Pesan Moral Yang dapat di Petik Dari Drama Koroea Hometown Cha Cha Cha  

SURABAYAONLINE.CO – Drama Korea (drakor) Hometown Cha Cha Cha tengah jadi perbincangan, nih. Dibintangi oleh Kim Seon Ho dan Shin Min Ah, drakor ini beberapa kali mencapai rating 2 digit di negara asalnya, Korea Selatan. Bahkan di layanan streaming berbasis langganan, Netflix, sejak penayangannya Agustus lalu, Hometown Cha Cha Cha selalu langganan di list 10 tontonan popular.

Hometown Cha Cha Cha menceritakan tentang seorang dokter gigi bernama Yoon Hye Jin (diperankan oleh Shin Min Ah) yang pindah dari Seoul ke desa Gongjin untuk membuka klinik. Di sana, ia bertemu dengan Hong Du Sik (diperankan oleh Kim Seon Ho), biasa dipanggil Hong Banjang atau Kepala Hong, dan penduduk Gongjin dengan segala karakter dan konfliknya.

Apa sih yang bikin drakor ini begitu disenangi dan berbeda dengan tipikal komedi romantis pada umumnya? Selain menyajikan pemandangan alam yang indah dan kombinasi duet Kim Seon Ho dan Shin Min Ah dengan lesung pipi yang menggemaskan, Hometown Cha Cha Cha sarat dengan nilai moral dan pelajaran hidup, lho. Tim penulisnya pun tidak ragu untuk mengangkat isu sensitif, seperti perjuangan orang tua tunggal, maskulinitas toksik (toxic masculinity), dan sulitnya menjadi ibu.

Hometown Cha Cha Cha juga membahas masalah yang umum terjadi di kehidupan sehari-hari, dan memberikan tips untuk menghadapi masalah tersebut. Berikut beberapa dialog penuh makna, serta pesan moral yang bisa diambil dari drakor Hometown Cha Cha Cha. Peringatan, konten ini mengandung bocoran cerita, ya.

  • “Kau tahu yang seharusnya orang tua lakukan demi anaknya? Hidup sehat dan panjang umur. Bukan menahan sakit demi memberikan lebih banyak uang. Tetapi menjaga dirinya dengan baik.”

Mau ngumpulin orang yang berkaca-kaca dan tertohok dengan dialog ini! Karena nenek Gam Ri menolak untuk dirawat giginya dan lebih memilih tidak bisa makan, Hye Jin kesal dan mengucapkan kata-kata tersebut. Pesan dokter Hye Jin sangat bagus. Sebagai orang tua, kita pasti lebih mengutamakan anak. Orang tua akan melakukan apa pun untuk memastikan si Anak tumbuh sehat, berkecukupan, dan terpenuhi kebutuhannya. Namun, seringkali kita lupa. Tugas orang tua bukan hanya memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak, tetapi juga membesarkan mereka, memberikan kasih sayang, dan mendampingi anak selama mungkin melewati berbagai fase di hidupnya.

  • “Hidup tidak selalu adil. Ada orang yang jalannya penuh lubang dan tidak mulus. Ada juga yang berlari sekuat tenaga, lalu menemui jurang di ujung jalannya.”

Di episode 2, ketika Hye Jin berkomentar buruk tentang warga Gongjin dan terdengar lewat pengeras suara, Hong Banjang datang kepadanya dan berkata, “Kamu pintar. Kamu seorang dokter. Hidupmu tanpa kesulitan. Tentu tak selalu, tapi penghalangmu hanyalah hal sepele seperti polisi tidur. Saat berhasil melaluinya, kau berpikir tak ada yang mustahil asal punya tekad. Namun, hidup tidak selalu adil. Ada orang yang jalannya penuh lubang dan tidak mulus. Ada juga yang berlari sekuat tenaga, lalu menemui jurang di ujung jalannya.”

  • “Kau bebas melakukan apa pun tanpa mencemaskan pendapatku. Kau membeli hadiah untuk dirimu sendiri dengan uang hasil kerja kerasmu. Kenapa mencemaskan pendapatku? Tidak masalah bagiku. Aku tidak rendah diri.”

