Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – BAYANGKAN seseorang terbangun menjelang subuh. Rumah masih senyap, tetapi pikirannya sudah riuh. Ia mengingat pesan yang tidak dibalas, penghargaan yang diberikan kepada orang lain, serta perkataan kemarin yang melukai harga dirinya. Di atas sajadah, tubuhnya menghadap kiblat. Namun, di dalam hati, ia masih menyusun pembelaan, menagih pengakuan, dan membayangkan kemenangan dalam perdebatan yang bahkan telah selesai.
Pemandangan batin semacam itu mungkin dekat dengan kehidupan kita. Kita datang kepada Tuhan membawa permohonan, tetapi diam-diam juga membawa tuntutan agar kehidupan berjalan menurut rancangan sendiri. Kita memohon ketenteraman sambil memelihara kebutuhan untuk selalu dibenarkan. Kita meminta hati yang lapang, tetapi keberhasilan orang lain masih terasa mengambil sesuatu dari diri kita.
Di sinilah nasihat tentang nafsu menemukan ketajamannya. Sebuah teks klasik mengingatkan: ”Sungguh nafsu adalah dirimu yang tidak mau terikat dengan syariat. Sungguh dirimu nafsu, inginnya bebas lepas seperti binatang buas. Sungguh dirimu nafsu, inginnya berkuasa seperti kuasanya mahadiraja. Sungguh dirimu nafsu, yang rakus dengan menginginkan dunia beserta isinya ada dalam genggamanmu. Sungguh dirimu nafsu, inginnya dihargai setinggi-tingginya. Sungguh dirimu nafsu, inginnya selalu menang tanpa pernah bisa menerima kekalahan. Sungguh dirimu nafsu, inginnya hanya menerima kesenangan tanpa ingin menerima kesusahan. Sungguh dirimu nafsu, inginnya selalu bermalas-malasan. Sungguh dirimu nafsu, inginnya selalu ada perubahan menuju perbaikan yang membanggakan. Sungguh dirimu nafsu, inginnya selalu bertemu dengan yang dirindukan. Sungguh dirimu nafsu, inginnya memiliki semua yang disukai. Berhati-hatilah dengan semua keinginanmu karena keinginanmu adalah keinginan nafsumu, dan keinginan nafsumu adalah sumber kesesatan bagi hidupmu. Sungguh engkau harus membersihkan semua keinginanmu agar lahir keinginan Allah dalam hatimu.”
Teks ini bukan sekadar daftar sifat buruk. Ia adalah cermin yang diarahkan ke ruang paling pribadi: tempat seseorang membangun alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Di sana, keinginan sering berbicara dengan suara yang meyakinkan. “Aku hanya sedang memperjuangkan hak.” “Aku memang pantas dihargai.” “Aku ingin menjadiuh lebih baik.” Namun, di oleh balik suara itu, mungkin bersemb gemunyi nafsu yang sedang mencari jalan untuk tetap menjadi penguasa.
Sang Binatang Buas di Rimba Modernitas
Mari kita mulai dengan perenungan ontologis. ”Sungguh dirimu nafsu, inginnya bebas lepas seperti binatang buas.“ Psikoanalisis modern, terutama Sigmund Freud, mungkin akan mengidentifikasi fenomena ini sebagai Id—reservoir dorongan primitif yang buta, liar, dan hanya tunduk pada prinsip kesenangan. Id menolak segala bentuk kekangan moral atau tatanan hukum. Dalam bahasa mistik Islam, ini adalah Nafs Ammarah bis-Su’—tingkatan nafsu paling rendah yang terus-menerus memprovokasi manusia menuju jurang kebinatangan (QS. Yusuf: 53).
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dalam Sirr al-Asrar, menguraikan bahwa ruh manusia yang suci—yang berasal dari alam Lahut—telah diturunkan ke alam fisik dan terpenjara dalam sangkar jasmani. Di dalam sangkar inilah, ruh harus bertarung melawan “binatang buas” yang bernama nafsu. Nafsu tidak menyukai syariat, karena syariat berfungsi sebagai tali kekang yang menertibkan keliarannya. Syariat memaksa nafsu untuk menunda kepuasan instan, memaksa yang rakus untuk berpuasa, dan memaksa yang sombong untuk bersujud menempelkan keningnya di atas debu kehinaan.
Manusia yang dikuasai oleh binatang buas ini akan kehilangan sasmita—kepekaan batin atau intuisi spiritualnya. Ia menjadi tuli terhadap panggilan langit karena telinganya terlalu penuruh hasratnya sendiri. Pembangunan peradaban manusia yang beradab dan berdimensi luhur tidak akan pernah terwujud jika manusia di dalamnya masih diperbudak oleh tirani kebinatangan ini.
