Angkringan Gang Kopi, Usaha Kecil dengan Cita-Cita Mulia untuk Bangkalan

SURABAYAONLINE.CO | BANGKALAN – Belakangan ini, warung angkringan ala-ala Jogjakarta mulai bermunculan di Kabupaten Bangkalan, salah satunya angkringan gang kopi.

Kini, gang kopi menjadi satu-satunya warung yang cirinya persis dengan angkringan ala-ala Jogja, mulai dari menu hingga model gerobaknya khas banget.

Menariknya, usaha angkringan gang kopi ini dirintis oleh mahasiswa lulusan Ilmu Politik di UIN Surabaya, pulang ke Bangkalan bukannya menata karir di dunia politik malah merintis usaha angkringan.

Dia adalah Mohammad Hariyanto (25), pria muda asal Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, tidak gengsi ataupun malu merintis usaha kecil, padahal dia juga merupakan mantan pimpinan aktivis kedaerahan dimasanya.

Hariyanto merintis usaha angkringan, bermula pasca dirinya pernah merintis usaha yang cukup besar dan menghabiskan modal yang cukup besar juga. Namun usahanya itu gagal.

Pasca dari kegagalan itu, dia mulai stres lantaran telah kehabisan banyak modal dengan ending yang jauh dari targetnya.

Cukup lama ia meratapi kegagalannya, beruntung dia masih diberi semangat kembali untuk memulai dengan usahanya yang baru, namun saat ingin memulai usaha dengan idenya membuat cafe, dia malah terkendala di modal.

Sehingga, pada akhirnya dia muncul ide untuk memulai usaha angkringan yang diberi nama Gang Kopi, dengan modal Rp 6 juta yang ia habiskan untuk gerobak serta dengan isinya.

Sebelum ia membuka angkringan ini, dia mengaku melakukan survei terlebih dahulu di Bangkalan, adakah model angkringan yang serupa dengan usaha yang ia jalankan saat ini.

“Ternyata, di Bangkalan tidak ada model angkringan yang seperti punya saya ini, yang ada hanya menjual sate-sateannya saja, tidak dengan kopi atau wedang,” kata Hari, saat bercerita kepada Surabayaonline.co, Jumat (7/10/2022).

Menu yang ia jadikan ciri khas dalam angkringannya itu, berupa wedang dan sate bacem, menariknya lagi, Hari tidak menyediakan sambungan wifi, karena dia tidak ingin pengunjungnya hanya fokus pada gadget atau handphone nya saja. Melainkan fokus menikmati hidangan yang ia sajikan.

Jiwa aktivisnya pun ia bawa dalam dunia usahanya, dia berkeinginan, saat aktivis nongkrong di angkringannya bisa nyaman berdiskusi sambil menikmati kopi.

“Itu tujuan saya kenapa angkringan saya tidak ada wifinya,” ujar dia.

Mantan salah satu pimpinan organisasi kedaerahan di Bangkalan ini, memiliki komitmen bahwa dirinya tidak pernah malu untuk memulai usaha, meskipun sebelumnya pernah mendapatkan cibiran “mantan aktivis malah jualan kopi,” kata dia.

“Kuncinya hanya satu, jangan sampai gengsi dan malu kalau ingin memulai usaha, dan komitmen saya, tidak ingin bergantung pada orang lain, kerena lebih baik hidup secara mandiri, dan itu harus berwirausaha,” sambungnya.

Selain itu, dia juga memiliki cita-cita, bahwa dia berkeinginan usahanya ini, kedepan bisa ikut andil dalam menghidupkan perekonomian di Kabuapaten Bangkalan.

Apalagi kata dia, di Bangkalan sangat minim lowongan pekerjaan, untuk itu dia mengajak agar pemuda, baik aktivis maupun alumni apapun, jangan sampai malu untuk berwirausaha.

“Kita berusaha itu kalau sudah berjalan, pendapatannya jauh lebih besar dari orang-orang yang ada di kantoran, intinya optimis dan kita harus bisa menumbuhkan perekonomian di Bangkalan,” tandasnya. (Imam)