Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)

SURABAYAONLINE.CO – Di tengah deru mesin industrialisasi, akselerasi teknologi digital, dan hipertrofi rasionalisme urban, ada sesuatu yang sunyi dan pelan-pelan padam di kedalaman batin manusia modern. Kita menyaksikan parade peradaban yang secara lahiriah tampak megah dan serba terhubung, namun di dalamnya mengendap krisis eksistensial yang akut: alienasi, kecemasan kronis, kehampaan makna, dan kehancuran ikatan organis antara raga manusia dengan alam semesta.

Di tanah Jawa, kemerosotan itu berwujud dalam sirnanya dua ranah teknologi kesadaran (technology of consciousness) yang dahulu menjadi pilar utama ketahanan kejiwaan dan kebudayaan masyarakat: Doyo Prabowo—seni menyerap, mengendapkan, dan mentransmutasi daya alam kosmis—serta Cipto-Rohso-Karso—sistem penyelarasan tiga sakti jiwa: kognisi, intuisi, dan kehendak.

Praktik-praktik yang dahulu dihidupi secara khusyuk dalam keheningan sanggar, tepian pertemuan dua arus sungai (tempuran), puncak gunung, hingga ceruk-ceruk punden dan pesarean, kini kian terpinggirkan. Masyarakat modern yang terdidik dalam nalar positivistik cenderung menyederhanakan ajaran-ajaran esoteris ini sebagai sekadar residu animisme yang usang, tidak relevan, atau bahkan primitif.

Padahal, jika dibaca secara antropologis-mistikal dan dibedah melalui pisau psikoanalisis—mulai dari Sigmund Freud, Carl Gustav Jung, hingga Jacques Lacan—kedua ajaran ini bukanlah bentuk mistisisme naif (naïve mysticism). Sebaliknya, Doyo Prabowo dan Cipto-Rohso-Karso adalah manifestasi penataan psiko-spiritual yang sangat canggih: upaya mengintegrasikan ketidaksadaran, menyublimasikan dorongan hasrat, dan menggapai keutuhan struktur diri (The Self).

Keduanya berpijak pada satu fondasi kosmologis yang sama: keyakinan bahwa manusia adalah jagad cilik—dunia kecil—yang hidup di dalam jagad gedhe—dunia besar. Dari fondasi inilah lahir berbagai laku kebatinan yang tidak hanya bertujuan memperoleh kasekten atau daya batin, tetapi terutama menata ulang hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.

Kehilangan Rasa dan Alienasi Manusia Modern

Masyarakat modern terjebak dalam krisis yang oleh Max Weber disebut Entzauberung der Welt—ketercerabutan dunia dari hal-hal sakral dan gaib. Rasionalitas instrumental mereduksi alam raya menjadi himpunan materi yang siap dieksploitasi, dan manusia menyusut menjadi subjek kognitif yang terasing dari lingkungannya. Martin Heidegger menyebut alam dalam peradaban teknologis sebagai standing-reserve—sekadar cadangan pasokan yang siap diambil.

Clifford Geertz dalam The Religion of Java menunjukkan bahwa praktik-praktik kebatinan Jawa—dari slametan, tapa, hingga semedi—merupakan sistem simbol yang berfungsi memadukan pandangan dunia (worldview) dan etos hidup (ethos). Ketika sistem simbol itu runtuh, manusia kehilangan peta makna. Dalam arsitektur jiwa Jawa, krisis ini adalah bentuk kehancuran Rasa. Manusia modern mengandalkan Cipta (nalar/kognisi) secara berlebihan, melayani Karsa (kehendak/hasrat) yang dihela oleh nafsu, sembari mematikan Rohso (intuisi terdalam, empati kosmis, dan kesadaran spiritual).

Ketika hubungan manusia dengan kosmos terputus, raga kehilangan daya vitalitasnya. Di sinilah relevansi mendesak menengok kembali tradisi Doyo Prabowo dan Cipto-Rohso-Karso. Keduanya tidak ditujukan untuk pamer kesaktian—otot kawat tulang besi—melainkan untuk rekonsiliasi kejiwaan: bagaimana mikrokosmos memulihkan dialog keseimbangannya dengan makrokosmos.

