Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Peneliti Yayasan Merah Jambu)

SURABAYAONLINE.CO – Ada ungkapan tua dari khazanah Sunda Kuno yang terasa sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung filsafat sejarah yang sangat dalam: hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke—ada dahulu maka ada sekarang; tidak ada dahulu maka tidak ada sekarang. Di balik kalimat itu tersimpan pandangan dunia yang tidak melihat masa lalu sebagai puing, melainkan sebagai akar; tidak memandang leluhur sebagai nostalgia, melainkan sebagai sumber orientasi moral; tidak memahami gunung sebagai batu dan tanah belaka, melainkan sebagai pusat kesadaran kosmis.

Dari ungkapan inilah kita dapat memasuki dunia batin Prabu Darmasiksa, raja Sunda yang dalam ingatan kultural masyarakat Tatar Sunda tidak hanya dikenang sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga darma, pewaris kabuyutan, dan penata hubungan antara manusia, alam, leluhur, serta Sang Hyang. Ia berdiri pada titik pertemuan antara kerajaan dan karesian, antara politik dan spiritualitas, antara negara dan gunung, antara kuasa dan tapa.

Membaca Darmasiksa melalui Kropak Galunggung berarti membaca suatu model kepemimpinan Nusantara yang berbeda dari imajinasi modern tentang kekuasaan. Dalam dunia modern, kekuasaan sering diukur melalui kemampuan menguasai birokrasi, ekonomi, militer, hukum, dan opini publik. Namun, dalam tradisi kabuyutan Sunda, kekuasaan yang sah tidak cukup ditopang oleh senjata dan istana. Kekuasaan harus berakar pada darma. Ia harus memiliki hubungan benar dengan leluhur, alam, rakyat, ilmu, dan ruang suci.

Di sinilah Galunggung menjadi penting. Galunggung bukan sekadar gunung dalam pengertian geografis. Ia adalah simbol kosmologis. Ia adalah titik tinggi, baik secara fisik maupun spiritual. Di sana manusia tidak hanya mendaki tanah, tetapi juga mendaki kesadaran. Di sana raja tidak hanya memerintah, tetapi diuji: apakah ia sanggup menjaga kabuyutan, atau justru menjadi penguasa yang kehilangan akar?

Dalam konteks ini, Kropak Galunggung bukan sekadar naskah tua. Ia adalah cermin peradaban. Ia adalah pesan politik, moral, spiritual, dan mistik sekaligus. Ia memperlihatkan bahwa masyarakat Sunda Kuno telah memiliki konsep yang matang mengenai etika pemerintahan, kesadaran sejarah, tata ruang suci, perlindungan tanah leluhur, serta hubungan antara manusia dan kosmos.

Darmasiksa: Raja, Resi, dan Penjaga Darma

Prabu Darmasiksa kerap ditempatkan dalam ingatan sejarah sebagai raja Sunda yang memiliki wibawa moral tinggi. Namanya sendiri mengandung makna penting: darma merujuk pada tatanan kebenaran, kewajiban kosmis, hukum hidup, dan prinsip moral; sedangkan siksa dapat dipahami sebagai ajaran, tuntunan, atau disiplin. Dengan demikian, Darmasiksa bukan hanya nama personal, melainkan gelar ideologis: raja yang menegakkan ajaran darma.

Dalam tradisi kerajaan Nusantara, raja ideal bukan semata orang yang menang perang. Ia harus menjadi pusat keseimbangan. Jika raja kehilangan hubungan dengan darma, maka kerajaannya menjadi rapuh, sekalipun tampak kuat secara militer. Jika raja memutus hubungan dengan leluhur, maka kekuasaannya kehilangan legitimasi batin. Jika raja merusak alam, maka ia merusak fondasi kosmos yang menopang masyarakatnya.

