
SURABAYAONLINE.CO – Tanggapan Sidang Pleno terhadap Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi salah satu agenda dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Tanggapan atas LPJ disampaikan peserta Muktamar yang mewakili Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU/DPW NU) dari sejumlah wilayah di Indonesia. Perwakilan tersebut berasal dari berbagai pulau besar, mulai Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara hingga Jawa.
Sejumlah DPW menyatakan menerima LPJ PBNU tanpa catatan. DPW Aceh menjadi salah satu yang menyatakan menerima LPJ tanpa catatan sekaligus berharap langkah dan capaian yang dilakukan dapat diikuti oleh wilayah lainnya.
Sikap serupa disampaikan DPW Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku, Bali, NTB dan Jawa Tengah. DPW Maluku juga menyampaikan apresiasi serta terima kasih atas penyampaian LPJ PBNU.
Sementara itu, DPW Jawa Timur menerima LPJ PBNU dengan sejumlah catatan. Salah satu yang diapresiasi adalah pelaksanaan program transformasi organisasi yang dinilai telah berjalan dengan baik.
Namun, DPW Jawa Timur memberikan sejumlah masukan untuk penguatan organisasi ke depan. Catatan tersebut antara lain memperjelas hierarki otoritas, memperjelas distribusi otoritas, serta meningkatkan digitalisasi organisasi.
Selain itu, kaderisasi dinilai perlu diperluas agar semakin menjangkau warga NU. Khidmah NU juga diharapkan dapat dilakukan secara masif hingga tingkat bawah.
Tanggapan dari peserta Muktamar masih berlangsung hingga menjelang waktu Magrib. Selain perwakilan PWNU dari berbagai provinsi di Indonesia, tanggapan juga disampaikan oleh perwakilan Nahdlatul Ulama Cabang Jepang.
Di tengah rangkaian pembahasan LPJ, nahdliyin muda turut menyampaikan usulan terkait pelaksanaan pemilihan Ketua Umum PBNU mendatang.
Usulan tersebut disampaikan Gus Daud, pengasuh Pondok Pesantren Muta’alimin Wal Muta’alimat, Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.
Gus Daud mengutip kandungan kitab At-Tibyan karya Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, khususnya syair:
إذا أنت تابعت الهوى قادك الهوى : إلى كل ما فيه عليك مقال
Yang dimaknai bahwa apabila seseorang mengikuti hawa nafsu, hawa nafsu tersebut dapat menuntunnya kepada berbagai hal yang kemudian berusaha dibenarkan olehnya.
Menurut Gus Daud, pesan tersebut penting menjadi pengingat bagi seluruh peserta Muktamar dalam menentukan kepemimpinan organisasi.
Ia berharap para ulama yang bertakwa dapat mengikuti keteladanan para sahabat, imam dan ulama yang mengamalkan ilmunya serta memiliki kesalehan.
“Al-faqir menghimbau sebelum pemilihan Ketua Umum PBNU diadakan sumpah supaya menjadikan solusi adanya isu politik uang di Jamiyah Nahdlatul Ulama,” demikian usulan Gus Daud.
Usulan tersebut disampaikan sebagai bagian dari perhatian terhadap proses pemilihan kepemimpinan PBNU agar berlangsung dengan menjaga nilai-nilai dan marwah organisasi.



