SURABAYAONLINE.CO – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim mencatat pertumbuhan kinerja konsolidasi yang solid hingga Triwulan II 2026. Penyaluran kredit mencapai Rp111 triliun atau tumbuh 41,68 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut turut mendorong laba bersih konsolidasi Bank Jatim menjadi sekitar Rp1,2 triliun, meningkat 53,4 persen yoy.

Kinerja Bank Jatim tersebut disampaikan dalam Public Expose Bank Jatim 2026 yang digelar secara daring, Kamis (10/9/2026). Pertumbuhan kredit dan laba menjadi salah satu indikator penguatan fundamental perusahaan di tengah dinamika perekonomian global dan nasional.

Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo mengatakan, perusahaan terus beradaptasi dengan perkembangan bisnis dan kebutuhan masyarakat. Strategi tersebut dilakukan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko, optimalisasi bisnis berbasis ekosistem, pengembangan sumber daya manusia, akselerasi teknologi dan digitalisasi, serta penguatan sinergi dalam Kelompok Usaha Bank (KUB).

“Transformasi Bank Jatim memang terus diarahkan untuk membangun organisasi yang semakin adaptif, sehat, dan berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan,” ujar Winardi dalam keterangan tertulis.

Menurut Winardi, perekonomian pada 2026 masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik, perang dagang, risiko pangan dan energi, hingga dinamika nilai tukar dan harga komoditas.

Di dalam negeri, tantangan juga datang dari pengetatan likuiditas, daya beli masyarakat yang masih tertahan, pinjaman daring ilegal dan judi daring, serta risiko peningkatan aset bermasalah, terutama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga Juni 2026 tercatat 5,29 persen yoy.

Sementara itu, ekonomi Jawa Timur tumbuh kumulatif 5,84 persen. Jawa Timur memberikan kontribusi 25,40 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 14,34 persen terhadap perekonomian Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Jatim menerapkan strategi dengan menjaga likuiditas, menyalurkan kredit secara selektif, meningkatkan efisiensi, memperluas transaksi digital, dan mengendalikan kualitas aset sesuai profil risiko perusahaan.

Direktur Keuangan dan Tresuri Bank Jatim Wahyukusumo Wisnubroto mengatakan, hingga Triwulan II 2026 total aset konsolidasi Bank Jatim mencapai Rp162 triliun atau tumbuh 37,16 persen yoy.

Pertumbuhan aset tersebut terutama ditopang peningkatan aset produktif. Penyaluran kredit konsolidasi mencapai Rp111 triliun, tumbuh 41,68 persen yoy.

Dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi juga meningkat 31,47 persen yoy menjadi Rp120 triliun.

Pertumbuhan bisnis tersebut turut mendorong pendapatan bunga bersih Bank Jatim menjadi sekitar Rp4,6 triliun, naik 39,5 persen yoy. Sementara itu, laba bersih konsolidasi mencapai sekitar Rp1,2 triliun atau tumbuh 53,4 persen yoy.

“Pertumbuhan kinerja konsolidasi ini merupakan salah satu hasil dari implementasi aksi korporasi serta penguatan sinergi Bank Jatim bersama anggota KUB. Ke depan, kami akan terus mengoptimalkan sinergi tersebut untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru,” jelas Wahyukusumo.

Penguatan sinergi dalam KUB dilakukan melalui berbagai layanan dan inisiatif bisnis. Di antaranya peningkatan transaksi internasional melalui bisnis remittance dan Trading Processing Agent, layanan safekeeping custodian untuk transaksi surat berharga, penyediaan bank notes, serta layanan bersama untuk e-channel dan sistem pembayaran.

Sinergi juga dikembangkan dalam penyediaan layanan perbankan bagi nasabah dengan profil khusus dan pembiayaan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Langkah tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem bisnis yang saling melengkapi sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru bagi Bank Jatim.

Secara bank only, hingga Juli 2026 Bank Jatim mencatat total aset Rp98 triliun. Penyaluran kredit mencapai Rp66,4 triliun, sedangkan DPK berada di angka Rp72,9 triliun.

Di tengah strategi penyeimbangan kembali bisnis dan kondisi ekonomi yang menantang, Bank Jatim masih membukukan laba bersih Rp802 miliar atau tumbuh 1,76 persen yoy.

Direktur Ritel dan Syariah Bank Jatim Tonny Prasetyo mengatakan, daya beli dan permintaan kredit yang masih konservatif membuat perusahaan menerapkan penyaluran kredit secara lebih selektif dengan tetap mengutamakan kualitas aset.

“Segmen konsumtif, khususnya kredit berbasis payroll, masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang positif. Oleh karena itu, kami terus mengembangkan layanan yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi nasabah sekaligus memperkuat pangsa pasar,” kata Tonny.

Pada segmen produktif, portofolio kredit Bank Jatim mencakup mikro, ritel dan menengah, serta korporasi. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu kontributor pada segmen mikro, sedangkan Jatim Ritel menjadi kontributor utama pada segmen ritel dan menengah.

Untuk menjaga kualitas kredit, Bank Jatim menerapkan langkah preventif dan kuratif melalui evaluasi kualitas kredit, penguatan fungsi account officer dan manajemen risiko, restrukturisasi, pengelolaan kredit bermasalah, perbaikan proses bisnis, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta pemantauan secara berkala.

Bank Jatim juga terus memperkuat sumber dana murah dari masyarakat. Strategi tersebut dilakukan melalui peningkatan transactional banking, pengembangan layanan digital JConnect Mobile, program pemasaran musiman, serta perluasan ekosistem bersama mitra bisnis.

Selain itu, Bank Jatim memperluas akses layanan melalui pengembangan Agen Laku Pandai serta penambahan jaringan ATM dan CRM.

“Penguatan ekosistem digital menjadi salah satu strategi utama kami untuk meningkatkan utilitas layanan, memperluas akuisisi nasabah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber dana tertentu. Kami ingin menjadikan ekosistem yang sudah kuat sebagai entry point untuk menangkap peluang pasar baru,” ujar Winardi.

Memasuki Semester II 2026, Bank Jatim akan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset. Fokus perusahaan meliputi optimalisasi likuiditas, peningkatan dana murah, penguatan transaksi digital, ekspansi bisnis berbasis ekosistem, penyaluran kredit secara selektif, serta penguatan sinergi dengan anggota KUB.

Selain penguatan bisnis, Bank Jatim juga menjalankan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan. Pada 2025, penyaluran kredit kepada usaha berwawasan lingkungan mencapai Rp5,40 triliun.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan, kesehatan, budaya, sosial, dan pelestarian lingkungan.

Winardi mengatakan Bank Jatim akan terus menjaga kualitas pertumbuhan agar kinerja perusahaan tetap sehat dan berkelanjutan.

“Bank Jatim akan terus mengambil langkah yang tepat dan terukur untuk menjaga pertumbuhan bisnis dengan tetap mengedepankan kualitas aset. Kami optimistis berbagai strategi yang telah disiapkan dapat membuka peluang pertumbuhan baru dan membawa Bank Jatim mencapai kinerja yang melampaui target,” tuturnya.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version