Oleh: Dr. Dwi Novitasari, S.E., M.M. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
SURABAYAONLINE.CO – Bagi pelajar hari ini, media digital bukan lagi sekadar pelengkap. Informasi datang dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung tanpa batas ruang, dan berbagai peluang belajar maupun berusaha dapat ditemukan dari layar yang ada di tangan. Kedekatan dengan teknologi membuat generasi muda terlihat sangat siap menghadapi dunia digital. Namun, kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi belum otomatis berarti mampu memanfaatkannya secara bijak.
Tantangan yang lebih penting justru muncul setelah akses tersedia. Pelajar perlu mampu membedakan informasi yang dapat dipercaya dan yang menyesatkan, memahami risiko ketika membagikan data pribadi, serta mengetahui bahwa perilaku di media sosial membawa konsekuensi. Kemudahan mengunggah, membagikan, dan meneruskan informasi sering kali membuat proses berpikir menjadi terlalu singkat. Padahal, ruang digital membutuhkan pertimbangan yang tidak kalah serius dibandingkan ruang nyata.
Karena itu, literasi digital seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Pelajar perlu dibiasakan memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, mengenali hoaks, menjaga keamanan data pribadi, dan berinteraksi secara etis. Kebiasaan seperti ini terlihat sederhana, tetapi menjadi dasar agar teknologi tidak justru membawa masalah bagi penggunanya sendiri.
Ada sisi lain yang juga penting. Media digital bukan hanya ruang untuk mencari informasi dan hiburan. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk belajar membuat sesuatu, memperkenalkan karya, membangun kreativitas, dan mengembangkan ide menjadi peluang yang memiliki nilai. Di sinilah pola pikir kewirausahaan menjadi relevan bagi siswa sekolah.
Pola pikir kewirausahaan tidak harus dipahami secara sempit sebagai dorongan agar setiap siswa segera menjadi pengusaha. Hal yang lebih penting adalah tumbuhnya kreativitas, keberanian melihat peluang, kemampuan berinovasi, dan kemauan menciptakan solusi. Ketika media digital dipakai untuk memperkenalkan produk atau karya, teknologi berubah dari sekadar sarana konsumsi menjadi alat untuk mengembangkan potensi diri.
Literasi digital dan pola pikir kewirausahaan pada akhirnya saling melengkapi. Kemampuan menggunakan media secara aman dan bertanggung jawab memberi dasar agar siswa tidak mudah terjebak dalam informasi yang salah atau perilaku digital yang merugikan. Sementara itu, keberanian melihat peluang membantu mereka bergerak dari sekadar pengguna menjadi pencipta karya dan nilai. Keduanya dibutuhkan agar kedekatan generasi muda dengan teknologi menghasilkan sesuatu yang lebih produktif.
Pengalaman pendampingan kepada siswa SMA Unggulan Amanatul Ummah Surabaya memberikan gambaran mengenai pentingnya menghubungkan dua kemampuan tersebut. Dalam kegiatan yang dilakukan oleh tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, pembahasan mengenai hoaks, keamanan data pribadi, dan etika bermedia dipertemukan dengan diskusi tentang kreativitas, peluang usaha, serta pemanfaatan platform digital untuk memperkenalkan produk atau karya. Kegiatan semacam ini memberi ruang bagi siswa untuk melihat teknologi dari sudut yang lebih luas.
Diskusi menjadi bagian penting karena persoalan digital dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pertanyaan mengenai informasi yang beredar di internet, cara menjaga keamanan diri, etika berinteraksi, hingga kemungkinan memanfaatkan platform digital secara produktif tidak cukup dijawab hanya dengan larangan. Siswa perlu memahami alasan di balik setiap pilihan yang mereka buat di ruang digital.
Pada saat yang sama, kreativitas juga perlu diarahkan agar tidak berhenti sebagai ide. Media digital membuka ruang untuk memperkenalkan karya, mengembangkan potensi, dan melihat peluang yang sebelumnya mungkin tidak terlihat. Karena itu, pendidikan literasi digital dapat berjalan beriringan dengan upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Siswa belajar menjadi pengguna teknologi yang kritis sekaligus lebih produktif.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi salah satu cara untuk memperkuat proses tersebut. Perguruan tinggi dapat membawa pengetahuan dan pengalaman yang relevan, sementara sekolah memahami kebutuhan serta karakter peserta didiknya. Pertemuan keduanya dapat membuka ruang edukasi yang lebih dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi generasi muda dalam menggunakan teknologi.
Pembicaraan mengenai Indonesia Emas 2045 sering dikaitkan dengan kualitas generasi muda. Dalam konteks digital, kualitas itu tidak cukup diukur dari seberapa cepat siswa menguasai aplikasi atau seberapa aktif mereka menggunakan media sosial. Yang lebih penting adalah kemampuan menggunakan teknologi dengan bijak, kritis, aman, kreatif, dan bertanggung jawab, sekaligus keberanian menghasilkan karya serta melihat peluang dari perkembangan yang ada.
Generasi muda Indonesia hidup sangat dekat dengan teknologi. Tantangannya adalah memastikan kedekatan tersebut membentuk kebiasaan yang baik dan kemampuan yang produktif. Literasi digital memberi fondasi untuk menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab, sedangkan pola pikir kewirausahaan mendorong kreativitas, inovasi, dan keberanian menciptakan peluang. Ketika keduanya berjalan bersama, media digital dapat menjadi ruang belajar sekaligus ruang berkarya yang memberi manfaat lebih luas.


