Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)

SURABAYAONLINE.CO – MALAM itu, di sebuah masjid kecil di pinggiran kota, seorang lelaki duduk sendiri di barisan paling belakang. Shalat Isya telah lama selesai. Jamaah telah pulang. Lampu-lampu masjid mulai diredupkan. Tetapi lelaki itu belum beranjak. Ia masih duduk bersila di atas sajadahnya, menatap lantai marmer yang memantulkan sisa cahaya. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang belum selesai.

Ia baru saja bersujud. Dahinya menyentuh sajadah, dan dalam sujudnya itu, ia tidak meminta apa pun. Ia tidak mengeluh tentang pekerjaan yang tak kunjung selesai, tentang utang yang menumpuk, tentang anak-anak yang mulai jauh dari agama. Ia hanya bersyukur. Bersyukur atas napas yang masih mengalir, atas kesehatan yang masih diberikan, atas hidayah yang masih dijaga. Dan dalam sujudnya, ia merasakan ketenangan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Tetapi sekarang, setelah sujud selesai, ia bingung. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Kembali ke rumah? Kembali ke pekerjaan? Kembali ke kehidupan yang penuh masalah itu? Atau tetap duduk di sini, dalam ketenangan yang ia temukan dalam sujud?

Kebingungan lelaki itu adalah kebingungan kita semua. Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan. Segala sesuatu harus segera: segera dijawab, segera diselesaikan, segera diputuskan. Bahkan ibadah pun kerap menjadi perlombaan menuju salam. Kita bergegas dari satu gerakan ke gerakan lain, dari satu kewajiban ke kewajiban berikutnya, seolah hidup ini adalah daftar yang harus segera dicoret habis. Padahal, di dalam jeda yang tampak sepele, mungkin sedang berlangsung perjalanan paling jauh yang bisa ditempuh manusia.

Seorang arif pernah melantunkan sebuah teks yang menjawab kebingungan itu:

”Setelah engkau mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadamu di dalam sujudmu, maka kembalilah engkau duduk dengan ketenangan dan kebaikan niat menjalani hidupmu. Sungguh engkau harus mengembalikan seluruh niat dan perbuatan burukmu kepada Allah dengan tanggung jawabmu agar engkau mampu bersabar di dalam menjalani hidupmu. Engkau pula harus mengembalikan seluruh niat dan perbuatan baikmu kepada Allah dengan rasa syukurmu, agar engkau mampu membaca dan mengerti hidayah yang telah Allah berikan kepadamu.”

Teks ini bukan sekadar nasihat tentang amalan setelah shalat. Ia adalah isyarat, petunjuk halus dari alam malakut, yang memetakan perjalanan ruhani dari sujud menuju kehidupan. Ia menegaskan bahwa shalat bukanlah akhir, melainkan awal. Setelah bersujud dan bersyukur, hamba harus kembali ke kehidupan dengan ketenangan, tanggung jawab, dan syukur.

Sujud: Tempat Paling Dekat, Tempat Paling Rendah

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebut keadaan sujud sebagai saat seorang hamba paling dekat kepada Tuhannya. Paradoks ini menjadi jantung seluruh tasawuf: kedekatan tertinggi dicapai lewat kerendahan terdalam. Dahi, bagian tubuh yang paling kita muliakan, diletakkan sejajar dengan telapak kaki. Al-Qur’an menutup surah Al-‘Alaq dengan seruan yang sama, ”Sujudlah dan dekatkanlah dirimu” (QS. Al-‘Alaq: 19).

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar membagi dimensi ibadah ke dalam bingkai syariat dan hakikat. Sujud secara lahiriah adalah menempelkan kening ke tanah, lambang kembalinya unsur wadag manusia kepada asal muasal penciptaannya. Namun, sujud secara hakikat adalah luruhnya ego, tersungkurnya kesombongan intelektual, dan hancurnya ilusi kemandirian di hadapan Keagungan Absolut.

Ketika seseorang diajarkan untuk mensyukuri nikmat di dalam sujudnya, ia sejatinya sedang diangkat pada kesadaran bahwa eksistensinya di alam semesta ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan pemberian murni dari Sang Khalik. Syukur dalam posisi terendah ini adalah puncak pengakuan bahwa manusia tidak memiliki apa pun, bahkan tidak memiliki dirinya sendiri. Inilah yang dapat disebut syukur wujudi, syukur atas keberadaan itu sendiri.

