Januari Hingga November 2020, Ribuan Perempuan di Sumenep Resmi Menjanda

SURABAYAONLINE.CO, Sumenep- Tidak ada satupun anak manusia di muka bumi yang menginginkan percerain, selain itu percerain merupakan sesuatu yang tidak baik secara nilai dan norma bagi masyarakat yang memegang adat budaya ketimura.

Namun, terkadang percerain tidak dapat dihindari seperti hal nya ribuan perempuan di Kabupaten Sumenep yang harus menyandang status baru akibat percerain.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Pengadilan Agama Kelas 1 B Kabupaten Sumenep, terdapat 1.429 ribu peremuan yang resmi menjada mulai dari bulan Januari hingga November 2020.

Menurut Panitera Muda Pengadilam Agama HM. Arifin mengatakan, berdasarkan jumlah perkara yang masuk1.550, sudah ada sekitar 1.429 perkara yang sudah diputus dan ikrah, penyelasai perkara tersebut diselesaikan dalam jangka waktu selama 11 Bulan dengan rincian, cerai gugat 856 dan cerai talak 573.

“Sementara laporan yang diterima mencapai 1.550 perkara, jadi sisinya yang masih belum diputus berjumlah 121 perkara,” katanya, Senin (14/12/2020).

MH Arifin kemudian menjelaskan, beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian diantaranya, karena faktor perselingkuhan, poligami, Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ditinggalkan secara sepihak, dan karena faktor ekonomi.

“Terbanyak faktor dari Perselisihan terus menerus, sebanyak 1.226 perkara,” jelas nya

Ia kemudian juga memprediksi, angka perceraian akan mengalami peningkatan, pada tahun 2020 ini, jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang hanya berjunlah 1.602 perkara. Karena menurut dia jumlaj perkara yang sudah dihitung hanya dari bulan Januari hingga November 2020, sedangkan untuk Desember 2020 masih belum dilakukan penghitungan jumlah perkara yang masuk ke Pengadilan Agama Kelas IB Kabupaten Sumenep.

“Upaya kita ketika pemohon dan termohon itu hadir kita selalu melakukan mediasi kepada keduanya, namun jarang yang berhasil, karena ini masalah pribadi jadi kita tidak boleh memaksa,” pungkasnya.(Thofu)