Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – SUATU subuh yang basah oleh embun, seorang lelaki muda duduk gelisah di beranda rumahnya. Ia baru saja menyelesaikan shalat, tetapi hatinya tidak tenang. Di dalam dadanya, dua suara terus bertengkar. Suara pertama berbisik: “Kejarlah mimpi-mimpimu. Perjuangkan apa yang kamu inginkan. Hidup ini milikmu.” Suara kedua berbisik lebih pelan, nyaris tenggelam: “Serahkanlah semua pada-Nya. Ikutilah apa yang Dia mau.” Lelaki muda itu bingung. Ia ingin bahagia, ingin sukses, ingin diakui. Tetapi di saat yang sama, ia ingin menjadi hamba yang taat. Ia ingin menyelaraskan dirinya dengan kehendak Tuhannya, tetapi ia tidak tahu caranya. Apakah harus membuang semua keinginan? Apakah harus berhenti bermimpi? Apakah harus mati rasa?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang asing. Setiap manusia yang pernah mencoba untuk serius dalam perjalanan spiritual pasti pernah bertanya: bagaimana caranya agar keinginanku selaras dengan keinginan-Nya? Bagaimana caranya agar aku tidak lagi berperang dengan takdir? Bagaimana caranya agar hatiku berhenti memberontak dan mulai menerima?
Seorang arif pernah melantunkan syair yang menjawab kegelisahan ini dengan begitu jernih:
”Jika engkau ingin meluruskan diri dengan keinginan-keinginan Allah… Luruskanlah dengan ketaatanmu pada-Nya. Luruskanlah dengan kerinduanmu pada-Nya. Luruskanlah dengan rasa syukurmu pada-Nya. Luruskanlah dengan ketaqwaanmu pada-Nya. Sungguh, jika engkau bisa begitu, satu per satu engkau akan mengerti Keinginan Tuhanmu, karena keinginan-Nya akan terpancar dalam hatimu. Ketahuilah wahai orang-orang yang percaya dengan kekuasaan-Nya, jika umat manusia tiada meluruskan diri dengan keinginan-Nya, niscaya mereka menyekutukan-Nya.”
Syair ini adalah peta. Ia tidak menawarkan jalan pintas, tetapi ia menawarkan arah. Ia tidak menjanjikan keselarasan instan, tetapi ia menunjukkan empat anak tangga yang harus didaki satu per satu. Mari kita susuri keempat anak tangga itu dengan hati yang terbuka, sambil sesekali menengok ke dalam diri sendiri: sudah sampai di tangga manakah aku?
Tangga Pertama: Ketaatan yang Membebaskan
”Luruskanlah dengan ketaatanmu pada-Nya.”
Kata “ketaatan” sering kali terdengar sebagai kata yang berat, bahkan menakutkan. Ia mengingatkan kita pada aturan-aturan, larangan-larangan, dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi. Tetapi para sufi memahami ketaatan dengan cara yang berbeda. Bagi mereka, ketaatan bukanlah beban; ia adalah pembebasan. Ketaatan adalah cara untuk melepaskan diri dari perbudakan hawa nafsu. Ketika seorang hamba taat kepada Allah, ia sebenarnya sedang membebaskan dirinya dari keharusan untuk menuruti setiap keinginan yang muncul di dalam hatinya.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa ketaatan sejati adalah ketika seorang hamba tidak lagi merasakan berat dalam menjalankan perintah Allah. Ia taat bukan karena takut neraka, bukan karena mengharap surga, tetapi karena ia mencintai Allah dan ingin menyenangkan-Nya. Ketaatan semacam ini adalah buah dari cinta, bukan hasil dari paksaan.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar menjelaskan bahwa ketaatan memiliki beberapa tingkatan. Ada ketaatan orang awam, yang taat karena takut hukuman dan mengharap pahala. Ada ketaatan orang khawash, yang taat karena merasakan manisnya ibadah. Dan ada ketaatan khawash al-khawash, yang taat karena telah larut dalam cinta kepada Allah. Pada tingkatan tertinggi ini, ketaatan bukan lagi sebuah pilihan; ia telah menjadi napas. Seorang hamba tidak bisa tidak taat, sebagaimana ia tidak bisa tidak bernapas.