Tradisi sufi merekam potret ini berulang kali. Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani menghimpun riwayat para zahid dan wali yang memanjangkan sujud, menangis, dan menyembunyikan amal mereka. Polanya konsisten: ibadah mereka tidak bermula dari tuntutan, melainkan dari pengakuan. Nabi sendiri, ketika ditanya mengapa shalat malam hingga kakinya bengkak padahal dosanya telah diampuni, menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur (HR. Bukhari dan Muslim).

Duduk: Ketika Tubuh Mengajari Hati

Momen bangkit dari sujud untuk kemudian duduk adalah peristiwa kebangkitan eksistensial. Posisi duduk ini, dalam dramaturgi salat, sering kali diasosiasikan dengan jeda atau tuma’ninah. Dalam fikih, tuma’ninah adalah rukun, diam sejenak hingga setiap anggota tubuh tenang. Rasulullah pernah menyuruh seseorang yang shalat tergesa-gesa untuk mengulang shalatnya, karena ia dianggap belum shalat (HR. Bukhari dan Muslim). Ketenangan, dengan demikian, bukan kemewahan, melainkan syarat.

Namun secara mistikal, duduk ini melambangkan kembalinya manusia ke alam dunia setelah ia mabuk dalam kefanaan sujud. Teks tersebut menginstruksikan agar sang pejalan ruhani duduk dengan ketenangan dan kebaikan niat menjalani hidup. Dalam bahasa Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi melalui Jami’ul Ushul fil Auliya’, ketenangan ini adalah manifestasi dari muthmainnah, sebuah fase di mana jiwa tidak lagi terombang-ambing oleh badai hasrat duniawi, melainkan telah menemukan titik ekuilibriumnya dalam kehendak Tuhan.

Tasawuf menarik hikmah batinnya: tubuh yang tenang melatih hati yang tenang. ”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram,” firman-Nya dalam QS. Ar-Ra’d: 28. Para sufi memetakan perjalanan jiwa dari nafs ammarah yang menyuruh keburukan, ke nafs lawwamah yang mencela diri sendiri, hingga nafs muthmainnah, jiwa yang tenang dan dipanggil pulang dengan ridha (QS. Al-Fajr: 27-30). Duduk dengan tenang adalah latihan jasmani menuju jiwa yang tenang itu.

Di sinilah, di tengah keheningan duduk, sebuah pekerjaan batin yang paling sunyi dimulai. Ia bukan pekerjaan yang tampak dari luar. Ia adalah pekerjaan yang hanya diketahui oleh Allah dan oleh hamba itu sendiri.

Mengembalikan Keburukan: Taubat yang Tidak Menyalahkan Tuhan

Bagian paling halus, dan paling mudah disalahpahami, adalah kalimat ini: kembalikan niat dan perbuatan burukmu kepada Allah dengan tanggung jawabmu, agar engkau mampu bersabar.

Pembaca yang terburu-buru bisa menafsirkannya dengan dua cara yang keliru. Cara pertama: keburukan itu takdir Allah, jadi aku tak perlu bersalah. Ini jabariyah yang melarikan diri dari tanggung jawab. Cara kedua: aku sepenuhnya penentu perbuatanku, maka cukup aku yang memperbaikinya. Ini kesombongan yang halus, seolah hamba mandiri dari pertolongan Tuhan.

Al-Qur’an menjaga keseimbangan di antara keduanya. ”Semuanya datang dari sisi Allah” (QS. An-Nisa’: 78) menegaskan kekuasaan-Nya, sedangkan ”apa saja keburukan yang menimpamu adalah dari kesalahan dirimu sendiri” (QS. An-Nisa’: 79) menegaskan tanggung jawab moral hamba. Ahlussunnah menengahi dengan konsep kasb: Allah menciptakan, hamba berusaha dan bertanggung jawab.

Teladan paling terang adalah dua tokoh pertama dalam kisah dosa. Adam berkata, ”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri” (QS. Al-A’raf: 23). Iblis berkata, Karena Engkau telah menyesatkanku” (QS. Al-A’raf: 16). Adam memikul dosa sebagai miliknya, lalu pulang kepada Allah dalam taubat. Iblis melemparkannya kepada Tuhan, lalu membatu dalam kesombongan. Maka mengembalikan keburukan kepada Allah dengan tanggung jawab adalah taubat paling sederhana: menanggung kesalahan sebagai milik sendiri, lalu menyerahkan pemulihannya kepada rahmat-Nya.

Mengapa tujuannya adalah sabar? Karena logika batinnya masuk akal. Orang yang menyalahkan keadaan akan marah pada keadaan. Orang yang mengakui bagiannya dalam kesalahan tidak lagi menghabiskan tenaga untuk mengutuk dunia, sehingga ia lebih mampu bersabar menerima akibatnya. ”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Dan Nabi menuntun, ”iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia menghapusnya” 5HR. At-Tirmidzi).