Doyo Prabowo: Ekologi Mistis dan Transmutasi Daya Semesta

Anatomi dan Ritual Penyerapan Daya

Secara etimologis, kata doyo merujuk pada kekuatan, energi, kemampuan, atau potensi aksional yang melingkupi alam semesta. Sementara prabowo atau prabawa dalam bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta berarti uap aura, pancaran wibawa, kecemerlangan, atau kemuliaan yang bersinar dari inti energi vital. Dengan demikian, Doyo Prabowo dapat dipahami sebagai “daya pengaruh yang memancar” atau “kekuatan batin yang menimbulkan wibawa”.

Secara teknis-mistikal, Doyo Prabowo adalah disiplin esoteris Kejawen untuk menarik (narik), mengendapkan (ngendhepake), dan mengonversi zat-zat daya alam—dzat prabawa ing swasana—ke dalam jaringan fisik, emosional, dan batiniah manusia. Dalam pandangan antropologi mistikal Jawa, elemen alam—bumi (siti), air (tirta), angin (maruta), dan api/cahaya (agni/praba)—dipandang bukan sekadar kombinasi molekul kimiawi, melainkan medium berkumpulnya daya vital kosmis (elan vital).

Praktik ini dilakukan melalui rangkaian tapa brata atau laku prihatin yang terstruktur. Tapa kungkum, misalnya, adalah merendam raga di pertemuan dua arus sungai pada sepertiga malam, tepat ketika alam berada dalam frekuensi paling hening. Secara fisiologis, dinginnya air malam melambatkan detak jantung, menurunkan suhu tubuh, dan memicu relaksasi dalam; secara mistis, air tempuran dipercaya memiliki kepadatan energi kosmis paling netral untuk meluruhkan hambatan batiniah serta menyerap daya vital air.

Ada pula tapa ngalong atau tapa nguwat, yaitu mengisolasi pancaindra di bawah pepohonan rindang atau membenamkan raga dalam ceruk bumi. Praktisi mematikan persepsi sensorik luar untuk menyerap daya bumi dan udara melalui olah napas serta pori-pori raga yang dibuka lewat kesadaran batin. Tahap berikutnya adalah ngendhepake daya: energi elemental yang telah dihirup tidak dibiarkan menjadi keliaran psikis, melainkan diendapkan di pusat rasa—sekitar solar plexus atau rongga dada—hingga terkonversi menjadi prabawa: aura ketenangan, wibawa tanpa kata, dan benteng proteksi kejiwaan.

Penting dicatat bahwa doyo dalam kosmologi mistik tidak boleh dipahami secara harfiah sebagai energi fisika yang dapat diukur. Ia lebih tepat ditempatkan sebagai kategori pengalaman spiritual. Manusia mengalami gunung sebagai ruang yang mengecilkan ego, laut sebagai sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, dan malam sebagai keheningan yang menembus. Pengalaman semacam ini nyata sebagai pengalaman manusia, sekalipun tidak otomatis membuktikan adanya “energi metafisis” yang dapat diukur seperti listrik. Jika Doyo Prabowo dipaksa menjadi pseudo-fisika, kedalaman spiritualnya justru hilang.

Dalam pengertian yang lebih subtil, daya bukan sekadar sesuatu yang “diambil” dari alam. Daya muncul ketika manusia mampu menyelaraskan dirinya dengan alam. Orang yang datang ke gunung dengan obsesi “menyedot energi” masih menempatkan dirinya sebagai pusat; alam menjadi benda yang dieksploitasi. Paradigma semacam itu sesungguhnya tetap modern dan materialistik, hanya istilahnya yang berubah menjadi mistik. Tradisi Jawa justru mengajarkan kebalikannya: orang melakukan tirakat untuk mengurangi dirinya—mengurangi makan, bicara, tidur, kesenangan, dorongan, dan pamrih. Jalan menuju daya dimulai bukan dengan menambahkan sesuatu, melainkan dengan mengurangi kebisingan diri.

