Oleh: Rizal Haqiqi (Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya)
Di Mana Garis-garis Langit Berpotongan
SURABAYAONLINE.CO – ADA sebuah misteri yang hanya bisa diurai oleh mereka yang telah lama menatap batin. Ia bukan misteri yang menuntut penyelidikan forensik atau pembuktian laboratorium. Ia adalah misteri tentang garis-garis nasib—benang-benang tak kasat mata yang ditenun oleh Sang Penenun Agung di atas kain waktu. Para sufi menyebutnya sirr al-qadar, rahasia ketentuan Ilahi yang kadang menampakkan diri dalam bentuk pengulangan, paralelisme, atau resonansi sejarah yang terlalu presisi untuk disebut kebetulan.
Malam ini, mari kita rentangkan dua utas benang dari dua ujung waktu yang berbeda. Benang pertama ditarik dari tahun 1926, ketika Nahdlatul Ulama baru saja lahir dari rahim pesantren, dan seorang saudagar keturunan Sunan Ampel bernama KH. Hasan Gipo didapuk sebagai Ketua Umum Tanfidziyah pertama. Benang kedua ditarik dari tahun 2026, ketika NU bersiap memasuki abad keduanya, dan seorang saudagar keturunan Sunan Ampel lainnya—Gudfan Arif Ghofur—berdiri di ambang kemungkinan yang sama.
Dua lelaki, terpisah seratus tahun. Dua takdir, disatukan oleh darah yang sama dan profesi yang sama. Darah itu berasal dari Sunan Ampel, sang poros Wali Songo yang dari rahimnya lahir Sunan Drajat dan Sunan Giri. Profesi itu adalah saudagar—warisan Nabi Muhammad SAW yang sering dilupakan oleh mereka yang mengira kepemimpinan spiritual hanya milik para pertapa.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Gus Gudfan mungkin menjadi Ketua Umum PBNU. Pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah semesta sedang mengulangi pola yang persis sama setelah seratus tahun? Dan jika ya, apakah kita cukup peka untuk membaca tanda-tandanya?
Sunan Ampel: Sang Poros yang Tak Pernah Mati
Untuk memahami kekuatan simbolik di balik kedua figur ini, kita harus kembali ke abad ke-15, ke kota pelabuhan Ampel Denta di Surabaya. Di sanalah Raden Rahmat, yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel, membangun pusat pendidikan Islam yang menjadi cikal bakal pesantren di Jawa. Ia bukan hanya seorang da’i; ia adalah poros genealogis Wali Songo. Hampir semua wali besar memiliki hubungan darah dengannya.
Sunan Ampel adalah figur yang unik. Ia mewarisi darah bangsawan dari ayahnya, Maulana Malik Ibrahim, tetapi juga mewarisi darah saudagar dari tradisi keluarganya yang merupakan pedagang Gujarat. Dalam dirinya, kesalehan dan perdagangan bukanlah dua kutub yang bertentangan; mereka adalah dua sayap dari burung yang sama. Inilah salah satu rahasia keberhasilan dakwah Islam di Nusantara: ia tidak dibawa oleh para asketis yang menolak dunia, melainkan oleh para saudagar-sufi yang menguasai dunia tetapi tidak dikuasai olehnya.
Dari rahim Sunan Ampel dan istrinya, Dewi Condrowati, lahirlah Sunan Drajat (Raden Qasim)—seorang wali yang mengajarkan Catur Piwulang: memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, memberi tongkat yang buta, dan memberi payung yang kehujanan. Dari garis inilah, melalui KH. Abdul Ghofur, Gus Gudfan Arif Ghofur mewarisi darah Sunan Ampel. Ia adalah keturunan ke-16 Sunan Drajat, yang berarti ia adalah keturunan ke-17 Sunan Ampel.
