Oleh: Dr. Reizano Amri Rasyid, ST., MMT, CPLM, CPM (ASIA)

SURABAYAONLINE.CO – Generasi muda hari ini hidup dalam ruang yang nyaris selalu terhubung. Belajar, berbincang, mencari hiburan, berbagi foto, menyampaikan pendapat, hingga membangun pertemanan banyak berlangsung melalui layar.

Di Indonesia, data APJII 2025 yang dikutip Kementerian Komunikasi dan Digital memperkirakan 229,4 juta orang atau 80,66 persen penduduk telah menggunakan internet. Angka tersebut menunjukkan bahwa ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat, termasuk anak dan remaja.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan generasi muda hari ini bukan lagi sekadar apakah mereka dapat mengakses dunia digital.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah mereka cukup memahami jejak yang ditinggalkan ketika berada di dalamnya?

Terbiasa menggunakan media sosial belum tentu berarti memahami bagaimana sebuah unggahan, komentar, foto, atau percakapan dapat ikut membentuk cara orang lain melihat diri kita. Kecakapan menggunakan teknologi dan kedewasaan menggunakan teknologi adalah dua hal yang berbeda.

Tersambung Belum Tentu Sadar

Jejak digital sering terasa abstrak karena tidak selalu terlihat seperti jejak di dunia fisik. Sebuah unggahan dapat dihapus. Komentar dapat ditarik. Akun dapat ditutup.

Namun apa yang pernah muncul di ruang digital dapat meninggalkan salinan, tangkapan layar, rekaman percakapan, atau ingatan orang lain. Karena itu, menghapus sebuah unggahan tidak selalu berarti seluruh akibatnya ikut hilang.

Bagi remaja, persoalan ini penting karena masa sekolah merupakan periode ketika seseorang sedang mencoba banyak hal: membentuk pertemanan, mencari pengakuan, bereksperimen dengan gaya komunikasi, dan menemukan cara menampilkan diri.

Tidak semua kesalahan pada usia tersebut seharusnya menghantui seseorang selamanya. Tetapi justru karena itu, kemampuan mempertimbangkan akibat sebelum mengunggah sesuatu perlu dibangun sedini mungkin.

Kesadaran jejak digital bukan berarti membuat anak takut berbicara di internet. Tujuannya adalah membantu mereka memahami bahwa ruang digital juga memiliki konsekuensi.

Apa yang Diunggah Ikut Membentuk Reputasi

Identitas digital tidak dibentuk hanya oleh foto profil atau biodata akun.

Cara seseorang berkomentar, informasi yang dibagikan, cara menanggapi perbedaan pendapat, konten yang dibuat, bahkan kebiasaan menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya ikut membentuk reputasi di ruang digital.

Reputasi itu semakin penting karena kehidupan daring dan kehidupan luring tidak lagi benar-benar terpisah. Relasi pertemanan, kegiatan sekolah, organisasi, pendidikan lanjutan, dan kehidupan profesional dapat bersinggungan dengan jejak yang pernah dibuat di internet.

Karena itu, membangun identitas digital yang baik bukan soal menciptakan citra sempurna. Justru yang lebih penting adalah konsistensi antara apa yang ingin ditampilkan dengan cara seseorang benar-benar berperilaku.

Di sinilah istilah personal branding sering perlu diluruskan. Bagi pelajar, personal branding tidak seharusnya dimaknai sebagai mengejar popularitas atau membuat diri terlihat hebat. Ia lebih dekat dengan kemampuan mengenali nilai diri, menunjukkan kemampuan secara wajar, dan berkomunikasi tanpa kehilangan keaslian maupun tanggung jawab.

Sebelum Mengunggah, Beri Jeda

Salah satu kebiasaan paling sederhana dalam kehidupan digital adalah memberi jeda sebelum menekan tombol unggah, kirim, atau bagikan.

Jeda beberapa detik dapat digunakan untuk memikirkan hal yang sering luput ketika emosi sedang tinggi: apakah informasi ini benar, apakah perlu dibagikan, apakah ada orang lain yang dirugikan, dan apakah kita tetap nyaman jika unggahan tersebut dibaca kembali beberapa tahun kemudian.

Kebiasaan seperti ini terdengar sederhana, tetapi relevan ketika arus komunikasi berlangsung sangat cepat. Media sosial dirancang agar orang segera bereaksi. Notifikasi, tren, dan percakapan yang bergerak cepat membuat keputusan sering diambil sebelum sempat dipikirkan.

Masalahnya bukan hanya tentang reputasi diri.