Wow. Begitu respons yang tepat ketika mendengar dialog ini. Hong Banjang benar-benar pacar idaman ya! Meskipun merupakan sepasang kekasih, Hong Banjang tidak merasa rendah diri karena pendapatan dan pekerjaan Hye Jin yang lebih mapan. Tanda bahwa ia mendukung dan menghargai kerja keras Hye Jin, tanpa menjadi egois dan malu.

  • “Pesta (makan-makan) ini bukan karena kau mendapatkan penghargaan. Mendapatkan penghargaan adalah hal yang bagus. Tapi walaupun kau tak menjadi juara, kita tetap akan berpesta. Pesta ini untuk merayakan kerja kerasmu. Menurut ibu, usaha keras lebih penting daripada hasil akhirnya.”

Setuju banget enggak sih dengan ucapan Yeo Hwa Jung, kepada anaknya ini? Alih-alih membanggakan hasil sang Anak yang mendapat penghargaan Matematika, Yeo Hwa Jung lebih menghargai dan menekankan pentingnya kerja keras dan proses, dibanding hasil. Jika usahanya dihargai seperti ini, pasti anak semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik! Mengapa proses dan usaha lebih penting daripada hasil? Karena lewat proses tersebut, kita mendapat banyak pembelajaran dan pengalaman berharga. Kita pun jadi lebih menghargai hasil yang dicapai, dan tentunya punya mental yang lebih kuat.

  • “Dengan sedikit mengubah sudut pandang, hidup seperti ini pun bahagia. Hidup hanya satu kali dan aku sudah memiliki semua yang kuperlukan. Aku punya kasur empuk untuk tidur nyenyak malam ini, dan papan seluncur yang kuat. Orang yang kucintai juga ada di sisiku.”

 Begitu jawaban Hong Banjang ketika ditanya oleh teman-teman Hye Jin mengapa ia yang lulusan universitas ternama memilih untuk menjadi pengangguran dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Sungguh menggugah hati ya. Terkadang kita lupa untuk bersyukur akan hal-hal kecil yang ada dalam hidup kita. Kita terlalu disibukkan untuk mengejar sesuatu yang besar dan lupa menghargai hal-hal kecil dalam hidup. Bersyukur ternyata punya banyak manfaat bagi tubuh dan kesehatan, lho. Dengan bersyukur, kita akan lebih bahagia. Rasa syukur bisa memancing produksi hormon bahagia dalam tubuh, meningkatkan kesehatan mental, membuat tubuh semakin sehat, serta meningkatkan kualitas tidur. Coba jadikan kebiasaan untuk menuliskan hal-hal yang kita syukuri setiap harinya.

  • “Aku tak menyadarinya karena terbiasa bersamanya. Aku tak sadar betapa berharganya kebersamaan kami. Semua baru terasa ketika kami sudah tidak lagi bersama.”

 Penyesalan selalu datang di belakang memang benar adanya. Ini dirasakan oleh Jang Young Guk, mantan suami Kepala Wilayah, Yeo Hwa Jung. Ia baru menyadari kalau ia mencintai istrinya setelah tidak lagi bersama. Masa-masa indah ketika mereka masih menjadi pasangan terlalu sering disia-siakan oleh Jang Young Guk, hingga akhirnya keduanya bercerai.

Pelajarannya, jangan pernah sia-siakan orang yang kita sayangi. Jangan perlakukan mereka dengan buruk. Selalu ucapkan kata cinta, minta maaf ketika melakukan kesalahan, dan selesaikan masalah dengan baik. Jangan sampai menyesal saat akhirnya mereka sudah tidak ada di sisi kita. Don’t take your loved ones for granted.

  • “Mana ada hidup tanpa hujan? Saat seperti ini kau akan tetap basah, walau memakai payung. Jadi tak perlu banyak berpikir dan terjang saja hujannya.”

 Ini kata-kata Hong Banjang ketika Hye Jin ragu-ragu untuk menerjang hujan yang deras. Pesan moralnya adalah, dalam hidup, masalah pasti akan datang. Sama seperti hujan yang datang tiba-tiba. Akan ada rasa ragu, takut, khawatir, stres, sedih, ketika menghadapinya.