Lelaki muda di beranda itu mungkin belum sampai pada tingkatan ini. Ia masih merasa berat ketika harus bangun untuk shalat subuh. Ia masih merasa lelah ketika harus menahan diri dari godaan. Tetapi syair ini mengajaknya untuk terus melangkah. Ketaatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun awalnya terasa berat, akan berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang dilandasi cinta akan berubah menjadi kebutuhan. Pada titik inilah ketaatan tidak lagi menjadi belenggu, melainkan menjadi sayap.
Tangga Kedua: Kerinduan yang Membakar
”Luruskanlah dengan kerinduanmu pada-Nya.”
Jika ketaatan adalah langkah pertama, kerinduan adalah bahan bakarnya. Tanpa kerinduan, ketaatan akan menjadi kering dan mekanis. Ia akan menjadi rutinitas yang dijalankan tanpa rasa, seperti mesin yang bergerak tanpa jiwa. Kerinduan adalah api yang membakar segala sesuatu selain Allah dari dalam hati. Ia adalah syauq—rasa rindu yang begitu dalam sehingga tidak ada satu pun yang bisa mengobatinya kecuali pertemuan dengan Sang Kekasih.
Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ merekam banyak kisah tentang para pencinta yang hatinya dirundung rindu kepada Allah. Salah satunya adalah kisah Rabi’ah al-‘Adawiyyah, yang setiap malam berdoa: “Ya Allah, tenggelamkan aku dalam lautan cinta-Mu, sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa memalingkanku dari-Mu.” Rabi’ah tidak merindukan surga, tidak takut neraka. Ia hanya merindukan Allah. Dan kerinduan itulah yang membuat setiap sujudnya terasa manis, setiap tangisnya terasa melegakan.
Kerinduan meluruskan kehendak karena orang yang merindukan Allah tidak akan menginginkan apa pun selain mendekat kepada-Nya. Segala keinginan duniawi menjadi sekunder, bahkan tidak relevan. Seperti seorang kekasih yang sedang jatuh cinta: ia tidak lagi peduli dengan hal-hal lain karena hatinya telah dipenuhi oleh wajah sang kekasih. Demikian pula seorang hamba yang merindukan Allah: hatinya telah dipenuhi oleh-Nya, sehingga tidak ada ruang bagi keinginan-keinginan yang liar.
Tetapi kerinduan tidak datang begitu saja. Ia harus dipupuk, disiram, dan dijaga. Salah satu cara untuk memupuk kerinduan adalah dengan memperbanyak dzikir dan tafakkur. Dengan mengingat Allah terus-menerus, hati akan semakin akrab dengan-Nya. Dan semakin akrab, semakin rindu. Semakin rindu, semakin ingin mendekat. Inilah siklus yang indah: dzikir melahirkan rindu, rindu melahirkan kedekatan, dan kedekatan melahirkan dzikir yang lebih dalam.
Tangga Ketiga: Syukur yang Menyadarkan
”Luruskanlah dengan rasa syukurmu pada-Nya.”
Syukur adalah pilar ketiga. Namun, syukur yang dimaksud di sini bukan sekadar ucapan alhamdulillah yang diucapkan di lisan. Syukur sejati adalah kesadaran yang mendalam bahwa segala sesuatu—setiap napas, setiap detak jantung, setiap rezeki, setiap kebahagiaan—berasal dari Allah. Syukur adalah pengakuan bahwa kita tidak memiliki apa pun, dan bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari-Nya.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr al-Asrar membagi syukur menjadi tiga tingkatan. Pertama, syukr al-lisan: syukur dengan lisan, yaitu mengucapkan alhamdulillah. Kedua, syukr al-qalb: syukur dengan hati, yaitu merasakan bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Ketiga, syukr al-jawarih: syukur dengan anggota badan, yaitu menggunakan setiap nikmat untuk beribadah kepada Allah.
