Oleh: Azmil Chusnaini S.IP., M.SM. (Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya)

SURABAYAONLINE.CO – Generasi muda hari ini tumbuh bersama teknologi. Media sosial, marketplace, pembayaran digital, aplikasi desain, video pendek, hingga berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak aktivitas yang dahulu membutuhkan komputer atau tempat khusus sekarang dapat dilakukan melalui telepon genggam.

Kedekatan dengan teknologi membuka banyak kemungkinan. Anak muda dapat membuat desain, menawarkan jasa, menjual produk, membuat konten, membantu promosi usaha kecil, atau mengembangkan keterampilan yang sebelumnya hanya dianggap sebagai hobi.

Bagi siswa SMK, peluang itu cukup dekat. Mereka sudah mempelajari keterampilan tertentu sesuai bidang masing-masing. Namun ada satu hal yang perlu dibedakan: terbiasa menggunakan teknologi belum tentu berarti siap menjalankan usaha.

Seseorang bisa mahir membuat desain, tetapi belum tentu tahu bagaimana menjadikannya sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Seseorang dapat memiliki banyak pengikut di media sosial, tetapi belum tentu mampu menjual produk. Begitu pula kemampuan membuat sesuatu belum otomatis membuat orang lain bersedia membayar untuk mendapatkannya.

Di situlah keterampilan dan bisnis mulai menjadi dua hal yang berbeda.

Dari Bisa Membuat ke Sesuatu yang Dibutuhkan

Banyak usaha berawal dari kemampuan yang sebenarnya sederhana. Ada yang pandai membuat desain, memperbaiki komputer, membuat video, mengelola media sosial, atau menyusun pencatatan keuangan.

Kemampuan seperti itu dapat menjadi dasar usaha, tetapi baru memiliki nilai ekonomi ketika membantu menyelesaikan kebutuhan orang lain.

Jasa desain, misalnya, menjadi lebih berarti ketika membantu sebuah usaha membuat produknya lebih mudah dikenali. Kemampuan memperbaiki komputer menjadi bernilai ketika menyelesaikan masalah perangkat yang mengganggu pekerjaan seseorang. Keterampilan administrasi juga dapat membantu usaha kecil yang membutuhkan pencatatan lebih tertib.

Karena itu, belajar berwirausaha tidak cukup dimulai dari pertanyaan tentang apa yang ingin dijual. Siswa juga perlu dibiasakan melihat kebutuhan di sekitarnya: persoalan apa yang ada, siapa yang mengalaminya, dan keterampilan apa yang dapat digunakan untuk membantu menyelesaikannya.

Dari sanalah sebuah keterampilan dapat berkembang menjadi peluang usaha.

Ramai di Media Sosial Belum Tentu Laku

Perkembangan media digital membuat memulai usaha terlihat jauh lebih mudah. Produk dapat diperkenalkan melalui Instagram, TikTok, marketplace, atau aplikasi percakapan tanpa harus memiliki toko fisik.

Namun kemudahan itu juga mudah menimbulkan kesan bahwa bisnis digital cukup dilakukan dengan membuat akun lalu mengunggah konten.

Kenyataannya tidak sesederhana itu. Sebuah unggahan dapat dilihat banyak orang tetapi tidak menghasilkan pembelian. Video dapat memperoleh banyak penonton tetapi tidak membuat orang tertarik menggunakan produk yang ditawarkan.

Sebaliknya, sebuah usaha dengan jumlah pengikut yang tidak terlalu besar tetap dapat berkembang apabila mampu menjangkau orang yang memang membutuhkan produknya.

Media sosial pada akhirnya hanyalah alat. Yang lebih penting adalah memahami siapa yang ingin dijangkau, apa yang mereka butuhkan, dan alasan mereka perlu memperhatikan sebuah produk.

Dalam bahasa yang sederhana, ramai belum tentu laku.

Ide Perlu Diuji, Bukan Hanya Dipuji

Anak muda sering didorong untuk kreatif dan mempunyai ide bisnis. Dorongan itu penting, tetapi pendidikan kewirausahaan juga perlu mengenalkan satu kenyataan: tidak semua ide akan berhasil.

Ada gagasan yang terlihat menarik bagi pembuatnya tetapi ternyata tidak terlalu dibutuhkan orang lain. Ada produk yang disukai, tetapi biaya membuatnya terlalu tinggi. Ada pula usaha yang sebenarnya memiliki pasar, tetapi cara menjangkaunya tidak tepat.

Situasi seperti itu bukan berarti proses belajar gagal. Justru di situlah seseorang mulai belajar bagaimana bisnis bekerja.

Siswa perlu memiliki ruang untuk mencoba sebuah gagasan, mendengar tanggapan orang lain, memperbaikinya, atau menghentikannya apabila ternyata tidak masuk akal untuk diteruskan.

Kemampuan mengatakan “ide ini perlu diperbaiki” sama pentingnya dengan keberanian mengatakan “saya punya ide usaha”.

Bisnis tidak berjalan hanya karena sebuah gagasan terdengar kreatif. Pada akhirnya, orang lain yang menentukan apakah produk atau jasa tersebut benar-benar mempunyai manfaat bagi mereka.

Sekolah Bisa Menjadi Ruang untuk Mencoba

Siswa SMK memiliki keuntungan karena mereka tidak selalu harus memulai dari nol. Mereka sudah mempunyai bidang keterampilan yang sedang dipelajari.

Yang perlu diperluas adalah cara melihat keterampilan tersebut di luar ruang kelas.

