Oleh: Prof. Dr. Mohamad Yusak Anshori, M.M. (Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya)
SURABAYAONLINE.CO – Ada sebuah paradoks dalam pendidikan vokasi kita. Sekolah Menengah Kejuruan sejak awal dirancang untuk mendekatkan pendidikan dengan dunia kerja. Siswa mempelajari keterampilan sesuai bidangnya, menjalani praktik, dan bahkan mengenal lingkungan industri sebelum lulus. Namun, proses dari sekolah menuju pekerjaan ternyata masih menyisakan persoalan. Data Badan Pusat Statistik pada Februari 2026 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka lulusan SMK mencapai 7,74 persen, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran terbuka nasional berada pada 4,68 persen. Angka tersebut tentu tidak dapat dibaca secara sederhana sebagai kegagalan pendidikan kejuruan karena ketersediaan lapangan kerja, kondisi ekonomi, lokasi pekerjaan, kebutuhan industri, dan kesesuaian keterampilan ikut menentukan.
Dari perspektif manajemen, ada satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius, yaitu masa transisi dari menjadi siswa menjadi pekerja. Selama berada di sekolah, kehidupan siswa relatif terstruktur. Ada jadwal, guru, tugas, praktik, ujian, dan penilaian. Ketika memasuki dunia kerja, situasinya menjadi jauh lebih kompleks. Seorang pekerja tidak hanya dituntut mampu mengerjakan sesuatu sesuai keahliannya, tetapi juga harus memahami apa yang perlu dikerjakan, menentukan kapan pekerjaan harus selesai, berkoordinasi dengan orang lain, menerima koreksi, menghadapi tekanan, dan mengambil keputusan ketika situasi berubah. Pada titik inilah kita perlu membedakan antara memiliki keterampilan untuk bekerja dan memiliki kesiapan untuk menjalani dunia kerja.
Bayangkan seorang lulusan SMK pada minggu pertama bekerja. Atasannya memberikan beberapa tugas pada waktu yang hampir bersamaan, sementara seorang pelanggan meminta sesuatu yang mendesak dan pekerjaan sebelumnya belum selesai. Ia harus menentukan mana yang perlu didahulukan. Ketika instruksi atasannya kurang jelas, ia juga harus memutuskan apakah perlu segera bertanya atau mencoba menyelesaikannya sendiri. Ketika hasil pekerjaannya dikoreksi, ia perlu memahami bahwa koreksi merupakan bagian dari proses kerja, bukan sekadar teguran pribadi. Situasi seperti ini mungkin terlihat sederhana bagi orang yang telah bekerja bertahun-tahun, tetapi bagi seseorang yang baru meninggalkan bangku sekolah, semuanya merupakan pengalaman baru.
Di sinilah kemampuan berpikir strategis menjadi relevan bagi siswa SMK. Berpikir strategis tidak harus diperkenalkan melalui teori manajemen yang rumit. Di kehidupan kerja sehari-hari, kemampuan tersebut dapat dimulai dari kebiasaan membaca situasi, mengenali pilihan yang tersedia, menentukan prioritas, mengambil keputusan, dan mempertimbangkan konsekuensinya. Seseorang yang memiliki keterampilan teknis tinggi belum tentu mampu bekerja secara efektif apabila kesulitan menentukan prioritas, tidak mampu berkomunikasi dengan rekan kerja, mudah menyerah ketika menerima koreksi, atau tidak dapat menyesuaikan diri ketika keadaan berubah. Keterampilan teknis membuat seseorang mampu mengerjakan pekerjaan, sedangkan kesiapan kerja membuat seseorang mampu menggunakan keterampilan tersebut di tengah target, tekanan waktu, hubungan antarmanusia, dan perubahan.
Persoalannya, kesiapan seperti ini tidak dapat dibentuk hanya melalui satu seminar menjelang kelulusan. Jika diberikan sekali pada kelas XII, siswa mungkin memahami materinya, tetapi belum tentu memiliki kebiasaannya. Kesiapan kerja pada dasarnya merupakan hasil dari proses pembiasaan. Sekolah sebenarnya memiliki banyak ruang untuk membangunnya tanpa harus menambah mata pelajaran baru. Tugas kelompok dapat digunakan untuk melatih pembagian tanggung jawab dan penyelesaian konflik. Kegiatan praktik dapat sekaligus membentuk disiplin dan ketepatan waktu. Presentasi dapat melatih kemampuan menyampaikan gagasan. Studi kasus dapat membiasakan siswa mengambil keputusan ketika tidak tersedia satu jawaban yang sepenuhnya benar. Bahkan kesalahan siswa dapat menjadi bagian penting dari pembelajaran apabila guru tidak hanya menunjukkan apa yang salah, tetapi juga mengajak siswa memahami mengapa kesalahan terjadi dan bagaimana memperbaikinya.
