dengan nafsu. Ia masih ingin dipuji. Ia masih ingin dihormati. Ia masih ingin menjadi pusat perhatian. Semua itu masih ada di dalam keinginannya. Dan semua itu membuatnya belum siap untuk berserah diri.
Debu yang Tak Selalu Terlihat
Teks itu melanjutkan: “Bukankah menyerahkan diri itu harus bersih, dan harus dalam keadaan suci? Bukankah bersih itu adalah bersih dari segala debu yang menempel pada tubuhmu, pikiranmu, dan nafsumu?”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar membedakan antara thaharah al-zahir, kesucian lahir, dan thaharah al-bathin, kesucian batin. Kesucian lahir adalah bersuci dengan air. Kesucian batin adalah bersuci dengan taubat, istighfar, dan dzikir. Orang yang berserah diri harus suci secara lahir dan batin. Tidak cukup hanya bersih tubuhnya, jika pikirannya masih kotor. Tidak cukup hanya bersih pikirannya, jika nafsunya masih liar.
Bersih dari debu yang menempel pada tubuh berarti menjaga kebersihan fisik, mandi, berwuduk, memotong kuku, membersihkan gigi. Ini adalah bentuk penghormatan kepada diri sendiri dan kepada Allah. Orang yang menghadap raja dunia saja berdandan rapi, apalagi menghadap Raja Diraja.
Bersih dari debu yang menempel pada pikiran berarti membersihkan pikiran dari prasangka, keraguan, dan pikiran negatif. Pikiran yang kotor akan menghasilkan perbuatan yang kotor. Pikiran yang penuh prasangka akan menghasilkan hubungan yang penuh konflik. Pikiran yang penuh keraguan akan menghasilkan iman yang goyah.
Bersih dari debu yang menempel pada nafsu berarti membersihkan nafsu dari keinginan rendah yang menjauhkan dari Allah. Nafsu yang kotor akan menghasilkan perilaku yang kotor. Nafsu yang penuh keserakahan akan menghasilkan korupsi. Nafsu yang penuh kesombongan akan menghasilkan kezaliman.
Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam menulis bahwa manusia adalah mazhar, tempat penampakan dari Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Jika mazhar itu kotor, maka pantulan Cahaya Ilahi akan terdistorsi. Maka, kebersihan adalah syarat untuk menjadi cermin yang jernih. Cermin yang kotor tidak bisa memantulkan wajah dengan jelas. Hati yang kotor tidak bisa memantulkan kebenaran dengan jelas.
Debu paling sulit dikenali sering bukan keburukan yang terang-terangan, melainkan kepentingan diri yang mengenakan pakaian kebajikan. Kita menolong, tetapi tersinggung ketika tidak disebut. Kita memberi, tetapi mengingat terus siapa yang belum membalas. Kita mengalah, tetapi diam-diam mengumpulkan bukti bahwa diri kitalah yang paling mulia. Karena itu, pembersihan batin tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak bahasa kesalehan. Ia membutuhkan keberanian bertanya, apakah tindakan ini sungguh ditujukan kepada kebaikan, atau sedang dipakai untuk merawat gambaran tentang diri.
Niat Semu dan Narsisisme Spiritual
Teks itu melanjutkan: ”Bukankah keadaan suci itu adalah menjaga kesucian hatimu dari niat dan keinginan semu? Bukankah niat dan keinginan semu itu hanya untuk menyenangkan dirimu?”
Ini adalah inti dari seluruh perjalanan. Kesucian hati adalah menjaga hati dari niat dan keinginan semu. Niat semu adalah niat yang tidak ikhlas, yang bercampur dengan pamrih. Keinginan semu adalah keinginan yang tidak selaras dengan ridha Allah.
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa ikhlas adalah memurnikan niat hanya untuk Allah. Orang yang beribadah dengan niat semu, meskipun amalnya tampak besar, sejatinya sedang menyembah egonya sendiri. Ia shalat bukan karena Allah, tetapi karena ingin dipuji sebagai orang saleh. Ia bersedekah bukan karena Allah, tetapi karena ingin dianggap dermawan. Ia berpuasa bukan karena Allah, tetapi karena ingin disebut sebagai ahli ibadah.