Pembacaan Psikoanalisis: Dari Freud hingga “Oceanic Feeling”

Bagaimana psikoanalisis membaca praktik penyerapan daya Doyo Prabowo?

Sublimasi Libido dan Eros Freudian. Sigmund Freud menekankan bahwa psike manusia digerakkan oleh Trieb—dorongan atau insting—yang terbagi menjadi Eros (insting kehidupan/libido) dan Thanatos (insting kematian/agresi). Energi psikis yang terperangkap dalam dorongan seksual mentah atau agresi sering kali menyebabkan neurosis apabila hanya ditekan (repressed). Dalam Doyo Prabowo, laku tapa brata dan olah napas bertindak sebagai mekanisme sublimasi tingkat tinggi. Praktisi Kejawen secara sadar mengalihkan energi dorongan seksual dan hasrat agresi—yang dalam terminologi Jawa berasal dari nafsu amarah dan supiah—melalui kerja ketat raga dan kesadaran batin. Energi elemental dari alam yang diserap saat tapa kungkum atau olah napas bertindak sebagai katalis penyeimbang. Libido kasar yang terdistilasi dalam keheningan alam bertransmutasi menjadi daya prabawa: sebuah bentuk Eros yang matang, berwujud pancaran wibawa, kepemimpinan yang mengayomi, ketenangan jiwa, dan empati sosial.

Oceanic Feeling dan Peleburan Batas Ego. Dalam korespondensinya dengan Romain Rolland, Freud membahas Oceanic Feeling—sensasi subjektif tentang ketidakberbatasan, perasaan menyatu secara utuh dengan alam semesta. Freud cenderung menganggapnya sebagai regresi psikologis ke fase infantil awal sebelum ego memisahkan diri dari dunia luar. Namun, dalam perspektif antropologi mistikal Jawa dan psikologi Jungian, Oceanic Feeling dalam Doyo Prabowo bukanlah regresi patologis, melainkan pencapaian kesadaran liminal yang transendental. Ketika praktisi merendam raga dalam tapa kungkum, batas-batas ego yang kaku—yang dibangun oleh identitas sosial, trauma, dan ilusi kesendirian—dipecahkan secara terkontrol. Tubuh tidak lagi mempersepsikan dirinya sebagai entitas terisolasi, melainkan sebagai pori-pori yang bernapas bersama irama agung semesta.

Integrasi Arketipe Anima Mundi (Jung). Carl Gustav Jung mengajarkan bahwa alam semesta dan jiwa manusia terhubung melalui ketidaksadaran kolektif. Alam bukan sekadar tempat tinggal fisik, melainkan Anima Mundi—jiwa dunia—yang kaya akan arketipe. Dalam Doyo Prabowo, elemen api, air, bumi, dan udara dipahami sebagai manifestasi material dari arketipe primordial. Penyerapan dzat prabawa sejatinya adalah proses introyeksi psikologis: memindahkan keselarasan, keabadian, dan daya tahan kosmis ke dalam ketidaksadaran personal. Praktisi tidak sekadar menyerap molekul udara, melainkan menyelaraskan frekuensi kejiwaannya dengan energi arketipal semesta.

Antropolog Victor Turner menyebut pengalaman ini sebagai proses liminal—keadaan ambang ketika struktur sosial dan identitas sehari-hari dilebur. Sementara Mircea Eliade menegaskan bahwa tempat-tempat seperti gunung, gua, dan pertemuan sungai berfungsi sebagai axis mundi—pusat dunia, tempat langit, bumi, dan dunia bawah bertemu. Dengan bersemedi di sana, pelaku Doyo Prabowo berharap menembus lapisan realitas dan memperoleh daya dari sumber transenden.

