Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)

SURABAYAONLINE.CO – ADA masa ketika bumi terasa begitu berat menanggung beban yang dipikulnya. Bukan beban gunung atau lautan, melainkan beban kepalsuan yang menumpuk dari generasi ke generasi, dari hati ke hati yang kehilangan cahayanya. Sebuah syair sederhana namun menghentak berbicara tentang masa itu: ketika bumi terbungkus kepalsuan, ketika angin membawa kebusukan, ketika kesesatan dijadikan pembenaran, dan ketika kekayaan dunia diangkat menjadi tuhan baru dalam hati manusia.

Membaca larik-larik ini sekadar sebagai ramalan kiamat tentu tidak salah. Namun para pengembara batin, mereka yang telah lama menekuni jalan sunyi tasawuf, akan segera menangkap sesuatu yang lain: bahwa setiap kata tentang kehancuran bumi sesungguhnya adalah cermin dari kehancuran yang jauh lebih dekat, yang lebih personal, yakni kehancuran di dalam dada manusia itu sendiri.

Bumi yang Terbungkus, Hati yang Tertutup

Dalam khazanah tasawuf klasik, bumi tidak pernah sekadar bumi. Ia adalah metafora purba bagi jasad, bagi nafs, bagi seluruh dimensi kemanusiaan yang bersifat material dan cenderung tunduk pada gravitasi keduniaan. Ketika sebuah teks berbicara tentang “bumi yang terbungkus kepalsuan”, seorang sufi akan bertanya lebih dahulu: bumi siapa yang dimaksud? Bumi di luar sana, ataukah bumi kecil yang bersemayam di rongga dada setiap manusia?

Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dalam kitabnya yang penuh rahasia, Sirr al-Asrar, menuliskan bahwa hati manusia adalah wadah yang senantiasa menanti pengisian. Jika ia tidak diisi oleh cahaya makrifat, ia akan dengan sendirinya terisi oleh kegelapan. Tidak ada ruang kosong dalam batin manusia. Yang ada hanyalah pilihan: cahaya atau kegelapan, kejujuran atau kepalsuan, Allah atau berhala-berhala baru yang lebih halus dan lebih licik dari sekadar patung batu.

Kepalsuan yang membungkus bumi, dengan demikian, adalah kepalsuan yang lebih dulu membungkus hati. Ia menyelinap pelan, hampir tak terasa, seperti kabut yang turun di pagi hari tanpa disadari kapan datangnya. Inilah yang oleh para ulama akhlak disebut sebagai talbis—penyamaran batil dalam jubah kebenaran—sedemikian halus sehingga pelakunya sendiri kerap tidak menyadari bahwa dirinya telah lama tersesat.

Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa shidq (kejujuran) adalah fondasi dari seluruh perjalanan spiritual. Tanpa kejujuran, seorang salik tidak akan pernah bisa mencapai ma’rifah. Kepalsuan adalah lawan dari shidq. Ia adalah racun yang merusak hati dan menutup pintu-pintu langit. Maka, ketika hati telah terbungkus kepalsuan, seluruh kehidupan menjadi palsu—ibadahnya palsu, cintanya palsu, bahkan taubatnya pun palsu.

Angin yang Membawa Bau Busuk Zaman

Ada baris yang menyebut angin dihembuskan dengan kebusukan-kebusukan. Dalam banyak tradisi spiritual, angin adalah simbol nafas, ruh, dan pesan yang berpindah dari satu jiwa ke jiwa lain. Angin membawa serbuk sari, membawa hujan, membawa kesejukan. Namun ketika angin yang sama membawa bau busuk, itu tandanya ada sesuatu yang sudah membusuk terlebih dahulu di sumbernya.

