Oleh: Gatot Sundoro 

SURABAYAONLINE.CO – Istilah ‘shidiqin’ berasal dari kata ‘shidq’ yang artinya kebenaran atau kejujuran.

Shidiqin adalah bentuk jamak dari kata ‘shiddiq’ yang berarti orang yang sangat jujur dan selalu membenarkan kebenaran dengan sepenuh hati, mereka mempunyai keimanan dan ketaqwaan yang luar biasa, serta selalu membenarkan dan mengikuti ajaran ajaran ALLOH dan Rasul-NYA dengan sepenuh hati.

Golongan orang yang memiliki kepercayaan yang sangat mendalam ini, dan selalu membenarkan kebenaran ajaran ALLOH dan Rasul-NYA tanpa syarat atau ketahuan sedikitpun, derajatnya sangat mulia disisi ALLOH SWT, tepat satu tingkat dibawah Nabi dan Rasul. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 69:

” Dan barangsiapa yang menaati ALLOH dan Rasul-NYA, mereka ini akan bersama sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh ALLOH, yaitu para Nabi, para shidiqin, orang orang yang mati syahid dan orang orang yang sholeh.”

Ash-Shidq (benar atau jujur) dalam perkataan adalah kesesuaiannya dengan kenyataan dan kebenaran, dan itu adalah lawan dari dusta.

Orang yang mengatakan kebatilan, menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan, dan bersaksi dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi, adalah pendusta.

Nabi Muhammad Saw cinta terhadap orang yang jujur dalam perkataannya, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Miswar bin Makramah dan Marwan bin Al Hakam, beliau bersabda:” Perkataan yang paling aku cintai adalah yang paling jujur.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

ALLOH SWT senantiasa berkata yang Haq, sebagaimana firman-NYA:” Maka yang benar (adalah dari-KU), dan hanya kebenaran itulah yang AKU katakan.” (Shad : 84)

Dan ALLOH SWT berfirman:” Dan siapakah yang lebih jujur perkataan (nya) daripada ALLOH?” (An-Nisa’: 87 dan 122)

ALLOH menjadikan kaum mukminin menjauh dari sifat dusta, lalu DIA memberitahu mereka bahwa dusta itu termasuk sifat orang orang kafir dan munafik, sebagaimana firman-NYA,

” Sesungguhnya yang mengada adakan kedustaan, hanyalah orang orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat ALLOH, dan mereka itulah orang orang pendusta.” (An-Nahl : 105).

Hal ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw pernah bersabda:” Tanda orang munafik itu ada tiga: Apabila bicara dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, dan apabila diberi amanat dia berkhianat.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i)

Maka wajib bagi orang yang beriman untuk menempatkan kejujuran baik perkataan maupun tingkah lakunya ketingkat yang tinggi.

Maka apabila seorang hamba berkata:” Tidak ada TUHAN selain ALLOH dan Muhammad adalah utusan-NYA.” Ia wajib mengucapkan dengan jujur, jika tidak, maka ia termasuk orang munafik.

Demikian juga saat sholat, maka ia harus sadar apa yang diucapkannya dengan maksud yang benar, jika tidak, maka ia adalah seorang pendusta. Demikian seterusnya.

Keutamaan kejujuran maupun ancaman bagi kedustaan, pernah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Rasulullah Saw pernah bersabda:” Sesungguhnya kejujuran itu membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu membimbing ke surga. Dan kedustaan itu mengantarkan pada kejahatan, dan kejahatan itu akan menggiring ke Neraka.” (HR. Bukhari)

Seseorang dapat mencapai derajat shidiqin, jika mampu mengamalkan empat amalan ini :

1. Selalu berdzikir, yang akan selalu melahirkan amal kebajikan dan menyinari qalbu.

2. Sering ber tafakur (merenung), yang akan menambah kesabaran dan pengetahuan.

3. Fakir (Merasa membutuhkan ALLOH) yang akan memunculkan rasa syukur yang tidak akan terputus.

4. Mahabbah (Cinta kepada ALLOH) yang membuat hati lebih tenang, tidak terlalu larut dengan duniawi dan semakin fokus pada kehidupan akhirat.

Ciri ciri orang shidiqin antara lain :

1. Mereka memiliki iman yang sangat kuat dan tidak pernah meragukan ajaran SLLOH dan Rasul-NYA.

2. Selalu berkata benar dan jujur dalam setiap perkataan dan perbuatannya.

3. Selalu taat terhadap perintah ALLOH dan Rasul-NYA dengan ikhlas.

4. Istiqomah dalam melakukan amal kebajikan dan selalu mendekatkan diri kepada ALLOH SWT.

Contoh shidiqin dalam sejarah Islam.

Salah satu contoh shidiqin yang fenomenal adalah sahabat sekaligus bapak mertua Nabi Muhammad Saw, yakni Abu Bakar As Siddiq.

Abu Bakar lah yang pertama kali membenarkan kerasulan Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar selalu mendukung dalam setiap perjuangan Nabi Saw.

Ketaqwaan dan kejujuran Abu Bakar merupakan teladan yang sangat kuat bagi umat Islam dalam memahami konsep shidiqin.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version