Oleh : Tri Prakoso, SH., M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah malam yang sunyi, ketika bintang-bintang tampak enggan berkedip dan angin berhenti menggerakkan dedaunan, seorang lelaki duduk bersila di atas sajadahnya. Ia baru saja menyelesaikan dzikir panjangnya, tetapi hatinya belum tenang. Ada kegelisahan yang halus, seperti riak air di permukaan danau yang tak terlihat oleh mata. Ia bertanya pada dirinya sendiri: ”Seberapa besar cintaku kepada Allah? Seberapa dalam kerinduanku kepada-Nya?”
Pertanyaan itu tidak datang dari lisan, melainkan dari sirr—rahasia jiwa yang tersembunyi di kedalaman batin. Lelaki itu kemudian teringat sebuah syair yang pernah didendangkan oleh gurunya di masa lalu, syair yang kini kembali hidup di dalam dadanya:
”Perhatikan perasaanmu.. Seberapa besarkah cintamu terhadap Allah? Seberapa besarkah gelombang kerinduanmu kepada Allah? Lihatlah rasa cintamu yang terlukis di dalam waktu-waktumu.. Seberapa banyak waktumu berdzikir kepada Allah? Seberapa jauh pengabdianmu kepada Allah? Seberapa besar gelombang kerinduanmu kepada Allah? Sebesar itulah cintamu kepada Allah? Lihatlah amal perbuatanmu, adakah amal perbuatan yang engkau persembahkan kepada Allah dengan ikhlas? Jika ada, maka itulah segelintir debu pengorbanan cintamu kepada Allah.”
Syair ini bukan sekadar untaian kata. Ia adalah isyarah—petunjuk halus dari alam malakut—yang membedah anatomi cinta ilahiah. Ia tidak hanya mengajak untuk merasakan, tetapi juga untuk mengukur—mengukur cinta melalui waktu, dzikir, amal, dan keikhlasan. Dan di sinilah terbentang sebuah hukum yang oleh para pencinta disebut sebagai hukum fisika spiritual: Hukum Resiprositas Ilahi.
Hukum Resiprositas Ilahi: Ingatlah Aku, Maka Aku Mengingatmu
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dengan bahasa yang sangat mesra: ”Fadzkuruni adzkurkum”—Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu (QS. Al-Baqarah: 152). Ayat ini adalah janji ontologis yang paling agung. Ia menegaskan bahwa dzikir manusia tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Ketika seorang hamba menyebut nama Allah dengan tulus, Allah menyebut namanya di hadapan para malaikat. Ketika ia mengingat Allah di dalam keheningan, Allah mengingatnya di dalam Cahaya.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menjelaskan bahwa ingatan Allah kepada hamba-Nya bukanlah seperti ingatan manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu. Ingatan Allah adalah nur—limpahan cahaya yang membuka tabir rahasia alam semesta (kasyf) dan mengalirkan hidayah ke relung-relung jiwa yang paling dalam. Ketika Allah “menyebut nama” seorang hamba, itu berarti Allah mencurahkan rahmat-Nya, membuka pintu-pintu makrifat, dan menuntun hamba itu ke jalan yang tidak mungkin ia temukan sendiri.
Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi menulis bahwa dzikir adalah kunci pembuka hati. Barangsiapa membiasakan lisannya berdzikir, maka hatinya akan mengikuti. Barangsiapa hatinya mengikuti, maka seluruh jiwanya akan diterangi. Dzikir yang tulus adalah sarana untuk melintasi hijab-hijab yang memisahkan manusia dari Allah. Ia adalah tangga yang mengantarkan hamba dari kegelapan menuju Cahaya.
Tetapi dzikir memiliki tingkatan-tingkatan. Para sufi membaginya ke dalam beberapa tahapan yang sangat halus.
Pertama, Dzikir Lisan—ucapan. Ini adalah tingkatan paling awal, di mana dzikir masih berupa gerakan bibir yang mengucapkan lafaz-lafaz tertentu. Dzikir lisan penting sebagai latihan, tetapi ia belum menembus kedalaman hati.