Betapa relevannya gambaran ini dengan zaman yang tengah kita jalani. Informasi mengalir secepat angin, menembus batas ruang dan waktu melalui layar-layar kecil di genggaman tangan. Namun tidak semua yang mengalir itu membawa kesegaran. Banyak yang membawa kebencian yang dipoles kata-kata manis, kebohongan yang dibungkus argumentasi cerdas, dan fitnah yang disebarkan dengan kecepatan yang tak lagi bisa dikendalikan akal sehat.

Inilah yang oleh Ibnu Arabi, sang filsuf sufi agung penulis Fushush al-Hikam, disebut sebagai persoalan isti’dad—kesiapan batin dalam menerima kebenaran. Ibnu Arabi mengajarkan bahwa cahaya Ilahi senantiasa memancar kepada setiap hamba, tanpa pilih kasih, tanpa jeda. Namun cahaya yang sama itu akan diterima secara berbeda-beda tergantung kesiapan wadah yang menerimanya. Air jernih yang dituangkan ke dalam gelas kotor akan tampak keruh, bukan karena airnya yang kotor, melainkan karena wadahnya yang tak lagi bersih.

Demikianlah manusia zaman ini. Ketika hati telah lama dibiarkan kotor oleh kebencian dan iri dengki, kebenaran yang paling jernih sekalipun akan tampak seperti sesuatu yang layak dicurigai, sementara kebohongan yang dipoles rapi justru diterima dengan mudah sebagai kebenaran. Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menulis bahwa hati manusia adalah mazhar dari al-Ruh. Ketika hati telah tercemar oleh kebusukan—oleh kibr, hasad, riya’, dan hubb al-dunya—maka seluruh kehidupan menjadi busuk. Angin yang dihembuskan bukan lagi angin kehidupan, melainkan angin kematian.

Ketika Kesesatan Berdiri Gagah sebagai Kebenaran

Barangkali inilah baris paling menyayat dari keseluruhan syair: ketika kesesatan dijadikan pembenaran. Ini bukan sekadar persoalan kebodohan, melainkan persoalan yang jauh lebih rumit dan lebih menyakitkan, yakni persoalan tertutupnya mata batin, atau yang dalam bahasa tasawuf disebut bashirah.

Para sufi mengenal fenomena ini dengan sebutan inqilab al-mawazin—terbaliknya seluruh timbangan nilai kehidupan. Yang haqq tampak batil, yang batil tampak haqq. Bukan karena kebenaran itu sendiri berubah—sebab kebenaran tidak pernah berubah—melainkan karena cermin yang memantulkannya telah retak dan berdebu.

Ibnu Arabi, dalam magnum opus-nya yang luas dan dalam, Al-Futuhat al-Makkiyyah, menulis panjang lebar tentang hijab—tabir-tabir yang menutupi hati dari cahaya. Yang menarik, ia menegaskan bahwa hijab paling berbahaya bukanlah kegelapan pekat yang jelas-jelas gelap, melainkan cahaya yang menyilaukan sehingga seseorang mengira dirinya telah sampai pada kebenaran, padahal ia baru saja terpesona oleh pantulan yang menyesatkan dari kebenaran itu sendiri.

Betapa banyak manusia hari ini yang begitu yakin dengan jalannya sendiri, begitu percaya diri dengan pembenarannya sendiri, hingga tak lagi menyisakan ruang untuk keraguan yang sehat, untuk introspeksi yang jujur, untuk pertanyaan sederhana: jangan-jangan aku yang salah? Al-Kamasykhanawi menulis bahwa tanda hati yang mati adalah ketidakmampuannya untuk membedakan antara yang halal dan yang haram. Ketika seseorang sudah tidak lagi merasa bersalah ketika berbuat dosa, ketika ia sudah bisa membenarkan keburukan dengan alasan yang dibuat-buat, maka ia sedang berada di tepi jurang kehancuran.

