Perjalanan Sunyi Gus Gudfan, Mutiara Tersembunyi, dan Warisan Dua Wali
Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP. (Alumni FH Universitas Jember)
Di Pelataran Makam, Cahaya Itu Diturunkan
SURABAYAONLINE.CO – MALAM di Lamongan selalu lebih pekat dari malam di kota-kota besar. Di pelataran makam Sunan Drajat, keheningan seakan berlapis-lapis: hening yang bisa didengar, hening yang bisa disentuh, dan hening yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah bertahun-tahun menempuh jalan sunyi. Di atas makam itu, dedaunan trembesi berbisik ditiup angin laut, dan kadang-kadang, bila malam semakin larut, bau dupa bercampur dengan aroma tanah basah menciptakan wewangian yang tidak ada namanya—sebuah parfum metafisik yang hanya dikenal oleh para salik.
Di tempat inilah, lebih dari lima ratus tahun silam, seorang wali mengajarkan sesuatu yang sederhana namun abadi: wenehono mangan marang wong kang luwe—berilah makan kepada yang lapar. Wenehono teken marang wong kang wuto—berilah tongkat kepada yang buta. Kata-kata itu mungkin terdengar sangat duniawi. Terlalu duniawi, bahkan, untuk ukuran seorang wali yang katanya telah mencapai maqam tertinggi. Bukankah seorang wali seharusnya berbicara tentang langit, tentang singgasana Tuhan, tentang Arasy dan Kursi? Mengapa justru berbicara tentang perut yang lapar dan mata yang buta?
Rahasia ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang menyelami samudra tasawuf hingga ke dasarnya. Dan di dasar itu, mereka akan menemukan mutiara: bahwa memberi makan yang lapar adalah jalan terpendek menuju fanā’. Bahwa memberi tongkat yang buta adalah pintu rahasia menuju ma’rifah. Dan bahwa ketika dua jalan ini bertemu dalam diri seorang pewaris—seorang keturunan yang tidak hanya mewarisi darah, tetapi juga sirr—maka lahirlah pemimpin yang bukan sekadar mengelola organisasi, melainkan menggenggam amanah para wali.
Gudfan Arif Ghofur—Gus Gudfan—adalah pertemuan itu. Dari ayahnya, KH. Abdul Ghofur, ia adalah generasi keenam belas Sunan Drajat. Dari ibunya, ia mewarisi trah Sunan Giri. Dua wali, dua jalan, dua samudra spiritual yang kini bermuara dalam satu jiwa. Apa yang terjadi ketika dua warisan agung ini bertemu? Untuk menjawabnya, kita perlu menempuh perjalanan ke dalam—bukan perjalanan geografis, melainkan perjalanan suluk: dari Catur Piwulang yang membumi hingga Cublak-Cublak Suweng yang melangit, dari fanā’ sosial menuju fanā’ al-fanā’, dari memberi makan kepada yang lapar hingga mengosongkan hati menjadi dhele kopong.
Sunan Drajat dan Teologi Khidmah—Melebur dalam Pelayanan
Dalam literatur tasawuf klasik, fanā’ sering digambarkan sebagai perjalanan vertikal: seorang sālik menaiki tangga demi tangga, meninggalkan dunia materi menuju alam malakut, dari alam malakut menuju alam jabarut, dan akhirnya sampai ke hadirat Ilahi. Ini adalah fanā’ yang vertikal, yang menanjak, yang seringkali digambarkan dengan simbolisme pendakian gunung atau penerbangan ruh.
Tetapi Sunan Drajat mengajarkan fanā’ yang berbeda. Ia mengajarkan fanā’ horizontal: melebur bukan ke atas, melainkan ke samping—melebur ke dalam sesama manusia. Catur Piwulang-nya adalah manual fanā’ bagi mereka yang tidak bisa meninggalkan pasar, tidak bisa bertapa di gua, tidak bisa menghabiskan malam dalam khalwat. Bagi Sunan Drajat, fanā’ tidak harus berarti menghilang dari dunia; fanā’ bisa berarti hadir sepenuhnya di dunia, tetapi tanpa aku.