Di sinilah tradisi yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menemukan relevansinya. Perjuangan melawan nafs disebut jihad terbesar, tetapi nafs tidak untuk dimusnahkan. Ia dididik, diarahkan, seperti kuda liar yang dijinakkan. Pengakuan atas keburukan niat adalah langkah pertama pendidikan itu. Tanpa pengakuan, nafs bersembunyi di balik pembenaran.

Dari sudut psikoanalisis, pengakuan ini bekerja melawan mekanisme pertahanan diri: proyeksi, rasionalisasi, penyangkalan. Orang yang memproyeksikan kesalahannya kepada orang lain hidup dalam kemarahan dan kecurigaan. Pengakuan jujur melepaskan energi psikis yang terkunci dalam pembelaan diri. Ini dekat dengan akuntabilitas dan self-compassion yang sehat: mengakui kesalahan tanpa menghancurkan diri. Freud, dalam pembahasannya tentang perkabungan dan melankolia, memperlihatkan betapa rumit hubungan antara kehilangan, konflik batin, dan celaan terhadap diri. Dari sini kita dapat mengambil kewaspadaan: kerasnya penghukuman terhadap diri tidak otomatis menunjukkan kedalaman moral. Tobat yang menumbuhkan kehidupan perlu dibedakan dari kebencian yang menghancurkan diri.

Mengembalikan Kebaikan: Obat bagi Penyakit Merasa Baik

Simetri wasiat ini patut dikagumi. Keburukan dikembalikan dengan tanggung jawab, kebaikan dikembalikan dengan syukur. Dua pengembalian ini menutup dua penyakit sekaligus. Tanggung jawab menutup pintu pembenaran diri. Syukur menutup pintu ujub, bangga diri, dan riya’, pamer.

Ironisnya, bahaya terbesar bagi seorang pejalan spiritual tidak selalu datang dari perbuatan buruk, melainkan dari jebakan perbuatan baik. Merasa memiliki amal kebajikan, merasa suci, dan merasa pantas menuntut surga adalah sebentuk narsisme spiritual yang oleh para sufi disebut sebagai ujub. Ibnu ‘Atha’illah dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa maksiat yang melahirkan rasa hina dan butuh bisa lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa mulia diri.

Ibnu Arabi, Sang Syaikhul Akbar, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah memberikan fondasi ontologis yang sangat kokoh mengenai hal ini. Menurut beliau, wujud yang hakiki hanyalah Wujud Allah. Manusia tidak memiliki daya penciptaan atas kebaikan. Manusia hanyalah cermin, mazhar, tempat manifestasi, atau lokus di mana Nama-nama dan Sifat-sifat Allah memancarkan cahayanya. Ketika seorang manusia melakukan kebaikan, itu bukanlah prestasi egonya, melainkan bentuk kasih sayang Allah yang memilihnya menjadi instrumen kebaikan tersebut di alam materi.

Mengembalikan perbuatan baik kepada Allah berarti melucuti jubah kesombongan. Hanya dengan rasa syukur yang mengosongkan diri dari klaim kepemilikan inilah, mata batin seseorang atau ‘ain al-bashirah akan terbuka. Ia menjadi jernih sehingga mampu membaca sandi-sandi hidayah yang dihamparkan Allah di setiap sudut semesta. Al-Qur’an menegaskan, ”Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami kepada ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS. Al-A’raf: 43).

Hadis qudsi tentang nawafil memberi kedalaman lebih jauh. _Hamba yang terus mendekat dengan amal sunnah akan dicintai Allah, dan bila dicintai, Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kakinya_ (HR. Bukhari). Para sufi membacanya dengan hati-hati: bukan penyatuan zat, melainkan keselarasan total antara perbuatan hamba dan kehendak-Nya. Mengembalikan kebaikan kepada Allah adalah langkah pertama ke arah itu: mulai melihat bahwa pelaku hakiki kebaikan adalah Dia, sementara hamba adalah medan tempat kebaikan itu mengalir. Dalam istilah tasawuf, inilah pintu fana’ fi al-af’al.

Menyaksikan Kebaikan: Mata Hati di Tengah Dunia yang Curiga

Inti wasiat ada pada kalimat ini: saksikan kebaikanmu untuk sekelilingmu, saksikan pula kebaikan sekelilingmu untuk dirimu. Jika engkau hanya melihat kebaikan dalam hidupmu dan hidup sesamamu, itulah kebaikan Allah.

