Oleh: Gatot Sundoro
SURABAYAONLINE.CO – Muhasabah diri adalah proses atau evaluasi terhadap amal perbuatan, niat dan sikap yang telah dilakukan sebagai persiapan menghadapi kehidupan di akhirat kelak.
Muhasabah adalah bahasa Arab, dari kata aslinya ‘hasaba’ yang artinya menghitung atau menghizab.
Arti yang lebih mendalam, berhenti sejenak untuk menghitung diri sendiri sebelum dihitung oleh ALLOH SWT di akhirat.
Muhasabah bukan hanya sekedar menyesali diri sendiri, namun lebih dari instrospeksi, berikut gambarannya:
– Melihat diri sendiri terhadap kegiatan yang telah lalu, misalnya: Hari ini sholat saya bolong nggak? Apa ada kata/ucapan saya yang menyakiti orang lain nggak? Rezeki yang saya dapat ini halal atau haram, dsb.
– Merasa setiap saat segala aktivitas selalu diawasi oleh ALLOH SWT (Muraqabah)
– Memberi sanksi terhadap diri sendiri bila merasa berdosa, dan memaksa diri tidak mengulanginya ataupun paksa diri untuk memperbaiki besuk (Mu’aqabah dan Mujahadah).
Jadi muhasabah itu seperti tutup buku setiap malam, bukan dipikirkan terus ataupun merasa berdosa terus, namun upaya agar besuk tidak diulang dengan kesalahan yang sama.
Salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw yang terkenal, yakni Umar bin Khattab pernah berkata:” Hizablah diri kalian sebelum kalian di hizab, timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang. Karena kalian akan lebih mudah di hizab kelak, jika kalian sekarang menghizab diri sendiri.”
Seseorang bisa hancur karena meremehkan muhasabah dan mengikuti hawa nafsunya.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits, bahwasanya Rasulullah Saw pernah bersabda:” Orang yang cerdas adalah orang orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk persiapan sesudah mati, dan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan untuk (diselamatkan) oleh ALLOH.”
Al Hasan berkata:” Engkau tidak akan menjumpai seorang mukmin, kecuali ia menghizab atas dirinya. Apa yang akan kamu kerjakan? Apa yang akan kamu makan dan minum?.
Sesungguhnya seorang hamba dikatakan baik, selama ia masih memiliki penasehat dalam dirinya sendiri, serta menjadikan muhasabah sebagai jalan hidupnya.”
Selanjutnya Al Hasan melanjutkan:” Seharusnya seorang mukmin itu selalu mengurusi jiwanya. Ia mengevaluasi dirinya sendiri karena ALLOH. Sehingga kelak hizabnya lebih ringan. Selalu ada evaluasi dalam dirinya dengan berkata:” Apa yang saya harapkan dari semua ini? Apakah ini bermanfaat bagiku?. Ia merasa tidak aman sampai bertemu ALLOH dan ALLOH dirasakannya dalam pendengarannya, dalam penglihatannya, di lisannya, di anggota anggota tubuhnya dan di semuanya itu.”
Terkait dengan muhasabah ini, ulama lainnya, yakni Maimun bin Mahran berkata:” Nafsu itu laksana teman dekat, jika kamu tidak menghizab nya, niscaya dia akan menghilang bersama hartamu.”
Imam Ahmad menuturkan :” Hak orang berakal itu adalah tidak lalai dalam empat hal, yakni: Waktu yang digunakan untuk bermunajat kepada ALLOH SWT; Waktu yang digunakan untuk menginstrospeksi dirinya; Waktu menyepi memikirkan yang halal dan menjadikan jiwanya terlihat indah; dan yang keempat adalah waktu yang bisa membantu semua waktu itu dan melimpahkan hati.”
Umar bin Khattab pernah menulis pesan kepada sebagian pegawainya yang isinya:” Hizablah dirimu di saat kamu dalam keadaan senang, sebelum datangnya hizab di waktu yang susah; Siapapun yang dilalaikan dalam hidupnya dan disibukkan oleh hawa nafsunya, maka ia akan menyesal dan merugi.”
Ulama lainnya, Qatadah berujar kaitannya dengan firman ALLOH,” Dan adalah keadaannya (hawa nafsu) itu melewati batas.”(Al Kahfi : 28)
Qatadah berkata:” Mereka yang menyia nyiakan dan menipu dirinya, dan melalaikan agamanya.”
ALLOH SWT Berfirman:” Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada TUHANMU), tiada sesuatu pun dari keadaan mu yang tersembunyi (bagi ALLOH).”
(QS. Al Haqqah:18)