Cipto-Rohso-Karso: Tri-Sakti Jiwa dan Peta Psikoanalisis Kesadaran

Jika Doyo Prabowo merupakan gerak energi luar-ke-dalam (outside-in), maka Cipto-Rohso-Karso adalah pengolahan dalam-ke-luar (inside-out). Ketiga potensi jiwa ini merupakan fondasi utama psikologi kedalaman Jawa (indigenous Javanese psychology).

Tri-Sakti Jiwa dan Peta Kebatinan Jawa

Kebatinan Jawa membagi jiwa manusia ke dalam tiga sakti atau potensi dasar yang saling bertautan.

Cipta adalah daya pikir, kapasitas kognitif, rasionalitas, abstraksi, dan pembentukan gagasan. Cipta bertugas mengonstruksi peta dunia fisik melalui bahasa, kalkulasi, dan konsep. Namun, jika tidak ditata, ia memicu keliaran angan-angan—pikiran yang terus memproduksi ilusi, prasangka, dan kecemasan.

Rasa atau Rohso adalah pusat intuisi, kedalaman emosional, kepekaan etis, dan kesadaran spiritual. Tradisi kebatinan membedakan rasa dalam dua tingkatan. Rasa pangrasa adalah perasaan emosional dangkal yang digerakkan oleh impuls pancaindra dan hawa nafsu—kecewa, tersinggung, takut, gembira impulsif, marah. Rasa sejati adalah kompas spiritual terdalam yang tak tersentuh oleh gejolak emosi ego; ia adalah inti kesadaran tempat Sang Hyang Suksma, percikan ilahi, bersemayam.

Karsa adalah daya dorong, kehendak, niat, determinasi, atau energi eksekutif jiwa yang mewujudkan konsepsi nalar (cipta) dan bisikan batin (rasa) menjadi tindakan konkret di dunia nyata.

Ketiga daya ini harus dijaga keseimbangannya. Jika cipta terlalu dominan, manusia menjadi kering dan dingin. Jika rasa terlalu dominan, manusia menjadi emosional dan mudah terseret perasaan. Jika karsa terlalu dominan, manusia menjadi otoriter dan serakah. Keseimbangan ketiganya menghasilkan pribadi yang sempurna—manungsa sejati.

Sintesis Psikoanalisis: Membedah Tri-Sakti Jiwa

Bagaimana struktur tri-sakti ini berkorespondensi dengan teori-teori psikoanalisis?

Freudian Tripartite vs. Tri-Sakti Jawa. Freud membagi jiwa menjadi id, ego, dan superego. Cipta dapat dipadankan dengan ego: ia bekerja dengan prinsip realitas, menggunakan logika dan nalar untuk menavigasi dunia eksternal. Karsa memegang energi motivasional; tanpa penataan, ia menjadi perpanjangan id yang menuntut pemenuhan prinsip kenikmatan. Namun, dalam jiwa yang terolah, karsa bertindak sebagai energi eksekutif yang terarah. Rasa sejati melampaui superego Freudian. Superego berakar pada internalisasi aturan moral yang sering represif dan memicu rasa bersalah. Rasa sejati tidak bekerja melalui intimidasi moral sosial, melainkan melalui kesadaran moral-ontologis yang organik: hukum moral internal yang selaras dengan hukum keselarasan alam.

Nafsu Patang Prekara dan Konsep Shadow (Jung). Dalam kebatinan Jawa, manusia dikelilingi oleh empat warna hawa nafsu: nafsu amarah (merah, hasrat mempertahankan diri dan ego kekuasaan), nafsu aluamah (hitam, insting biologis dan pemuasan fisik), nafsu supiah (kuning, hasrat keindahan, kebanggaan diri, dan keindahan erotis), serta nafsu mutmainah (putih, dorongan menuju kebaikan dan kesucian).