Ketika Dunia Naik Tahta Menggantikan Tuhan

Larik berikutnya berbicara tentang kekayaan dunia yang dituhankan. Ini adalah kritik paling tajam dalam keseluruhan syair, sekaligus paling menyentuh nadi kehidupan modern. Sebab tuhan-tuhan baru itu tidak lagi berwujud patung atau berhala kayu yang mudah dikenali dan dijauhi. Tuhan-tuhan baru itu berwujud angka di rekening bank, jabatan yang diperebutkan, dan pengakuan sosial yang dikejar tanpa henti.

Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menekankan pentingnya tawajjuh—yakni orientasi total hati hanya kepada Allah—sebagai syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin menempuh jalan spiritual dengan sungguh-sungguh. Ketika orientasi hati ini berpaling, ketika cinta yang seharusnya tertuju kepada Yang Maha Abadi justru dialihkan sepenuhnya kepada yang fana, maka sesungguhnya telah terjadi pergantian tuhan dalam ruang batin manusia, meski secara lisan ia masih mengaku beriman.

Dari sudut psikologi kedalaman yang dirintis Carl Gustav Jung, fenomena ini dapat dibaca sebagai proyeksi yang keliru arah. Jung mengamati bahwa jiwa manusia senantiasa memiliki kerinduan bawaan akan sesuatu yang melampaui dirinya—sesuatu yang ia sebut sebagai pengalaman akan yang numinus, yang sakral, yang ilahiah. Namun ketika kerinduan bawaan ini tidak disalurkan secara sehat kepada sumbernya yang sejati, ia akan dengan mudah diproyeksikan kepada objek-objek pengganti yang sesungguhnya tak pernah mampu memuaskan kerinduan itu secara tuntas. Harta yang menumpuk tidak pernah benar-benar mengenyangkan jiwa yang lapar akan makna. Justru semakin ia dikejar, semakin dalam pula kekosongan yang dirasakan.

Ketika Hidup Kehilangan Alasannya

Ada satu larik yang barangkali paling sunyi dan paling menakutkan dari seluruh syair ini: ketika sudah tidak ada lagi guna kehidupan dijalankan. Ini bukan sekadar keputusasaan biasa. Ini adalah gambaran tentang kekosongan eksistensial yang telah mencapai titik nadirnya—sebuah kondisi yang oleh para sufi disebut sebagai kematian hati sebelum kematian jasad, maut al-qalb.

Betapa banyak manusia hari ini yang jasadnya masih bernafas, masih beraktivitas, masih tersenyum di depan layar ponsel, namun jiwanya telah lama mati, telah lama kehilangan alasan untuk apa sesungguhnya hidup ini dijalankan. Inilah kekosongan yang oleh para filsuf eksistensialis disebut sebagai absurditas, namun oleh para sufi telah lama diidentifikasi jauh sebelumnya sebagai ghaflah—kelalaian total dari tujuan penciptaan.

Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam kitabnya yang agung, Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, menghimpun ratusan kisah para wali dan orang-orang saleh yang justru menemukan makna hidupnya yang paling penuh justru ketika mereka melepaskan diri dari kemewahan dunia. Perhiasan sejati bagi mereka bukanlah emas dan berlian, melainkan kejujuran hati, ketakwaan yang tulus, dan kedekatan yang intim dengan Sang Pencipta. Mereka menemukan makna justru ketika dunia yang selama ini dianggap sebagai sumber makna, mereka tinggalkan.

Gempa yang Sesungguhnya Terjadi di Dalam Dada

Kemudian datanglah bagian paling dramatis dari syair ini: bumi bergetar dan berguncang, seluruh isi perutnya dimuntahkan, dan semua makhluk diliputi kebingungan serta ketakutan yang tak terperi. Secara zahir, gambaran ini mengingatkan pada peristiwa akhir zaman yang digambarkan dalam kitab suci. Namun secara batin, gambaran ini juga berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih personal dan jauh lebih dekat dengan pengalaman setiap manusia yang pernah menempuh jalan spiritual yang jujur.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah senantiasa melewati fase yang disebut qabdh—penyempitan dan kegoncangan jiwa—sebelum akhirnya mencapai basth—kelapangan dan ketenangan. Tidak ada jalan pintas untuk sampai pada kedamaian batin tanpa lebih dahulu melewati badai batin yang menghancurkan segala kepalsuan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.

