Oleh: Gatot Sundoro
SURABAYAONLINE.CO – Salah satu kisah yang masyhur dijaman Nabi Musa adalah peristiwa sapi betina yang kemudian diabadikan oleh ALLOH SWT menjadi surat terpanjang dalam Al-Qur’an, yakni surat Al-Baqarah yang terdiri dari: 268 ayat.
Dikisahkan di kalangan Bani Israil, hiduplah seorang lelaki yang kaya raya, namun tidak mempunyai keturunan. Satu satunya ahli waris adalah anak saudaranya (keponakan). Tidak sabar menunggu pamannya meninggal dunia agar segera mendapatkan warisan, maka pada malam hari, ia menyiksa pamannya dan membunuhnya.
Kemudian malam itu juga ia meletakkan mayat pamannya di depan rumah salah seorang dari Bani Israil.
Besuk paginya heboh, sebagian besar masyarakat menuduh yang punya rumah lah sebagai pelaku pembunuhan. Tentu saja terjadi konflik, yang lain menuduh sebagai pembunuh, yang lainya punya alibi bahwa dia bukanlah pelakunya.
Akhirnya ramai ramai mereka mengadu ke Nabi Musa. Nabi Musa pun mengumpulkan seluruh Bani Israil.
Musa bertanya:” Siapa yang membunuh lelaki ini?”
Mereka menjawab:” Hai Musa, kami tidak tahu menahu tentang pembunuhan ini. Jika engkau seorang Nabi, tanyakan TUHANMU. Niscaya DIA akan memberi tahu kepadamu.”
Musa kemudian bangkit dan berdoa kepada ALLOH SWT sambil menangis. Musa memohon agar diberi tahu perihal pembunuhan itu.
ALLOH SWT pun memberi petunjuk agar Musa, memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina, lalu bagian sapi tersebut agar dipukulkan ke mayat itu.
Usai mendapatkan petunjuk, Nabi Musa pun segera berkata:” ALLOH memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.”
Sebuah perintah yang kelihatannya sederhana dan mudah untuk dilaksanakan. Namun Bani Israil adalah kaum yang ribet, sok pintar, tinggi hati dan gemar protes; Sehingga perintah yang simpel menjadi sulit dilaksanakan karena ulahnya sendiri.
Andaikata mereka segera menyembelih seekor sapi betina apa saja, perintah itu sudah selesai, sudah cukup. Sayangnya, mereka ngeyel, membantah dan mengisyaratkan perintah itu dengan berbagai macam pertanyaan pertanyaan yang menyulitkan pelaksanaannya.
Mereka (Kaum Bani Israil) mulai protes:” Apakah kamu hendak menjadikan kami sebagai ejekan?” (QS. Al-Baqarah: 67)
Maksud pertanyaan ini adalah, kami bertanya siapa pembunuhnya, namun malahan disuruh menyembelih seekor sapi betina….
Musa pun menjawab:” Aku berlindung kepada ALLOH agar tidak termasuk orang orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67)
Lalu mulailah “sok” pintar mereka dengan pertanyaan:” Tanyakan kepada TUHANMU, agar DIA menerangkan kepada kami, sapi betina yang bagaimana?” (QS. Al-Baqarah:68). Pertanyaan itu, dijawab Musa dengan turunnya QS. Al-Baqarah, ayat yang sama :” Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda.”
Nabi Musa segera memerintahkan Bani Israil untuk melaksanakan perintah ALLOH SWT. Alih alih langsung bekerja, Bani Israil masih ngeyel, mengajukan pertanyaan lagi:” Tanyakan kepada TUHANMU, agar DIA menerangkan kepada kami, apa warnanya.” (QS. Al-Baqarah:69)
Pertanyaan tersebut, sesungguhnya mereka yang memang enggan melakukan apa yang diperintahkan.
Musa menjawab:” ALLOH berfirman, sapi betina itu berwarna kuning tua, menyenangkan bagi orang orang yang memandangnya.”
Lagi lagi Bani Israil belum merasa puas, mereka masih mengajukan pertanyaan tentang hakikat sapi betina itu, seperti yang diabadikan dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 70:” Tanyakan kepada TUHANMU, hakikat sapi betina itu, sesungguhnya kami masih samar-samar.”
Musa pun menjawab:” Sesungguhnya ALLOH berfirman bahwa sapi betina itu belum pernah dipakai membajak, tidak cacat, tidak ada belangnya.”
Akibat pertanyaan pertanyaan tersebut nyaris mereka mereka tidak mendapatkan hewan dengan ciri ciri tersebut, akhirnya dengan berbagai macam kesulitan, sapi betina tersebut ditemukan dengan membelinya dengan harga yang sangat mahal (Disebabkan yang punya sapi tersebut enggan menjualnya)
Hewan berkaki empat itu milik seorang anak yatim yang usianya masih belia. Sapi betina itu merupakan satu satunya warisan sang ayah yang berpesan agar sapi tersebut dirawat dan tidak diizinkan untuk bekerja.
Kulitnya yang berwarna kuning tua sangat elok. Seluruh kriteria yang nabi Musa sebutkan, ada pada sapi itu.
Setelah sapi itu didatangkan ke hadapan nabi Musa, maka disembelih dan potongan tubuh sapi tersebut dipukulkan kepada jenazah. Dan atas izin ALLOH SWT, mayat si hartawan itu pun hidup kembali.
Kisah ini, seperti yang difirmankan oleh ALLOH SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah, 73 :” Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu! Demikianlah ALLOH menghidupkan kembali orang orang yang telah mati, dan menampilkan tanda tanda kekuasaan-NYA agar kamu mengerti.”
Nabi Musa kemudian bertanya kepada si mayat hidup:” Siapakah yang telah membunuhmu?”
Si hartawan pun menunjuk keponakannya: “Dia yang membunuhku.”
Setelah berkata demikian, atas izin ALLOH SWT, si hartawan menjadi mayat lagi.
Sang keponakan pun akhirnya dihukum mati.