Carl Jung merumuskan konsep The Shadow—bagian ketidaksadaran yang berisi dorongan yang ditolak, disangkal, atau diasingkan oleh kesadaran ego. Nafsu amarah, aluamah, dan supiah acap kali diposisikan moralisme sempit sebagai “musuh yang harus dibunuh”. Namun, ajaran spiritual Jawa—seperti dalam Serat Wedhatama—justru mengajarkan ngendaleni hawa nafsu: mengendalikan dan mengintegrasikan, bukan memusnahkan. Secara psikoanalitis, ini adalah proses integrasi Shadow ala Jung. Jika nafsu amarah dibunuh, manusia kehilangan ketegasan dan daya juang. Jika nafsu aluamah dimatikan, raga kehilangan daya hidup biologis. Keempat nafsu—termasuk mutmainah—harus ditundukkan di bawah kepemimpinan rasa sejati. Proses pengintegrasian Shadow inilah yang membebaskan manusia dari neurosis kompulsif dan keterbelahan diri.

Pembacaan Lacanian: Cipta, Rasa, dan The Real. Jacques Lacan membagi pengalaman manusia ke dalam tiga tatanan: The Imaginary, The Symbolic, dan The Real. Cipta beroperasi pada tatanan simbolik: bahasa, hukum, tata kata, dan struktur sosial. Melalui cipta, kita menamai dunia. Namun, Lacan menegaskan bahwa bahasa selalu membelah subjek dan gagal menangkap hakikat keberadaan yang utuh; bahasa selalu menyisakan jarak (lack). Rasa pangrasa berada pada tatanan imajiner: dipenuhi citra ego, ilusi kebanggaan, dan krisis identitas. Rasa sejati adalah pertemuan dengan The Real—tatanan yang mendahului bahasa dan berada di luar struktur simbolik. Ia tidak bisa ditangkap kata-kata, namun kehadirannya terasa pekat dan tak terbantahkan. Dalam mistisisme Jawa, rasa sejati adalah momen ketika praktisi menerobos batasan cipta dan rasa pangrasa untuk menyentuh The Real: keberadaan murni yang melampaui dualitas subjek-objek.

Dalam perspektif Michel Foucault, olah cipta, rasa, dan karsa adalah bagian dari teknologi diri: teknik yang digunakan individu untuk mengubah dirinya, mengendalikan hasrat, dan mencapai keadaan yang dianggap ideal. Sementara Pierre Bourdieu menyebutnya pembentukan habitus mistikal: disposisi batin yang terbentuk melalui praktik dan kemudian mewarnai cara seseorang merasakan, berpikir, dan bertindak.

Proses Individuasi dan Kasampurnan: Ketunggalan Batin Jawa

Puncak dari sintesis Doyo Prabowo dan Cipto-Rohso-Karso adalah pencapaian kondisi kasampurnan atau manunggaling kawula Gusti—penyatuan antara hamba dan Sang Pencipta. Dalam kosa kata modern, ini sering disalahartikan sebagai panteisme naif. Namun, melalui psikoanalisis Jungian, pencapaian ini tidak lain adalah proses akhir dari individuasi.

Perjalanan Bima dalam Serat Dewa Ruci

Manuskrip legendaris Serat Dewa Ruci adalah alegori psiko-spiritual paling kuat tentang perjalanan individuasi. Dikisahkan, Bima diperintahkan oleh gurunya, Resi Durna—yang mewakili ilusi cipta dan otoritas duniawi—untuk mencari Tirta Perwitasari (air kehidupan sejati). Bima harus memasuki samudra liar dan mengalahkan dua raksasa: Rukmuka dan Rukmakala.

Secara psikoanalitis, samudra liar adalah representasi ketidaksadaran kolektif yang pekat dan menakutkan bagi ego. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala adalah simbol dorongan id dan shadow—kemewahan dan nafsu kekuasaan—yang harus ditundukkan melalui keberanian batiniah. Ketika Bima berhasil menyelam ke dasar laut, ia bertemu dengan Dewa Ruci: sosok ilahi berukuran kerdil tetapi berwajah identik dengan Bima. Dewa Ruci adalah miniatur The Self, sang pusat jiwa. Bima diperintahkan masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci. Momen ini melambangkan kematian ego (ego-death). Di dalam tubuh Dewa Ruci, Bima melihat seluruh isi semesta—bintang, galaksi, samudra—berada di dalam raga kecil itu.