Tetapi darah Sunan Ampel mengalir ke tubuh Gus Gudfan dari jalur lain juga. Sunan Giri—leluhurnya dari jalur ibu—adalah putra Maulana Ishaq, saudara Maulana Malik Ibrahim. Ini menjadikan Sunan Giri sebagai keponakan Sunan Ampel. Lebih dari itu, ikatan darah dipererat ketika Sunan Giri menikahi Dewi Murtasiah, putri Sunan Ampel. Jadi, Sunan Giri adalah keponakan sekaligus menantu Sunan Ampel. Melalui jalur ini, Gus Gudfan menerima dua kali suntikan darah Sunan Ampel, dari dua cabang yang berbeda.
Konfigurasi genealogis ini sangat langka. Seolah-olah, semesta sedang berkonsentrasi, mengerucutkan warisan Sunan Ampel ke dalam satu titik: seorang lelaki bernama Gudfan Arif Ghofur. Dan pertanyaan yang mengusik adalah: untuk apa konsentrasi ini? Untuk apa penumpukan darah wali ini, jika bukan untuk sebuah peran besar?
Di sinilah KH. Hasan Gipo muncul sebagai kunci pembacaan. Ia juga adalah keturunan Sunan Ampel. Tidak banyak catatan tentang detail silsilahnya, tetapi pengakuannya sebagai bagian dari trah Ampel sudah cukup untuk menempatkannya dalam garis keturunan yang sama. Ketika NU lahir pada 1926, para pendiri—yang sebagian besar adalah kiai pesantren—justru memilih seorang saudagar dari trah Ampel untuk memimpin harian organisasi. Mengapa?
Karena mereka memahami sunnatullāh: bahwa dakwah membutuhkan tiang material. Bahwa doa harus dibarengi dengan logistik. Bahwa spiritualitas yang melayang-layang di langit harus dipancangkan ke bumi oleh tangan-tangan yang cakap mengelola harta. KH. Hasan Gipo adalah jawaban atas kebutuhan itu. Ia adalah saudagar suci—seorang pedagang yang kekayaannya menjadi bensin bagi mesin organisasi, tetapi hatinya tetap tertambat di langit.
KH. Hasan Gipo: Potret Saudagar di Singgasana Awal NU
Ketika kita membayangkan para pendiri NU, yang sering muncul di benak adalah sosok-sosok kiai dengan sorban dan jubah, duduk di serambi pesantren, dikelilingi kitab-kitab kuning. Tetapi KH. Hasan Gipo mungkin berbeda. Ia mungkin lebih sering mengenakan pakaian saudagar, berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, mengurus muatan kapal, dan menghitung laba rugi. Namun justru di situlah letak perannya yang tak tergantikan.
Pada masa awal NU, organisasi ini hampir tidak memiliki sumber pendanaan tetap. Para kiai hidup dari sawah wakaf dan sumbangan santri. Untuk menggerakkan organisasi sebesar NU—mengadakan kongres, mencetak dokumen, mengirim utusan ke berbagai daerah—dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Di sinilah KH. Hasan Gipo memainkan perannya. Jaringan perdagangannya menjadi urat nadi logistik NU. Kapal-kapalnya mungkin tidak hanya mengangkut rempah dan tekstil, tetapi juga mengangkut surat-surat organisasi, mengirimkan bantuan ke pesantren-pesantren terpencil, dan menghubungkan kantong-kantong nahdliyin yang tersebar di seluruh Nusantara.
Tetapi perannya bukan hanya material. Sebagai keturunan Sunan Ampel, ia membawa barakah yang diperlukan untuk melegitimasi sebuah organisasi baru di mata umat. Dalam tradisi Islam Nusantara, keturunan wali diyakini memiliki sirr—energi spiritual—yang tidak dimiliki oleh orang biasa. Kehadiran KH. Hasan Gipo di pucuk pimpinan Tanfidziyah adalah sinyal bahwa NU bukanlah organisasi sembarangan; ia adalah organisasi yang didirikan dan dipimpin oleh darah para wali.