Carl Jung, psikoanalis yang lebih mendalam, menyebut sisi ini sebagai Shadow—sisi gelap yang tidak kita akui. Ketika kita menolak mengakui keberadaan Shadow dalam diri kita, ia akan bekerja secara bawah sadar, mendorong kita pada perilaku yang merusak. Kejahatan, kekerasan, dan penindasan sering kali lahir dari Shadow kolektif yang tidak terintegrasi. Tasawuf menawarkan jalan integrasi yang lebih dalam: bukan sekadar mengakui Shadow, tetapi mentransformasikannya melalui tazkiyat al-nafs—penyucian jiwa. Nafsu tidak dibunuh, tetapi dididik. Ia tidak dimusnahkan, tetapi ditundukkan.
Ilusi Kekuasaan dan Dahaga yang Tak Pernah Padam
Bait berikutnya menohok sisi tergelap dari narsisisme manusia: ”Sungguh dirimu nafsu, inginnya berkuasa seperti kuasanya mahadiraja. Sungguh dirimu nafsu, yang rakus dengan menginginkan dunia beserta isinya ada dalam genggamanmu. Sungguh dirimu nafsu, inginnya dihargai setinggi-tingginya.”
Mengapa manusia begitu haus akan kekuasaan, pengakuan, dan dominasi? Sang Mahaguru Sufi, Ibnu Arabi, dalam Fushush al-Hikam dan Al-Futuhat al-Makkiyyah, memberikan analisis metafisik yang sangat mendalam. Menurut beliau, hakikat Wujud hanyalah milik Allah semata. Manusia dan alam semesta hanyalah tajalli—manifestasi dan cermin bagi Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya.
Tragedi eksistensial terjadi ketika nafsu manusia mencoba merampas Sifat-sifat Ketuhanan—seperti Al-Mutakabbir, Al-Malik, dan Al-Qahhar—lalu mengklaimnya sebagai atribut personalnya. Ego manusia ingin dipertuhankan. Ketika seseorang gila hormat dan tidak bisa menerima kekalahan, sesungguhnya ia sedang membangun berhala di dalam dadanya. Ia sedang mengulang kembali dosa kosmis pertama: kesombongan Iblis, dan deklarasi arogan Firaun.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa keinginan berkuasa adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Ia adalah dosa iblis—istikbar. Iblis menolak sujud kepada Adam karena kesombongan: “Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12).
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ meriwayatkan bahwa para salaf sangat berhati-hati terhadap kerakusan. Hasan al-Basri pernah berkata: ”Barangsiapa yang memberikan hatinya kepada dunia, maka dunia akan mengikat jiwanya dengan tiga hal: keputusasaan yang tidak pernah menemui titik terang, kerakusan yang tidak pernah merasakan kepuasan, dan angan-angan kosong yang tidak akan pernah sampai pada ujungnya.”
Estetika Penderitaan dan Penempaan Jiwa
”Sungguh dirimu nafsu, inginnya hanya menerima kesenangan tanpa ingin menerima kesusahan… inginnya selalu bermalas-malasan.”
Dalam tradisi para wali dan kekasih Allah, penderitaan atau kesusahan tidak dimaknai sebagai kutukan, melainkan sebagai sapaan mesra dari Sang Khalik. Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ merekam dengan indah kehidupan kaum asketis yang justru menjadikan tangisan, kelaparan, dan kesulitan sebagai jalan tol menuju pintu-Nya. Bagi para wali, kesenangan duniawi yang berlebihan adalah racun yang meninabobokan jiwa.
Proses pembersihan jiwa ini sesungguhnya ibarat proses penempaan sebilah pusaka. Di Nusantara, kita mewarisi kearifan filosofis dari sebuah keris. Marabahaya terbesar sejatinya bukanlah musuh fisik dari luar, melainkan sang “aku” di dalam dada yang selalu berbisik menuju kesesatan. Seperti halnya sebongkah meteorit dan besi kotor yang harus dibakar dalam bara api menyala, dipukul, dan ditempa berulang kali oleh sang Empu untuk memunculkan keindahan corak dan kekuatan bentuknya, jiwa manusia pun harus rela “dibakar” dalam kesusahan.
Hadis riwayat Muslim menyebut bahwa surga dikelilingi hal-hal yang tidak disukai nafsu, sedangkan neraka dikelilingi syahwat. Hadis ini mengingatkan bahwa jalan menuju kebaikan sering meminta disiplin dan kesediaan menunda kepuasan. Namun, penderitaan tidak perlu dicari-cari seolah-olah ia tujuan. Yang dituntut adalah kesediaan menghadapi kesulitan yang datang, dan kesanggupan menahan diri dari kesenangan yang merusak.