Perhatikan baik-baik: wenehono mangan marang wong kang luwe. Ketika engkau memberi makan kepada orang yang lapar, apa yang sesungguhnya terjadi? Pada saat engkau menyuapkan nasi ke mulut orang lain, pada saat matamu bertemu dengan matanya yang berbinar karena lapar telah sirna, pada saat itu—jika engkau melakukannya dengan hati yang bersih—aku-mu lenyap. Engkau tidak lagi menyadari dirimu sebagai “pemberi” dan dia sebagai “penerima”. Yang ada hanyalah aliran: aliran rezeki dari Allah melalui tanganmu ke mulutnya. Engkau menjadi seperti pipa yang kosong, yang dilalui air, tanpa memiliki air itu sendiri. Inilah fanā’ dalam bentuknya yang paling konkret: leburnya subjek ke dalam tindakan.
Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Ḥilyat al-Awliyā’ meriwayatkan kisah tentang seorang sufi dari Bashrah yang setiap pagi pergi ke pasar membeli makanan, lalu membagikannya kepada fakir miskin. Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, ia menjawab: “Aku ingin memastikan bahwa sebelum malam tiba, ‘aku’ telah mati berkali-kali.” Ia memahami bahwa setiap tindakan memberi yang tulus adalah kematian kecil bagi ego. Dan kematian-kematian kecil itulah yang mempersiapkan ruh untuk kematian besar: fanā’ total dalam samudra al-Haqq.
Wenehono teken marang wong kang wuto—berilah tongkat kepada yang buta. Para ulama menafsirkan “tongkat” di sini sebagai ilmu. Tetapi dalam perspektif sufistik, ilmu bukanlah sekadar informasi yang ditransfer dari otak ke otak. Ilmu adalah nūr—cahaya. Dan orang yang “buta” bukan hanya mereka yang kehilangan penglihatan fisik, melainkan terutama mereka yang kehilangan baṣīrah—penglihatan batin. Memberi tongkat berarti menyalakan cahaya di dalam hati yang gelap. Dan siapa yang bisa menyalakan cahaya, jika bukan seseorang yang hatinya sendiri telah menjadi pelita?
Di sinilah kita menyentuh misteri pertama dari warisan Sunan Drajat kepada Gus Gudfan: seorang pemimpin, dalam tradisi ini, bukanlah sekadar manajer atau organisatoris. Ia adalah pembawa cahaya. Setiap kebijakan yang ia buat, setiap program yang ia jalankan, setiap tambang yang ia kelola—semuanya harus menjadi “tongkat” bagi yang buta. Dan “tongkat” itu hanya akan berfungsi jika ia sendiri tidak menghalangi cahaya. Jika “aku”-nya terlalu besar, ia akan menjadi bayangan, bukan pelita.
Wenehono busono marang wong kang mudo—berilah pakaian kepada yang telanjang. “Telanjang” di sini bukan tanpa kain; ia adalah metafora dari hilangnya adab. Manusia tanpa adab adalah manusia yang telanjang jiwanya; ia tidak memiliki pelindung dari godaan, tidak memiliki benteng dari kerendahan. Dalam dunia yang semakin bising oleh media sosial, di mana privasi dijual murah dan rasa malu dianggap kuno, ajaran Sunan Drajat ini menjadi semakin relevan. Seorang pemimpin NU harus menjadi penjaga adab. Bukan dengan menghakimi, tetapi dengan meneladankan—sebagaimana Sunan Drajat tidak pernah berteriak tentang pentingnya kesusilaan, tetapi menunjukkannya dalam setiap tindakan.
Wenehono ngiyup marang wong kang kudanan—berilah tempat berteduh kepada yang kehujanan. “Hujan” adalah simbol dari musibah, penderitaan, ketidakadilan. Dan “tempat berteduh” adalah perlindungan. Dalam konteks kepemimpinan, ini berarti bahwa organisasi harus menjadi payung bagi mereka yang paling rentan. NU, dengan 90 juta warganya, harus menjadi tempat berteduh yang kokoh—tempat di mana petani garam yang tanahnya tergerus abrasi, buruh pabrik yang di-PHK, santri yang putus sekolah, semuanya menemukan perlindungan.
Inilah warisan pertama Gus Gudfan: fanā’ melalui pelayanan. Tetapi ini baru setengah dari perjalanan.
Sunan Giri dan Teologi Ma’rifah—Mencari Permata di Dasar Hati
Jika Sunan Drajat mengajarkan perjalanan ke luar—ke pasar, ke jalanan, ke rumah-rumah orang miskin—maka Sunan Giri mengajarkan perjalanan ke dalam. Perjalanan ini tidak kalah radikalnya, meskipun tampak lebih lembut: ia menggunakan tembang dolanan anak-anak sebagai kendaraannya.
Cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter…
Siapa yang menyangka bahwa lagu permainan yang dinyanyikan oleh anak-anak di sore hari itu mengandung peta perjalanan spiritual yang paling dalam? Suweng—anting—adalah simbol ma’rifah, pengetahuan tentang Allah yang tersembunyi. Ia “berserakan” (ting gelenter) di mana-mana, tetapi tidak semua orang bisa menemukannya. Hanya mereka yang mencarinya dengan kesungguhan hati—yang “mambu ketundhung gudel”, yang rela menjadi seperti anak kerbau kebingungan yang terus-menerus mencari—yang akan menemukannya.
Pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndelikake. Orang yang berjalan sempoyongan, kehilangan arah. Itulah potret manusia modern: memiliki segalanya tetapi tidak tahu ke mana harus melangkah. Dan di tengah kebingungan itu, ada seseorang yang tertawa—sopo ngguyu—dan ia yang tertawa itulah yang ndelikake, yang menyembunyikan rahasia. Dalam tradisi sufi, tawa adalah simbol dari kebahagiaan batin yang tak terpengaruh oleh keadaan luar. Orang yang telah menemukan suweng-nya—permata ma’rifah di dalam hati—akan selalu tersenyum, apa pun yang terjadi di luar.
Lalu sampailah kita pada puncak lagu itu: Sir… sir… pong dhele kopong.
Sir adalah singkatan dari israr—rahasia. Dalam anatomi spiritual yang diajarkan para sufi, sirr adalah lapisan terdalam dari jiwa manusia. Di atasnya ada qalb (hati), rūh (ruh), sirr, khafī (tersembunyi), dan akhfā (paling tersembunyi). Sirr adalah tempat di mana Allah menaruh amanah-Nya, tempat yang hanya bisa disentuh oleh para muqarrabīn. Dan bagaimana cara mencapai sirr itu? Dengan menjadi dhele kopong—kedelai kosong.
Perhatikan simbolisme ini. Kedelai adalah biji-bijian yang padat, keras, berisi. Tetapi dhele kopong adalah kedelai yang isinya telah hilang; yang tersisa hanyalah kulitnya. Ia tampak seperti kedelai biasa, tetapi di dalamnya kosong. Inilah potret dari fanā’ al-fanā’: seseorang yang telah melebur total, bahkan dari kesadarannya sendiri bahwa ia telah melebur. Ia tetap berjalan di bumi, tetap makan dan minum, tetap mengurus organisasi dan mengelola tambang, tetapi di dalamnya kosong. Bukan kosong dalam arti hampa, melainkan kosong dalam arti tidak ada apa-apa selain Allah.
Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam kitab Jāmi’ al-Uṣūl fī al-Awliyā’, membahas tentang al-majdzūb al-makhfī—wali yang “ditarik” oleh Allah secara tersembunyi. Mereka tidak dikenal, tidak memakai jubah kebesaran, tidak mengaku sebagai wali. Mereka mungkin adalah pedagang di pasar, petani di sawah, atau—dalam konteks kita—pemimpin organisasi yang setiap hari berurusan dengan laporan keuangan dan negosiasi bisnis. Siapa yang tahu bahwa di balik jas dan dasinya, hati orang itu adalah dhele kopong? Siapa yang tahu bahwa di tengah rapat-rapat yang melelahkan, batinnya terus-menerus berdzikir Allah… Allah… tanpa suara?
Inilah fanā’ al-fanā’: ketika seseorang telah begitu kosong sehingga ia bahkan tidak menyadari kekosongannya. Kesadaran akan kekosongan masih merupakan “isi”; masih ada “aku” yang merasa kosong. Tetapi ketika kesadaran itu pun lenyap—ketika sirr telah menjadi sirr al-sirr, rahasia dari segala rahasia—maka sampailah ia pada derajat dhele kopong sejati.
Padhang mbulan, padhang mbulan, ayo-ayo dolanan. Nggoleti suweng sing ono njero ati.
Tembang Padhang Mbulan melengkapi peta perjalanan ini. “Terang bulan” adalah cahaya hidāyah—petunjuk Ilahi yang menerangi kegelapan malam. Bulan tidak memiliki cahaya sendiri; ia memantulkan cahaya matahari. Demikian pula hati seorang sālik: ia tidak memiliki cahaya sendiri; ia hanya memantulkan cahaya Allah. Dan semakin bersih hatinya—semakin kosong dari selain Allah—semakin terang pula pantulannya.