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa para salaf sangat waspada terhadap nafsu. Mereka berpuasa, berjaga malam, dan berdzikir untuk menundukkan nafsu. Mereka memahami bahwa nafsu adalah musuh terbesar yang bersemayam di dalam diri. Musuh dari luar bisa dihindari, tetapi musuh dari dalam tidak bisa dilarikan.
Dari sudut psikoanalisis, manusia tidak selalu transparan terhadap dirinya sendiri. Freud menunjukkan bahwa ada jarak antara alasan yang diucapkan dan dorongan yang bekerja di alam bawah sadar. Carl Jung menyebut sisi gelap yang tidak disadari sebagai shadow, bayang-bayang. Sebelum seseorang mencapai keutuhan diri, ia harus berani berkonfrontasi dengan bayang-bayangnya. Dalam konteks keberagamaan, seringkali kita mengklaim telah berserah diri, padahal di alam bawah sadar, ego sedang melakukan kamuflase. Kita berserah bukan demi Tuhan, melainkan demi kenyamanan psikologis, demi lari dari kecemasan hidup, atau demi mengamankan kavling di surga. Inilah yang disebut sebagai narsisisme spiritual.
Psikologi kontemporer menyebut gejala ini sebagai spiritual bypassing, yaitu memakai bahasa spiritual untuk melompati persoalan emosional yang belum dihadapi. Rasionalisasi bergerak halus, ini sudah takdir, menjadi alasan untuk tidak memperbaiki apa pun. Maka, sebelum menyebut nama kepasrahan, kita diajak mengenali siapa yang masih ingin menjadi penguasa.
Keberanian Mempertanggungjawabkan
Teks itu melanjutkan: ”Bukankah berserah diri itu juga harus berani mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu?”
Berserah diri bukanlah melarikan diri dari tanggung jawab. Sebaliknya, berserah diri adalah mengambil tanggung jawab penuh atas segala perbuatan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Orang yang berserah diri bukanlah orang yang lari dari tanggung jawab, melainkan orang yang berani menghadapi pertanggungjawaban.
Al-Qur’an menegaskan: ”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra’: 36). Setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap ucapan, setiap pandangan, setiap langkah, semuanya akan dihisab.
Ini pagar terhadap fatalisme. Banyak orang mengira tawakal adalah berhenti berusaha. Nabi mengoreksinya dalam riwayat at-Tirmidzi tentang seorang Arab Badui yang bertanya apakah untanya dilepas begitu saja sambil bertawakal. Jawabannya, ikat dulu untanya, lalu bertawakallah. Sebab ditunaikan, hasil diserahkan.
Lelaki di surau itu mulai mengakui bahwa selama ini ia telah lari dari tanggung jawab. Ia menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Ia menyalahkan takdir atas kemiskinannya. Ia menyalahkan lingkungan atas keburukannya. Ia tidak pernah mengakui bahwa kesalahan itu adalah kesalahannya sendiri. Ia tidak pernah berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dan dalam pengakuan itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasakan bebannya terangkat. Mengapa. Karena tanggung jawab membebaskan. Selama ia menyangkal kesalahannya, ia terikat oleh kesalahan itu. Ia harus terus menutupi, terus berbohong, terus berpura-pura. Tetapi ketika ia mengakui, ia terbebas. Ia tidak perlu lagi menutupi apa pun. Ia bisa berdiri di hadapan Allah dengan jiwa yang telanjang.
Kejujuran Tiga Arah
Teks itu melanjutkan: ”Bukankah di dalam berserah diri itu engkau harus bersikap jujur pada dirimu, pada sekelilingmu, dan pada Tuhanmu?”
Berserah diri menuntut kejujuran tiga arah. Kejujuran kepada diri adalah mengakui kelemahan dan kesalahan. Kejujuran kepada sesama adalah tidak menipu dan tidak mengkhianati. Kejujuran kepada Tuhan adalah tidak berpura-pura dalam beribadah.
Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: ”Kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Dan dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka” (HR. Bukhari dan Muslim). Kejujuran adalah fondasi dari seluruh perjalanan spiritual. Tanpa kejujuran, seluruh perjalanan spiritual akan sia-sia.