Darmasiksa, dalam pembacaan filosofis, hadir sebagai figur raja yang memahami bahwa kekuasaan harus tunduk kepada sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya. Ia bukan absolut dalam pengertian tiranik. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai pemilik tanah, tetapi sebagai penjaga tanah. Ia tidak berdiri sebagai penguasa kabuyutan, melainkan sebagai pelindung kabuyutan.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara konsep kekuasaan sakral dan kekuasaan profan. Kekuasaan profan menganggap wilayah sebagai objek administrasi. Kekuasaan sakral melihat wilayah sebagai amanat. Tanah bukan komoditas. Gunung bukan tambang semata. Hutan bukan stok kayu. Air bukan sekadar sumber irigasi. Semuanya memiliki ruh, makna, batas, dan pantangan.

Dalam pandangan ini, seorang raja tidak boleh menjadi pemilik yang rakus. Ia harus menjadi penjaga yang tahu diri. Ia harus memahami bahwa kekuasaan yang tidak diikat oleh darma akan berubah menjadi angkara. Dan angkara, dalam tradisi Nusantara, selalu berakhir pada keruntuhan. Maka, filsafat Darmasiksa bukanlah filsafat ekspansi, melainkan filsafat pemeliharaan. Bukan filsafat dominasi, melainkan filsafat keseimbangan. Bukan filsafat penaklukan alam, melainkan filsafat hidup bersama alam.

Kabuyutan sebagai Pusat Kosmos

Kata kabuyutan memiliki kedalaman makna yang tidak dapat disederhanakan sebagai “situs leluhur”. Kabuyutan adalah ruang suci, pusat ingatan, tempat penyimpanan naskah, pusaka, ritus, dan otoritas spiritual. Ia adalah simpul antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam masyarakat tradisional, kabuyutan berfungsi seperti arsip, universitas, tempat ibadah, pusat legitimasi, dan ruang kontemplasi sekaligus.

Di dalam kabuyutan, pengetahuan tidak diperlakukan sebagai informasi yang bebas diperdagangkan. Pengetahuan adalah warisan yang harus dijaga dengan adab. Naskah tidak sekadar dibaca, tetapi dihormati. Pusaka tidak sekadar disimpan, tetapi dirawat. Ritual tidak sekadar dilakukan, tetapi dimaknai sebagai pembaruan hubungan manusia dengan leluhur dan Sang Hyang.

Kabuyutan Galunggung, dalam perspektif antropologi budaya, memperlihatkan suatu tata ruang kosmotik. Yang dimaksud dengan kosmotik di sini adalah pandangan bahwa ruang manusia selalu terhubung dengan tatanan kosmos. Ada arah, lapisan, pusat, batas, larangan, dan gerak naik menuju kesucian.

Gunung adalah simbol vertikalitas. Ia menghubungkan dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas. Kaki gunung adalah ruang kehidupan sosial. Lereng adalah ruang transisi. Puncak adalah ruang hening, ruang tapa, ruang pertemuan dengan yang gaib. Karena itu, banyak tradisi Nusantara menempatkan gunung sebagai tempat wahyu, tempat pertapaan, tempat leluhur bersemayam, atau tempat manusia mengingat asal-usulnya.

Dalam hal Galunggung, gunung tidak hanya berdiri sebagai lanskap alam, tetapi sebagai teks kosmologis. Ia dapat dibaca seperti naskah. Lerengnya adalah halaman. Kabuyutannya adalah aksara. Ritualnya adalah cara membaca. Resi dan pandita adalah penafsir. Raja adalah pelindung. Masyarakat adalah pewaris.

Dari sini terlihat bahwa puncak ritual di karesian Galunggung bukan semata seremoni. Ia adalah proses penyelarasan. Manusia datang bukan hanya membawa sesaji, tetapi membawa diri. Ia tidak hanya meminta keselamatan, tetapi juga menata kembali batin. Ia tidak hanya mencari berkah, tetapi mengakui bahwa hidup memiliki pusat yang lebih tinggi dari ego.