Nggoleti suweng sing ono njero ati—mencari anting di dalam hati. Inilah sayr ilā Allāh, perjalanan menuju Allah yang sesungguhnya tidak ke mana-mana, karena Allah lebih dekat dari urat leher. Mencari “anting” itu adalah menyelami lapisan-lapisan hati, menyingkap hijab demi hijab, hingga akhirnya menemukan bahwa yang dicari selama ini sudah ada di sana sejak awal. Permata ma’rifah tidak diperoleh dari luar; ia sudah tertanam di dalam diri setiap manusia sejak zaman mītsāq—perjanjian primordial antara ruh dan Tuhannya.
Ati iki bakal padhang yen tansah eling marang Gusti—hati ini akan menjadi terang jika selalu ingat kepada Tuhan. Inilah dhikr al-dawām, dzikir yang terus-menerus, yang oleh para sufi diyakini sebagai jalan tercepat menuju fanā’. Ketika dzikir telah menyatu dengan napas, ketika setiap tarikan dan hembusan adalah Allah… Allah…, maka hati perlahan-lahan bercahaya. Dan pada titik tertentu, sang dzākir (orang yang berdzikir) lenyap, yang tersisa hanyalah al-Madzkūr (Yang Diingat).
Sintesis di Hati Gus Gudfan—Ketika Khidmah Bertemu Ma’rifah
Sekarang, bayangkanlah: apa yang terjadi ketika dua warisan ini bertemu dalam diri satu orang?
Dari Sunan Drajat, Gus Gudfan mewarisi jalan fanā’ horizontal: melebur ke dalam pelayanan, ke dalam perut lapar dan mata buta, ke dalam tambang dan badan usaha, ke dalam pemberdayaan ekonomi dan perlindungan sosial. Ini adalah fanā’ jismani—lebur secara material melalui tindakan.
Dari Sunan Giri, Gus Gudfan mewarisi jalan fanā’ vertikal: menyelam ke dalam hati, mencari suweng yang tersembunyi, mengosongkan diri menjadi dhele kopong, berdzikir dalam sunyi hingga dzākir lenyap dan yang tersisa hanyalah al-Madzkūr. Ini adalah fanā’ ruhani—lebur secara spiritual melalui kontemplasi.
Keduanya tidak bertentangan; justru saling melengkapi. Tanpa fanā’ horizontal, seseorang bisa menjadi sufi yang egois: asyik dengan khalwat-nya sendiri, sementara tetangganya kelaparan. Tanpa fanā’ vertikal, seseorang bisa menjadi aktivis yang kering: sibuk memberi makan orang lapar, tetapi hatinya sendiri kosong dari Allah—atau lebih buruk lagi, penuh dengan riya’ dan ambisi pribadi.
Sintesis kedua jalan ini menghasilkan pemimpin sufi—al-qā’id al-mutashawwif—yang langka di zaman modern. Seorang pemimpin yang mengelola tambang dengan tangan yang bersih, karena hatinya telah kosong dari ketamakan. Seorang pemimpin yang membuat kebijakan ekonomi dengan keadilan, karena batinnya terus-menerus diterangi nūr Ilahi. Seorang pemimpin yang duduk di kursi organisasi tetapi tidak melekat padanya, karena ia telah mencapai fanā’ al-fanā’: ia bahkan tidak menyadari bahwa ia adalah pemimpin.
Dalam tradisi pesantren, ada sebuah konsep yang disebut “khalwat dar anjuman”—menyepi di tengah keramaian. Ini adalah kemampuan untuk mempertahankan khalwat batin meskipun secara lahiriah berada di tengah kerumunan. Seorang pemimpin yang telah mencapai maqam ini tidak perlu mengasingkan diri ke gua; ia bisa berkhalwat di ruang rapat, di atas podium, di tengah negosiasi dengan para investor. Hatinya tetap sunyi, meskipun di sekelilingnya bising. Inilah puncak dari ajaran Sunan Giri: dhele kopong yang berjalan di pasar, tetapi pasar tidak masuk ke dalam hatinya.
Dan puncak dari ajaran Sunan Drajat adalah khidmah tanpa pamrih: memberi makan yang lapar tanpa mengharap ucapan terima kasih, memberi tongkat yang buta tanpa ingin diakui sebagai penolong. Ketika khidmah tanpa pamrih ini bertemu dengan khalwat dar anjuman, lahirlah seorang pemimpin yang memberi tanpa merasa memberi, memimpin tanpa merasa memimpin, ada tanpa merasa ada.
