Santri Menutup Telinga Saat Mendengar Musik, Apakah bentuk Intoleransi?

SURABAYAONLINE.CO – Beredar sebuah video yang merekam kegiatan santri mengantri vaksin covid-19. Namun, dalam rekaman tersebut para santri menutup telinga saat mendengar musik yang diputar saat menunggu giliran vaksin.

 

 

Adegan dalam video tersebut menuai beragam kritik. Tetapi, tidak sedikit pula yang menganggap hal tersebut biasa saja.

Staf Khusus Presiden RI, Diaz Hendropriyono bahkan mengunggah video tersebut melalui akun instagram pribadinya @diaz.hendropriyono.
Dalam captionnya, Diaz menuliskan “Sementara itu…., Kasian dari kecil sudah diberikan pendidikan yang salah. There’s nothing wrong to have a bit of fun”.

Selain itu, masih banyak ragam komentar negatif yang didapat pasca kejadian tersebut serta menggolongkan tindakan tersebut dalam kategori radikal.
Tetapi tidak sedikit pula orang-orang hingga tokoh yang menganggap hal tersebut biasa saja. Sehingga tidak perlu menganggap kegiatan tersebut merupakan bagian dari sikap intoleransi.

Ketua PBNU, KH. Marsyudi Syuhud angkat bicara terkait hal tersebut. Beliau mengatakan bahwa tindakan para santri itu merupakan bentuk pilihan.

“Hidup itu pilihan. Pilihan ada banyak. Orang makan saja banyak pilihan, ada singkong ada tempe. Begitu pula mau mendengarkan atau tidak, ya biasa saja. Mau mendengarkan musik atau tidak itu sebuah pilihan,” ujar Marsyudi, dikutip melalui tayangan youtube dari TVOne, Kamis (15/09/21)

Bukan tanpa alasan para santri menutup telinga saat mendengar musik yang diputar. Dirangkum dari berbagai sumber, santri yang berada dalam video tersebut merupakan santri Ma’had Tahfidz Qur’an.

Menutup telinga pada saat itu dalam rangka menjaga hafalan Al-Qur’an.

Direktur Wahid Foundation, Yenni Wahid menyayangkan sikap tersebut. Yenni menyatakan “Jadi kalau anak-anak ini oleh gurunya diprioritaskan untuk fokus pada penghafalan Al-Qur’an dan diminta untuk tidak mendengar musik, itu bukanlah indikator bahwa mereka radikal,” kata Yenni Wahid melalui instagram pribadinya @yenniwahid.

Akan tetapi, apakah reaksi santri tersebut bisa dikategorikan sikap intoleransi?

Sebelum berpikir terlalu jauh, toleransi harus dimaknai sebagai sebuah sikap yang melarang adanya diskriminasi tertentu kepada suatu golongan yang memiliki paham berbeda dengan maksud mengusik kepercayaan golongan tersebut.

Sedangkan intoleransi merupakan anonim dari sikap toleransi. Apabila melihat reaksi santri yang menutup telinga saat mendengar lagu, tidak bisa dijadikan sebagai indikator tindakan intoleransi atau radikal.

Dari tindakan tersebut, hal yang paling disoroti adalah bagaimana orang lain menganggap hal tersebut adalah tindakan radikal. Padahal jika kita semua bisa bertoleransi, hal seperti ini tidak seharusnya “dipermasalahkan.” Tindakan mereka bisa dianggap wajar karena bentuk pilihan mereka dengan alasan yang tepat. Tanpa ada maksud mengganggu ataupun mengusik kepercayaan orang lain.

Oleh karena itu, sebaiknya berprasangka buruk hingga menuduh radikal seharusnya dihindari untuk mencegah perpecahan. Toleransi menjadi tepat dilakuan apabila meningkatkan persatuan dan kesatuan tanpa kecurigaan. (Vega)