SURABAYAONLINE.CO – Pelaku UMKM Gotong Royong di kawasan Putat Jaya, eks lokalisasi Dolly Surabaya, didorong untuk mengembangkan pemasaran hingga ke pasar internasional. Peluang ekspor dinilai terbuka seiring semakin berkembangnya sejumlah produk UMKM binaan di kawasan tersebut.

Dukungan tersebut disampaikan Anggota DPR RI Andreas Eddy Susetyo dalam kegiatan Klinik UMKM Gotong Royong. Andreas merespons permintaan mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini agar pendampingan UMKM tidak berhenti pada penguatan usaha, tetapi juga diarahkan menuju pasar ekspor.

“Kalau Mas Andreas bisa bantu untuk ekspor, insyaallah nanti UMKM Gotong Royong bisa berkembang,” kata Risma dalam sesi tanya jawab Klinik UMKM Gotong Royong, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (11/8/2026).

Risma mengatakan, ekspor harus diawali dengan penguatan pasar dalam negeri. Menurutnya, pelaku usaha perlu memastikan produknya memiliki kualitas, pasar, serta kemampuan produksi yang memadai sebelum memperluas jangkauan ke pasar internasional.

Sejumlah produk Pahlawan Ekonomi Surabaya dinilai telah memiliki modal untuk dikembangkan ke pasar yang lebih luas. Di antaranya Enceng Gondok Witrove, Selendang Semanggi, Kopi Jelly De’nil, dan Diah Cookies.

Produk UMKM dari kawasan Putat Jaya juga mulai menunjukkan perkembangan, seperti Sandal Hotel atau Alas Kaki Mampu Jaya, Batik Jarak Arum, dan Sablon Indana Production.

Andreas menegaskan, UMKM memiliki posisi penting dalam struktur perekonomian Indonesia karena menjadi salah satu sektor utama penyerap tenaga kerja.

“UMKM ini sangat penting di dalam struktur ekonomi Indonesia, karena yang menyerap tenaga kerja itu ada 90%. Jadi, sebetulnya Indonesia ini sangat tergantung dari pelaku UMKM,” ujar Andreas.

Menurut Andreas, keberlanjutan usaha UMKM di kawasan eks Dolly menjadi salah satu perhatian dalam program Klinik UMKM Gotong Royong. Program tersebut bekerja sama dengan Dinas Koperasi UMKM Perdagangan Kota Surabaya untuk memberikan pendampingan kepada pelaku usaha.

Pendampingan mencakup pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), hak kekayaan intelektual (HAKI), peningkatan produksi, pemasaran secara online, hingga pengelolaan keuangan usaha.

Program tersebut juga dilengkapi aplikasi UMKM Gotong Royong sebagai sarana pendampingan aktif dan responsif bagi pelaku usaha.

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta menyampaikan kebutuhan penguatan pemasaran. Mereka menanyakan akses untuk memperkenalkan produk UMKM kepada instansi, lembaga, hingga sekolah.

Peserta lainnya meminta pelatihan pemasaran digital secara khusus. Selama ini, pendampingan yang diterima dinilai lebih banyak berfokus pada aspek produksi.

Ada pula peserta yang menanyakan strategi memenangkan persaingan pasar tanpa harus terjebak dalam perang harga.

Menanggapi hal tersebut, Risma meminta pelaku UMKM tidak hanya mengandalkan pemasaran melalui instansi atau dinas. Menurutnya, kekuatan utama dalam memenangkan persaingan terletak pada kualitas produk dan kemampuan pelaku usaha menjangkau pasar yang lebih luas.

Risma juga mendorong pemanfaatan penjualan daring untuk memperluas pasar UMKM. Ia mencontohkan pengalamannya menggandeng platform digital global untuk membantu pelaku UMKM Surabaya memasarkan produk secara online sejak program Pahlawan Ekonomi digagas.

Pelatihan lanjutan mengenai pemasaran digital, packaging, dan branding juga akan menjadi bagian dari pendampingan bagi peserta Workshop UMKM Gotong Royong.

Rangkaian Workshop dan Bazaar Kemerdekaan UMKM Gotong Royong di Kampung Dolly dilaksanakan melalui pelatihan selama sepekan. Pelatihan kategori craft mencakup pembuatan dompet, rompi, dan alas kaki.

Setelah produk selesai, pemasaran diarahkan melalui Bazaar, sentra-sentra UMKM Pemerintah Kota Surabaya, serta jaringan hotel yang memiliki kepedulian terhadap produk UMKM.

Sementara kategori food mencakup pelatihan pembuatan nasi kotak, masakan Korea, dim sum, dan aneka minuman. Produk tersebut selanjutnya dipasarkan melalui Bazaar Kemerdekaan, sentra wisata kuliner Pemerintah Kota Surabaya, aplikasi, serta kanal penjualan digital.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Bazaar Kemerdekaan UMKM Gotong Royong pada 9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti ratusan pelaku UMKM dan warga setempat.

Penguatan UMKM di Putat Jaya diharapkan dapat terus mendorong transformasi kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai lokalisasi Dolly menjadi kawasan ekonomi kreatif yang mandiri.

Dengan penguatan produksi, branding, pemasaran digital, dan akses pasar, produk UMKM Putat Jaya diharapkan tidak hanya mampu bersaing di pasar lokal dan nasional, tetapi juga memiliki peluang menembus pasar ekspor.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version