Pada tingkat lahir, ini adalah husn az-zann, prasangka baik. Hadis qudsi menyatakan, ”Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim). Pada tingkat batin, ini adalah latihan musyahadah: melihat dengan mata hati bahwa kebaikan yang beredar di antara makhluk bersumber dari satu mata air.

Perhatikan arah ganda wasiat itu: kebaikan yang kuberikan dan kebaikan yang kuterima. Hadis Mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya” (HR. Abu Dawud) menjelaskan relasi pantulan ini. Kebaikan yang tampak pada orang lain sebagian adalah gema dari kebaikan yang kita tanam.

Ibnu Arabi, dalam Fushush al-Hikam, menggambarkan alam sebagai cermin tempat Al-Haqq menampakkan nama-nama-Nya, dan manusia sempurna sebagai pengkilap cermin itu. Jika makhluk adalah tempat tajalli nama-nama Ilahi seperti Al-Barr, Ar-Rahim, dan Al-Lathif, maka kebaikan yang tampak pada makhluk dikembalikan kepada Pemilik nama-nama itu. Dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, ia menegaskan bahwa Allah itu Az-Zahir dan Al-Bathin (QS. Al-Hadid: 3). Menyaksikan kebaikan di mana-mana adalah pengakuan atas sisi zahir-Nya, tanpa menafikan bahwa “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura: 11).

Di sini perlu ditegaskan pagar yang tegas. Ajaran ini bukan relativisme moral. Ia tidak mengatakan kezaliman tidak ada, korupsi tidak ada, atau ketidakadilan hanyalah ilusi. Syariat tetap membedakan halal dan haram, dan amar makruf nahi munkar tetap berlaku. Yang diajarkan adalah arah pandang batin: setelah menunaikan tanggung jawab, hati tidak dibiarkan tenggelam dalam kebencian dan kecurigaan.

Sebab, dalam konteks kita hari ini, latihan ini nyaris bersifat terapeutik. Ruang publik kita kerap dihuni oleh prasangka yang diproduksi dan didaur ulang tanpa henti. Orang yang melatih diri menyaksikan kebaikan, tanpa menjadi naif, sedang merawat modal sosial paling mendasar: kepercayaan.

Shalawat, Salam, dan Jaringan yang Tak Terlihat

Wasiat itu menutup dengan perintah bershalawat kepada Nabi dan mengucap salam kepada orang saleh, lalu menjanjikan salam malaikat muqarrabin. Bagian ini, yang tampak paling mistis, justru paling berakar pada struktur shalat.

Dalam tahiyyat, hamba mengucapkan salam kepada Nabi, salam atas dirinya, dan salam atas seluruh hamba Allah yang saleh. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebut bahwa salam itu mengenai setiap hamba saleh di langit dan di bumi. Dalam satu duduk, hamba menyapa Allah, Nabi, dirinya, dan seluruh orang saleh, sebuah peta jaringan spiritual yang diringkas dalam beberapa kalimat. Individu yang tampaknya sendirian di atas sajadah ternyata sedang berbicara dalam percakapan yang melintasi ruang dan zaman.

Shalawat memperkuat jaringan itu. ”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi” (QS. Al-Ahzab: 56), dan siapa yang bershalawat sekali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali (HR. Muslim). Dalam tasawuf, Nabi adalah pintu menuju Allah, bukan sekadar tokoh sejarah. Ibnu Arabi dalam bab penutup Fushush al-Hikam menempatkan Nabi Muhammad SAW pada hikmah fardiyyah, pribadi yang menghimpun kesempurnaan para nabi. Shalawat dalam duduk adalah penyambungan diri ke jalur itu.

Lalu salam malaikat. Al-Qur’an menggambarkan malaikat memasuki tempat penghuni surga dan berkata, ”Salamun ‘alaikum bima shabartum”, keselamatan atas kalian karena kesabaran kalian (QS. Ar-Ra’d: 23-24). Perhatikan: salam itu dikaitkan dengan sabar, buah dari bagian kedua wasiat. Maka wasiat itu membentuk lingkaran utuh: syukur, tanggung jawab, sabar, lalu salam.

Kehati-hatian diperlukan di sini. Bahwa malaikat menyapa orang saleh ditegaskan nash secara umum. Tetapi bahwa seseorang merasakan sapaan itu adalah wilayah dzauq, pengalaman rasa yang personal. Ia tidak boleh dijadikan ukuran kewalian, apalagi dijadikan klaim atas orang lain.

Fana’ ul-Fana’: Ketika “Aku yang Baik” Lenyap

Semua ini membawa kita pada konsep yang paling sulit dan paling mudah disalahpahami: fana’ ul-fana’.

