Oleh: Hadipras
SURABAYAONLINE.CO – Kisah di balik aksara Jawa, Hanacaraka, bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau metode menghafal huruf kuno. Di balik jalinan katanya, tersimpan sebuah cermin yang tajam—bahkan cenderung menyengat—untuk memotret hiruk-pikuk perebutan kekuasaan di Indonesia hari ini. Ini adalah sebuah alegori abadi tentang bagaimana ambisi yang berbenturan dan kebuntuan komunikasi bisa berakhir pada satu titik: kehancuran bersama.
Tragedi Dua Utusan: Ketika Kesetiaan Menjadi Buta
Kita tentu akrab dengan muasal kisah ini. Raja bijaksana dari Medang Kamulan, Aji Saka, memiliki dua abdi yang amat setia: Dora dan Sembada. Suatu hari, sebuah pusaka sakti dititipkan kepada Sembada dengan perintah mutlak: jangan berikan kepada siapa pun kecuali Aji Saka sendiri. Di lain waktu, karena satu keperluan, Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil pusaka tersebut.
Di sinilah tragedi dimulai. Sembada kukuh pada perintah pertama; Dora teguh pada perintah kedua.
Dua-duanya merasa memegang mandat yang paling sah. Komunikasi buntu, kecurigaan merayap, dan ego mulai berbicara. Karena keduanya sama-sama sakti dan sama-sama keras kepala, pertempuran tidak terhindarkan. Hasil akhirnya? Tragis. Keduanya tewas bersamaan di ujung keris masing-masing.
Untuk meratapi sekaligus mengabadikan kesetiaan yang berakhir sia-sia ini, Aji Saka menciptakan deretan aksara yang kita kenal hari ini, sebuah puisi duka yang terbagi dalam empat bait filosofis:
Ha-Na-Ca-Ra-Ka (Ana utusan): Ada utusan. Manusia, pada hakikatnya, adalah utusan kehidupan atau Tuhan di muka bumi yang membawa mandat masing-masing.
Da-Ta-Sa-Wa-La (Padha suwala): Saling berselisih. Menegaskan kodrat manusia yang tak pernah luput dari perbedaan pandangan dan benturan kepentingan.
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya (Padha jayanya): Sama-sama kuat. Ketika konflik memuncak, kedua belah pihak merasa sama-sama benar, sama-sama memiliki legitimasi, dan pantang untuk mundur selangkah pun.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga (Maga bathanga): Menjadi mayat bersama. Ini adalah klimaks yang mengerikan—sebuah perang total (zero-sum game) di mana tidak ada pemenang sejati. Yang tersisa hanyalah tumpukan puing dan kehancuran kolektif.
Membaca Indonesia Hari Ini
Jika kita bawa romantisme tragis Dora dan Sembada ke panggung politik kontemporer Indonesia, relevansinya terasa begitu dekat, bahkan terlalu dekat.
Hari ini, kita melihat para aktor politik—baik yang duduk di singgasana eksekutif, legislatif, para elite partai, hingga lingkaran oligarki—berperan sebagai “para utusan” (Ana utusan). Mereka mengklaim bergerak demi mandat rakyat, konstitusi, atau demi menyelamatkan masa depan bangsa.
Namun, yang tersaji di ruang publik justru panggung ‘Padha suwala’. Mulai dari manuver di balik layar, gesekan kepentingan menjelang transisi kekuasaan, hingga upaya mengamankan posisi menuju panggung politik 2029. Setiap faksi mengerahkan seluruh sumber daya yang mereka miliki: pengaruh hukum, jaringan media, hingga kekuatan finansial. Mereka berada pada fase ‘Padha jayanya’—merasa paling berhak, paling kuat, dan paling absah untuk menancapkan pengaruh.
Celakanya, dalam politik modern, kutukan ‘Maga bathanga’ jarang sekali menumbangkan para elitenya terlebih dahulu. Ketika para elit bertikai memperebutkan pusaka kekuasaan, yang pertama kali menjadi “mayat” adalah stabilitas ekonomi, penegakan hukum yang adil, dan kesejahteraan rakyat kecil. Rakyat kerap dipaksa menonton pertunjukan ego, sementara nasib mereka dipertaruhkan di meja judi politik.
Menatap yang Fana, Mengingat yang Baka
Filosofi Hanacaraka sejatinya adalah sebuah pengingat spiritual yang dingin tentang kefanaan. Dora dan Sembada, dengan segala kesaktian dan kepatuhannya, pada akhirnya harus tunduk pada maut.
Esai ini ingin mengetuk kesadaran kita semua, terutama para pemegang kebijakan, bahwa kekuasaan dan jabatan hanyalah remah-remah titipan yang sementara. Menghalalkan segala cara demi mempertahankan atau merebut mahkota adalah sebuah kesia-siaan sejarah. Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa lama seseorang menggenggam pusaka kekuasaan, melainkan seberapa besar kerusakan atau kemaslahatan yang mereka tinggalkan.
Hanacaraka bukan sekedar warisan linguistik masa lalu. Ia adalah ramalan sekaligus peringatan dini yang terus bergaung. Jika para pemimpin bangsa ini terus merawat ego kelompok dan mengabaikan substansi amanah rakyat, kita hanya sedang menghitung mundur menuju bait terakhir: ‘Maga bathanga’—kehancuran bersama yang sebenarnya bisa kita hindari.



