SURABAYAONLINE.CO – Syarikat Islam (SI), organisasi kebangsaan penebar nasionalisme berasas Islam tertua di Indonesia, bakal menggelar Kongres / Majelis Tahkim ke 42 di Surabaya (17/10/26). Kali ini, organisasi kelanjutan Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan saudagar pengrajin batik H. Samanhudi cum suis (18/10/1905) mengusung tema dan melaungkan spirit, “Dakwah Ekonomi untuk Kemerdekaan Sejati.”

Tema tersebut merupakan panduan gerak SI melintasi zaman yang sedang sungsang dan mutashabik (crowded), bersamaan dengan berbagai perubahan asasi komunikasi – informasi multidimensi yang didorong oleh meruyaknya media sosial (secara multi media, multi channel, dan multi platform).

Di sisi lain, tema tersebut juga dimaksudkan untuk menggerakan transformasi organisasi mulai dari ideologi sampai struktur dan mekanisme organisasi yang membuat SI lebih lincah, yang bertumpu di tingkat Cabang dan Ranting.

Mengacu pada aksi perubahan HOS Tjokroaminoto di Surabaya mengubah SDI menjadi Sarekat Islam (SI), mengubah organ dan institusi perjuangan fakultatif menentang ketidak-adilan penjajah Belanda menjadi pergerakan melawan penjajahan – kolonisasi secara luas.

Tujuan yang hendak dicapai bukan sekadar merebut kemerdekaan yang memberikan hak-hak dasar kaum pribumi : kemerdekaan berserikat, berpendapat, bersikap, memilih dan mengelola pemerintahan sendiri. Melainkan kemerdekaan sejati sebagai manusia – kaum – bangsa yang bermartabat, setara dengan manusia – kaum – bangsa lain. Karenanya, kolonisasi yang dilakukan oleh siapapun, harus dilawan.

Percakapan, diskusi, dan debat di Rumah Penèlèh – Surabaya tentang gerakan SI berangkat dari pemahaman tauhid yang mengatur relasi – korelasi manusia dengan sesamanya dan semesta (makhluq) dan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al Khaliq dan Rabb).

HOS Tjokroaminoto dan para pemimpin SI lainnya berpikir dan memandang lebih jauh, bahwa untuk sampai pada pemahaman demikian atau membumikan pemahaman tauhid tersebut perlu upaya asasi ‘menguasai dan memanusiawikan’ ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karenanya sebagai gerakan intelektual yang berpadan dengan gerakan kaum amah, aktivisme SI memilih siyasah (cara, strategi, metodologi, politik) katimbang alasan-alasan elementer (intuitive reason).  Siyasah yang ditopang oleh kemampuan mengelola instrumen hidup insaniah – makhluqiyah yang diberikan Allah SWT, berupa nalar, naluri, nurani, rasa dan dria.

Syirkah Ta’awuniyah

SI memilih pola gerakan berasas perencanaan substantif dengan menentukan focal concern insaniah (ekonomi, pendidikan, politik, manajemen organisasi) yang jelas, setelah menyigi secara saksama, mendalam dan intens driving forces (kekuatan pendorong) gerakan (sistem sosio-budaya, sosio – politik, sosio-ekonomi) termasuk sosio habitus kaum – umat dalam konteks kemampuan mengelola keuangan (finance viability) secara islami — mulai dari tataran individual, komunal dan sosial. Yang terakhir ini berkaitan dengan kemauan dan kemampuan shadawah, infaq, zakat, dan waqaf.

HOS Tjokroaminoto dan para pemimpin SI memilih gerakan penyadaran atas kemuliaan insaniah kaum — dari ahsanit taqwim sampai insan kamil —  dengan kualifikasi : muslimin, mukminin, muhsinin, muttaqiin, mukhlisin.

Di Surabaya, HOS Tjokroaminoto dan para pemimpin SI menentukan beweging aktrap – awal gerakan perlawanan secara simultan. Melakukan dakwah  – menebar pemikiran yang menyeru khalayak memelihara spirit niaga dan mengundang mereka bergerak – melalui Oetoesan Hindia.

Dalam konteks inilah dibentuk koperasi Setia Oesaha, yang kelak mendirikan dan menjadi pemilik saham pada korporasi NV Handel Maatschappij Setia Oesaha. Koperasi ini merupakan model nyata gerakan ekonomi awal SI sebelum bergerak di berbagai bidang usaha lainnya. Koperasi ini juga merupakan model aksi SI dalam menguatkan akses umat / kaum terhadap modal, pasar dan informasi.

Selari dengan itu, dalam konteks penguatan akses umat / kaum terhadap jaminan sosial, bersama para pemimpin Boedi Oetomo para pemimpin SI, membentuk asuransi Boemi Poetera 1912. Dalam pembentukan lembaga-lembaga bisnis ini, SI memilih cara – strategi syirkah ta’awuniyah.

