Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)

SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah sudut kota yang bising, seorang lelaki tua duduk sendiri di beranda rumahnya. Ia baru saja menonton berita yang menyayat hati: seorang pejabat tertangkap korupsi, seorang tokoh agama terlibat skandal, seorang anak membunuh orang tuanya karena uang. Ia mematikan televisi, lalu menatap langit yang mulai gelap. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergetar—bukan karena berita itu, melainkan karena sebuah kesadaran yang semakin nyata: dunia ini sedang terbungkus oleh kepalsuan.

Lelaki itu teringat sebuah syair yang pernah didendangkan oleh gurunya di masa muda. Syair itu bukan syair biasa. Ia adalah isyarah—isyarat batin—yang melukiskan keruntuhan zaman, dan sekaligus peta jalan bagi jiwa yang ingin selamat dari keruntuhan itu:

_”Ketika bumi terbungkus dengan kepalsuan.. Ketika angin dihembuskan dengan kebusukan-kebusukan.. Ketika kesesatan dijadikan pembenaran. Ketika kekayaan dunia dipertuhankan.. Ketika sudah tidak ada lagi guna kehidupan dijalankan.. Ketika itu pula bumi bergetar dan berguncang karena kepalsuan.. Ketika itu pula seluruh isi perut bumi dimuntahkan karena kebusukan-kebusukan… Ketika itu pula, semua akan kebingungan, semua akan ketakutan. Dan tidak ada lagi usaha yang dapat diharapkan.. Sejuta penyesalan tidak akan didengarkan… Sungguh, akan ditutup kehidupan ini.. dan akan dibuka kembali.. beserta tegaknya Pengadilan Ilahi yang Maha Tinggi.”_

Syair ini bukan sekadar ramalan kiamat. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah kita hari ini. Ia membedah lima gejala keruntuhan yang sedang berlangsung di sekitar kita—dan di dalam diri kita. Mari kita renungkan satu per satu.

Kepalsuan yang Menyelimuti Bumi

Bait pertama menggambarkan kepalsuan sebagai selubung yang menutupi bumi. Kata “terbungkus” menunjukkan bahwa kepalsuan bukanlah sesuatu yang tersembunyi di sudut-sudut gelap. Ia adalah lapisan yang menyelubungi seluruh permukaan. Ia telah menjadi atmosfer yang kita hirup setiap hari.

Kita hidup di zaman di mana kebenaran telah menjadi komoditas. Ia bisa diproduksi, dikemas, dan dijual. Media sosial memungkinkan siapa pun untuk menciptakan narasi—tanpa harus memverifikasi. Hoaks menyebar lebih cepat daripada fakta. Fitnah lebih menarik daripada kebenaran. Dan kita, sebagai konsumen informasi, sering kali lebih memilih berita yang menyenangkan telinga daripada yang menantang nurani.

Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam menulis bahwa kepalsuan adalah hijab—tabir—yang menutupi tajalli Allah. Allah menampakkan Diri-Nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tetapi manusia menutupi penampakan itu dengan klaim-klaim palsu. Mereka mengklaim memiliki kuasa, memiliki kekayaan, memiliki ilmu—padahal semuanya adalah milik Allah. Kepalsuan adalah bentuk syirik khafi—kemusyrikan tersembunyi—yang paling halus.

Dan ketika kepalsuan telah menjadi selubung yang menutupi bumi, maka apa yang tersisa? Yang tersisa hanyalah kegelapan. Kegelapan yang membuat manusia tidak lagi bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Kegelapan yang membuat manusia tersesat dalam labirin ilusinya sendiri.

Angin yang Membawa Kebusukan

Bait kedua menggambarkan angin yang membawa kebusukan. Angin adalah simbol kehidupan; ia membawa oksigen yang kita hirup, ia membawa hujan yang menyuburkan bumi. Tetapi ketika angin membawa kebusukan, ia berubah menjadi agen kematian.

Dalam tradisi sufi, angin (rih) sering digunakan sebagai metafora bagi hawa nafsu—dari akar kata yang sama dalam bahasa Arab, hawa berarti angin sekaligus nafsu yang meniup-niupkan godaan. Al-Ghazali menyebut hawa nafsu sebagai musuh yang lebih berbahaya daripada musuh lahiriah karena ia bersemayam di dalam diri sendiri.

