SURABAYAONLINE.CO – PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), memperkuat dukungan terhadap pengembangan bawang merah unggulan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, melalui program Pestani Bawang Merah Nyawiji.

Program yang melibatkan 120 petani dari enam kecamatan di Kabupaten Nganjuk tersebut berlangsung sejak Maret hingga September 2026. Salah satu hasilnya terlihat dari demonstration plot (demplot) yang mencatat produktivitas bawang merah mencapai 20 ton per hektare, meningkat sekitar 11-12 persen dibandingkan panen sebelumnya yang berada di angka 18 ton per hektare.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, mengatakan bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis dengan nilai ekonomi tinggi sekaligus dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut dia, peningkatan produktivitas dan kualitas bawang merah penting dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga ketersediaan pangan.

“Petrokimia Gresik ingin hadir lebih dekat dengan petani. Kami tidak ingin berhenti pada penyediaan pupuk, tetapi juga terus mendorong edukasi pemupukan berimbang, layanan uji tanah, pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi pertanian, serta penguatan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir,” ujar Adityo yang akrab disapa Adit, Senin (7/9/2026).

Adit menyebut Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam produksi bawang merah nasional. Pada 2024, produksi bawang merah Jawa Timur mencapai 476.666 ton dari luas panen sekitar 53.681 hektare.

Sementara produksi bawang merah nasional tercatat mencapai 2.085.721 ton dari luas panen sekitar 188.561 hektare.

Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra utama produksi bawang merah. Daerah tersebut juga memiliki varietas lokal unggulan Tajuk atau Tanaman Asli Nganjuk, yang dikenal memiliki kualitas umbi unggul, warna menarik, ukuran relatif seragam, serta daya simpan yang baik.

Dalam kesempatan tersebut, Adit menyampaikan bahwa Nganjuk menempati posisi kedua nasional dari sisi produksi bawang merah. Sementara varietas Tajuk disebutnya menjadi salah satu benih bawang merah unggulan nasional.

“Pestani bukan sekadar kompetisi. Pestani kami hadirkan sebagai ruang bagi para petani untuk belajar, berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan praktik budidaya terbaik pada komoditas unggulan daerah,” katanya.

Pestani Bawang Merah Nyawiji diikuti 120 petani dari enam kecamatan, yakni Wilangan, Bagor, Rejoso, Nganjuk, Sukomoro, dan Gondang.

Program tersebut dikemas dalam bentuk kompetisi budidaya bawang merah secara langsung di lahan. Para petani didorong menerapkan praktik budidaya secara optimal sekaligus menghasilkan bawang merah dengan kualitas lebih baik.

Penilaian meliputi keseragaman umbi, berat hasil panen, dan dokumentasi budidaya. Parameter tersebut digunakan untuk mendorong petani memperhatikan kualitas hasil secara lebih terukur, bukan hanya mengejar jumlah produksi.

Hasil penerapan budidaya terlihat dari demplot Pestani Bawang Merah Nyawiji yang mampu menghasilkan produktivitas 20 ton per hektare.

“Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan budidaya yang tepat, pemenuhan nutrisi tanaman secara optimal, serta pendampingan yang konsisten memiliki potensi memberikan hasil yang lebih baik bagi petani,” ujar Adit.

Dalam pelaksanaan budidaya, peserta Pestani mengaplikasikan sejumlah produk Petrokimia Gresik sebagai sumber nutrisi tanaman bawang merah.

Produk yang digunakan antara lain Phonska Lite, K Plus, Phonska Cair, Phonska Oca Plus, ZA Plus, SP-36 Petro, Petro Biofertil, dan Petroganik Premium.

Menurut Adit, nama “Nyawiji” memiliki makna menyatukan langkah. Filosofi tersebut sejalan dengan pendekatan program Pestani yang mengedepankan kolaborasi, pendampingan, dan pembelajaran langsung di lahan.

“Untuk memajukan pertanian, kita harus menyatukan langkah antara petani, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, Pestani Bawang Merah Nyawiji kami harapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat bawang merah Nganjuk,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan sarasehan bersama petani dan pemangku kepentingan, panen bersama, serta pemberian penghargaan kepada petani berprestasi.

Petani asal Kecamatan Gondang, Suheri, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Petrokimia Gresik kepada petani bawang merah di Nganjuk.

Ia berharap peningkatan produktivitas yang dihasilkan melalui program tersebut dapat berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

“Kami dalam kegiatan ini mendapatkan informasi terkait pupuk-pupuk nonsubsidi yang terbukti mendorong peningkatan produktivitas bawang merah. Alhamdulillah tanaman hasilnya berkualitas,” ujar Suheri.

Program Pestani sendiri tidak hanya menyasar komoditas bawang merah. Petrokimia Gresik juga mengembangkan program serupa pada berbagai komoditas unggulan di sejumlah wilayah Jawa Timur.

Selain Pestani Bawang Merah Nyawiji di Nganjuk, terdapat Pestani Rawit yang mencakup Malang, Probolinggo, Mojokerto, Kediri, dan Blitar. Kemudian Pestani Melon Pantura di Tuban, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, dan Lamongan, serta Pestani Semangka Tapal Kuda di Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.

Sebaran program tersebut menjadi bagian dari strategi Petrokimia Gresik dalam menjalankan pemberdayaan petani dengan menyesuaikan potensi komoditas unggulan di setiap wilayah.

“Petrokimia Gresik berkomitmen untuk terus tumbuh dan berkembang bersama petani. Kami percaya, ketika petani semakin produktif dan sejahtera, maka pertanian akan semakin kuat. Dan ketika pertanian semakin kuat, ketahanan pangan Jawa Timur dan Indonesia akan semakin kokoh,” pungkas Adit.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version