Kropak Galunggung sebagai Kitab Etika Peradaban

Naskah yang dikenal sebagai Amanat Galunggung atau Kropak Galunggung menyimpan ajaran yang tampak sederhana, tetapi sangat kuat secara filosofis. Di dalamnya terdapat nasihat agar manusia tidak saling bertengkar, tidak merasa paling benar, tidak merampas hak orang lain, tidak membunuh yang tidak berdosa, tidak menyakiti yang tidak bersalah, tidak berebut kedudukan, dan tidak melupakan orang tua serta leluhur.

Sekilas, ini tampak seperti ajaran moral umum. Namun, bila dibaca lebih dalam, ia adalah fondasi politik. Sebab, negara tidak runtuh hanya karena serangan luar. Negara juga runtuh karena perang batin di dalam dirinya: elite yang berebut kuasa, pemimpin yang merasa paling benar, pejabat yang merampas hak rakyat, masyarakat yang kehilangan hormat kepada leluhur, dan generasi baru yang memutus hubungan dengan sejarah.

Kropak Galunggung mengingatkan bahwa krisis peradaban dimulai ketika manusia kehilangan ukuran. Orang yang merasa paling lurus justru sering menjadi sumber kekacauan. Orang yang merasa paling benar mudah menghalalkan kekerasan. Orang yang berebut kedudukan dapat merusak tatanan bersama. Orang yang tidak menghormati leluhur akan kehilangan rasa malu terhadap sejarah.

Di sinilah ajaran Darmasiksa memiliki relevansi modern. Ia berbicara kepada kita hari ini, ketika politik sering berubah menjadi arena saling meniadakan; ketika jabatan diperebutkan bukan sebagai amanat, tetapi sebagai komoditas; ketika tanah leluhur digusur atas nama investasi; ketika alam dirusak atas nama pertumbuhan; ketika manusia modern merasa tidak lagi membutuhkan akar.

Amanat Galunggung memberi kritik tajam: bangsa yang melupakan kabuyutannya akan kehilangan pusat moralnya. Negara yang tidak menjaga ruang sucinya akan mudah dijajah, bukan hanya oleh kekuatan asing, tetapi oleh kerakusan internalnya sendiri.

Filsafat Sejarah: “Ada Dahulu, Ada Sekarang”

Salah satu inti terdalam dari ajaran Galunggung adalah kesadaran sejarah. Kalimat hana nguni hana mangke tidak hanya berarti bahwa masa kini berasal dari masa lalu. Ia juga mengandung etika tanggung jawab. Jika masa kini lahir dari masa lalu, maka generasi sekarang tidak boleh bersikap sombong seolah-olah dirinya muncul dari kekosongan.

Modernitas sering mengajarkan manusia untuk memuja kebaruan. Yang lama dianggap usang, yang tradisional dianggap tertinggal, yang mistik dianggap irasional, yang lokal dianggap kurang universal. Akibatnya, manusia modern sering menjadi cerdas secara teknis, tetapi miskin secara historis. Ia mampu membangun gedung tinggi, tetapi tidak tahu lagi mengapa tanah harus dihormati. Ia mampu menguasai teknologi, tetapi tidak lagi memahami batas batin. Ia mampu berbicara tentang masa depan, tetapi tidak tahu kepada siapa ia berutang masa kini.

Darmasiksa mengajarkan sebaliknya. Masa depan hanya dapat dibangun jika akar dijaga. Kemajuan tidak berarti memutus tradisi. Pembaruan tidak berarti menghina leluhur. Modernisasi tidak boleh menjadi amnesia budaya.

Dalam filsafat ini, leluhur bukan objek pemujaan buta. Leluhur adalah sumber kesinambungan. Menghormati leluhur bukan berarti menolak kritik, melainkan menyadari bahwa manusia selalu hidup dalam rantai warisan. Kita berbicara dengan bahasa yang diwariskan. Kita hidup di tanah yang dijaga orang sebelum kita. Kita memanen dari kebudayaan yang tidak kita ciptakan sendirian. Maka, manusia yang beradab adalah manusia yang tahu berterima kasih. Dan masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang tidak memutus akar sejarahnya demi kepentingan sesaat.