Al-Qusyairi dalam Al-Risalah al-Qusyairiyyah menempatkan shidq, kejujuran, sebagai tiang bagi hampir semua maqam. Jujur kepada diri berarti tidak menipu diri tentang motif, kelemahan, dan dosa. Ini yang tersulit, sebab penipu dan yang tertipu adalah orang yang sama. Jujur kepada sekeliling berarti menjaga hak sesama tanpa topeng kesalehan. Kita tidak bisa mengaku berserah kepada Allah sambil menindas pegawai, menunda gaji, atau memanipulasi laporan. Jujur kepada Tuhan berarti hadir sebagaimana adanya, tanpa dandanan ritual.
Lelaki di surau itu mulai jujur kepada dirinya sendiri. Ia mulai mengakui bahwa ia bukanlah orang yang saleh. Ia bukanlah orang yang sabar. Ia bukanlah orang yang ikhlas. Ia hanya orang biasa yang penuh kekurangan. Dan dalam kejujuran itu, ia merasakan kedamaian. Mengapa. Karena kejujuran melahirkan kedamaian. Orang yang jujur tidak perlu menyembunyikan apa pun. Ia bisa berdiri di hadapan Allah dengan jiwa yang terbuka.
Abdi Allah dan Cermin yang Tidak Memiliki Cahaya
Teks itu melanjutkan: ”Bukankah berserah diri itu engkau harus membawa diri sebagai abdi Allah? Bukankah dalam berserah diri engkau harus mengakui hanya Allah tempat berserah diri?”
Berserah diri menuntut kesadaran sebagai abdi Allah. Abdi adalah hamba yang tidak memiliki hak, yang sepenuhnya tunduk kepada tuannya. Kesadaran sebagai abdi adalah kesadaran bahwa kita bukanlah pemilik hidup kita. Kita adalah milik Allah.
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa ‘ubudiyyah, penghambaan, adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual. Orang yang mencapai ‘ubudiyyah sejati tidak lagi memiliki kehendak sendiri. Kehendaknya adalah kehendak Allah. Ia tidak lagi memiliki kepentingan sendiri. Kepentingannya adalah kepentingan Allah.
Gelar tertinggi Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an bukan raja, bukan penguasa, tetapi ‘abd, hamba, sebagaimana dalam peristiwa Isra’ (QS. Al-Isra’: 1). Para sufi membaca ini sebagai pesan, derajat tertinggi manusia adalah penghambaan yang sempurna.
Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam menggambarkan manusia sempurna, al-insan al-kamil, sebagai cermin yang memantulkan nama-nama Allah. Tetapi ia juga menjaga adab, cermin tidak pernah menjadi sumber cahaya. Masalah muncul ketika cermin mengaku memiliki cahaya. Kemampuan berubah menjadi alasan membesarkan diri. Pengetahuan menjadi alat merendahkan. Pengalaman rohani menjadi dasar menuntut kepatuhan.
Berserah diri juga menuntut pengakuan bahwa hanya Allah tempat berserah diri. Tidak ada tempat berserah selain Allah. Al-Qur’an menegaskan: ”Cukuplah Allah sebagai tempat berserah diri” (QS. Al-Ahzab: 3).
Lelaki di surau itu mulai menyadari bahwa selama ini ia telah berserah kepada selain Allah. Ia berserah kepada harta. Ia berserah kepada jabatan. Ia berserah kepada manusia. Ia tidak pernah benar-benar berserah kepada Allah. Dan dalam pengakuan itu, ia merasakan kerinduan. Ia merindukan tempat berserah yang sejati. Ia merindukan Allah.
Fana’ ul-Fana’: Ketika “Aku yang Berserah” Lenyap
Puncak dari seluruh perjalanan ini adalah fana’ ul-fana’, lenyap dari lenyap.
Berserah diri sejati adalah fana’ al-iradah, peleburan kehendak pribadi dalam Kehendak Ilahi. Orang yang mencapai maqam ini tidak lagi memiliki kehendak sendiri. Kehendaknya adalah kehendak Allah. Ia tidak lagi memiliki kepentingan sendiri. Kepentingannya adalah kepentingan Allah.
Tetapi puncaknya adalah fana’ ul-fana’. Setelah hamba mencapai fana’ al-iradah, masih ada residu yang sangat halus. Kesadaran “aku telah berserah”. Residu ini adalah ‘ujb khafi, kesombongan tersembunyi. Dalam fana’ ul-fana’, residu ini dihapuskan. Tidak ada lagi “aku yang berserah”, “aku yang bersuci”, “aku yang menghadap”. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah Allah, al-Mutasallim ilaih, tempat berserah diri.
