SURABAYAONLINE.CO – PLN Nusantara Power (PLN NP) terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung transisi energi nasional melalui penerapan program cofiring biomassa di pembangkit listrik tenaga uap. Sepanjang semester pertama tahun 2026, PLN NP berhasil menghasilkan energi hijau sebesar 490,5 Gigawatt hour (GWh).
Pemanfaatan biomassa sebagai campuran bahan bakar batu bara tersebut juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Hingga akhir semester I 2026, pelaksanaan cofiring biomassa PLN NP telah berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon sebesar 590,9 ribu ton CO2e.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menyampaikan bahwa cofiring biomassa merupakan salah satu solusi transisi energi yang dapat diterapkan secara nyata dan bertahap dengan mengoptimalkan infrastruktur pembangkit yang telah tersedia.
“Program cofiring biomassa menjadi wujud konkret komitmen PLN Nusantara Power dalam mendukung percepatan transisi energi nasional. Kami terus mengoptimalkan aset pembangkit eksisting agar mampu menghasilkan listrik yang lebih bersih, tetap andal, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Ruly.
Program cofiring biomassa merupakan salah satu langkah strategis PLN NP untuk menghadirkan proses pembangkitan listrik yang lebih bersih tanpa mengurangi keandalan pasokan energi kepada masyarakat. Melalui program ini, biomassa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pendamping pada pembangkit eksisting sehingga penggunaan energi fosil dan emisi karbon dapat ditekan secara bertahap.
Pada tahun 2025, program cofiring biomassa PLN NP telah diimplementasikan secara komersial di 25 PLTU. Sepanjang periode tersebut, PLN NP mampu menghasilkan energi hijau sebesar 1.041 GWh serta mencatatkan penurunan emisi karbon mencapai 1,17 juta ton CO2e.
Capaian tersebut terus berlanjut pada semester pertama tahun 2026. Produksi energi hijau sebesar 490,5 GWh dan reduksi emisi karbon sebesar 590,9 ribu ton CO2e menunjukkan konsistensi perusahaan dalam mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai bagian dari bauran energi pembangkitan.
Menurut Ruly, keberhasilan penerapan cofiring di 25 PLTU membuktikan bahwa transformasi menuju pembangkitan rendah emisi dapat dilaksanakan secara terukur. Selain memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon, program ini juga membuka peluang pengembangan ekonomi baru melalui pembentukan ekosistem dan rantai pasok biomassa di berbagai daerah.
Pemanfaatan biomassa turut mendorong penggunaan sumber daya lokal, meningkatkan nilai tambah berbagai produk dan limbah organik, serta membuka ruang partisipasi bagi masyarakat, pelaku usaha, dan mitra lokal di sekitar wilayah operasi pembangkit.
“Capaian semester pertama tahun 2026 menunjukkan bahwa produksi energi hijau dari cofiring biomassa terus terjaga secara positif. Energi hijau sebesar 490,5 GWh yang telah dihasilkan menjadi fondasi penting bagi PLN NP untuk terus meningkatkan kontribusi pembangkitan rendah emisi pada periode berikutnya,” tambah Ruly.
Ke depan, PLN Nusantara Power akan terus mengembangkan inovasi pembangkitan ramah lingkungan, memperkuat keberlanjutan rantai pasok biomassa, serta meningkatkan efektivitas implementasi cofiring di seluruh unit pembangkit.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi sektor ketenagalistrikan nasional serta pencapaian target Net Zero Emissions Indonesia.