Dasar Qur’aninya dikenal: ”Segala sesuatu di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rahman: 26-27), dan ”Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah-Nya” (QS. Al-Qashash: 88). Dalam tasawuf, fana’ adalah gugurnya klaim diri atas wujud, perbuatan, dan sifat. Baqa’ adalah tetapnya hamba bersama Allah setelah klaim itu gugur.

Para sufi umumnya membedakan beberapa tingkatan: fana’ dalam perbuatan, fana’ dalam sifat, dan fana’ dalam zat. Lalu ada fana’ ul-fana’: hamba tidak lagi sadar bahwa ia sedang fana. Tidak ada lagi “aku yang menyaksikan kefanaan”. Dari sinilah baqa’ billah terbit.

Mengapa tingkatan terakhir ini diperlukan? Karena ada jebakan halus: orang bisa membanggakan “aku telah fana”. Itu justru ikatan baru pada diri, ego yang berganti pakaian menjadi ego yang suci. Fana’ sejati menuntut gugurnya kesadaran atas fana itu sendiri.

Apa hubungannya dengan wasiat tentang duduk? Perhatikan urutan pengembaliannya. Pertama hamba mengembalikan keburukan: ia tidak lagi membela diri. Kedua ia mengembalikan kebaikan: ia tidak lagi membanggakan diri. Setelah dua pengembalian itu, yang tersisa dalam penglihatannya adalah kebaikan Allah yang beredar di antara dirinya dan sesama. Ketika hamba tak lagi punya keburukan untuk dibela maupun kebaikan untuk dibanggakan, “aku” kehilangan dua penopang utamanya. Dan bila pada titik itu ia pun tidak membanggakan “aku telah melepaskan keduanya”, itulah bayangan fana’ ul-fana’: peniadaan yang tak lagi menyaksikan dirinya sebagai peniadaan.

Perlu ditegaskan bahwa ini pembacaan penulis, bukan klasifikasi yang tercantum dalam wasiat maupun kitab-kitab rujukan. Wasiat itu sendiri tidak mengklaim bahwa pelakunya telah mencapai fana’ ul-fana’. Ia berhenti di salam, bukan di klaim penyatuan. Ia adalah latihan adab menuju horizon itu.

Pulang ke Sajadah

Apa yang bisa kita bawa dari semua ini ke kehidupan yang sibuk?

Pertama, jadikan duduk setelah sujud sebagai jeda muhasabah singkat: bersyukur, mengakui kekurangan, memohon ampun, memperbarui niat. Kedua, latih dua arah pengembalian: keburukan kepada Allah dengan tanggung jawab, kebaikan kepada Allah dengan syukur. Ketiga, disiplinkan pandangan: carilah kebaikan pada diri dan sesama tanpa meninggalkan amar makruf nahi munkar. Keempat, rawat jaringan kesalehan: bergaul dengan orang baik, mendoakan mereka, mengucap salam dengan tulus. Kelima, waspadai klaim spiritual: sensasi batin bukan bukti kewalian; ukurannya tetap kesesuaian dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan akhlak.

Dan keenam, bawa ke ruang sosial. Praktik batin ini seharusnya berbuah pada cara kita menghadapi kritik, perbedaan, dan konflik: mengakui bagian sendiri, bersyukur atas kebaikan orang lain, dan menahan prasangka yang tidak berdasar.

Lelaki di masjid itu akhirnya bangkit. Ia melipat sajadahnya, mengambil sandalnya, dan melangkah keluar. Malam semakin larut, dan udara terasa dingin. Tetapi di dalam hatinya, ada kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak lagi merasa bahwa ia adalah pusat dari segalanya. Ia tidak lagi merasa bahwa kebaikannya adalah miliknya. Ia tidak lagi merasa bahwa keburukannya adalah takdir yang dipaksakan. Ia hanya merasa bahwa ia adalah hamba, dan Allah adalah Tuhannya.

Di perjalanan pulang, ia melewati seorang pengemis yang tidur di trotoar. Biasanya, ia akan melewatinya tanpa peduli. Tetapi malam itu, ia berhenti. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan selembar uang, dan memberikannya kepada pengemis itu. Ia tidak berharap pahala. Ia tidak berharap pujian. Ia hanya ingin berbagi, karena ia telah menerima begitu banyak.

Pengemis itu terbangun. Ia menatap lelaki itu dengan mata yang mengantuk. Lalu ia tersenyum. Dan lelaki itu tersenyum kembali. Dalam senyuman itu, ada sesuatu yang aneh. Ada salam. Ada shalawat. Ada cinta. Maka ketika sujud selesai, jangan buru-buru berdiri. Duduklah.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version