Menariknya, gambaran serupa juga ditemukan dalam psikologi kedalaman modern. Carl Jung mengamati bahwa sebelum seseorang mencapai keutuhan jiwa yang ia sebut sebagai proses individuation, ia harus terlebih dahulu berhadapan dengan apa yang disebutnya sebagai Shadow—seluruh sisi gelap kepribadian yang selama ini disembunyikan dan ditolak oleh kesadaran. Konfrontasi ini seringkali terasa seperti gempa bumi batin, mengguncang seluruh fondasi diri yang selama ini dianggap kokoh, memuntahkan segala yang selama ini terpendam ke permukaan kesadaran dengan cara yang menyakitkan dan menakutkan.

Bukankah ini yang dirasakan setiap kali seseorang mulai jujur pada dirinya sendiri, mulai berani menatap luka-luka lama yang selama ini dihindari, mulai mengakui kesalahan-kesalahan yang selama ini disembunyikan bahkan dari dirinya sendiri? Ada kebingungan, ada ketakutan—sebelum akhirnya ada kelegaan dan pencerahan.

Ketika Tidak Ada Lagi Usaha yang Dapat Diharapkan

Larik berikutnya berbicara tentang saat ketika tidak ada lagi usaha yang dapat diharapkan, ketika sejuta penyesalan tidak lagi didengarkan. Ini adalah gambaran tentang batas waktu, tentang pintu yang pada akhirnya akan tertutup. Dalam tradisi tasawuf, ini berkaitan erat dengan konsep fana’—peleburan diri—namun dalam pengertiannya yang paling mengerikan, yaitu kehancuran tanpa penyucian, kefanaan tanpa kesempatan untuk kembali.

Di sinilah pentingnya membedakan antara dua jenis fana’ yang sekilas tampak serupa namun sesungguhnya sangat berbeda arahnya. Ada fana’ yang membawa pada kebinasaan, yang oleh para sufi disebut halak—yaitu kehancuran yang terjadi karena manusia menunda-nunda pertobatannya hingga waktu benar-benar habis. Namun ada pula fana’ yang membawa pada kekekalan bersama Allah, yang disebut baqa’ billah—yaitu peleburan ego yang dilakukan secara sukarela selagi waktu masih ada, selagi pintu taubat masih terbuka lebar.

Ibnu Arabi, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, menegaskan bahwa fana’ sejati harus terjadi ketika masih ada kesempatan, selama ruh masih menyatu dengan jasad dan pintu kembali masih terbuka. Inilah yang disebutnya sebagai al-mawt al-ikhtiyari—kematian yang dipilih secara sukarela, yaitu kematian ego sebelum datangnya kematian jasmani yang sesungguhnya.

Fana’ ul-Fana’: Ketika Bahkan Kesadaran akan Kefanaan Turut Lebur

Di titik inilah kita sampai pada konsep paling dalam dan paling sunyi dalam seluruh tradisi tasawuf: fana’ ul-fana’—fananya fana’ itu sendiri. Para sufi mengajarkan tingkatan bertahap dalam perjalanan menuju Allah. Mula-mula seorang hamba mengalami fana’ fi al-af’al—kesadaran bahwa tidak ada pelaku sejati atas segala perbuatan kecuali Allah semata. Kemudian ia mengalami fana’ fi al-shifat—lebunya sifat-sifat kehambaan dalam sifat-sifat keilahian. Puncaknya adalah fana’ fi al-dzat—lebunya seluruh kesadaran akan keberadaan diri sendiri dalam kesadaran akan Dzat Allah semata.

