SURABAYAONLINE.CO – Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang pemilihan dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai mengerucut.

Belum ada daftar resmi final mengenai kandidat Ketua Umum PBNU. Namun, berdasarkan pemetaan media dan polling yang disebut dalam bahan yang beredar menjelang Muktamar, terdapat sejumlah nama yang kerap disebut masuk dalam bursa kepemimpinan PBNU periode berikutnya.

Delapan nama yang disebut dalam bursa tersebut yakni KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Nasaruddin Umar, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, KH Zulfa Mustofa, serta KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.

Dari delapan nama tersebut, tiga figur disebut paling menguat dalam dinamika jelang Muktamar ke-35 NU. Ketiganya adalah Gus Yahya, Kiai Imjaz, dan Gus Kikin.

Gus Yahya, Petahana dengan Jaringan Nasional

KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merupakan Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 sekaligus petahana.

Gus Yahya disebut memiliki modal pengalaman organisasi serta jaringan nasional dan internasional. Sebelum memimpin PBNU, ia pernah menjadi juru bicara PBNU dan Duta Besar RI untuk Vatikan.

Sejumlah gagasan yang dikaitkan dengan kepemimpinannya antara lain melanjutkan penguatan Islam Nusantara dan moderasi beragama, pengembangan ekonomi umat melalui holding NU, koperasi dan BUMN NU, serta digitalisasi layanan organisasi.

Digitalisasi tersebut mencakup penguatan data warga NU, pesantren dan lembaga-lembaga di lingkungan NU.

Dalam relasi dengan pemerintah, arah yang disebut diusung adalah menjaga hubungan konstruktif tanpa membawa organisasi masuk ke politik praktis.

Kiai Imjaz Disebut sebagai Kandidat Independen

Nama lain yang mendapat sorotan adalah KH Imam Jazuli atau Kiai Imjaz.

Kiai Imjaz dikenal sebagai pengasuh pesantren dan tokoh NU lintas wilayah. Dalam dinamika bursa yang beredar, ia disebut sebagai kandidat independen dengan dukungan dari kalangan kiai pesantren dan sejumlah PCNU di beberapa daerah.

Gagasan yang dikaitkan dengan Kiai Imjaz menitikberatkan pada penguatan pesantren sebagai salah satu poros utama NU.

Selain itu, ia disebut mendorong rekonsiliasi internal untuk merangkul berbagai kelompok di tubuh NU serta memperkuat pemberdayaan ekonomi pesantren dan santri melalui UMKM, pertanian dan pendidikan vokasi.

Pengurangan ketergantungan organisasi terhadap politik praktis juga menjadi salah satu gagasan yang disebut melekat pada pencalonannya.

Gus Kikin Punya Basis Kuat di Jawa Timur

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin juga menjadi salah satu nama yang paling disorot dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Gus Kikin saat ini menjabat Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029. Ia juga dikenal sebagai cicit KH Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Dalam dinamika pencalonan, Gus Kikin disebut memperoleh mandat dari PWNU Jawa Timur bersama PCNU se-Jawa Timur. Dukungan tersebut menjadi salah satu modal penting karena Jawa Timur merupakan salah satu basis besar Nahdlatul Ulama.

Gagasan yang dikaitkan dengan Gus Kikin antara lain penguatan jam’iyyah di tingkat akar rumput dengan semangat “NU Kembali ke Khittah”, konsolidasi PWNU dan PCNU se-Indonesia, serta pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis pesantren dan desa.

Di bidang pendidikan, penguatan madrasah, pesantren dan perguruan tinggi NU juga menjadi bagian dari gagasan yang disebut diusung.

Dengan dinamika tersebut, masing-masing figur memiliki modal yang berbeda.

Gus Yahya memiliki pengalaman sebagai ketua umum petahana serta jaringan nasional dan internasional. Kiai Imjaz disebut berpotensi menjadi figur penengah dengan latar kandidat independen. Sementara Gus Kikin memiliki basis dukungan kuat dari Jawa Timur.

Meski demikian, peta pencalonan masih dapat berubah sepanjang proses Muktamar ke-35 NU berlangsung. Penentuan Ketua Umum PBNU tetap bergantung pada mekanisme dan keputusan forum Muktamar serta dukungan pemilik suara sesuai ketentuan organisasi.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version