SURABAYAONLINE.CO – PT Petrokimia Gresik (Persero) bersama PT Rekayasa Industri (Rekind) memperkuat sinergi dalam pengembangan industri hijau dan kemandirian industri kimia nasional melalui pembangunan Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Gresik, Jawa Timur.

Proyek dengan kapasitas produksi total 600.000 ton per tahun tersebut ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara Petrokimia Gresik dan Rekind di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Fasilitas baru itu dirancang memproduksi soda ash sebesar 300.000 ton per tahun dan amonium klorida sebanyak 300.000 ton per tahun. Pembangunannya juga menjadi bagian dari upaya pemanfaatan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku industri bernilai tambah.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, mengatakan proyek tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong hilirisasi, dan mewujudkan kemandirian industri nasional.

Menurut Rahmad, pengembangan kedua produk tersebut mendukung mandat Pupuk Indonesia Grup dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kedaulatan industri melalui diversifikasi sumber nitrogen untuk produksi pupuk NPK dan pengembangan bahan baku kimia di dalam negeri.

“Ini proyek yang menuju transisi hijau. Ada carbon capture-nya, sekaligus melakukan diversifikasi sumber nitrogen untuk kebutuhan produksi pupuk NPK kita,” ujar Rahmad.

Pembangunan pabrik ini diharapkan memperkuat ketersediaan bahan baku industri domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Soda ash merupakan bahan kimia dasar yang digunakan dalam berbagai sektor, antara lain industri kaca, deterjen, kertas, tekstil, dan pengolahan air. Sementara itu, amonium klorida dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber nitrogen untuk produksi pupuk NPK serta berbagai kebutuhan industri lainnya.

Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperluas portofolio bisnis Petrokimia Gresik sekaligus memperkuat rantai pasok industri nasional dan sektor pertanian.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyebut penandatanganan kontrak EPCC sebagai tonggak penting dalam pelaksanaan proyek setelah melalui serangkaian proses persiapan dan pembahasan.

Menurutnya, pembangunan pabrik tersebut tidak hanya memiliki nilai bisnis, tetapi juga mendukung upaya perusahaan meningkatkan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

“Bagi Petrokimia Gresik, ini sangat penting. Bukan hanya aspek bisnis, tetapi juga aspek lingkungan karena ada penyerapan CO₂ yang cukup signifikan,” kata Daconi.

Dalam proses produksinya, pabrik akan memanfaatkan CO₂ dari fasilitas eksisting Petrokimia Gresik sebagai salah satu bahan baku pembuatan soda ash.

Integrasi tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah pemanfaatan karbon dioksida sekaligus mendukung upaya perusahaan dalam mengurangi emisi karbon dari aktivitas industri.

Selain aspek lingkungan, lokasi pabrik di kawasan industri Gresik juga dinilai strategis karena berdekatan dengan sejumlah industri pengguna. Kondisi ini berpotensi meningkatkan efisiensi distribusi dan daya saing produk di pasar domestik.

Daconi menegaskan, keberhasilan proyek membutuhkan koordinasi dan komitmen seluruh pihak, terutama Petrokimia Gresik sebagai pemilik proyek dan Rekind sebagai kontraktor EPCC.

Ia menekankan pentingnya memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai perencanaan, baik dari sisi waktu, anggaran, maupun standar kualitas.

Direktur Utama Rekind, Triyani Utaminingsih, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam proyek tersebut merupakan bentuk komitmen untuk mendukung pembangunan fasilitas industri strategis nasional.

Sebagai kontraktor EPCC, Rekind bertanggung jawab atas rangkaian pekerjaan mulai dari rekayasa teknik, pengadaan, konstruksi, hingga commissioning atau pengujian dan persiapan pengoperasian fasilitas.

Proyek yang menerapkan teknologi HOU tersebut ditargetkan selesai dalam waktu 34 bulan. Dalam pelaksanaannya, Rekind akan mengedepankan kualitas, keselamatan kerja, ketepatan waktu, dan keandalan hasil pembangunan.

“Kami berkomitmen untuk memastikan pelaksanaan proyek berjalan secara optimal dengan mengedepankan aspek kualitas, keselamatan, ketepatan waktu, dan keandalan hasil pembangunan,” ujar Triyani.

Sinergi Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan Rekind melalui pembangunan pabrik ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri kimia nasional.

Selain meningkatkan ketersediaan produk kimia di dalam negeri, proyek tersebut diharapkan mendukung transformasi industri menuju proses produksi yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan CO₂ sebagai bahan baku bernilai tambah.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version