Kedua, Dzikir Qolbu—getaran hati. Pada tingkatan ini, dzikir tidak lagi sekadar diucapkan oleh lisan, tetapi bergetar di dalam hati. Hati mulai merasakan kehadiran Allah, dan dzikir menjadi seperti detak jantung yang tidak pernah berhenti.
Ketiga, Dzikir Sirr—dzikir rahasia. Ini adalah puncak dari dzikir, di mana dzikir tidak lagi terikat oleh kata-kata atau getaran. Ia telah menjadi kesadaran murni yang menyatu dengan alam. Dalam kearifan filosofi Jawa klasik, tingkatan ini disebut Suwung—sebuah kondisi kekosongan batin dari segala sesuatu selain Allah.
Namun, Suwung di sini bukanlah kekosongan hampa (nihilisme). Ia adalah kekosongan yang penuh (plenum). Karena ketika hati telah kosong dari makhluk, saat itulah ia dipenuhi oleh Tajalli—penampakan Sang Khalik. Di sinilah hukum resiprositas Ilahi mencapai puncaknya: ketika hamba telah kosong dari dirinya sendiri, Allah mengisi kekosongan itu dengan Diri-Nya.
Dzikir sebagai Kesadaran Primordial
Di tengah gemuruh kehidupan modern, manusia telah kehilangan kesadaran primordialnya. Ia lahir membawa fitrah—kesadaran bawaan akan kehadiran Allah—tetapi fitrah itu tertutup oleh debu-debu kesibukan, ambisi, dan kecemasan. Dzikir adalah proses kembali—kembali kepada kesadaran primordial itu, kembali kepada asal-usul jiwa yang telah lama dilupakan.
Jacques Lacan, psikoanalis Prancis, menyebut manusia sebagai split subject—subjek yang terbelah, yang selalu merindukan keutuhan yang hilang. Kerinduan ini adalah lack—kekurangan ontologis yang tidak pernah bisa diisi oleh apa pun dari dunia. Dalam bahasa tasawuf, lack ini adalah syauq—kerinduan kepada Allah.
Dzikir adalah jawaban atas lack ini. Ketika manusia berdzikir dengan tulus, ia sedang mengingat asal-usulnya. Ia sedang kembali ke rumah yang telah lama ia tinggalkan. Dan ketika ia kembali, ia menemukan bahwa Allah telah menunggunya di pintu—dengan ma’iyyah (kebersamaan) yang tidak pernah putus.
Lelaki yang duduk di atas sajadahnya itu merasakan betul kebenaran ini. Selama ini ia telah berdzikir dengan lisan, tetapi hatinya sering tidak hadir. Ia mengucapkan Subhanallah berkali-kali, tetapi pikirannya melayang ke pekerjaan, ke tagihan, ke konflik dengan tetangga. Dzikirnya hanyalah ritual kosong—gerakan tanpa ruh. Malam ini, ia ingin berdzikir dengan cara yang berbeda. Ia ingin berdzikir dengan sirr—dengan kesadaran penuh bahwa Allah sedang hadir, sedang mendengarkan, sedang mencintainya.
”Allah Akan Memperhatikanmu, Jauh Melebihi Perhatianmu kepada Dirimu Sendiri”
Syair itu melanjutkan dengan janji yang sangat menggetarkan:
”Jika engkau beribadah karena Allah, maka Allah akan memperhatikan dirimu, jauh melebihi perhatianmu kepada dirimu sendiri.”
Kalimat ini melumpuhkan seluruh ilusi kemandirian rasional kita. Manusia modern sering mengira bahwa dengan asuransi, tabungan, sains, dan teknologi, ia telah merawat dan memperhatikan dirinya sendiri dengan sempurna. Ia merasa aman karena memiliki asuransi kesehatan; merasa tenang karena memiliki tabungan pensiun; merasa berkuasa karena memiliki pengetahuan. Tetapi sehebat apa pun manusia menjaga dirinya, ia sejatinya rentan, rapuh, dan berjalan menuju kehancuran biologis.