Puncak Ritual di Karesian: Dari Kuasa Menuju Hening

Istilah karesian menunjuk pada dunia para resi, yakni dunia olah batin, ilmu, tapa, dan kesunyian spiritual. Bila istana adalah ruang perintah, karesian adalah ruang permenungan. Bila pasar adalah ruang pertukaran, karesian adalah ruang penyucian. Bila medan perang adalah ruang keberanian lahiriah, karesian adalah ruang keberanian batin.

Puncak ritual di karesian Galunggung dapat dipahami sebagai perjalanan dari ramai menuju hening. Manusia meninggalkan dunia bawah yang penuh kepentingan, naik menuju ruang yang lebih sunyi, lalu berhadapan dengan dirinya sendiri. Dalam tradisi mistik, pendakian selalu melambangkan proses penyucian. Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin banyak beban yang harus ditinggalkan. Ego, ambisi, iri, dengki, rasa paling benar, dan nafsu kuasa harus ditanggalkan satu per satu.

Di sinilah ritual menemukan maknanya. Ritual bukan teatrikal. Ritual adalah pedagogi batin. Ia mendidik tubuh, rasa, pikiran, dan ingatan. Melalui gerak, diam, doa, pantangan, dan simbol, manusia diajak kembali kepada pusat.

Dalam pandangan mistik Sunda, hubungan dengan Sang Hyang tidak selalu diterangkan melalui konsep teologis yang kaku. Ia hadir dalam rasa hormat kepada alam, dalam kesadaran terhadap leluhur, dalam adab menjaga tempat suci, dalam kemampuan menahan diri, dan dalam keselarasan dengan tatanan hidup.

Maka, puncak ritual bukan kesaktian. Kesaktian justru dapat menjadi godaan. Puncak ritual adalah keweningan: beningnya batin yang membuat manusia mampu melihat dirinya tanpa tipu daya. Orang yang telah sampai di puncak bukan orang yang menguasai orang lain, melainkan orang yang menguasai dirinya sendiri.

Mistik Galunggung: Gunung sebagai Tubuh Kosmos

Dalam pembacaan mistik, gunung dapat dipahami sebagai tubuh kosmos. Kakinya adalah dunia material. Lerengnya adalah jalan latihan. Puncaknya adalah kesadaran tertinggi. Kabuyutan adalah jantung ingatan. Mata air adalah aliran hidup. Batu-batu tua adalah aksara alam. Hutan adalah selubung kesucian. Angin adalah pesan yang tidak selalu dapat diterjemahkan oleh bahasa biasa.

Masyarakat tradisional tidak memandang alam sebagai benda mati. Alam adalah sahabat spiritual. Ia memiliki tanda, ritme, dan peringatan. Ketika alam rusak, yang terganggu bukan hanya ekologi, tetapi juga etika. Kerusakan hutan adalah kerusakan batin kolektif. Hilangnya mata air adalah hilangnya rasa hormat. Hancurnya gunung adalah hancurnya pusat kosmos.

Pandangan ini sering dianggap mistik dalam arti negatif oleh manusia modern. Padahal, di balik bahasa mistik itu tersimpan ekologi moral yang sangat maju. Dengan menganggap alam sakral, masyarakat tradisional membangun mekanisme perlindungan. Pantangan, tabu, upacara, dan penghormatan kepada tempat suci berfungsi membatasi kerakusan manusia.

Di sinilah kearifan kabuyutan berbicara kepada zaman kita. Ketika krisis iklim, banjir, longsor, kekeringan, dan eksploitasi sumber daya alam semakin mengancam, kita perlu membaca ulang pandangan lama yang tidak memisahkan manusia dari alam. Tradisi kabuyutan mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak bumi. Manusia adalah bagian dari tata hidup yang lebih luas.