“Angin kebusukan” adalah gambaran tentang fitnah zaman akhir, di mana nilai-nilai kebenaran tercemar oleh syahwat kekuasaan, harta, dan kebanggaan diri. Hadis Nabi tentang tanda-tanda kiamat menggambarkan zaman di mana kejujuran dianggap khianat dan khianat dianggap amanah—sebuah fenomena yang identik dengan “kebusukan” yang dihembuskan angin dalam syair ini.

Dari sudut pandang psikoanalisis, “angin kebusukan” dapat dipahami sebagai representasi dari apa yang oleh Carl Gustav Jung disebut sebagai shadow—bayangan, yaitu aspek gelap dari psike kolektif manusia yang direpresi namun tetap mempengaruhi perilaku secara tidak sadar. Ketika bayangan kolektif ini tidak diintegrasikan melalui proses tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—ia akan meletup keluar dalam bentuk kerusakan sosial, moral, dan bahkan ekologis.

Kesesatan yang Dijadikan Pembenaran

Bait ketiga menggambarkan kesesatan yang dijadikan pembenaran. Ini adalah puncak dari inversi nilai—pembalikan nilai. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Yang baik dianggap buruk, yang buruk dianggap baik.

Kita hidup di zaman di mana korupsi dibenarkan dengan alasan “untuk kesejahteraan keluarga”. Kita hidup di zaman di mana kebohongan dibenarkan dengan alasan “untuk kebaikan bersama”. Kita hidup di zaman di mana kezaliman dibenarkan dengan alasan “untuk menjaga stabilitas”. Dan kita, sebagai masyarakat, sering kali menerima pembenaran-pembenaran itu—karena kita telah kehilangan kemampuan untuk membedakan.

Dalam bahasa psikologi modern, fenomena ini dikenal sebagai rasionalisasi—mekanisme pertahanan ego yang mengubah dorongan-dorongan yang sesungguhnya tidak dapat diterima secara moral menjadi tampak logis dan dapat dibenarkan. Dalam tasawuf, kondisi ini terjadi ketika bashirah—mata hati—tertutup sehingga akal, yang seharusnya menjadi cahaya penerang, justru menjadi alat pembenaran nafsu.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menulis bahwa ghaflah—kelalaian—adalah akar dari kesesatan. Orang yang lalai dari Allah akan lalai dari dirinya sendiri. Ia akan kehilangan kompas moralnya. Ia akan terjebak dalam al-wahm—ilusi—yang diciptakan oleh egonya sendiri.

Kekayaan Dunia yang Dipertuhankan

Bait keempat menggambarkan pendewaan kekayaan. Ini adalah puncak dari hubb al-dunya—cinta dunia—yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai ra’s kulli khathi’ah—pokok dari segala kesalahan.

Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menulis bahwa cinta dunia adalah hijab terbesar antara hamba dan Allah. Orang yang mencintai dunia akan diperbudak oleh dunia. Ia akan mengorbankan agama, kehormatan, bahkan kemanusiaannya demi mengejar harta. Ia telah menjadikan dunia sebagai tuhan—tuhan yang menuntut pengorbanan, tuhan yang tidak pernah puas.

Al-Qur’an menegaskan: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (QS. Al-Furqan: 43). Dalam tradisi Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani menghimpun kisah-kisah para wali yang justru menjauhi dunia (zuhud) sebagai bentuk penegasan tauhid—bukan karena dunia itu haram, melainkan karena kecintaan berlebihan terhadapnya dapat menggeser posisi Allah dalam hati.

Kita hidup di zaman di mana kesuksesan diukur dari angka rekening bank. Kita hidup di zaman di mana harga diri ditentukan oleh merek pakaian. Kita hidup di zaman di mana kebahagiaan diidentikkan dengan kemampuan membeli. Dan kita, sebagai masyarakat, sering kali terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah berakhir—perlombaan mengejar fatamorgana.

