Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – SUATU pagi, seorang lelaki duduk di beranda rumahnya, menatap halaman yang basah oleh hujan semalam. Di depan matanya, seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga. Sayapnya bergetar pelan, seakan-akan sedang mengucapkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga. Lelaki itu tertegun. Ia baru saja membaca sebuah kalimat yang menggetarkan hatinya: ”Lihatlah seluruh Ciptaan-Nya, bukankah engkau di sana bisa melihat Keagungan-Nya.”
Ia menatap kupu-kupu itu lebih lama. Ia melihat keindahan yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Ia melihat kerumitan yang tidak pernah ia sadari. Dan di dalam keheningan pagi itu, ia mulai memahami bahwa selama ini ia telah buta terhadap ayat-ayat Allah yang terhampar di sekitarnya.
Teks hikmah yang menggetarkan hatinya itu berbunyi:
”Lihatlah seluruh Ciptaan-Nya, bukankah engkau di sana bisa melihat Keagungan-Nya. Lihatlah seluruh Ciptaan-Nya, bukankah engkau di sana bisa mengerti kebesaran kekuasaan-Nya. Jika engkau sudah melihat Keagungan-Nya, sudahkah engkau mengagungkan-Nya dengan menghormati seluruh ciptaan-Nya? Jika engkau sudah mengerti kebesaran kekuasaan-Nya, sudahkah engkau memuji-Nya dengan menghormati seluruh ciptaan-Nya? Sungguh Allah menyukai orang-orang yang menghormati segala ciptaan-Nya, dan Allah juga menyukai orang-orang yang memuji-Nya atas segala Ciptaan-Nya. Maka BERTASBIHLAH pada-Nya.. Karena sesungguhnya semua juga bertasbih pada-Nya. HORMATILAH seluruh ciptaan-Nya karena sesungguhnya menghormati seluruh ciptaan-Nya adalah perbuatan yang mengagungkan-Nya, dan tidak ada penghormatan yang lebih santun di dalam menghormati Allah atas segala ciptaan-Nya, kecuali membungkukkan badan (ruku’) di dalam sholat.”
Teks ini adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang mengajak manusia untuk melihat Allah melalui ciptaan-Nya, menghormati seluruh makhluk sebagai bentuk pengagungan kepada Sang Pencipta, dan menyadari bahwa seluruh alam semesta bertasbih kepada-Nya. Mari kita selami maknanya.
Melihat Keagungan Allah melalui Ciptaan-Nya
Bait pembuka mengajak manusia untuk memandang ciptaan Allah dengan mata batin. Dalam tasawuf, melihat bukanlah sekadar aktivitas mata lahiriah (‘ain al-basar), melainkan aktivitas mata batin (‘ain al-bashirah). Melihat ciptaan dengan mata batin berarti menembus permukaan dan menyaksikan tajalli—penampakan—Nama-Nama Ilahi di balik setiap makhluk.
Ibn ‘Arabi dalam Fushush al-Hikam menulis bahwa alam semesta adalah tajalli dari Nama-Nama Ilahi. Setiap daun yang jatuh, setiap bintang yang berkelip, setiap embusan angin—semuanya adalah penampakan dari Sifat-sifat Allah. Melihat keagungan Allah melalui ciptaan berarti menyaksikan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang memiliki wujud mandiri; semuanya adalah mazhar—tempat penampakan—dari Wujud Mutlak.
Al-Qur’an menegaskan: ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al-Baqarah: 164).
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ menulis bahwa seorang salik harus melatih muraqabah—kesadaran akan kehadiran Allah—dalam setiap pandangannya. Melihat ciptaan adalah melihat ayat—tanda-tanda—Allah. Barangsiapa melihat tanda dengan mata batin, ia akan sampai kepada Yang Memberi tanda.
Lelaki di beranda itu mulai memahami. Kupu-kupu yang hinggap di atas bunga bukanlah sekadar serangga. Ia adalah ayat—tanda—dari al-Badi’—Yang Maha Pencipta Keindahan. Bunga yang mekar bukanlah sekadar tumbuhan. Ia adalah tajalli dari al-Jamil—Yang Maha Indah. Hujan yang membasahi bumi bukanlah sekadar air. Ia adalah rahmat dari al-Rahman—Yang Maha Pengasih.