Dalam perspektif sufistik, kombinasi antara nasab dan kapasitas pada diri KH. Hasan Gipo adalah manifestasi dari konsep al-jam’u bayna al-tarīqayn—penggabungan dua jalan. Jalan pertama adalah jalan nasab: warisan darah dan spiritualitas dari leluhur. Jalan kedua adalah jalan kasb: usaha dan kerja keras di dunia. Para sufi mengajarkan bahwa seorang insān kāmil—manusia sempurna—adalah mereka yang mampu menggabungkan kedua jalan ini. Ia tidak hanya mengandalkan nasabnya tanpa berusaha, tetapi juga tidak hanya bekerja tanpa menyadari bahwa di balik usahanya ada barakah leluhur yang mengalir.
KH. Hasan Gipo memimpin Tanfidziyah NU selama delapan tahun, dari 1926 hingga 1934. Ini adalah masa-masa paling rentan dalam sejarah NU: organisasi baru lahir, kolonialisme masih kuat, dan tantangan internal begitu besar. Tetapi di bawah kepemimpinannya—bersama Rais Akbar KH. Hasyim Asy’ari—NU berhasil melewati masa-masa sulit itu dan mulai tumbuh menjadi organisasi besar.
Gus Gudfan: Cermin di Ujung Abad
Seratus tahun kemudian, kita menatap sosok Gudfan Arif Ghofur. Ia adalah Bendahara Umum PBNU saat ini. Ia adalah pengusaha yang bergerak di sektor minyak, gas, petrokimia, dan pertambangan. Ia adalah figur yang ditunjuk untuk mengelola tambang batu bara PBNU—sebuah amanah strategis yang membutuhkan kecakapan bisnis tingkat tinggi. Dan ia adalah keturunan Sunan Ampel, melalui Sunan Drajat dan Sunan Giri.
Paralelisme dengan KH. Hasan Gipo tidak bisa disangkal. Keduanya adalah saudagar. Keduanya adalah keturunan Sunan Ampel. Keduanya memegang posisi strategis di PBNU pada masa-masa krusial: yang satu di awal abad pertama, yang lain di awal abad kedua. Seolah-olah, semesta sedang memutar ulang rekaman yang sama, tetapi dengan aktor yang berbeda.
Tetapi paralelisme ini bukan sekadar pengulangan mekanis. Ada perkembangan di dalamnya. Jika KH. Hasan Gipo adalah saudagar lokal yang beroperasi di perairan Nusantara, Gus Gudfan adalah saudagar global yang bermain di pasar internasional. Jika KH. Hasan Gipo mengelola perdagangan rempah dan tekstil, Gus Gudfan mengelola tambang batu bara dan energi. Jika KH. Hasan Gipo membiayai NU dari kantong pribadinya, Gus Gudfan sedang membangun sistem kemandirian ekonomi organisasi yang lebih terstruktur.
Dalam perspektif filsafat sejarah, ini adalah contoh dari aufhebung—sebuah konsep Hegelian yang berarti “mengangkat sambil menghapus”. Pola lama tidak hilang, tetapi diangkat ke level yang lebih tinggi. Sosok Gus Gudfan adalah aufhebung dari KH. Hasan Gipo: ia meneruskan fungsi yang sama (saudagar-pemimpin), tetapi dalam skala dan kompleksitas yang jauh lebih besar.
Dan di sinilah argumen ideologisnya: jika NU lahir dari rahim para saudagar-wali, maka NU juga harus dipimpin oleh tipe figur yang sama di abad keduanya. Ini bukan nostalgia buta terhadap masa lalu. Ini adalah pengakuan bahwa formula yang telah terbukti berhasil seharusnya tidak dibuang, melainkan disempurnakan. KH. Hasan Gipo adalah formula awal; Gus Gudfan adalah formula penyempurna.