Ini adalah pencapaian tertinggi dari integrasi Cipto-Rohso-Karso: Bima tidak lagi digerakkan oleh cipta yang dipenuhi dogma luar atau karsa yang liar, melainkan telah menemukan rasa sejati. Mikrokosmosnya telah menyatu penuh dengan makrokosmos. Ia mencapai keutuhan The Self.

Sembah Catur sebagai Tahapan Integrasi Jiwa

Dalam Serat Wedhatama, KGPAA Mangkunegara IV merumuskan empat tatanan penyembahan—Sembah Catur—yang berkorespondensi dengan tingkat kedewasaan psikologis. Sembah raga adalah penyembahan tingkat fisik melalui ritual, kebersihan raga, dan gerak lahiriah; ini tahap pembentukan disiplin perilaku. Sembah cipta adalah penyembahan tingkat rasional-intelektual melalui penjernihan pikiran (heneng-hening); praktisi belajar mengendalikan keliaran gagasan. Sembah jiwa adalah penyembahan tingkat batin di mana jiwa mulai melepaskan keterikatan pada entitas fisik dan bentuk imajiner. Sembah rasa adalah puncak penyembahan mistis: batas antara subjek yang menyembah dan Objek yang disembah melebur dalam rasa sejati.

Melalui Sembah Catur, praktisi bergerak dari ranah fisik yang dangkal menuju kedalaman psikis tertinggi. Dalam kerangka Jung, ini adalah perjalanan dari persona menuju Self; dalam bahasa Jawa, dari kasekten menuju kasampurnan.

Antropologi Kepunahan: Mengapa Tradisi Ini Redup?

Jika kedua ajaran ini memiliki kedalaman psikologis dan mistikal yang demikian tinggi, mengapa keberadaannya di masyarakat Jawa kontemporer kini berada di ambang kepunahan?

Pertama, desakralisasi ruang dan degradasi lanskap alam. Praktik Doyo Prabowo mengandaikan ruang-ruang alam yang masih murni: hutan yang tenang, air sungai yang bebas polusi, gunung yang tidak tercemar komersialisasi pariwisata massal. Ketika ruang alam mengalami desakralisasi dan degradasi ekologis, ekosistem fisik untuk menyerap daya hancur. Sungai tempuran tempat tapa kungkum kini dipenuhi limbah; hutan tempat tapa ngalong telah menjadi permukiman beton atau kebun sawit. Terputusnya ikatan fisik dengan alam murni secara langsung mematikan tradisi Doyo Prabowo.

Kedua, penyeragaman epistemologis dan hegemoni positivisme. Sistem pendidikan modern mengadopsi model epistemologi positivistik yang hanya mengakui kebenaran jika dapat diukur, diverifikasi empiris-sensoris, dan dikuantifikasi. Dalam tatanan ini, cipta didewakan secara berlebihan melalui tuntutan nilai ujian, literasi digital, dan efisiensi teknokratis. Sebaliknya, rohso dicurigai sebagai wilayah irasional yang tidak berharga secara ekonomi. Penyeragaman ini menghasilkan generasi yang cerdas secara kognitif tetapi lumpuh secara emosional dan spiritual.

Ketiga, hiper-realitas dan invasi “The Imaginary” digital. Di era layar infinit, manusia modern secara konstan diinvasi oleh apa yang oleh Jean Baudrillard disebut simulakra dan hiper-realitas. Perhatian jiwa tersedot oleh gambar, notifikasi, dan validasi maya. Invasi bertubi-tubi ini memicu kecemasan kompulsif dan kelelahan mental—kondisi yang oleh Byung-Chul Han disebut burnout society. Manusia kehilangan waktu untuk melakukan heneng-hening: duduk diam dan mendengarkan batin. Ketika ruang sunyi hilang, Cipto-Rohso-Karso kehilangan tanah tempat ia tumbuh.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version