Jika manusia merusak gunung, ia merusak dirinya. Jika manusia mengeringkan mata air, ia mengeringkan masa depannya. Jika manusia menghina leluhur, ia menghina akar yang menopang keberadaannya sendiri.

Ritual sebagai Ingatan Kolektif

Dari perspektif antropologi budaya, ritual tidak boleh dilihat hanya sebagai ekspresi kepercayaan. Ritual adalah cara masyarakat menyimpan ingatan. Ia adalah arsip hidup. Di dalam ritual, masyarakat mengulang kembali narasi asal-usul, memperbarui ikatan sosial, meneguhkan hierarki nilai, dan mentransmisikan etika kepada generasi baru.

Karesian Galunggung, dalam konteks ini, berfungsi sebagai lembaga pendidikan budaya. Pendidikan tidak selalu berlangsung dalam kelas. Ia berlangsung dalam tata ruang, dalam cara berjalan memasuki tempat suci, dalam cara membuka naskah, dalam cara menghormati juru kunci, dalam pantangan yang tidak boleh dilanggar, dalam bahasa yang dipilih, dalam sikap tubuh, dalam diam.

Di sana ilmu bukan hanya isi kepala. Ilmu adalah laku. Orang yang berilmu tidak ditandai oleh banyaknya kata, tetapi oleh kerendahan hati. Itulah sebabnya Kropak Galunggung memuji “ilmu padi”: semakin berisi, semakin merunduk. Ini bukan sekadar peribahasa. Ini adalah teori etika pengetahuan.

Dalam dunia akademik modern, pengetahuan sering menjadi alat status. Gelar, jabatan, kutipan, dan panggung dapat membuat manusia merasa lebih tinggi daripada sesamanya. Tetapi dalam filsafat Galunggung, ilmu yang benar justru membuat manusia menunduk. Padi yang berisi tidak mendongak. Yang mendongak adalah padi hampa.

Ajaran ini sangat penting bagi kehidupan bangsa hari ini. Kita tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang adalah orang berilmu yang rendah hati. Kita tidak kekurangan ahli bicara. Yang langka adalah manusia yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian. Kita tidak kekurangan pemimpin yang cakap secara teknis. Yang kerap hilang adalah pemimpin yang memahami batas moral kekuasaan.

Kabuyutan dan Politik Tanah Air

Salah satu amanat paling keras dari tradisi Galunggung adalah kewajiban menjaga kabuyutan. Raja yang gagal menjaga kabuyutan dipandang hina. Ini bukan sekadar ungkapan emosional. Ini adalah filsafat politik tanah air.

Tanah air dalam pandangan kabuyutan bukan hanya wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup yang memiliki memori. Tanah mengandung jejak leluhur. Air mengandung keberlanjutan generasi. Gunung menjadi penanda kosmos. Hutan menjadi pelindung kehidupan. Karena itu, menjaga tanah air tidak cukup dengan slogan nasionalisme. Ia harus diwujudkan dalam perlindungan nyata terhadap ruang hidup, pusaka budaya, naskah, situs, dan ekologi.

Dari sini kita dapat membaca bahwa nasionalisme tertua Nusantara bukan hanya lahir dari batas negara modern. Ia tumbuh dari ikatan manusia dengan kabuyutan. Sebelum ada peta republik, sudah ada rasa memiliki terhadap tanah leluhur. Sebelum ada bahasa konstitusi, sudah ada etika menjaga ruang suci. Sebelum ada istilah kedaulatan nasional, sudah ada kesadaran bahwa tanah yang diwariskan leluhur tidak boleh begitu saja dikuasai pihak asing atau dirusak oleh kerakusan sendiri.

Namun, menjaga kabuyutan bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Yang ditolak bukan perjumpaan, melainkan penaklukan. Yang ditolak bukan perubahan, melainkan perubahan yang memutus akar. Yang ditolak bukan kemajuan, melainkan kemajuan yang menghancurkan pusat-pusat makna.