Hilangnya Makna Hidup dan Guncangan Bumi

Bait kelima menggambarkan hilangnya makna hidup. Ini adalah puncak dari nihilisme—kekosongan makna. Ketika manusia telah menjadikan dunia sebagai tuhan, ia akan menemukan bahwa tuhannya hanyalah fatamorgana. Ia telah mengejar bayangan, dan bayangan itu lenyap.

Al-Qur’an menegaskan: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, dan hiasan belaka” (QS. Al-Hadid: 20). Ketika manusia menyadari bahwa kehidupannya hanyalah permainan, ia akan merasa kosong. Ia akan bertanya: “Untuk apa aku hidup?” Dan jika ia tidak menemukan jawaban, ia akan jatuh ke dalam keputusasaan.

Setelah menggambarkan lima gejala keruntuhan, teks ini beralih ke gambaran bumi yang bergetar dan berguncang. Getaran bumi adalah simbol dari zalzalah—kegoncangan—yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai salah satu tanda kiamat: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat” (QS. Al-Zalzalah: 1).

Dalam tasawuf, guncangan bumi adalah simbol dari guncangan jiwa. Ketika manusia telah tenggelam dalam kepalsuan, jiwanya akan bergetar. Ia akan kehilangan stabilitasnya. Ia akan merasa cemas, gelisah, dan takut—tanpa tahu mengapa. Ini adalah ‘azab batin—azab ruhani—yang dirasakan sebelum azab lahiriah datang.

Bait berikutnya menggambarkan bumi yang memuntahkan isi perutnya. Ini adalah gambaran kiamat—ketika bumi mengeluarkan segala beban yang dikandungnya: mayat, harta karun, dan segala rahasia: “Dan bumi mengeluarkan beban-beban beratnya” (QS. Al-Zalzalah: 2). Dalam perspektif sufistik, muntahan bumi adalah simbol dari inkisyaf—tersingkapnya segala rahasia. Segala yang tersembunyi akan menjadi nyata. Segala yang disembunyikan akan ditampakkan.

Kebingungan, Ketakutan, dan Fana’ ul-Fana’

“Semua akan kebingungan, semua akan ketakutan” adalah gambaran tentang kehancuran total struktur ego yang selama ini menjadi tumpuan identitas manusia. Dalam terminologi psikoanalisis, ini dapat disejajarkan dengan konsep disintegrasi ego yang terjadi ketika mekanisme pertahanan psikologis yang biasa digunakan individu untuk menghadapi kecemasan eksistensial tidak lagi berfungsi. Ego yang selama ini merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya tiba-tiba dihadapkan pada realitas bahwa seluruh kendali itu adalah ilusi.

Dalam bahasa tasawuf, momen ini adalah pintu gerbang menuju fana’—peleburan diri. Namun pada tahap awal, sebagaimana digambarkan syair, fana’ yang dipaksakan oleh kehancuran eksternal berbeda dengan fana’ yang dicapai melalui mujahadah—perjuangan spiritual—sukarela. Yang pertama adalah fana’ yang menyakitkan dan penuh penyesalan, karena “sejuta penyesalan tidak akan didengarkan,” sementara yang kedua adalah fana’ yang dicapai melalui kesadaran dan cinta, sebagaimana dijelaskan para sufi tentang kematian sebelum mati (mutu qabla an tamutu).

Al-Junaid al-Baghdadi menjelaskan fana’ sebagai lenyapnya kesadaran akan sifat-sifat kemanusiaan sehingga yang tersisa hanyalah kesadaran akan Allah semata. Namun tahapan ini masih memiliki jejak-jejak kesadaran akan proses fana’ itu sendiri. Di sinilah muncul konsep yang lebih tinggi, yaitu fana’ ul-fana’—lenyapnya kelenyapan.

Fana’ ul-fana’ adalah salah satu ajaran paling esoterik dalam tasawuf, yang secara khusus dielaborasi dalam tradisi Ibnu Arabi. Jika fana’ pertama adalah lenyapnya kesadaran diri dalam kesadaran akan Allah, maka fana’ ul-fana’ adalah lenyapnya kesadaran akan proses fana’ itu sendiri, sehingga tidak ada lagi dualitas antara “yang fana” dan “Yang Kekal.” Ini adalah maqam al-jam’ al-jam’—penghimpunan dari penghimpunan—atau yang dalam istilah Ibnu Arabi disebut al-ahadiyyah al-jam’iyyah—kesatuan mutlak yang melampaui bahkan konsep kesatuan itu sendiri.

