Oleh: Gatot Sundoro 

SURABAYAONLINE.CO – Hati adalah pusat penggerak seluruh alat fungsi tubuh, berada di tengah tengah badan, dilindungi dan dikelilingi tubuh.

Hati adalah pusat akal, ilmu pengetahuan, kelembutan, keberanian, kemuliaan, kesabaran, ketabahan, cinta, keinginan, kerelaan, kemarahan dan seluruh sifat sifat kesempurnaan.

Mata yang merupakan alat penglihatan dan lidah yang menerjemahkan lalu sampai pendengaran; dirangkai oleh ALLOH dalam kitab-NYA, sebagaimana firman-nya:” Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabnya.” (QS. Al Isra’ : 36)

Begitu juga ALLOH merangkai antara hati dan penglihatan dalam firman-NYA :” Dan KAMI bolak balikkan hati mereka dan penglihatan mereka.” (QS. Al An’am : 110).

Sebagaimana lidah sebagai pemandu hati, begitu juga telinga adalah utusan yang menyampaikan ke hati.

Secara umum, seluruh anggota tubuh adalah pembantu dan pelayan hati.

Nabi Saw bersabda:” Dan ketahuilah, sesungguhnya didalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.”

Salah seorang sahabat Nabi Saw, yakni Abu Hurairah pernah berkata:” Hati adalah raja, anggota tubuh adalah tentaranya. Jika rajanya baik, maka tentaranya akan baik. Dan jika rajanya buruk, maka tentaranya juga akan buruk.”

Dilihat dari sifat hidup dan matinya hati, maka hati terbagi menjadi tiga bagian; Hati yang sehat, Hati yang sakit, Hati yang mati.

1. Hati yang sehat.

Hati yang sehat (Qalbun Salim) adalah hati yang selamat, terbebas dari penyakit hati dan senantiasa taat dan ikhlas dalam beribadah kepada ALLOH SWT.

Hati yang sehat adalah hati yang bersih, yang harus dimiliki oleh seorang mukmin agar selamat ketika menghadap kepada ALLOH kelak.

Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’araa’ ayat 88-89:” (Yaitu) di hari harta dan anak anak laki laki tidak berguna, kecuali orang orang yang menghadap ALLOH dengan hati yang bersih.”

Dalam hati yang sehat, hati yang bersih; akan selamat dari kesyirikan, patuh/taat kepada Rabb- NYA, cinta, takut, berharap dan pasrah hanya kepada ALLOH. Selalu kembali kepada-NYA, menghinakan diri pada-NYA, memilih Ridha dalam segala hal dan menjauhkan diri dari murka-NYA disetiap jalan kehidupan.

Hati yang sehat, selalu ikhlas dalam aktivitas sehari hari mengikuti Rasulullah Saw. Karena tanpa keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi Saw, maka ALLOH tidak akan menerima amalannya.

2. Hati yang Sakit.

Hati yang sakit adalah hati yang masih memiliki kehidupan dan keimanan, tetapi didalamnya terdapat masalah atau noda penyakit hati yang membuatnya goyah.

Hati jenis ini berada diantara dorongan dan godaan hawa nafsu.

Didalam hati yang sakit, masih ada unsur kehidupan yakni cinta kepada ALLOH, beriman, ikhlas dan tawakal. Namun dalam hati yang sakit ada juga unsur kehancuran dan kerusakan, yaitu mencintai syahwat, tamak, dengki, sombong, membanggakan diri, cinta dunia dan jabatan.

Oleh karena itu hati yang sakit berada diujung jalan yang bersimpangan; Jika penyakit hatinya parah, maka akan masuk kategori hati yang mati dan keras. Dan jika sehatnya lebih dominan, maka akan masuk kategori hati yang sehat.

3. Hati yang mati.

Hati yang mati adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kepekaan rohani, tidak lagi merasakan nikmatnya beribadah dan tidak merasa berdosa saat ia melakukan maksiat.

Seseorang yang dikatakan hatinya telah mati, maka ia tidak bisa lagi mengenal ALLOH, ia bertindak menurut hawa nafsunya. Ia tidak peduli apakah ALLOH Ridha atau murka ketika ia menjalankan syahwat dan keinginannya.

Seseorang yang hatinya mati, ia mencintai hawa nafsunya; Nafsunya adalah pemimpinnya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan sebagai penuntunnya dan lalai adalah kendaraannya.

Ia disibukkan dengan pikiran pikiran untuk menghasilkan tujuan materi dunia, ia dipenuhi dengan manisnya hawa nafsu dan sangat mencintai dunia

Maka membaur dengan orang yang memiliki hati seperti ini (hati yang mati) adalah penyakit, bergaul dengannya meracuni diri sendiri dan bersanding dengannya adalah kehancuran.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version