SURABAYONLINE.CO – Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota Holding Pupuk Indonesia, kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung swasembada pangan nasional dengan melepas 50 peserta Taruna Makmur Batch IX untuk mengikuti program magang lapangan selama enam bulan di berbagai daerah di Indonesia.
Program Taruna Makmur Petrokimia Gresik ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam mencetak agronomis muda yang kompeten untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mempercepat regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, mengatakan bahwa pembangunan pertanian berkelanjutan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana produksi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mendampingi petani di lapangan.
“Keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana produksi, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya. Melalui Taruna Makmur, kami ingin menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi agronomi, kemampuan komunikasi, dan pengalaman lapangan sehingga mampu menjadi pendamping petani sekaligus agen perubahan di sektor pertanian,” ujarnya.
Sejak diluncurkan pada 2022, program Taruna Makmur telah melahirkan 423 agronomis muda. Pada Batch IX, sebanyak 50 peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi vokasi pertanian, yakni Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, Bogor, Medan, Gowa, Yoma, serta Politeknik LPP Yogyakarta.
Sebelum diterjunkan ke wilayah penugasan, peserta memperoleh pembekalan mengenai budidaya pertanian berkelanjutan, teknik komunikasi, personal branding, hingga pemanfaatan teknologi pertanian modern agar mampu memberikan pendampingan profesional kepada petani.
Selama enam bulan penugasan, para Taruna Makmur akan mendukung pelaksanaan Program Agrosolution Petrokimia Gresik. Mereka bertugas melakukan sosialisasi kepada petani, mengawal penerapan pemupukan berimbang, mendampingi budidaya tanaman, membantu koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta mengawal pelaksanaan demplot dan administrasi program.
Adityo menegaskan regenerasi petani menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi sektor pertanian Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan petani harus terus diperkuat guna membangun pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.
“Kolaborasi menjadi kunci. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, petani, dan pelaku usaha harus terus diperkuat agar mampu membangun ekosistem pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sebanyak 50 Taruna Makmur Batch IX akan ditempatkan di wilayah kerja Petrokimia Gresik yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali. Para peserta berasal dari berbagai program studi seperti penyuluhan pertanian berkelanjutan, agribisnis, hortikultura, teknologi benih, hingga pengelolaan perkebunan.
Melalui program ini, Petrokimia Gresik berharap dapat melahirkan agronomis muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu mempercepat adopsi praktik budidaya yang baik, serta mendukung peningkatan produktivitas pertanian guna memperkuat program swasembada pangan nasional.
Salah satu peserta Taruna Makmur Batch IX, Olivian Rizky, mengapresiasi kesempatan yang diberikan Petrokimia Gresik kepada mahasiswa untuk belajar langsung di tengah masyarakat.
“Semoga program ini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan ilmu dan memberikan aksi nyata bagi pertanian sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian,” katanya.


