SURABAYAONLINE.CO – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI memperkuat pengembangan ekosistem UMKM di Jawa Timur melalui strategi yang tidak hanya berfokus pada penyaluran pembiayaan, tetapi juga pendampingan usaha, peningkatan literasi keuangan, digitalisasi bisnis, hingga perluasan akses pasar.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen BNI dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Regional CEO BNI Region 06 Surabaya, Maya Agustina, mengatakan UMKM memiliki peran strategis sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Oleh karena itu, BNI mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan membangun ekosistem usaha yang mampu menciptakan pertumbuhan jangka panjang.
“BNI meyakini bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Oleh karena itu, strategi kami tidak hanya berfokus pada penyaluran pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan,” ujar Maya di Surabaya, Selasa (7/7/2026).
Di Jawa Timur, strategi tersebut diwujudkan melalui perluasan akses pembiayaan produktif, pendampingan usaha, peningkatan literasi keuangan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses pasar. BNI menilai kombinasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan mempercepat pertumbuhan UMKM menuju skala usaha yang lebih besar.
Untuk memperkuat inklusi keuangan, BNI menyediakan berbagai skema pembiayaan produktif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), program kredit pemerintah, serta pembiayaan bagi segmen usaha mikro dan kecil. Layanan tersebut diperkuat melalui jaringan Agen46 dan platform digital sehingga masyarakat, termasuk di wilayah dengan akses perbankan terbatas, tetap dapat menikmati layanan keuangan yang mudah, aman, dan terjangkau.
Selain pembiayaan, BNI juga memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, perguruan tinggi, inkubator bisnis, dan berbagai mitra strategis guna memperkuat ekosistem kewirausahaan di Jawa Timur.
Menurut Maya, keberhasilan program pembiayaan tidak hanya diukur dari besarnya kredit yang disalurkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan kapasitas usaha, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja baru.
Karena itu, BNI menghadirkan berbagai program pendampingan berupa pelatihan usaha, peningkatan literasi keuangan, digitalisasi bisnis, serta fasilitasi promosi dan akses pasar. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memperbaiki tata kelola usaha, serta memperkuat daya saing UMKM di pasar nasional maupun global.
BNI juga terus mendorong transformasi digital sebagai bagian penting dalam pengembangan usaha. Berbagai layanan digital memungkinkan pelaku UMKM melakukan transaksi, pembayaran, hingga pengelolaan keuangan secara lebih praktis dan efisien sehingga produktivitas usaha semakin meningkat.
Tidak hanya itu, BNI juga berupaya mencetak wirausahawan baru dari kalangan generasi muda melalui program edukasi kewirausahaan, literasi keuangan, pelatihan bisnis, serta dukungan pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, BNI memprioritaskan pembiayaan pada berbagai sektor produktif yang menjadi kekuatan Jawa Timur, seperti pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah agar manfaat pembiayaan lebih optimal.
Meski demikian, Maya mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam memperluas inklusi keuangan, mulai dari rendahnya literasi keuangan masyarakat, kesiapan administrasi usaha pelaku UMKM, hingga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, tantangan tersebut menjadi peluang untuk memperkuat edukasi dan kolaborasi antara perbankan, pemerintah, regulator, komunitas, serta pelaku usaha dalam menciptakan ekosistem UMKM yang semakin kuat.
“BNI meyakini bahwa membangun ekonomi kerakyatan bukan hanya tentang memberikan akses pembiayaan, tetapi juga membangun kepercayaan, meningkatkan kapasitas, dan menciptakan peluang. Melalui sinergi dengan pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan, kami berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra masyarakat dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” tegas Maya.