Tafsir Sufistik: Daur al-Zamān dan Tajallī Sejarah
Bagi para sufi, waktu bukanlah garis lurus yang bergerak dari titik A ke titik B. Waktu adalah lingkaran—atau lebih tepatnya, spiral. Ia berputar, kembali ke titik yang mirip, tetapi pada ketinggian yang berbeda. Konsep ini disebut daur al-zamān—siklus waktu—yang diyakini sebagai cara Allah mengatur sejarah. Setiap seratus tahun, setiap seribu tahun, pola-pola besar kembali muncul, membawa pesan yang sama dalam kemasan yang berbeda.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap seratus tahun seseorang yang memperbarui urusan agamanya.” (HR. Abu Dawud). Para ulama menafsirkan hadis ini sebagai isyarat tentang mujaddid—pembaru—yang muncul setiap satu abad. Jika kita hitung, tahun 1926 (kelahiran NU) hingga tahun 2026 (seratus tahun NU) adalah tepat satu siklus mujaddid. Pada awal siklus, NU dipimpin oleh KH. Hasan Gipo, saudagar dari trah Ampel. Pada akhir siklus—atau awal siklus berikutnya—muncullah figur dengan profil yang sama: Gus Gudfan.
Ini bukan sekadar kalkulasi matematis. Ini adalah tajallī—penampakan diri Allah melalui nama-nama-Nya—di atas panggung sejarah. Dalam setiap siklus, Allah menampakkan nama Al-Mu’īd (Yang Maha Mengembalikan). Ia mengembalikan pola yang sama untuk menunjukkan bahwa Dialah yang mengatur sejarah, bahwa tidak ada yang kebetulan, bahwa setiap pengulangan adalah āyah bagi mereka yang berpikir.
Para sufi juga berbicara tentang al-ṭā’ifah al-manṣūrah—kelompok yang selalu ditolong oleh Allah. Kelompok ini tidak selalu sama di setiap zaman; ia muncul dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan zamannya. Di awal abad ke-20, ketika NU membutuhkan tiang material, al-ṭā’ifah al-manṣūrah menjelma dalam diri KH. Hasan Gipo. Di awal abad ke-21, ketika NU membutuhkan kemandirian ekonomi dan jejaring global, al-ṭā’ifah al-manṣūrah berpotensi menjelma dalam diri Gus Gudfan.
Dan di sini kita menyentuh inti dari argumen ini: jika sejarah adalah tajallī, maka menolak pola yang sedang berulang sama dengan menolak tajallī itu sendiri. Jika semesta telah menyiapkan seorang saudagar dari trah Ampel untuk memimpin NU di abad keduanya, maka menolaknya adalah bentuk kebutaan spiritual. Sebaliknya, menerima dan mendukungnya adalah bentuk adab kepada sunnatullāh.
Makna “Saudagar” dalam Kosmologi Islam: Mengembalikan Kemuliaan yang Terlupakan
Ada sebuah bias yang mengakar dalam sebagian umat Islam: bahwa kesalehan sejati adalah kesalehan yang menjauhi dunia. Bahwa pedagang adalah profesi yang kotor, penuh tipu daya, dan tidak cocok untuk seorang pemimpin spiritual. Bias ini, meskipun tidak pernah menjadi doktrin resmi, sering kali mempengaruhi cara pandang umat terhadap figur-figur seperti Gus Gudfan.
Padahal, dalam Al-Qur’an dan sejarah Islam, profesi saudagar adalah profesi yang sangat mulia. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pedagang sebelum diangkat menjadi Rasul. Gelar al-Amīn (yang terpercaya) justru beliau dapatkan dari karirnya sebagai saudagar, bukan dari khotbahnya di gua Hira. Istrinya, Khadijah RA, adalah seorang saudagar kaya yang menggunakan hartanya untuk mendukung dakwah Islam. Para sahabat seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf adalah para pedagang sukses yang kekayaannya menjadi tulang punggung perjuangan Islam.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” (QS. An-Nisa: 29). Ayat ini tidak hanya menghalalkan perdagangan; ia menempatkannya sebagai satu-satunya cara yang sah untuk memperoleh harta, selain warisan dan hadiah. Perdagangan yang etis adalah ibadah.