Menghormati Ciptaan sebagai Pengagungan kepada Allah
Bait selanjutnya adalah pertanyaan yang menusuk: ”Jika engkau sudah melihat Keagungan-Nya, sudahkah engkau mengagungkan-Nya dengan menghormati seluruh ciptaan-Nya?”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menulis bahwa ta’zhim—pengagungan—kepada Allah harus termanifestasi dalam ikram—penghormatan—kepada makhluk. Beliau menegaskan bahwa barangsiapa mengaku mengagungkan Allah tetapi merendahkan makhluk-Nya, maka pengagungannya adalah palsu. Sebab makhluk adalah mazhar dari Sifat-sifat Allah. Menghina makhluk berarti menghina mazhar; dan menghina mazhar berarti menghina Yang Menampakkan Diri di dalamnya.
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani merekam banyak kisah para wali yang menunjukkan penghormatan luar biasa kepada seluruh makhluk—tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada hewan, tumbuhan, dan bahkan benda mati. Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah tentang seorang sufi yang tidak pernah memakai air panas untuk berwudhu, karena ia merasa kasihan kepada api yang harus menanggung panas. Kisah ini mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tetapi ia menunjukkan kesadaran bahwa seluruh makhluk memiliki hurmah—kehormatan—yang harus dijaga.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul menulis bahwa adab—tata krama—terhadap makhluk adalah cermin dari adab terhadap Allah. Barangsiapa beradab kepada makhluk, ia beradab kepada Allah. Barangsiapa kasar kepada makhluk, ia kasar kepada Allah.
Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis bahwa seluruh makhluk adalah kalimat—kata-kata—Allah. Menghormati makhluk berarti menghormati kalimat Allah. Merendahkan makhluk berarti merendahkan kalimat Allah. Maka, adab terhadap makhluk adalah adab terhadap Allah.
Bertasbih Bersama Seluruh Alam Semesta
”Maka BERTASBIHLAH pada-Nya.. Karena sesungguhnya semua juga bertasbih pada-Nya.”
Bait ini mengajak manusia untuk bergabung dengan seluruh alam semesta dalam bertasbih kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan: ”Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka” (QS. Al-Isra’: 44).
Dalam perspektif sufistik, tasbih bukanlah sekadar ucapan lisan. Tasbih adalah kesadaran akan kesucian Allah. Seluruh alam semesta bertasbih dengan bahasa keadaan (lisan al-hal). Burung yang berkicau adalah tasbih. Daun yang berguguran adalah tasbih. Ombak yang memecah di pantai adalah tasbih. Manusia yang bertasbih dengan lisan hanyalah bergabung dengan simfoni kosmis yang telah berlangsung sejak zaman azali.
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa dzikr adalah kunci pembuka hati. Barangsiapa berdzikir dengan tulus, ia akan menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah ahl al-dzikr—orang-orang yang berdzikir. Ia tidak lagi merasa sendirian dalam berdzikir, karena ia menyadari bahwa seluruh makhluk adalah teman dalam zikir yang sama.
Lelaki di beranda itu mulai memahami. Kupu-kupu yang bergetar sayapnya adalah tasbih. Bunga yang mekar adalah tasbih. Hujan yang turun adalah tasbih. Dan ia, dengan lisannya yang basah oleh zikir, sedang bergabung dengan simfoni kosmis yang tidak pernah berhenti.
Ruku’: Simbol Penghormatan Tertinggi
”Tidak ada penghormatan yang lebih santun di dalam menghormati Allah atas segala ciptaan-Nya, kecuali membungkukkan badan (ruku’) di dalam sholat.”
Bait ini adalah puncak dari seluruh teks. Ruku’ adalah simbol dari penghormatan tertinggi. Dalam ruku’, seorang hamba membungkukkan badannya—membungkukkan ego—di hadapan Allah. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah apa-apa; bahwa hanya Allah yang Maha Besar.