Nafsu adalah entitas yang sangat cerdik dan licin. Ia tidak selalu bermanifestasi dalam bentuk kejahatan telanjang. Terkadang, ia bersembunyi di balik jubah ketaatan dan klaim perbaikan. ”Sungguh dirimu nafsu, inginnya selalu ada perubahan menuju perbaikan yang membanggakan… inginnya selalu bertemu dengan yang dirindukan.”
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, memperingatkan para penempuh jalan spiritual tentang bahayanya Syirk Khafi—syirik yang tersembunyi. Ketika seseorang berbuat baik, membangun karya besar, atau melakukan reformasi, namun motif terdalamnya adalah kebanggaan diri, maka di saat itu pula amalnya telah hangus dibakar riya’. Nafsu memanipulasi ibadah dan kebaikan sosial demi mendongkrak popularitas sang ego.
Nafsu tidak selalu menolak kebaikan. Kadang-kadang ia justru menginginkan kebaikan, asalkan dirinya memperoleh keuntungan dari kebaikan itu. Seseorang dapat beribadah agar disebut saleh, membaca agar dianggap cerdas, memberi agar dikenang dermawan, atau berbicara tentang kerendahan hati agar memperoleh pujian karena rendah hati.
Psikoanalisis menyebut kemungkinan adanya mekanisme pertahanan, ketika motif yang kurang disadari disamarkan melalui alasan yang tampak terhormat. Jung, dengan konsep shadow, mengajak manusia menghadapi sisi diri yang tidak ingin diakui. Dalam bahasa tasawuf, muhasabah mengajak seseorang melihat penyakit hati yang terselip di balik tindakan baik.
Karena itu, perubahan yang sehat tidak perlu terus-menerus diumumkan. Ia dapat dikenali melalui buahnya: akhlak yang lebih baik, tanggung jawab yang lebih kuat, dan kerendahan hati yang tidak sibuk meminta saksi.
Rindu yang Perlu Dimurnikan
”Inginnya selalu bertemu dengan yang dirindukan.” Kalimat ini membawa kita dari hasrat duniawi ke wilayah mistik. Rindu adalah pengalaman manusiawi yang dalam. Ia bisa tertuju kepada keluarga, kekasih, guru, Nabi, atau Allah. Namun, dalam semua bentuknya, rindu dapat berubah menjadi tuntutan: aku harus memperoleh pengalaman yang kuinginkan, pada waktu dan dengan cara yang kuinginkan.
Dalam perjalanan ruhani, seseorang bisa terjebak mengejar pengalaman luar biasa: mimpi, isyarat, rasa haru, atau perasaan dekat yang istimewa. Pengalaman semacam itu mungkin bermakna, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan kesempurnaan ruhani. Ukuran yang lebih dapat dipercaya adalah istiqamah, ketaatan, dan akhlak.
Rabi’ah al-‘Adawiyyah dikenang dalam tradisi sufi sebagai sosok yang melambangkan cinta kepada Allah yang tidak semata-mata digerakkan oleh imbalan. Kisah-kisah tentang dirinya mengarahkan kita pada pertanyaan penting: apakah seseorang mencintai Allah karena Allah, atau karena ingin mendapatkan pengalaman tertentu dari-Nya? Di sinilah kerinduan perlu dimurnikan—bukan dengan mematikan cinta, melainkan dengan melepaskan klaim atas yang dicintai.
Tazkiyah dan Fana’ ul-Fana’: Menjadi Kosong untuk Dipenuhi
Kalimat penutup teks, ”membersihkan semua keinginanmu agar lahir keinginan Allah dalam hatimu”, memiliki daya puitis dan daya mistik. Namun, ia perlu dipahami dengan cermat. Dalam akidah Islam, manusia tidak menjadi Tuhan dan kehendak manusia tidak berubah menjadi kehendak Allah secara harfiah. Yang dimaksud dalam bahasa tasawuf adalah hati yang ditundukkan oleh iman dan ketaatan, sehingga keinginan manusia diarahkan oleh apa yang diridai Allah.
Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki (QS. Al-Insan: 30). Ayat ini tidak menghapus tanggung jawab manusia. Ia menempatkan kehendak manusia dalam ketergantungan kepada kehendak dan kuasa Allah. Hamba tetap memilih dan beramal, tetapi tidak menganggap dirinya sumber kuasa yang mandiri.