Para sufi besar juga sering menggunakan metafora perdagangan untuk menggambarkan hubungan antara hamba dan Tuhannya. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…” (QS. At-Taubah: 111). Ini adalah transaksi terbesar dalam sejarah kosmos: Allah sebagai Pembeli, manusia sebagai Penjual, dan surga sebagai Harga. Seorang sufi sejati adalah saudagar spiritual yang menukar seluruh keinginan duniawinya dengan rida Ilahi. Maka, ketika kita berbicara tentang “saudagar” dalam konteks kepemimpinan NU, kita tidak sedang berbicara tentang pedagang licik yang mengejar untung semata. Kita sedang berbicara tentang saudagar dalam pengertian profetik: seorang yang mengelola harta dengan amanah, yang menggunakan kekayaannya untuk menopang perjuangan, dan yang hatinya tidak tertambat pada dunia meskipun tangannya bergelimang harta.
KH. Hasan Gipo adalah contoh dari saudagar profetik ini. Gus Gudfan, dengan kapasitas bisnisnya dan integritasnya yang telah teruji, adalah kandidat untuk menjadi saudagar profetik berikutnya. Dan jika ia berhasil, ia akan menjadi bukti bahwa kepemimpinan spiritual dan kecakapan bisnis bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama.
Budaya NU dalam Memilih Pemimpin: Di Antara Formalitas dan Isyarah
Untuk memahami bagaimana paralelisme ini bisa menjadi kenyataan politik, kita perlu menyelami mekanisme pemilihan pemimpin dalam tradisi NU. Mekanisme ini tidak semata-mata formal; ia sangat dipengaruhi oleh dimensi spiritual yang tidak ada dalam organisasi modern pada umumnya.
Pertama, ada tradisi istikharah. Sebelum muktamar, para kiai sepuh biasanya melakukan salat istikharah—memohon petunjuk kepada Allah tentang siapa yang terbaik untuk memimpin. Hasil istikharah ini bisa berupa mimpi, ketenangan hati, atau isyarat-isyarat lain yang bersifat personal. Tetapi ketika banyak kiai mendapatkan isyarat yang serupa, itu menjadi konsensus spiritual yang sulit diabaikan.
Kedua, ada tradisi ru’yah—mimpi yang diyakini sebagai komunikasi dari alam gaib. Dalam banyak episode sejarah NU, keputusan-keputusan besar diambil setelah seorang atau beberapa kiai bermimpi bertemu dengan para wali, para pendiri, atau bahkan Nabi Muhammad SAW. Jika menjelang muktamar nanti ada kiai yang bermimpi bertemu Sunan Ampel, atau KH. Hasan Gipo, atau KH. Hasyim Asy’ari—dan dalam mimpi itu ada isyarat tentang Gus Gudfan—maka mimpi itu akan menjadi legitimasi spiritual yang sangat kuat.
Ketiga, ada ahl al-hall wa al-‘aqd—sekelompok tokoh yang memiliki otoritas untuk memutuskan perkara-perkara besar. Dalam NU, kelompok ini terdiri dari para kiai sepuh dan pengasuh pesantren besar. Mereka tidak hanya melihat kapasitas manajerial seorang calon, tetapi juga nasab, akhlak, dan barakah. Seorang calon yang memiliki nasab wali akan mendapatkan perhatian lebih, karena diyakini membawa sirr leluhurnya.
Keempat, ada kecenderungan kuat untuk menghormati sunnah para pendiri. Jika dulu NU berhasil karena dipimpin oleh kombinasi ulama dan saudagar—oleh kiai spiritual dan saudagar-wali—maka pola itu dianggap sebagai sunnah yang baik untuk diikuti. Memilih Gus Gudfan, yang memiliki profil serupa dengan KH. Hasan Gipo, bukanlah penyimpangan; ia adalah kembali ke sunnah.