Praktik Kerja Lapangan juga dapat dimanfaatkan lebih jauh. Siswa seharusnya tidak hanya hadir di tempat kerja, menyelesaikan kewajiban administratif, kemudian pulang membawa laporan dan tanda tangan pembimbing. Mereka perlu belajar memahami bagaimana sebuah organisasi bekerja: mengapa suatu pekerjaan harus diselesaikan lebih dahulu, mengapa perusahaan memiliki prosedur, bagaimana atasan memberikan instruksi, bagaimana komunikasi antarrekan berlangsung, bagaimana masalah diselesaikan, dan bagaimana sebuah tim bekerja mencapai target. Praktik Kerja Lapangan tidak berhenti sebagai pengalaman berada di tempat kerja, tetapi menjadi pengalaman belajar tentang kehidupan kerja yang sesungguhnya.
Dunia usaha dan industri juga memiliki tanggung jawab dalam proses tersebut. Hubungan antara SMK dan industri sebaiknya tidak hanya dibangun ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja. Industri juga tidak cukup berada pada posisi sebagai pengguna lulusan yang kemudian mengeluhkan bahwa kemampuan lulusan belum sesuai kebutuhan. Perusahaan dapat terlibat lebih awal dengan membantu sekolah memahami perubahan pekerjaan, keterampilan yang mulai dibutuhkan, kebiasaan kerja yang dihargai, serta persoalan yang sering dihadapi pekerja pemula. Hubungan yang lebih dekat antara sekolah dan industri akan membantu pendidikan vokasi bergerak mengikuti perubahan dunia kerja tanpa kehilangan fungsi pendidikannya.
Alumni juga merupakan sumber pembelajaran yang sering belum dimanfaatkan secara optimal. Pengalaman alumni yang baru dua atau tiga tahun memasuki dunia kerja sering kali lebih dekat dengan kehidupan siswa dibandingkan penjelasan yang terlalu teoritis. Mereka dapat menceritakan bagaimana menghadapi hari pertama bekerja, kesalahan yang pernah dilakukan, cara beradaptasi dengan atasan, menghadapi tekanan, membangun hubungan dengan rekan kerja, hingga keterampilan yang ternyata baru terasa penting setelah meninggalkan sekolah. Perguruan tinggi dapat melengkapi ekosistem tersebut melalui pendampingan, pengembangan materi, pelatihan pengambilan keputusan, dan penguatan perencanaan karier. Menyiapkan lulusan SMK merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterhubungan antara sekolah, dunia usaha, perguruan tinggi, alumni, orang tua, dan siswa.
Tingginya pengangguran lulusan SMK tentu tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada siswa atau sekolah. Lulusan yang memiliki keterampilan dan kesiapan kerja yang baik tetap membutuhkan kesempatan untuk bekerja. Penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan dunia usaha, dan penguatan hubungan antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri harus berjalan bersama. Dari sisi pendidikan, hal yang dapat dilakukan adalah memastikan bahwa siswa tidak memasuki dunia kerja hanya dengan membawa ijazah dan keterampilan teknis, tetapi juga membawa kebiasaan untuk belajar, berkomunikasi, bertanggung jawab, menentukan prioritas, menyelesaikan masalah, dan menyesuaikan diri ketika keadaan berubah.
Hal ini menjadi semakin penting karena dunia kerja yang akan dimasuki lulusan SMK juga terus bergerak. Teknologi berkembang dengan cepat, kecerdasan buatan mulai mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan, sebagian jenis pekerjaan berubah, dan keterampilan baru terus bermunculan. Sekolah tentu tidak mungkin mengajarkan seluruh keterampilan yang akan dibutuhkan siswanya hingga puluhan tahun mendatang. Tantangan pendidikan vokasi bukan hanya mempersiapkan seseorang agar mampu mendapatkan pekerjaan pertama, tetapi juga membangun fondasi agar ia mampu terus belajar setelah memperoleh pekerjaan tersebut. Kemampuan belajar dan beradaptasi inilah yang memungkinkan seseorang tetap relevan ketika pekerjaan dan teknologi berubah.
Ukuran keberhasilan pendidikan kejuruan perlu diperluas. SMK yang kuat bukan hanya menghasilkan lulusan yang mampu mengoperasikan mesin, membuat laporan, melayani pelanggan, mengelola jaringan komputer, memasak, atau menjalankan keterampilan teknis sesuai bidangnya. Pendidikan kejuruan juga perlu menghasilkan lulusan yang mampu membaca situasi, menentukan prioritas, berkomunikasi, bertanggung jawab, belajar dari kesalahan, dan beradaptasi terhadap perubahan. Keterampilan teknis tetap menjadi fondasi utama pendidikan vokasi, tetapi fondasi tersebut perlu diperkuat dengan kemampuan membaca situasi dan kebiasaan bekerja yang baik.
Tujuan SMK bukan sekadar menghasilkan lulusan yang siap mengerjakan sebuah pekerjaan. Pendidikan vokasi perlu mempersiapkan mereka agar mampu memasuki dunia kerja, memahami bagaimana organisasi bekerja, belajar dari pengalaman, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus mengembangkan dirinya. Pekerjaan pertama memang penting, tetapi masa depan seorang lulusan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia memperoleh pekerjaan pertama. Masa depannya juga sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk terus belajar dan berkembang setelah pekerjaan pertama itu diperoleh. Tantangan kita bukan hanya menyiapkan lulusan SMK yang siap kerja, tetapi menyiapkan lulusan SMK yang siap berkembang.