Perilaku impulsif di ruang digital tidak hanya berisiko bagi reputasi diri, tetapi juga dapat merugikan orang lain. Kementerian Komunikasi dan Digital, mengutip survei UNICEF 2023 tentang kebiasaan daring anak di Indonesia, menyebut 48 persen anak pernah mengalami perundungan digital. Temuan ini menunjukkan bahwa etika berkomunikasi di internet bukan persoalan kecil, terutama ketika komentar, unggahan, dan pesan dapat menyebar dalam hitungan detik.

Karena itu, kebiasaan memberi jeda sebelum mengunggah, berkomentar, atau membagikan sesuatu perlu menjadi bagian dari tanggung jawab digital. Beberapa detik untuk memeriksa isi, nada, kebenaran, dan dampaknya kepada orang lain dapat mencegah keputusan impulsif yang sulit ditarik kembali.

Literasi Digital Tidak Cukup Hanya Mengajarkan Cara Memakai Teknologi

Selama bertahun-tahun, literasi digital sering diasosiasikan dengan kemampuan menggunakan perangkat, mencari informasi, atau mengoperasikan aplikasi.

Keterampilan tersebut tetap penting. Namun ketika akses internet sudah sangat luas, tantangannya bergeser.

Anak perlu mengetahui cara menilai informasi, memahami privasi, menjaga keamanan akun, berkomunikasi secara etis, mengenali risiko perundungan, serta memahami bagaimana perilaku daring dapat memengaruhi diri sendiri dan orang lain.

Indonesia juga mulai bergerak ke arah tersebut. Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 menegaskan bahwa pendekatan literasi digital yang hanya berfokus pada penggunaan perangkat dan internet tidak lagi memadai. Fokusnya perlu lebih kontekstual, termasuk menghadapi misinformasi, disinformasi, dan berbagai tantangan baru di ruang digital.

Artinya, kecakapan digital tidak cukup diukur dari seberapa cepat seseorang menguasai aplikasi baru.

Yang lebih penting adalah apakah ia mampu menggunakan teknologi dengan pertimbangan yang matang.

Sekolah Perlu Membangun Kebiasaan, Bukan Hanya Memberi Larangan

Pembicaraan tentang keamanan digital di sekolah sering muncul setelah sebuah masalah terjadi. Ada unggahan yang menimbulkan konflik, perundungan, penyebaran informasi pribadi, atau penggunaan media sosial yang dianggap berlebihan.

Pendekatan yang hanya berisi daftar larangan mudah dipahami, tetapi belum tentu cukup untuk membentuk kebiasaan.

Siswa perlu mendapat kesempatan membahas kasus yang dekat dengan kehidupan mereka. Misalnya, apa yang harus dilakukan ketika menerima informasi yang belum jelas sumbernya, bagaimana merespons komentar yang menyakitkan, kapan sebuah foto sebaiknya tidak dibagikan, atau apa yang perlu dipertimbangkan sebelum meneruskan isi percakapan pribadi.

Diskusi semacam itu membantu siswa melihat bahwa keputusan digital jarang sesederhana benar atau salah di atas kertas.

Sekolah juga dapat membantu siswa mengevaluasi jejak digital mereka sendiri secara aman, memahami pengaturan privasi, mengenali informasi pribadi yang sebaiknya tidak dibagikan, serta memikirkan citra digital seperti apa yang ingin mereka bangun.

Tujuannya bukan mengawasi setiap gerak siswa di internet. Yang dibangun adalah kemampuan untuk mengawasi diri sendiri.

Dari Pengguna Teknologi Menjadi Warga Digital yang Bertanggung Jawab

Generasi muda tidak perlu dijauhkan dari teknologi. Dunia pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial justru akan semakin terhubung dengan ruang digital.

Yang diperlukan adalah kemampuan untuk hidup di dalamnya dengan lebih sadar.

Seseorang dapat sangat mahir menggunakan aplikasi tetapi tetap ceroboh membagikan informasi pribadi. Ia dapat pandai membuat konten tetapi tidak memahami dampak komentarnya terhadap orang lain. Ia juga dapat memiliki banyak pengikut tetapi belum tentu mampu membangun reputasi yang sehat.

Karena itu, ukuran kedewasaan digital tidak terletak pada seberapa lama seseorang menggunakan internet.

Ia terlihat dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat ketika tidak ada guru, orang tua, atau aturan yang sedang mengawasi.

Apa yang dibagikan, bagaimana memperlakukan orang lain, informasi mana yang dipercaya, dan kapan seseorang memilih untuk tidak mengunggah sesuatu.

Generasi digital sudah sangat terbiasa hidup dengan teknologi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka juga belajar hidup dengan konsekuensinya.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version