Syukur meluruskan kehendak karena orang yang bersyukur tidak akan menggunakan nikmat untuk bermaksiat. Bagaimana mungkin ia akan menggunakan mata yang telah diberikan Allah untuk memandang yang haram, jika ia benar-benar bersyukur atas nikmat mata itu? Bagaimana mungkin ia akan menggunakan lisan yang telah diberikan Allah untuk berdusta, jika ia benar-benar bersyukur atas nikmat lisan itu? Syukur adalah rem yang mengendalikan keinginan dari dalam. Ia tidak perlu dipaksa dari luar, karena ia lahir dari kesadaran yang tulus.
Dalam kehidupan modern yang serba materialistis, syukur menjadi semakin langka. Kita cenderung fokus pada apa yang belum kita miliki, bukan pada apa yang telah diberikan. Kita mengeluh karena gaji kurang, padahal masih banyak yang tidak punya pekerjaan. Kita mengeluh karena rumah sempit, padahal masih banyak yang tidak punya tempat berteduh. Kita mengeluh karena hidup tidak sempurna, padahal kesempurnaan itu sendiri tidak pernah dijanjikan di dunia ini. Syukur adalah obat untuk penyakit kelangkaan persepsi ini. Ia membalikkan cara pandang kita: dari kekurangan menuju kelimpahan, dari keluhan menuju pujian.
Tangga Keempat: Takwa yang Menjaga
”Luruskanlah dengan ketaqwaanmu pada-Nya.”
Takwa adalah pilar terakhir dan yang paling komprehensif. Takwa adalah kesadaran bahwa Allah selalu hadir, selalu mengawasi, selalu mengetahui. Dalam bahasa Arab, takwa berasal dari kata wiqayah, yang berarti perlindungan. Orang yang bertakwa adalah orang yang melindungi dirinya dari azab Allah dengan cara menaati-Nya. Tetapi takwa juga bisa dipahami sebagai kepekaan spiritual: kemampuan untuk merasakan kehadiran Allah di setiap saat, di setiap tempat, di setiap keadaan.
Al-Kamasykhanawi menulis bahwa takwa adalah “pakaian yang melindungi hati dari kotoran dosa.” Pakaian ini terbuat dari kesadaran akan muraqabah—pengawasan diri secara terus-menerus. Orang yang bertakwa tidak akan berbuat dosa, bukan karena takut dilihat orang lain, tetapi karena ia tahu bahwa Allah melihatnya. Ia tidak akan mencuri, bukan karena takut tertangkap kamera, tetapi karena ia yakin bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hatinya.
Takwa meluruskan kehendak karena ia menjadi filter bagi setiap keinginan yang muncul. Sebelum bertindak, orang yang bertakwa akan bertanya: “Apakah ini diridhai Allah? Apakah ini akan membawaku lebih dekat kepada-Nya, atau justru menjauhkan?” Takwa adalah rem terakhir yang menahan keinginan dari jurang. Ia adalah pagar yang menjaga taman hati dari serbuan binatang-binatang buas nafsu.
Ketika Keinginan-Nya Terpancar di Hati
Setelah melewati keempat tangga ini—ketaatan, kerinduan, syukur, dan takwa—seorang hamba akan sampai pada janji yang sangat indah: “Satu per satu engkau akan mengerti Keinginan Tuhanmu, karena keinginan-Nya akan terpancar dalam hatimu.”
Ini adalah maqam yang sangat tinggi. Pada titik ini, hamba tidak lagi perlu bertanya: “Apa yang Allah inginkan dariku?” Karena hatinya telah menjadi cermin yang memantulkan Kehendak Ilahi. Ia tidak lagi gelisah memikirkan masa depan, karena ia tahu bahwa apa pun yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah. Ia tidak lagi berjuang untuk memaksakan kehendaknya, karena kehendaknya telah lebur dalam Kehendak-Nya.
Syekh Abdul Qadir dalam Sirr al-Asrar menyebut maqam ini sebagai al-qalb al-munawwar—hati yang tercerahkan. Hati ini telah dibersihkan oleh ketaatan, dibakar oleh kerinduan, dipenuhi oleh syukur, dan dilindungi oleh takwa. Ia telah menjadi wadah yang layak untuk menerima tajalli (penampakan) Kehendak Ilahi. Pada titik ini, keinginan hamba dan Keinginan Allah bukan lagi dua hal yang berbeda. Ia adalah satu: Kehendak Tunggal yang mengalir melalui hati yang telah bersih.