Namun, menghindari masalah bukanlah hal yang bijak. Kumpulkan keberanian untuk menghadapinya. Jangan berpikir terlalu banyak karena justru akan memancing timbulnya pikiran negatif, dan hadapi saja masalahnya. Hujan pasti akan berhenti. Badai pasti berlalu. Dan akan ada pelangi indah yang menunggu setelah hujan.

  • “Aku tidak suka ketidakjelasan. Meskipun begitu, jika kamu bisa berjanji untuk membuka hati dan bercerita kepadaku suatu hari nanti, aku bisa menunggumu. Berpikirlah pelan-pelan sambil berada di sampingku.”

Ini merupakan salah satu dialog yang menggugah emosi di drakor Hometown Cha Cha Cha. Hye Jin mengungkapkan keputusannya untuk tetap menunggu dan mendukung Hong Banjang pulih dari trauma masa lalu. Begini dialog lengkapnya, “Aku tidak suka ketidakjelasan. Meskipun begitu, jika kamu bisa berjanji untuk membuka hati dan bercerita kepadaku suatu hari nanti, aku bisa menunggumu. Aku tak menuntutmu. Aku hanya ingin kau memberitahuku kemungkinannya. Apa aku ada di rencana masa depanmu? Apa kita bisa terus bersama?”

Ketika Hong Banjang menjawab bahwa ia pun menginginkan hal yang sama, Hye Jin melanjutkan ucapannya, “Aku sudah membuat keputusan (untuk menunggumu), dan aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Tetapi aku tak mau jauh darimu. Berpikirlah dengan tetap di sampingku. Berpikirlah pelan-pelan sambil berada di sampingku.”

Trauma di masa lalu bisa menyebabkan depresi berkepanjangan dan mengubah hidup seseorang. Bahkan, tidak jarang mengubah pola pikir seseorang. Tentu saja proses pemulihan dari trauma dan depresi tidak bisa instan. Pulih dari rentetan peristiwa yang tidak mengenakkan di masa lalu adalah proses yang panjang. Yang paling penting, selama proses ini, diperlukan dukungan dari orang terdekat. Hye Jin memilih untuk membantu Hong Banjang pulih dari traumanya dengan menunjukkan cinta dan memberikannya tempat untuk bersandar. Mengharukan!

  • “Hal yang mungkin mudah bagi seseorang, bisa jadi sulit bagi orang lain.”

Hong Banjang adalah seorang yatim piatu dan hidup sebatang kara sejak remaja. Karena memiliki trauma berkali-kali ditinggalkan oleh orang terdekat, ia pun mengalami depresi kronis selama bertahun-tahun. Ia kesulitan untuk terbuka dan bercerita mengenai traumanya, serta cenderung menghindar ketika membicarakan masa depan. Hal ini membuat Hye Jin sedih.

Ada 1 nasihat menarik ketika Yeo Hwa Jung, Kepala Wilayah Gongjin, memberikan pendapatnya mengenai ini. “Bu Dokter, hal yang mungkin mudah bagi seseorang, bisa jadi sulit bagi orang lain. Sejak kecil, dia (Hong Banjang) sudah dewasa. Dia selalu menahan diri dan tak tahu cara berkeluh kesah. Saat kesulitan atau sakit, tak ada yang mendengar keluhannya. Aku berharap kau bisa menjadi orang tersebut.”

Salah satu pesan moral dari perkataan Hwa Jung adalah pentingnya berempati. Mencoba mengerti kesulitan orang lain dan membayangkan kita berada di posisi orang tersebut. Empati memainkan peran penting dalam hubungan antar manusia. Orang tua – anak, suami – istri, rekan kerja, sahabat, kerabat, hubungan apa pun itu, membutuhkan empati untuk bisa berjalan dengan baik. Jangan lupa untuk selalu berempati terhadap orang lain, ya!

Nah, itu tadi beberapa pesan moral yang bisa diambil dari drakor Hometown Cha Cha Cha. Bagus kan?Buat yang belum nonton, bisa menyaksikannya di Netflix, ya! (Windi)