Siswa yang belajar desain dapat mengamati kebutuhan visual usaha kecil di sekitarnya. Siswa komputer dapat melihat kebutuhan layanan teknologi sederhana. Siswa akuntansi dapat melihat kesulitan usaha mikro dalam mencatat transaksi. Sementara siswa yang mempelajari pemasaran dapat mengamati bagaimana sebuah produk dikenal dan dipilih konsumen.

Tidak semuanya harus langsung menjadi usaha besar. Percobaan kecil justru dapat lebih bermanfaat daripada membuat rencana yang sangat lengkap tetapi tidak pernah diuji.

Sekolah dapat menjadi ruang yang relatif aman untuk mencoba. Siswa masih mempunyai kesempatan untuk salah, menerima masukan, memperbaiki gagasan, lalu mencoba kembali.

Pengalaman seperti itu sulit diperoleh jika kewirausahaan hanya dipahami sebagai materi yang harus dihafalkan atau proposal yang selesai setelah mendapat nilai.

Tidak Semua Siswa Harus Menjadi Pengusaha

Mendorong kewirausahaan di sekolah bukan berarti setiap siswa harus membuka usaha setelah lulus.

Sebagian akan bekerja sebagai karyawan. Sebagian melanjutkan pendidikan. Ada yang membantu usaha keluarga. Ada pula yang baru tertarik membangun usaha setelah memiliki pengalaman kerja beberapa tahun.

Jalur setiap orang dapat berbeda.

Karena itu, nilai pendidikan kewirausahaan tidak seharusnya hanya diukur dari berapa banyak siswa yang kemudian menjadi pengusaha. Ada kemampuan yang lebih luas yang dapat dipelajari: melihat masalah, mencari kemungkinan penyelesaian, mencoba gagasan, menerima kritik, mempertimbangkan risiko, dan memperbaiki keputusan.

Kemampuan seperti itu tetap berguna ketika seseorang memilih bekerja di perusahaan. Seorang karyawan pun tetap perlu melihat persoalan dan mencari cara memperbaikinya.

Kewirausahaan, dengan demikian, tidak harus dipahami secara sempit sebagai kegiatan membuka usaha. Ia juga dapat menjadi latihan untuk melihat peluang dan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang berguna.

Dari Pengguna Teknologi Menjadi Pencipta Nilai

Generasi muda tidak kekurangan akses terhadap dunia digital. Tantangannya bukan lagi sekadar membuat mereka semakin mahir menggunakan teknologi, tetapi membantu mereka menggunakan teknologi secara lebih produktif.

Media sosial tidak hanya dapat digunakan untuk menonton atau membagikan konten. Ia dapat menjadi sarana untuk memahami kebutuhan orang lain, memperkenalkan gagasan, dan menguji apakah sebuah produk benar-benar mendapat respons.

Keterampilan yang dipelajari di sekolah pun tidak harus berhenti sebagai kemampuan untuk memperoleh nilai atau sertifikat. Keterampilan itu dapat menjadi modal untuk menciptakan sesuatu.

Tetapi ada perbedaan besar antara mampu membuat sesuatu dan mampu menciptakan sesuatu yang bernilai bagi orang lain.

Perbedaan itulah yang penting dikenalkan ketika membicarakan kewirausahaan di kalangan siswa.

Teknologi memang membuat pintu untuk mencoba semakin lebar. Namun setelah pintu itu terbuka, yang menentukan bukan seberapa mahir seseorang menggunakan teknologi.

Yang lebih penting adalah apakah ia mampu menggunakan keterampilannya untuk memberikan manfaat yang benar-benar dibutuhkan orang lain.

Biografi:

Azmil Chusnaini, S.IP., M.SM. adalah seorang akademisi, peneliti, dan dosen tetap di Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis dan Teknologi Digital (FEBTD) di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Sebagai seorang pendidik, ia mendedikasikan keahliannya dalam mengembangkan ilmu manajemen, dengan fokus utama pada bidang Marketing (Pemasaran) dan Digital Marketing (Pemasaran Digital).

Latar Belakang dan Karier Akademik

Azmil memiliki latar belakang pendidikan multidisiplin yang kuat. Ia menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP.) dan melanjutkan studi pascasarjana hingga meraih gelar Magister Sains Manajemen (M.SM.).

Kombinasi keilmuan ini membentuk perspektif yang luas dalam melihat dinamika perilaku konsumen serta strategi bisnis. Di lingkungan UNUSA, ia tercatat resmi sebagai tenaga pendidik dengan nomor induk NIDN 0704118804 dan ID Staf 18071198.

Kontribusi Penelitian dan Pengabdian

Sebagai implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, Azmil aktif melakukan riset ilmiah dan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada digitalisasi bisnis. Beberapa fokus kontribusinya meliputi:

Pengembangan UMKM: Melakukan pendampingan pemanfaatan platform digital (seperti Instagram Marketing) untuk mendongkrak penjualan usaha kecil.

Perilaku Konsumen: Meneliti faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan (customer satisfaction) serta loyalitas merek (brand loyalty) pada era digital.

Strategi Branding: Mengedukasi pelaku usaha mengenai pentingnya pembentukan citra merek (branding image) demi ketahanan bisnis pascapandemi.

Rekam jejak publikasi ilmiahnya dapat ditelusuri secara terbuka melalui portal akademis nasional seperti SINTA Kemdiktisaintek (ID: 6681366) maupun Google Scholar. Melalui tulisan-tulisannya, ia terus berupaya menjembatani teori manajemen pemasaran dengan praktik riil di dunia industri modern.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version