Namun di atas ketiga tingkatan agung ini, masih ada satu tingkatan yang lebih dalam lagi, yang oleh para sufi disebut sebagai fana’ ul-fana’. Jika dalam fana’ biasa masih tersisa kesadaran tipis bahwa “aku telah lebur dalam Allah”, maka dalam fana’ ul-fana’, bahkan kesadaran akan peleburan itu sendiri turut lenyap. Tidak ada lagi “aku” yang menyaksikan proses fana’, karena kesadaran akan subjek yang berfana’ pun telah lebur seluruhnya.

Inilah puncak penyucian jiwa yang sesungguhnya—sebuah kesunyian yang di dalamnya tidak ada lagi dualitas antara hamba dan Tuhan, antara yang fana dan Yang Kekal, karena kesadaran akan dualitas itu sendiri telah tiada. Yang tersisa hanyalah Dia semata, tanpa ada lagi cermin yang memantulkan bayangan keakuan, betapapun tipisnya.

Al-Kamasykhanawi menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, tidak ada lagi “aku” yang fana’, tidak ada lagi “aku” yang menyaksikan kefanaan, tidak ada lagi “aku” yang merasa telah mencapai sesuatu. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah Allah, al-Haqq, yang menyaksikan Diri-Nya sendiri melalui hamba-Nya yang telah menjadi cermin kosong.

Ditutup untuk Dibuka Kembali

Barisan terakhir syair berbicara tentang kehidupan yang akan ditutup dan dibuka kembali, beserta tegaknya pengadilan Ilahi yang Maha Tinggi. Inilah puncak dari keseluruhan perjalanan yang digambarkan sejak awal—sebuah siklus kematian dan kebangkitan yang berlaku baik pada skala kosmik alam semesta maupun pada skala mikrokosmik jiwa setiap manusia.

Pada level kosmik, ini adalah gambaran tentang kiamat dan hari kebangkitan, ketika seluruh alam semesta mengalami kehancuran total sebelum dibangkitkan kembali dalam wujud baru untuk menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta. Namun pada level yang lebih personal, ini adalah gambaran tentang setiap manusia yang harus berani “menutup” kehidupan lamanya yang penuh kepalsuan, kesombongan, dan penuhanan terhadap dunia, agarhem dapat “dibuka kembali” dalam wujud yang telah disucikan—dalam wujud insan kamil yang telah menemukan kembali fitrahnya yang hakiki.

Penutup: Undangan, Bukan Sekadar Ancaman

Pada akhirnya, syair yang penuh gemuruh ini, ketika dibaca dengan mata batin yang jernih, bukanlah sekadar ancaman yang menakut-nakuti. Ia adalah undangan yang penuh kasih sayang—sebuah panggilan untuk kembali sebelum benar-benar terlambat. Ia mengajak setiap jiwa untuk berani menempuh kematian yang dipilih secara sukarela, kematian ego dan segala kepalsuannya, selagi pintu taubat masih terbuka lebar, selagi waktu masih tersedia untuk berbenah.

Sebagaimana diajarkan oleh para arif dari generasi ke generasi—dari Abu Nu’aim al-Ashfahani yang mengumpulkan kisah-kisah keteladanan para wali, hingga Ibnu Arabi yang menyingkap rahasia-rahasia tajalli Ilahi—jalan menuju penyucian diri senantiasa penuh dengan goncangan dan kehancuran yang menyakitkan, namun pada ujungnya menyimpan kelapangan dan cahaya yang tiada tara.

Bumi boleh saja terbungkus kepalsuan hari ini, angin boleh saja membawa kebusukan zaman ini, namun selama pintu kembali masih terbuka, selama nafas masih berbus di dada, selalu ada kesempatan untuk memilih jalan pulang menuju fitrah yang hakiki—menuju kefanaan yang sejati, menuju kekekalan bersama Yang Maha Kekal.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version