Ujian Fanā’ al-Fanā’ dalam Kepemimpinan
Tetapi semua ini masih berupa potensi. Menjadi pewaris dua wali bukanlah jaminan; ia adalah amanah yang berat. Sejarah mencatat banyak keturunan wali yang justru menjadi jauh dari nilai-nilai leluhurnya. Barakah al-nasab hanya akan aktif jika disertai barakah al-iktisāb—usaha sungguh-sungguh untuk menempuh jalan suluk.
Gus Gudfan kini berada di persimpangan. Di satu sisi, ia memegang kendali atas sumber daya ekonomi yang besar: tambang, badan usaha, jaringan bisnis. Di sisi lain, ia menyandang trah dua wali yang mengajarkan justru kebalikannya: kosongkan dirimu, leburkan egomu, jadilah dhele kopong. Mampukah ia menyeimbangkan keduanya? Mampukah ia mengelola kekuasaan tanpa dikuasai oleh kekuasaan?
Di sinilah ujian fanā’ al-fanā’ yang sesungguhnya. Seorang sālik yang telah mencapai derajat ini akan menjalani hidupnya seperti air. Ia mengalir mengikuti kontur bumi, tidak memaksakan bentuk, tetapi selalu sampai ke tujuan. Jika ia menjadi pemimpin, ia memimpin tanpa cengkeraman; ia mengarahkan tanpa mendikte; ia memberi tanpa menghitung. Kekuasaan tidak membuatnya mabuk, karena ia tidak pernah merasa memiliki kekuasaan. Harta tidak membuatnya tamak, karena ia melihat harta sebagai titipan yang harus segera dialirkan.
Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Ḥilyat al-Awliyā’ sebuah kisah tentang seorang wali yang ditawari jabatan oleh seorang sultan. Sang wali menolak, dan ketika ditanya alasannya, ia menjawab: “Aku belum mampu memikulnya.” “Mengapa?” tanya sultan. “Karena setiap kali aku diberi sesuatu,” jawab sang wali, “aku masih merasakan bahwa ‘aku’ telah diberi. Dan perasaan ‘aku’ itu masih terlalu besar bagiku untuk memegang jabatan.”
Kisah ini mengandung pelajaran yang mendalam: semakin tinggi maqam seseorang, semakin ia merasa tidak layak. Semakin ia kosong, semakin ia merasa penuh dengan kekurangan. Ini bukanlah rendah diri yang dibuat-buat; ini adalah kesadaran autentik yang lahir dari fanā’ al-fanā’. Ia benar-benar tidak melihat dirinya sebagai siapa-siapa. Dan justru karena itulah, ia layak.
Penutup: Sirr yang Tak Terucapkan
Di pelataran makam Sunan Drajat, malam terus bergulir. Doa-doa yang dipanjatkan di sana tidak pernah berhenti; ia terus bergema, menembus dinding waktu, mengalir dari generasi ke generasi. Wenehono mangan marang wong kang luwe… wenehono teken marang wong kang wuto… Kata-kata itu tetap hidup, menunggu untuk diwujudkan oleh keturunan sang wali.
Dan di suatu tempat yang lain, di Giri Kedaton yang kini hanya tinggal reruntuhan dan kenangan, tembang Cublak-Cublak Suweng masih dinyanyikan oleh anak-anak yang tidak mengerti maknanya. Tetapi benih ma’rifah telah ditanamkan di hati mereka, dan suatu hari nanti, pada waktunya, benih itu akan tumbuh.
Gus Gudfan berada di antara dua pusaka ini. Ia memikul amanah Sunan Drajat untuk memberi makan yang lapar, dan amanah Sunan Giri untuk mencari suweng di dalam hati. Apakah ia akan berhasil menyatukan keduanya? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tetapi satu hal yang pasti: perjalanan menuju fanā’ al-fanā’ bukanlah perjalanan yang bisa diukur dengan gelar, jabatan, atau tepuk tangan. Ia adalah perjalanan sunyi yang hanya diketahui oleh sālik dan Tuhannya—sebuah sirr yang tak terucapkan, dhele kopong yang tak terlihat oleh mata dunia.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb. Wa huwa al-hādī ilā sabīl al-rashād.


