SURABAYAONLINE.CO – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengunjungi UMKM produsen alat makan keramik berorientasi ekspor, Lumosh Living, di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan Kementerian Perdagangan (Kemendag) terhadap penguatan daya saing UMKM lokal agar mampu memperluas pasar hingga ke tingkat global.

Dalam kunjungan itu, Wamendag Roro menilai produk keramik Indonesia memiliki potensi ekspor yang menjanjikan. Menurutnya, peluang tersebut perlu didorong melalui kolaborasi antara pelaku UMKM dan pemerintah.

“Kami memiliki perwadag yang tersebar di banyak negara dan mereka berfungsi sebagai mediator untuk mempertemukan UMKM dengan buyer yang sesuai. Oleh karena itu, kami mendorong UMKM terus proaktif memanfaatkan berbagai business matching atau business pitching yang difasilitasi oleh perwadag,” jelas Wamendag Roro.

Selain potensi ekspor, Wamendag Roro memberikan perhatian terhadap penerapan ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Lumosh Living.

Menurutnya, konsep tersebut menjadi nilai tambah yang berpotensi menarik minat pasar internasional. Lumosh Living dinilai tidak hanya mengandalkan inovasi produk, tetapi juga mengembangkan pemasaran yang lebih personal dengan mengusung nilai sosial.

“Lumosh Living layak menjadi contoh inspiratif bagaimana suatu UMKM dapat sukses ketika mereka tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga mengaplikasikan metode pemasaran yang lebih personal serta mengusung nilai-nilai sosial yang mendalam,” ujar Wamendag Roro.

Wamendag juga mengapresiasi semangat dan kegigihan pendiri Lumosh Living dalam menembus pasar internasional. Dari sisi desain, produk Lumosh dinilai mampu merespons preferensi konsumen.

Salah satunya melalui produk mangkok matcha yang dibuat dengan desain unik satu sama lain. Produk tersebut berhasil mencatat penjualan tinggi secara daring dengan memanfaatkan tren teh hijau yang banyak diminati generasi muda.

Lumosh Living berdiri sejak 2016 dan konsisten menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam proses produksinya. Salah satu inovasinya adalah reclay tableware, yakni lini produk yang memanfaatkan pecahan keramik retur konsumen serta produk retak atau gagal produksi saat proses pemanasan.

Material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah tersebut diolah kembali menjadi berbagai produk, seperti tatakan, gelas, mangkok, dan piring.

Co-founder Lumosh Living Raymon Tjiadi mengatakan, produk reclay tableware memanfaatkan 40 persen limbah keramik dan 10 persen pasir besi. Dengan komposisi tersebut, penggunaan bahan baku murni dapat dikurangi hingga 50 persen.

“Inovasi sirkular ini juga terbukti meningkatkan kepadatan dan ketahanan produk hingga 20 persen, mengurangi emisi karbon sebesar 30 persen, serta dipastikan bebas timbal (lead) dan kadmium (cadmium-free) dengan tingkat kualitas 99 persen setara dengan produk keramik baru,” kata Raymon.

Menurutnya, konsep tersebut menjadi pembeda Lumosh Living dibandingkan produk keramik yang diproduksi secara massal.

Dari sisi pemasaran, Lumosh Living mengembangkan pendekatan humanis melalui storytelling. Konsumen diajak mengenal cerita para pekerja di balik produk sekaligus dampak positif dari setiap pembelian.

Inovasi dan konsep keberlanjutan tersebut membawa produk Lumosh Living menembus pasar ekspor Belanda dan Spanyol. UMKM tersebut juga meraih penghargaan Good Design Award Jepang pada 2025.

Raymon mengungkapkan, fasilitasi Kemendag melalui perwakilan perdagangan di luar negeri turut membantu memperluas promosi dan membuka peluang ekspor.

Produk alat makan keramik Lumosh Living yang diproduksi di Probolinggo, Jawa Timur, kini turut dipamerkan pada rak display produk lokal Indonesia di luar negeri, salah satunya di Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah.

Lumosh Living juga terus mengembangkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Setelah pernah menggarap edisi khusus bersama pemengaruh bidang kuliner pascapandemi, Lumosh kini mempersiapkan peluncuran pop-up store di Bali bersama Korte, UMKM produsen cokelat premium.

Setelah sebelumnya berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, Lumosh Living kini bersiap mengikuti TEI 2026.

Raymon berharap pemerintah terus memberikan fasilitasi kepada UMKM agar dapat berpartisipasi dalam berbagai pameran perdagangan internasional.

Pada TEI 2026, Lumosh Living menargetkan perluasan pasar ekspor ke Rusia, sekaligus memperkuat citra sebagai produsen kategori home living di pasar Jepang.

Wamendag Roro menegaskan Kemendag akan terus mendampingi UMKM berorientasi ekspor melalui akses pameran internasional, promosi ekspor oleh perwakilan perdagangan, serta penguatan kemitraan.

“Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus mendampingi dan mendorong UMKM berorientasi ekspor seperti Lumosh Living melalui penyediaan akses pameran internasional, fasilitasi promosi ekspor perwadag, serta penguatan kemitraan guna memperkokoh daya saing produk Indonesia di pasar global,” pungkas Wamendag Roro.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version