Mengapa tingkatan ini diperlukan. Karena orang yang mengalami fana’ masih bisa tertipu oleh pengalamannya. Ia sadar bahwa “aku telah fana'”. Kesadaran itu sendiri adalah sisa ego yang paling lembut, kebanggaan spiritual yang menyamar sebagai kerendahan hati. Seseorang bangga karena tidak membutuhkan pujian. Ia merasa lebih tinggi karena menganggap dirinya sederhana. Bahkan pelepasan dapat berubah menjadi kepemilikan baru, aku telah melepaskan semuanya.
Dalam horizon fana’ ul-fana’, keterikatan terhadap pencapaian itulah yang ikut dipersoalkan. Bukan hanya rasa memiliki yang dilembutkan, melainkan juga kebanggaan karena merasa tidak memiliki. Yang ditanggalkan bukan tanggung jawab, melainkan kepemilikan narsistik atas kesalehan. Perjalanan yang hendak mengurangi pemusatan pada diri justru dibatalkan ketika digunakan untuk mengukuhkan keistimewaan diri.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ merekam perkataan seorang wali: “Aku telah berserah diri selama lima puluh tahun. Tetapi baru kemarin aku benar-benar berserah diri. Saat itu, aku tidak lagi tahu siapa yang berserah, apakah aku atau Dia. Yang aku tahu, aku telah lenyap, dan yang ada hanyalah Dia.”
Perlu ditegaskan bahwa fana’ tidak berarti kematian fisik, hilangnya kemampuan berpikir, atau bebasnya seseorang dari kewajiban. Fana’ menunjuk kepada surutnya dominasi keakuan dan klaim kemandirian mutlak. Manusia tetap bertindak, tetapi tidak lagi menempatkan dirinya sebagai pusat yang harus dilayani seluruh kenyataan. Ia kembali ke tengah kehidupan dengan hati jernih dan menjalankan syariat dengan penuh adab.
Penutup: Berserah Diri yang Tidak Pernah Selesai
Lelaki di surau itu akhirnya bangkit. Ia melipat sajadahnya, mengambil sandalnya, dan melangkah keluar. Malam semakin larut, dan udara terasa dingin. Tetapi di dalam hatinya, ada kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak lagi merasa bahwa ia adalah pusat dari segalanya. Ia tidak lagi merasa bahwa ia adalah pemilik hidupnya. Ia hanya merasa bahwa ia adalah abdi Allah, dan Allah adalah Tuhannya.
Di perjalanan pulang, ia melewati seorang pengemis yang tidur di trotoar. Biasanya, ia akan melewatinya tanpa peduli. Tetapi malam itu, ia berhenti. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang, dan memberikannya kepada pengemis itu. Ia tidak berharap pahala. Ia tidak berharap pujian. Ia hanya ingin berbagi, karena ia telah menerima begitu banyak.
Pengemis itu terbangun. Ia menatap lelaki itu dengan mata yang mengantuk. Lalu ia tersenyum. Dan lelaki itu tersenyum kembali. Dalam senyuman itu, ada sesuatu yang aneh. Ada kebersihan. Ada kesucian. Ada taslim.
Teks ini adalah peta menuju taslim yang suci. Ia menegaskan bahwa berserah diri bukanlah tindakan pasif, melainkan tindakan aktif yang menuntut persiapan, kebersihan, kesucian, tanggung jawab, dan kejujuran. Puncaknya adalah fana’ ul-fana’, ketika tidak ada lagi “aku yang berserah”, dan yang tersisa hanyalah Allah, tempat berserah diri.
Berserah diri adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk membersihkan diri. Setiap detik adalah kesempatan baru untuk menyucikan hati. Setiap napas adalah kesempatan baru untuk berserah diri. Dan jika kita mampu membawa kebersihan dan kesucian ke dalam kehidupan sehari-hari, maka seluruh hidup kita adalah ibadah.
Barangkali kepasrahan mulai matang ketika kita tidak lagi sibuk memastikan bahwa diri telah mencapai sesuatu. Kita berdoa, bekerja, memperbaiki, lalu kembali berdoa. Dan apabila masih tersisa keakuan yang ingin dipuji karena telah berserah, kita tidak perlu putus asa. Kita hanya perlu kembali membersihkan cermin, tanpa mengira bahwa cahaya yang singgah di sana adalah milik kita.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