Dalam konteks syair yang sedang dikaji, “ditutupnya kehidupan ini dan dibukanya kembali” dapat dibaca sebagai metafora kosmis dari fana’ ul-fana’ pada level makrokosmos: dunia harus mengalami kehancuran total sebelum kehidupan baru yang hakiki dapat dibuka. Al-Qur’an menegaskan proses ini: “Kemudian ditiup lagi sangkakala itu, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)” (QS. Az-Zumar: 68).

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menjelaskan bahwa perjalanan spiritual manusia sesungguhnya adalah replikasi mikrokosmis dari perjalanan kosmis alam semesta: sebagaimana alam semesta diciptakan, dihancurkan, dan dibangkitkan kembali, demikian pula jiwa manusia harus mengalami penciptaan, kehancuran, dan kebangkitan dalam perjalanan spiritualnya menuju Allah.

Pengadilan Ilahi: Puncak Kesadaran Tauhid

Baris penutup syair, “beserta tegaknya pengadilan Ilahi yang Maha Tinggi,” mengarahkan pembaca pada kesadaran puncak tasawuf: bahwa seluruh proses kehancuran dan kebangkitan pada akhirnya bermuara pada satu titik—pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dalam kerangka Jami’ul Ushul fil Auliya’, konsep wilayah—kewalian—tidak pernah dilepaskan dari kesadaran akan hari perhitungan. Para wali, meski telah mencapai maqam fana’ dan baqa’ yang tinggi, tetap hidup dalam kesadaran akan keagungan dan keadilan Allah—sebuah sikap yang disebut khauf yang berpadu dengan raja’.

Dari perspektif psikoanalisis, konsep pengadilan Ilahi ini dapat dipahami sebagai manifestasi tertinggi dari superego—namun dalam kerangka tasawuf, superego ini bukanlah konstruksi sosial semata melainkan realitas metafisik yang objektif: Allah sebagai Hakim yang Maha Adil. Dalam tasawuf, kesadaran akan pengadilan Ilahi adalah bentuk kembalinya jiwa kepada fitrahnya yang asali—sebuah proses yang oleh Carl Jung disebut sebagai pencapaian Self melalui integrasi seluruh aspek psike, termasuk aspek spiritual dan transenden.

Penutup: Renungan di Tengah Zaman yang Retak

Kembali ke lelaki tua di beranda rumahnya. Ia masih duduk di sana, menatap langit yang kini bertabur bintang. Ia tidak lagi gelisah. Ia telah memahami bahwa keruntuhan yang digambarkan dalam syair itu bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah fana’—gerbang menuju baqa’.

Ia teringat pesan gurunya: “Jangan takut pada keruntuhan dunia. Takutlah pada keruntuhan hatimu. Karena jika hatimu tetap tegak, engkau akan selamat—bahkan ketika dunia ini runtuh.”

Di tengah zaman yang retak, tugas kita bukanlah menyelamatkan dunia. Tugas kita adalah menyelamatkan hati kita. Menjaga kebenaran meskipun dunia penuh kepalsuan. Menjaga kebersihan jiwa meskipun angin membawa kebusukan. Menjaga keseimbangan meskipun dunia mengajak pada kesesatan. Menjaga kemiskinan spiritual meskipun dunia memuja kekayaan. Dan yang paling penting, menjaga makna hidup meskipun dunia mengajak pada kekosongan.

Dan pada akhirnya, ketika kehidupan ini ditutup dan dibuka kembali, kita akan berdiri di hadapan Pengadilan Ilahi yang Maha Tinggi. Di sana, tidak ada yang bisa berbohong, tidak ada yang bisa menyembunyikan, dan tidak ada yang bisa melarikan diri. Yang tersisa hanyalah amal, iman, dan cinta. Dan di sana, kita akan menemukan bahwa fana’ ul-fana’—lenyapnya ego dan dunia—adalah gerbang menuju baqa’—kehidupan yang sejati di sisi Allah.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version