SURABAYAONLINE.CO – Konferensi Daerah (Konferda) Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Jawa Timur di Nganjuk berubah menjadi panggung benturan ideologi dan kekerasan. Perlakuannya jauh dari asas akademis, forum musyawarah ini justru diwarnai dugaan infiltrasi partai politik dan aksi represif terhadap kader yang menyuarakan kebenaran.
Kericuhan dipicu oleh beredarnya Surat Rekomendasi Nomor: 01/SR/DPC.GMNI-MALANGRAYA/IX/2026 yang mengusung nama Mohammad Kelvin Arisudin Akbar, S.H. sebagai Calon Ketua dan Michael Purnomo, S.H. sebagai Calon Sekretaris DPD GMNI Jawa Timur. Dokumen vital organisasi mahasiswa ini terbukti cacat hukum dan menabrak aturan dasar independensi kader.
Pasalnya, surat rekomendasi tersebut ditandatangani oleh Danang Prawito, S.H. selaku Sekretaris DPC GMNI Malang Raya. Padahal, Danang Prawito merupakan pengurus aktif partai politik yang menduduki jabatan struktural sebagai Wakil Sekretaris Bidang Internal DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung.
Kejanggalan tidak berhenti di situ. Penelusuran kader mengungkap munculnya “SK Siluman” dari DPP GMNI yang mendadak menaungi pengurus partai politik untuk dilegalkan sebagai pengurus cabang GMNI. Skenario penyeragaman dukungan ini langsung memantik protes keras dari DPC GMNI Jember yang menolak keras organisasi dipolitisasi dan digadaikan kepada partai.
”GMNI ini organisasi gerakan mahasiswa, bukan underbouw apalagi alat transaksional partai politik! Bagaimana mungkin seorang pengurus aktif DPC PDIP Tulungagung seperti Danang Prawito masih memegang SK dan menandatangani rekomendasi resmi calon pimpinan DPD? Ini jelas pelecehan terhadap AD/ART dan marwah organisasi,” tegas Ketua DPC GMNI Jember di tengah memanasnya suasana forum.
Namun, alih-alih meletakkan AD/ART dan hukum organisasi sebagai panglima dalam persidangan, ajakan dialog dan interupsi kritis dari DPC GMNI Jember justru dijawab dengan aksi brutal.
Ketua DPC GMNI Jember dihantam, dipukuli, dan diusir secara paksa dari arena Konferda oleh sekelompok oknum yang berupaya mengamankan jalan pasangan calon bermasalah tersebut.
”Saat kami mempertanyakan keabsahan SK siluman dan intervensi partai ini secara teratur di persidangan, kami malah dihantam fisik. Saya dipukuli dan diseret keluar arena hanya karena kami menolak membisu melihat independensi GMNI dihancurkan demi syahwat kekuasaan kelompok tertentu,” ungkapnya usai insiden pemukulan tersebut.
Aksi pemukulan dan pengusiran ini menjadi catatan kelam demokrasi di tubuh GMNI, menunjukkan betapa marwah perjuangan mahasiswa dihancurkan demi memuluskan syahwat kekuasaan yang disokong elit partai.