Dalam kerangka inilah, paralelisme antara Gus Gudfan dan KH. Hasan Gipo bisa menjadi argumen yang sangat kuat di mata para pemilih. Para kiai mungkin akan berpikir: “Jika dulu KH. Hasan Gipo—saudagar dari trah Ampel—berhasil memimpin NU di masa-masa sulit, mengapa Gus Gudfan—yang juga saudagar dari trah yang sama—tidak bisa memimpin NU di masa sekarang? Bukankah ini adalah sunnah yang harus kita hidupkan kembali?”
Argumen ini bersifat ideologis, karena ia menghubungkan pilihan politik dengan keyakinan spiritual. Argumen ini juga bersifat filosofis, karena ia didasarkan pada pemahaman tentang siklus sejarah dan tajallī Ilahi. Dan argumen ini bersifat sufistik, karena ia melihat dunia politik sebagai cermin dari kehendak Ilahi yang lebih besar.
Mengapa Bukan yang Lain? Argumen Komparatif
Di tengah banyaknya figur yang berpotensi mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU, mengapa Gus Gudfan yang paling layak diangkat sebagai “pewaris KH. Hasan Gipo”?
Pertama, dari segi nasab, tidak banyak figur di lingkaran elite NU yang memiliki trah ganda seperti Gus Gudfan: Sunan Drajat dan Sunan Giri, yang keduanya bersambung kepada Sunan Ampel. Nasab ini memberinya legitimasi tradisional yang sulit ditandingi.
Kedua, dari segi kapasitas bisnis, Gus Gudfan adalah salah satu dari sedikit tokoh NU yang memiliki pengalaman langsung mengelola perusahaan besar di sektor strategis. Dalam konteks kemandirian ekonomi NU—yang menjadi isu sentral di abad kedua—kapasitas ini sangat dibutuhkan.
Ketiga, dari segi pengalaman organisasi, ia telah menempuh jenjang yang panjang: dari Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jatim, hingga Bendahara Umum PBNU. Ia bukan karbitan; ia adalah kader yang telah teruji.
Keempat, dari segi jejaring, ia memiliki hubungan dengan berbagai kalangan: kiai, pengusaha, politisi, dan aktivis. Jejaring ini penting untuk membangun koalisi dan mengelola organisasi yang kompleks.
Kelima, dan ini yang paling mistik: ia adalah cermin dari KH. Hasan Gipo. Tidak ada figur lain—setidaknya yang terlihat saat ini—yang memiliki kombinasi nasab Ampel dan profesi saudagar sekuat Gus Gudfan. Jika semesta ingin mengulangi pola seratus tahun lalu, maka Gus Gudfan adalah kandidat yang paling siap.
Penutup: Ketukan Takdir di Ampel Denta
Di Surabaya, makam Sunan Ampel tidak pernah sepi. Siang dan malam, para peziarah datang membawa harapan, membawa doa, membawa air mata. Di antara mereka, mungkin ada yang datang dengan diam-diam—seorang lelaki berusia empat puluh tahun, yang darahnya mewarisi Sunan Ampel dari dua jalur, yang tangannya telah mengelola tambang dan menggerakkan ekonomi organisasi, yang hatinya terus berdzikir dalam sunyi.
Lelaki itu adalah Gus Gudfan. Dan jika ia datang ke Ampel Denta, ia mungkin tidak berdoa untuk meminta jabatan. Ia mungkin hanya duduk di pelataran makam, membaca tahlil, dan berbisik dalam hati: “Ya Allah, jika amanah ini Engkau tetapkan untukku, kuatkanlah aku. Jika tidak, jauhkanlah aku darinya.”
Doa seperti inilah—doa yang tidak meminta, doa yang hanya pasrah—yang justru paling didengar oleh langit. Dan jika langit telah mendengar, maka semesta akan bergerak. Muktamar Tambakberas akan menjadi saksi. Para kiai akan ber-istikharah. Sejarah akan berputar.