Ruku’ adalah tajalli dari al-Khudhu’—ketundukan. Dalam ruku’, hamba merasakan kehinaan dirinya di hadapan Keagungan Allah. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai subjek yang menghormati; ia melihat bahwa Allah-lah yang menghormati Diri-Nya melalui dirinya. Inilah awal dari fana’.
Dalam perspektif ekologi sufistik, ruku’ juga merupakan simbol dari kerendahan hati kosmis. Ketika manusia ruku’, ia tidak hanya membungkukkan badannya; ia membungkukkan seluruh klaim kehebatannya. Ia mengakui bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta yang tunduk kepada Allah. Ia tidak lebih tinggi dari kupu-kupu, tidak lebih mulia dari bunga, tidak lebih agung dari hujan. Semuanya adalah mazhar dari Sifat-sifat Allah.
Fana’ ul-Fana’: Ketika “Aku” yang Menghormati Lenyap
Puncak dari seluruh perenungan ini adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap.
Pada tahap awal, hamba menghormati ciptaan dengan kesadaran penuh bahwa ia adalah subjek yang menghormati. Ia merasa bangga karena telah menghormati makhluk. Ini adalah amal yang masih bercampur dengan ‘ujb—kekaguman pada diri sendiri.
Dalam fana’, hamba melepaskan klaim bahwa ia yang menghormati. Ia menyadari bahwa penghormatannya adalah tajalli dari al-Mukrim—Yang Maha Menghormati. Ia hanyalah mazhar dari penghormatan Allah.
Puncaknya adalah fana’ ul-fana’. Pada maqam ini, bahkan kesadaran “aku telah menghormati” lenyap. Tidak ada lagi “aku” yang menghormati. Yang ada hanyalah Allah yang menghormati Diri-Nya melalui hamba-Nya.
Al-Kamasykhanawi menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, tidak ada lagi “aku” yang menghormati, tidak ada lagi “aku” yang bertasbih, tidak ada lagi “aku” yang ruku’. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah Allah, al-Mukrim, al-Mu’izz, yang menghormati Diri-Nya melalui hamba-Nya.
Setelah fana’ ul-fana’, hamba dikembalikan ke dunia dalam baqa’ billah. Kini, penghormatannya bukan lagi penghormatan ego. Ia menghormati ciptaan bukan karena ia ingin dianggap sebagai orang yang menghormati, melainkan karena ia melihat tajalli Allah dalam setiap makhluk. Ia ruku’ bukan karena ia ingin dipuji, melainkan karena ruku’ adalah tajalli dari ketundukan kosmis.
Penutup: Menghormati Ciptaan, Mengagungkan Pencipta
Lelaki di beranda itu akhirnya bangkit. Ia mengambil air wudhu, lalu shalat dua rakaat. Dalam ruku’nya, ia tidak hanya membungkukkan badan; ia membungkukkan seluruh klaim kehebatannya. Ia mengakui bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta yang tunduk kepada Allah. Ia tidak lebih tinggi dari kupu-kupu, tidak lebih mulia dari bunga, tidak lebih agung dari hujan. Semuanya adalah mazhar dari Sifat-sifat Allah.
Teks ini mengajarkan kita untuk melihat keagungan Allah melalui ciptaan-Nya, menghormati seluruh ciptaan sebagai bentuk pengagungan kepada Sang Pencipta, dan menyadari bahwa seluruh alam semesta bertasbih kepada-Nya. Puncaknya adalah fana’ ul-fana’, di mana hamba tidak lagi merasa sebagai subjek yang menghormati, karena seluruh eksistensinya telah lebur dalam Kehendak Ilahi. Yang tersisa hanyalah Allah, al-Mukrim, yang menghormati Diri-Nya melalui hamba-Nya.
Semoga kita termasuk hamba yang melihat tajalli Allah dalam setiap makhluk, yang menghormati seluruh ciptaan, dan yang ruku’ dengan penuh kesadaran bahwa hanya Allah yang Maha Besar. Dan semoga, pada akhirnya, kita mencapai maqam di mana tidak ada lagi “aku” yang menghormati—yang ada hanyalah Allah, Yang Maha Menghormati, Yang Maha Mengagungkan.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