Beranjak dari apa yang dilakukan HOS Tjokroaminoto dan para pemimpin SI sejak dari Surabaya dengan segala dinamikanya — melalui berbagai artikel dari berbagai sumber (termasuk sumber Belanda) — terlihat hasrat besar khalayak lebih menjadi anggota. Karena sebagai anggota, kaum memperoleh banyak layanan dari SI. Mulai dari layanan pendidikan, pengembangan daya cita, jejaring informasi, perlindungan atas hak-hak dasar, dan perlakuan terhadap anggota berasas ekuitas dan ekualitas.

Dari sini tumbuh dan berkembang kesadaran anggota / kaum ‘memiliki’ (handarbeni, sense of belonging) organisasi, bukan sebaliknya. Hal tersebut tercermin pula dari tradisi anggota / kaum berinfaq setiap menyelenggarakan aktivitasnya.

Banyak hal yang bisa dan seharusnya dipetik, ketika Majelis Tahkim / Kongres diselenggarakan di Surabaya, yakni bagaimana SI dan para pemimpinnya lebih banyak menunjukan manfaat dan fungsi keberadaannya di dalam organisasi (hairun naas anfa’uhum lin naas), katimbang posisi atau kedudukannya.

Tidak Didikte Siapapun

Tema “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati” dalam Majelis Tahkim / Kongres ke 42 di Surabaya bukan sekadar tema, melainkan penegasan komitmen SI menganggit kemampuan dan daya ekonomi umat, sehingga umat sungguh menjadi insan yang hidup di tengah kemerdekaan sejati.

Presiden SI Hamdan Zoelva berulang kali menegaskan, bahwa orientasi gerakan Syarikat Islam diarahkan pada penguatan ekonomi umat. Antara lain dengan menegaskan kembali prioritas menggerakkan kembali kesadaran membangun dan menguasai kekuatan ekonomi melalui gerakan perkoperasian (gotong-royong) sebagai bagian dari dinamika perjuangan kaum SI sejak dulu, menumbuhkembangkan usaha di kalangan umat Islam, dan menghimpun potensi usaha kaum SI di seluruh wilayah Indonesia.

Majelis Tahkim / Kongres ke 42 sebagaimana ajang musyawarah kaum SI lainnya mesti juga dipandang sebagai wahana membangun jejaring usaha dan kerja sama pengusaha di kalangan umat Islam baik di dalam maupun luar negeri, berbasis silaturrahmi.

Gerakan dakwah ekonomi yang dibangun SI adalah gerakan ekonomi kerakyatan yang dinafasi dan dilandasi prinsip-prinsip Islam. Kekuatan ekonomi berdayaguna untuk dakwah Islam dan kekuatan politik umat. Gerakan dakwah ekonomi dikembangkan beriringan jalan dengan dakwah Islam sebagaimana lazimnya. Muara dari dakwah ekonomi sebagai da’wah bil-haal, yakni berdayanya ekonomi umat/rakyat yang menjadi penopang utama kemandirian ekonomi negara.

Allahyarham Rachmat Gobel sebagai Wakil Presiden SI Bidang Ekonomi, berulang-kali pula mengingatkan, keseriusan kaum SI melaksanakan dakwah ekonomi melalui koperasi, akan berdampak luas bagi tumbuhnya persatuan umat. Allahyarham beramsal, “Ibarat lidi, ketika kita berhimpun menjadi sapu akan kuat membersihkan apa pun, bahkan dapat menjadi daya yang multi fungsi, namun ketika lidi hanya sebatang, mudah sekali patah.”

Dalam konteks demikian, menurut Agustanzil Sjahroezah (Ibong Salim) kaum SI dengan modal historis dan sosial dapat memainkan perannya sebagai pelopor dalam menghidupkan mutual respect, saling dukung dan saling memuliakan dalam komitmen mencapai kemerdekaan sejati.

Sedangkan Ferry J. Juliantono, Sekretaris Jendral SI yang juga Menteri Koperasi melihat, dalam konteks mewujudkan tema Majelis Tahkim / Kongres ke 42 SI, kaum SI mesti menguatkan peran dalam koperasi, pengembangan ekonomi syariah, penguatan lembaga zakat – infaq – shadaqah, dan menghidupkan kesadaran dan tanggung jawab merawat lingkungan hidup.

Hamdan Zoelva memaknai kemerdekaan sejati sebagai suatu kondisi ketika umat Islam tidak lagi didikte oleh siapapun, dan dia memutuskan kehendaknya sesuai ajaran Islam dan komitmen kecintaannya kepada tanah air Indonesia.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version