SURABAYAONLINE.CO – Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 mendapat sambutan positif dari KH Hasyim Nasir atau yang akrab disapa Lora Hasyim.

Lora Hasyim yang merupakan dzurriyah atau keturunan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, berharap kepemimpinan Gus Kikin mampu membawa perubahan besar bagi warga Nahdliyin.

“Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah. Gus Kikin atau nama lengkapnya beliau KH Abdul Hakim Mahfudz. Alhamdulillah beliau termasuk cicit daripada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng,” ujar Lora Hasyim.

Menurut Lora Hasyim, memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa awal berdirinya organisasi. Meski demikian, terdapat sejumlah kesamaan, terutama menyangkut persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Ia meyakini terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU bukan sebuah kebetulan. Menurutnya, setiap perjalanan kehidupan merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT.

“NU memasuki abad kedua ini memang banyak tantangan. Tentu berbeda dengan abad yang pertama, namun banyak kesamaan. Dan kita meyakini ini semua bukan kebetulan. Kita hidup di dunia ini, kita sadari bahwasanya semua telah ditulis di Lauhul Mahfuz,” katanya.

Lora Hasyim secara khusus menaruh harapan besar terhadap Gus Kikin dalam memperkuat sektor ekonomi warga Nahdliyin.

Ia mengaitkan harapan tersebut dengan sejarah awal berdirinya NU pada 1926. Saat itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais ‘Aam menunjuk KH Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah pada masa awal NU.

Menurut Lora Hasyim, KH Hasan Gipo dikenal sebagai saudagar yang sukses pada masa penjajahan Belanda. Kondisi tersebut dinilainya memiliki kemiripan dengan Gus Kikin yang juga dikenal sebagai pengusaha.

“Sehingga satu abad berikutnya, pada abad kedua Nahdlatul Ulama pada saat ini, subhanallah atas izin Allah, Ketua Tanfidziyah kita yang baru yakni Gus Kikin. Kita tahu sendiri beliau termasuk pengusaha sukses,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman Gus Kikin di dunia usaha menjadi salah satu modal untuk menjalankan amanah di PBNU, khususnya dalam mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

“Kita nyatakan beliau sudah selesai dengan urusan dunianya. Sehingga besar harapan kami ke depannya atas kepemimpinan Gus Kikin ini betul-betul bisa khidmah, totalitas dalam menjalankan amanah sebagai Ketua Pelaksana Tanfidziyah,” tutur Lora Hasyim.

Ia berharap PBNU di bawah kepemimpinan Gus Kikin mampu melahirkan program ekonomi yang nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Semoga kehadiran kepemimpinan Gus Kikin ini betul-betul bisa membawa perubahan yang sangat besar sekali, terkhusus bagi perekonomian warga Nahdliyin,” katanya.

Lora Hasyim menyoroti kondisi ekonomi masyarakat akar rumput yang masih menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, mayoritas warga Nahdliyin berada di lapisan masyarakat bawah sehingga penguatan ekonomi harus menjadi perhatian serius.

Ia juga mengingatkan peran pesantren dan jaringan alumni dalam menopang kehidupan masyarakat pada masa penjajahan. Menurutnya, pesantren kala itu tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga memiliki jaringan sosial dan ekonomi melalui alumni serta wali santri yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

“Demikian pula Gus Kikin. Setidaknya harapannya pada zaman ini betul-betul bisa memupuk, memberi program yang jelas kepada warga Nahdliyin,” ucapnya.

Dengan demikian, ia berharap warga NU ke depan mampu memiliki usaha dan kekuatan ekonomi yang mandiri.

“Sehingga ke depannya warga NU ini betul-betul mandiri dalam keekonomiannya. Mandiri betul usahanya,” tegasnya.

Selain berharap pada sektor ekonomi, Lora Hasyim berharap Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih mampu menjadi dwitunggal yang saling menguatkan dengan pembagian peran yang jelas.

Rais Aam, menurutnya, memiliki posisi penting sebagai penjaga nilai, tradisi, dan arah keagamaan NU. Sementara Ketua Umum memastikan organisasi bergerak efektif dan mampu menjawab tantangan zaman.

Ia menilai kepemimpinan baru PBNU juga harus mampu mengembalikan NU sebagai rumah bersama seluruh warga Nahdliyin dengan merangkul semua generasi, terutama anak muda dan Gen Z, tanpa kehilangan akar tradisi dan sanad keilmuan ulama.

“Yang paling penting, kepemimpinan baru harus mampu mengembalikan NU sebagai rumah bersama seluruh warga NU, merangkul semua generasi, terutama anak muda dan Gen Z, tanpa kehilangan akar tradisi dan sanad keilmuan ulama,” ujarnya.

Menurut Lora Hasyim, setidaknya ada sejumlah prioritas yang perlu diperkuat PBNU periode 2026-2031. Di antaranya konsolidasi internal dan penguatan kaderisasi, kemandirian ekonomi dan kelembagaan NU, serta peningkatan kualitas pendidikan, pesantren, kesehatan dan pelayanan sosial.

NU juga dinilai perlu lebih serius mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi, ekonomi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan iklim hingga energi terbarukan.

“Jangan sampai NU hanya menjadi penonton dalam perubahan besar tersebut,” katanya.

Lora Hasyim juga menyampaikan aspirasi dari daerah agar kepemimpinan baru PBNU tidak hanya terasa di tingkat pusat, tetapi juga hadir hingga tingkat bawah.

Menurutnya, pengurus PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting membutuhkan penguatan kapasitas, akses program, pendidikan kader, pengembangan ekonomi dan dukungan kelembagaan.

Daerah, lanjut dia, juga perlu diberikan ruang untuk berinovasi sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing.

“NU ini besar karena akar rumputnya. Karena itu, menguatkan struktur di bawah berarti menguatkan PBNU secara keseluruhan,” tuturnya.

Ia berpesan agar kepemimpinan baru tidak sekadar mengejar posisi, tetapi mengedepankan semangat pengabdian.

“Jangan terlalu sibuk menjadi pemimpin NU, tetapi jadilah pelayan NU. Karena NU dibangun oleh pengabdian para ulama, kiai, santri, dan masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun,” pesannya.

Lora Hasyim juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan, merawat tradisi, membuka ruang bagi generasi muda dan tidak takut melakukan pembaruan.

“NU harus mampu menjaga yang baik dari masa lalu, mengambil yang lebih baik dari masa kini, dan menyiapkan yang terbaik untuk masa depan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Lora Hasyim turut menanggapi kabar Presiden Prabowo Subianto yang telah menerima KARTANU.

Ia berharap kepemilikan KARTANU tidak berhenti pada aspek administratif maupun amaliyah, tetapi juga diikuti kontribusi nyata bagi warga Nahdliyin dan bangsa Indonesia.

“Alhamdulillah Bapak Presiden Prabowo Subianto sudah resmi mempunyai KARTANU. Artinya beliau betul-betul warga Nahdliyin,” kata Lora Hasyim.

Ia berharap Presiden Prabowo dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat Nahdliyin sekaligus bersama-sama membangun bangsa dan negara.

“Harapannya ke depan, semoga Bapak Presiden tidak hanya amaliyahnya yang NU, namun betul-betul banyak kontribusi bagi kami, bagi warga Nahdliyin. Banyak kontribusi untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara ini,” pungkasnya.

Reporter: Agus Yohanan

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version