Peringatan tentang Syirik Halus
”Ketahuilah wahai orang-orang yang percaya dengan kekuasaan-Nya, jika umat manusia tiada meluruskan diri dengan keinginan-Nya, niscaya mereka menyekutukan-Nya.”
Bait terakhir ini adalah peringatan yang menohok. Kegagalan meluruskan diri dengan Keinginan Allah adalah syirk—menyekutukan Allah. Tetapi syirk yang dimaksud di sini bukanlah menyembah berhala secara terang-terangan. Ia adalah syirk khafi—syirik tersembunyi yang sangat halus. Setiap kali kita mempertahankan keinginan kita sendiri dan menolak Kehendak Allah, kita telah menjadikan diri kita sebagai “tuhan kecil” yang kehendaknya setara atau bahkan lebih tinggi dari Kehendak Allah.
Ini adalah jebakan yang sangat mudah kita masuki tanpa sadar. Kita shalat, tetapi kita masih memaksakan rencana kita sendiri. Kita berdoa, tetapi kita kecewa ketika doa tidak dikabulkan sesuai keinginan kita. Kita mengaku bertawakal, tetapi kita gelisah ketika keadaan tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Semua itu adalah tanda bahwa keinginan kita belum benar-benar lebur dalam Keinginan-Nya. Kita masih menyimpan ana’iyyah—keakuan—yang halus.
Puncak: Fana’ ul-Fana’
Dalam perspektif tasawuf, meluruskan diri dengan Keinginan Allah adalah proses fana’ al-iradah—peleburan kehendak pribadi. Empat pilar dalam syair ini adalah alat-alat untuk mencapai fana’ tersebut. Ketaatan meleburkan kehendak untuk memberontak. Kerinduan membakar kehendak duniawi. Syukur menghapus kehendak untuk kufur. Takwa menjaga agar kehendak tetap lurus.
Puncaknya adalah fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap. Setelah seorang hamba berhasil meluruskan kehendaknya, masih ada residu yang sangat halus: kesadaran “aku telah meluruskan diriku,” “aku telah taat,” “aku telah bertakwa.” Residu ini adalah ‘ujb khafi—kesombongan tersembunyi yang paling sulit dideteksi. Dalam fana’ ul-fana’, residu ini dihapuskan. Al-Kamasykhanawi menyebutnya mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan.
Pada titik ini, tidak ada lagi “aku” yang taat, “aku” yang rindu, “aku” yang bersyukur, “aku” yang bertakwa. Semua “aku” telah lenyap. Yang ada hanyalah al-Haqq yang taat, rindu, bersyukur, dan bertakwa melalui hamba-Nya. Hati bukan lagi milik hamba; ia telah menjadi ‘Arsy Allah—singgasana tempat Kehendak Ilahi bersemayam dan memancar.
Kembali ke Subuh yang Basah oleh Embun
Lelaki muda di beranda itu akhirnya tersadar dari lamunannya. Langit di timur mulai memerah, dan burung-burung mulai berkicau. Ia menarik napas panjang. Ia belum bisa meluruskan seluruh kehendaknya. Masih ada banyak keinginan yang bercokol di hatinya—keinginan untuk sukses, untuk diakui, untuk bahagia. Tetapi ia tidak lagi merasa gelisah. Ia tahu bahwa perjalanan ini panjang, dan ia tidak harus sampai hari ini.
Ia bangkit, melangkah ke dalam rumah, dan bertekad untuk memulai dari tangga pertama: ketaatan. Bukan ketaatan yang berat, bukan ketaatan yang dipaksakan, tetapi ketaatan yang lahir dari kesadaran bahwa Allah adalah Tuhan, dan ia hanyalah hamba. Dari sana, ia akan berjalan perlahan. Suatu hari, ia akan merindukan. Suatu hari, ia akan bersyukur. Suatu hari, ia akan bertakwa. Dan pada akhirnya, semoga ia sampai pada titik di mana keinginannya tidak lagi menjadi miliknya, melainkan milik-Nya.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