Hanya tatapan rahmat Tuhan yang mampu memelihara esensi sejati manusia, melampaui batas hidup dan mati. Ketika Allah “memperhatikan” seorang hamba, itu berarti Allah memberikan ma’iyyah—kebersamaan-Nya yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Hamba itu tidak lagi berjalan sendirian; ia berjalan bersama Allah. Tidak lagi merasa takut; ia merasa aman dalam pelukan-Nya.
Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ merekam banyak kisah para wali yang hidup dalam ma’iyyah ini. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki apa-apa secara materi, tetapi hati mereka dipenuhi oleh kekayaan yang tidak bisa dihitung. Mereka tidak takut kelaparan, tidak takut kehilangan, tidak takut kematian. Karena mereka tahu bahwa Allah memperhatikan mereka—jauh melebihi perhatian mereka kepada diri mereka sendiri.
Fana’ ul-Fana’: Menembus Batas Ketiadaan, Memasuki Kekekalan
Muara dari seluruh pembacaan analitis, psikologis, dan sufistik atas teks ini membawa kita pada gerbang tertinggi spiritualitas Islam: kajian tentang Fana’ ul-Fana’.
Konsep Fana’ (peleburan/ketiadaan) adalah jantung dari mistisisme Islam. Selama seseorang masih berkata, “Aku rindu kepada Allah,” atau “Aku mencintai Allah,” secara filosofis masih terdapat dualisme: ada “Aku” (sebagai subjek yang mencintai) dan ada “Allah” (sebagai objek yang dicintai). Dalam pandangan para sufi besar, kesadaran akan adanya “Aku” yang terpisah dari sumber eksistensi adalah akar dari segala hijab (penghalang).
Proses pendakian menuju Allah mengharuskan hamba untuk melewati fase Fana’ fil Af’al—menyadari bahwa tidak ada yang berbuat di alam ini selain Allah—kemudian Fana’ fis Sifat—menyadari bahwa segala sifat ilmu, kuasa, hidup adalah milik Allah—dan puncaknya Fana’ fidz Dzat—peleburan eksistensi diri ke dalam Dzat Tuhan.
Namun, teks yang kita kaji menuntut sesuatu yang lebih radikal, yang hanya bisa dicapai melalui maqam Fana’ ul-Fana’—Peleburan dari Peleburan itu sendiri.
Ketika seseorang mengalami Fana’, ia mungkin masih memiliki kesadaran bahwa dirinya sedang lebur (fana’). Kesadaran bahwa “aku sedang fana'” ini sendiri adalah sebuah hijab spiritual yang halus. Maka, dalam Fana’ ul-Fana’, sang sufi kehilangan kesadaran bahkan terhadap kefanaannya sendiri. Keakuannya musnah secara total. Bagaikan setetes air hujan yang jatuh dan melebur ke dalam samudra tak bertepi; sang tetesan air tidak lagi bisa mengklaim dirinya sebagai air hujan, karena yang ada kini hanyalah Samudra yang Maha Luas.
Dalam keadaan Fana’ ul-Fana’, kalimat “Seberapa besarkah cintamu terhadap Allah?” tidak lagi dijawab dengan kata-kata atau amal perbuatan yang terukur. Ia dijawab dengan ketiadaan diri (‘adam). Ia tidak lagi mencintai Allah dengan cintanya sendiri, melainkan mencintai Allah dengan Cinta Allah itu sendiri. Ia tidak lagi melihat, mendengar, atau melangkah dengan kekuatan egonya, melainkan—sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi yang monumental—”Aku (Allah) menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, pandangannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”
Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis bahwa mahabbah sejati adalah ketika hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai subjek yang mencintai. Ia melihat bahwa cintanya adalah tajalli dari Cinta Allah. Maka, cinta itu bukan lagi miliknya; ia adalah milik Allah. Inilah puncak dari fana’: ketika tidak ada lagi “aku” yang mencintai, yang ada hanyalah Allah yang mencintai Diri-Nya sendiri melalui hamba-Nya.