Tazkiyatun nafs tidak berarti menghapus semua keinginan. Keinginan makan, bekerja, mencintai keluarga, mencari ilmu, dan memperbaiki masyarakat adalah bagian dari kehidupan manusia. Yang dibersihkan adalah ketundukan buta kepada hawa, ketika keinginan pribadi diletakkan di atas kebenaran, tanggung jawab, dan rida Allah.
Pembicaraan tentang pembersihan keinginan membawa kita kepada fana’. Dalam bahasa tasawuf, fana’ bukan hilangnya zat manusia atau penyatuan makhluk dengan Tuhan. Ia menunjuk pada lenyapnya dominasi sifat tercela dan kesadaran ego yang merasa menjadi pusat segala sesuatu. Hamba tidak berhenti menjadi manusia. Ia justru kembali menjalani hidup dengan lebih sadar akan kehambaannya.
Sesudah fana’ dibicarakan baqa’: tegaknya hamba dalam ketaatan dan kehidupan yang dibimbing oleh Allah. Ia kembali bekerja, berkeluarga, dan bergaul, tetapi tidak lagi menjadikan keinginan dirinya sebagai hukum tertinggi.
Istilah fana’ ul-fana’, atau fana’ ‘an al-fana’, mengarah kepada lapisan yang lebih halus: lenyapnya kesadaran bahwa diri telah mengalami fana’. Selama seseorang masih membanggakan bahwa dirinya telah mencapai keadaan spiritual tertentu, mungkin masih ada ego yang ingin diakui. Bahkan pengalaman melepas ego dapat menjadi kebanggaan baru. Di sinilah peringatan teks tentang “perbaikan yang membanggakan” menjadi penting. Nafsu dapat menyusup ke dalam bahasa kerendahan hati, bahkan menyaru sebagai klaim telah mengalahkan nafsu.
Hadis qudsi riwayat al-Bukhari tentang seorang hamba yang terus mendekat kepada Allah melalui amalan wajib dan sunah hingga dicintai-Nya memberi gambaran tentang kedekatan ruhani yang berbuah ketaatan. Ungkapan bahwa Allah menjadi pendengaran dan penglihatan hamba dipahami dalam tradisi Islam sebagai pertolongan dan bimbingan Allah, bukan penyatuan zat. Hamba tetap hamba.
Maka, fana’ ul-fana’ bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ia adalah keadaan yang membuat seseorang semakin sulit mengklaim keunggulan bagi dirinya sendiri. Tanda kedalaman bukan merasa telah lenyap, melainkan makin teguh menjalankan kewajiban, makin lembut kepada sesama, dan makin waspada terhadap pujian bagi diri.
Epilog: Jalan Kesunyian di Tengah Keramaian
Menaklukkan sang binatang buas di dalam diri adalah jalan sepi yang tidak banyak diminati orang. Ia menuntut pengorbanan teramat perih: penyembelihan sang ego. Namun, di ujung penyembelihan itulah terdapat kehidupan yang abadi.
Selama kita masih mengelus-elus nafsu, mendandaninya dengan pembenaran-pembenaran intelektual, dan meladeninya dengan fasilitas duniawi, kita hanya akan terus berputar-putar dalam penderitaan eksistensial. Kita akan terus merasa kurang, terus merasa cemas, dan terus merasa diancam.
Membersihkan keinginan demi lahirnya Kehendak Allah bukanlah kehilangan kemanusiaan; sebaliknya, itulah puncak dari kemanusiaan yang sejati. Ketika hati telah murni dan hanya berdetak atas irama Iradah-Nya, manusia akan turun ke tengah masyarakat, membangun peradaban, mengelola alam, dan menebarkan kasih sayang, tanpa sedikit pun pamrih bagi egonya.
Menjelang subuh berikutnya, mungkin pikiran kita masih membawa banyak keinginan. Perjalanan belum selesai. Akan tetapi, ada sesuatu yang dapat berubah: kita mulai mampu mendengarkan tanpa segera membela diri, berusaha tanpa memaksa hasil, serta mencintai tanpa menguasai. Di hadapan Allah, kita datang dengan kehendak yang bersedia dididik.
Saat itulah aku perlahan turun dari singgasananya. Hati memperoleh ruang untuk menerima bahwa dunia tidak diciptakan hanya untuk memenuhi tuntutannya. Dalam ruang tersebut, zikir menemukan kedalaman yang sederhana: kesediaan hadir sebagai hamba, menjaga amanah hari ini, dan membiarkan kebaikan tumbuh tanpa harus selalu membawa nama kita.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