Dalam konteks sekarang, pesan ini sangat aktual. Banyak bangsa kehilangan jati diri bukan karena kalah perang, tetapi karena pusat-pusat budayanya dibiarkan mati. Naskah tidak dibaca. Situs tidak dirawat. Bahasa ibu ditinggalkan. Tanah adat dilepaskan tanpa pemahaman. Generasi muda dijauhkan dari ingatan leluhur. Pada titik itu, kolonisasi tidak lagi membutuhkan tentara. Ia bekerja melalui amnesia.

Kritik terhadap Romantisasi Mistik

Meski demikian, membaca Galunggung secara spiritual dan mistik tidak boleh jatuh pada romantisasi. Tidak semua yang lama otomatis benar. Tidak semua tradisi bebas dari problem. Tidak semua klaim mistik dapat diterima sebagai fakta sejarah. Kita harus membedakan antara bukti filologis, memori budaya, tafsir simbolik, dan pengalaman spiritual.

Kropak Galunggung adalah naskah yang dapat dikaji secara filologis. Kabuyutan dapat dikaji secara arkeologis, antropologis, dan historis. Tetapi makna mistik Galunggung adalah wilayah tafsir. Ia sah sebagai pembacaan budaya, selama tidak dipaksakan sebagai bukti tunggal sejarah.

Sikap kritis ini penting agar spiritualitas tidak berubah menjadi mitologi politik yang manipulatif. Banyak penguasa sepanjang sejarah memakai simbol suci untuk melegitimasi ambisi. Banyak elite menggunakan bahasa leluhur untuk menutupi kepentingan ekonomi. Banyak orang mengatasnamakan mistik untuk menghindari tanggung jawab rasional. Maka, membaca Darmasiksa harus dilakukan dengan dua mata. Mata pertama adalah mata ilmiah: memeriksa naskah, konteks, bahasa, sejarah, dan bukti. Mata kedua adalah mata batin: menangkap makna simbolik, etika, dan spiritualitas yang hidup dalam tradisi. Jika hanya memakai mata ilmiah, kita mungkin kehilangan ruh. Jika hanya memakai mata mistik, kita mudah tersesat dalam klaim tanpa dasar.

Kebijaksanaan justru lahir dari keseimbangan keduanya.

Darmasiksa dan Krisis Kepemimpinan Modern

Mengapa Darmasiksa masih penting hari ini? Karena kita hidup dalam krisis kepemimpinan yang tidak hanya administratif, tetapi moral. Banyak pemimpin modern pandai mengelola angka, tetapi gagal mengelola nurani. Mereka pandai berbicara tentang pembangunan, tetapi lupa bertanya: pembangunan untuk siapa, atas tanah siapa, dengan mengorbankan apa?

Filsafat Darmasiksa mengajukan standar kepemimpinan yang lebih tinggi. Pemimpin harus menjaga darma. Ia harus menjaga kabuyutan. Ia harus menghormati leluhur. Ia harus melindungi rakyat dari kekerasan dan perampasan. Ia harus menahan diri dari perebutan kedudukan yang merusak tatanan. Ia harus mencari ilmu seperti sungai yang terus mengalir. Ia harus rendah hati seperti padi yang berisi.

Bayangkan bila prinsip ini diterapkan dalam politik modern. Jabatan tidak lagi dipahami sebagai hadiah, tetapi amanat. Tanah tidak lagi dilihat sebagai objek transaksi, tetapi warisan. Rakyat tidak lagi diperlakukan sebagai angka elektoral, tetapi sebagai sesama yang harus dijaga martabatnya. Alam tidak lagi dianggap stok sumber daya, tetapi rumah kosmis.

Darmasiksa tidak menawarkan sistem demokrasi modern, tentu saja. Tetapi ia menawarkan etika yang dapat memperdalam demokrasi. Demokrasi tanpa darma akan menjadi sekadar kompetisi suara. Demokrasi tanpa kabuyutan akan kehilangan akar budaya. Demokrasi tanpa penghormatan kepada alam.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version