Setelah fase ketiadaan yang paripurna ini, seorang hamba akan dikembalikan ke alam sadar dalam keadaan Baqa’ billah—Kekal bersama Allah. Ia tetap hidup di dunia, makan, minum, bermasyarakat, dan menjalankan fungsi khalifah di bumi. Di mata orang awam, ia tampak seperti manusia biasa. Namun di alam batinnya, ia adalah raja yang tidak lagi terikat oleh dunia. Ia hidup di tengah keramaian pasar, mengatur ekonomi, berbicara politik, namun qalbunya sedetik pun tak pernah berpaling dari Arsy Ilahi.
Baqa’ billah: Kembali ke Dunia dengan Jiwa yang Bercahaya
Baqa’ billah bukanlah pelarian dari dunia. Ia adalah kembalinya hamba ke dunia dengan kesadaran yang telah ditransformasi. Dalam maqam ini, hamba tidak lagi beribadah karena takut neraka atau mengharap surga, melainkan semata-mata karena Allah layak disembah. Ia tidak lagi bekerja untuk memenuhi ambisinya sendiri, melainkan untuk khidmah—pelayanan kepada sesama.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ menggambarkan para Ashfiya’—orang-orang suci—sebagai mereka yang “menjadi obat bagi luka umat.” Mereka tidak mengasingkan diri di puncak gunung; mereka justru turun ke pasar, ke jalanan, ke tengah-tengah penderitaan manusia, untuk menjadi perpanjangan tangan kasih sayang Allah. Mereka adalah perwujudan dari rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam.
Lelaki yang duduk di atas sajadahnya itu akhirnya menyelesaikan dzikirnya. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang remang. Malam semakin larut, tetapi hatinya justru semakin terang. Ia tidak lagi gelisah dengan pertanyaan “seberapa besar cintaku kepada Allah?” Sebab ia tahu, cinta sejati bukan untuk diukur, melainkan untuk dijalani. Ia hanya perlu terus berjalan, terus berdzikir, terus mencoba ikhlas, dan berharap bahwa suatu hari nanti—jika Allah menghendaki—ia akan dibawa melintasi gerbang fana’ menuju baqa’.
Menjemput Hening di Ujung Tanya
Di akhir kontemplasi panjang ini, teks tersebut meninggalkan gema yang akan terus memantul di dinding-dinding sanubari kita. Pertanyaan “Bagaimana mungkin dirimu berkorban demi Allah, sementara semua pengorbananmu demi jalan kesenanganmu?” adalah pedang bedah yang harus terus diasah setiap malam sebelum kita memejamkan mata.
Kita hidup di zaman yang paradoksal. Ilmu pengetahuan melesat melampaui galaksi, namun pemahaman manusia tentang kedalaman jiwanya sendiri semakin dangkal. Kita fasih berbicara tentang tatanan ekonomi global, kebijakan publik, atau dinamika politik, namun kita sering kali gagap ketika dihadapkan pada perbincangan sunyi antara roh kita dan Tuhan.
Mari kita sejenak melepaskan jubah kebesaran sosial kita, menanggalkan atribut akademis dan jabatan yang melekat di dunia fana ini, dan duduk diam sebagai seorang faqir di ambang pintu Tuhan. Mari kita tatap lekat-lekat sasmita dari untaian kalimat tadi, dan beranikan diri untuk menjawab dengan kejujuran hati yang paling telanjang.
Sebab, pada akhirnya, ketika waktu yang kita banggakan ini tergulung oleh kematian, yang tersisa hanyalah seberapa dalam cinta itu pernah kita tanam, dan seberapa tulus debu pengorbanan itu pernah kita persembahkan ke haribaan-Nya. Dan di puncak segalanya, ketika “aku” telah lenyap dan yang tinggal hanyalah Dia, kita akan menemukan bahwa cinta sejati bukanlah tentang kita—ia adalah tentang Dia, Yang Maha Mencintai, Yang Maha Merindu, Yang Maha Memberi.
”Sungguh, Allah akan mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada orang-orang yang mendapatkan cinta kasih-Nya.”
Dan bukankah itu yang selama ini kita cari?
Wallahu a’lam bi al-shawab.


