Sebuah Esai Reflektif tentang Mazhab Kebudayaan Kontemporer
Oleh: Hadipras
SURABAYAONLINE.CO – Ketika merenungkan arah peradaban modern di tengah kepungan arus informasi dan pragmatisme yang kian menderu, sebuah pertanyaan menggelitik sering kali muncul: apa sesungguhnya ideologi atau mazhab utama zaman ini? Jika kita mengesampingkan sejenak diktum-diktum tebal filsafat dari Barat atau kitab-kitab spiritualitas Timur, maka sebuah jawaban yang paling jujur, membumi, sekaligus getir akan mencuat ke permukaan, yaitu “Mata Duitan”. Frasa yang lazimnya dilemparkan sebagai kelakar sinis atau umpatan pasar ini, jika dibedah secara mendalam, ternyata bukan sekadar humor pemancing tawa. Ia adalah sebuah fenomena konseptual yang kokoh, sebuah manifesto tak tertulis yang merangkum realitas sosiologis dan spiritual manusia kontemporer (modern).
Komodifikasi Radikal dan Hilangnya Sakralitas
Secara intelektual, apa yang kita sebut sebagai mentalitas “mata duitan” adalah perwujudan paling murni dari kapitalisme akhir (late capitalism) dan komodifikasi radikal. Dunia hari ini telah bergeser dari sekadar masyarakat yang memiliki pasar (market economy) menjadi sebuah masyarakat pasar itu sendiri (market society). Dalam tatanan ini, garis pembatas antara yang bernilai luhur dan yang bernilai nominal telah lebur. Segala sesuatu—mulai dari perhatian, privasi data, reputasi, hingga ruang batin manusia—kini memiliki label harga. Kebahagiaan tidak lagi dicari melalui kedalaman kontemplasi atau pencarian transendental (pencarian makna hidup mendalam atau pemnuhan kebutuhn rohani), melainkan direduksi menjadi komoditas yang bisa dibeli dalam bentuk kenyamanan material dan konsumerisme. Uang bukan lagi sekadar alat tukar yang netral, melainkan telah bermutasi menjadi tolok ukur tunggal untuk mendefinisikan harkat dan martabat seorang manusia.
Syahwat Politik: Berburu Kekuasaan demi Akumulasi
Manifestasi paling telanjang dari mazhab ini dapat kita saksikan dalam panggung sirkus politik kekuasaan. Antusiasme yang meluap-luap dalam berebut kursi jabatan, dinamika koalisi yang bongkar-pasang dalam semalam, serta polarisasi yang tajam di akar rumput sering kali dibungkus dengan narasi luhur kemaslahatan rakyat atau bela negara. Namun, di bawah permukaan retorika yang berapi-api itu, logika “mata duitan” tetap menjadi dirigen utamanya. Politik tidak lagi dipandang sebagai seni mengelola kebijakan demi keadilan sosial, melainkan telah bergeser menjadi investasi jangka pendek dengan kalkulasi modal dan keuntungan yang ketat. Kekuasaan dikejar dengan begitu oportunis bukan karena ada visi ideologis yang hendak diperjuangkan, melainkan karena ia merupakan kunci utama untuk membuka akses ke hulu akumulasi kapital dan pengamanan aset-aset ekonomi.
Humor yang Menertawakan Diri Sendiri
Mengapa frasa “mata duitan” ini begitu efektif sebagai humor? Alasan utamanya adalah karena adanya ketidakselarasan (incongruity) yang sangat tajam antara apa yang kita ‘khotbahkan’ dan apa yang kita praktikkan. Di mimbar-mimbar formal, kita terus mengagungkan nilai-nilai moralitas, integritas, dan kesederhanaan. Namun, di balik layar, seluruh infrastruktur kehidupan kita dipaksa untuk tunduk pada dewa pasar. Menertawakan realitas ini adalah mekanisme pertahanan psikologis manusia modern yang terjebak dalam sistem transaksional. Ini adalah bentuk humor yang serius; kita tertawa bukan karena ada hal yang lucu, melainkan karena kita menyadari bahwa kritik sosiologis paling tajam terhadap diri kita sendiri justru terletak pada kelakar yang paling vulgar.
Kelakar yang menyindir bak tamparan:
“Maka, marilah kita bersujud dengan khusyuk di hadapan altar suci Lembaran Kertas Berwarna. Mari kita teruskan tradisi mulia ini: saling sikut dalam pemilu demi mengamankan remah-remah proyek, menggadaikan idealisme di pasar loak birokrasi, dan menakar kadar cinta serta persahabatan dari saldo rekening. Sungguh beruntung menjadi manusia zaman ini; kita tidak perlu lagi pusing mencari Tuhan di keheningan malam atau memeras otak memikirkan filsafat eksistensial yang rumit. Cukup pastikan mesin ATM kita tetap berbunyi ramah, sebab di dalam gemerincing angka-angka itulah letak keselamatan spiritual, kedamaian batin, dan kebenaran sejati yang paling hakiki.”
Asli jaman edan.


