Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – PADA suatu malam yang sunyi, di bawah langit yang bertabur bintang, seorang hamba duduk bersila di atas sajadahnya yang usang. Ia telah menunaikan shalat, melantunkan wirid, dan kini ia tenggelam dalam lautan kontemplasi. Tiba-tiba, dari kedalaman hatinya, sebuah suara bergemuruh tanpa bunyi, menggetarkan seluruh relung jiwanya. Suara itu bukanlah suara yang datang dari luar. Ia adalah gema dari sirr—rahasia Ilahi yang tertanam di dalam dirinya—yang tiba-tiba tersingkap. Suara itu berkata:
Jangan engkau menuhankan kekuatan dan kekuasaan selain dari pada Allah.
Kalimat itu menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong. Sebab, bukankah selama ini ia telah bersyahadat? Bukankah ia telah shalat, puasa, dan menunaikan zakat? Lalu mengapa peringatan ini datang kepadanya dengan begitu keras, seakan-akan ia masih menyimpan berhala di dalam dadanya? Di sinilah awal dari sebuah perjalanan menuju kedalaman, menuju pemahaman bahwa syirik—menyekutukan Allah—bukan hanya perkara menyembah patung. Syirik adalah setiap kali hati ini menyandarkan dirinya kepada sesuatu selain Dia. Syirik adalah ketika kita menuhankan kekuatan kita sendiri.
Mari kita menyelami syair yang telah mengguncang sang hamba itu. Mari kita ikuti alurnya bukan sebagai pembaca, tetapi sebagai musafir yang haus, yang ingin meminum langsung dari mata air tauhid. Sebab syair ini bukanlah sekadar kata-kata. Ia adalah isyarah, petunjuk halus dari alam malakut, yang memanggil kita untuk membebaskan diri dari perbudakan paling halus: perbudakan terhadap kekuatan dan kekuasaan selain Allah.
Berhala Tersembunyi di Dalam Dada
Syair itu dimulai dengan sebuah perintah yang tegas: Jangan engkau menuhankan kekuatan dan kekuasaan selain dari pada Allah. Perintah ini, jika direnungkan secara mendalam, akan membongkar seluruh fondasi kesadaran kita. Apa yang dimaksud dengan “kekuatan” dan “kekuasaan” di sini? Dalam kehidupan sehari-hari, kekuatan bisa berwujud harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, kesehatan yang prima, atau ilmu pengetahuan yang luas. Kekuasaan bisa berwujud pengaruh atas orang lain, kendali atas keadaan, atau kemampuan untuk menentukan nasib sendiri. Semua ini tampak nyata, tampak solid, tampak bisa diandalkan. Tetapi syair ini membisikkan kebenaran yang menghancurkan: semua itu, pada hakikatnya, adalah fatamorgana.
Al-Qur’an telah memperingatkan kita dengan perumpamaan yang sangat indah: ”Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi ketika didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun” (QS. An-Nur: 39). Kekuatan dan kekuasaan selain Allah adalah fatamorgana itu. Ia tampak seperti air yang bisa melepaskan dahaga, tetapi ketika kita mendatanginya, ia lenyap, dan kita tetap dalam kehausan yang semakin parah. Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, mengupas fenomena ini dengan sangat mendalam. Menurutnya, hati manusia diciptakan dengan kebutuhan inheren untuk bersandar. Jika ia tidak bersandar kepada Allah, ia akan bersandar kepada sesuatu yang lain. Dan setiap sandaran selain Allah adalah syirik khafi—syirik yang tersembunyi, yang lebih berbahaya daripada syirik yang terang-terangan, justru karena ia tidak disadari.
Syekh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, sang Guru Terbesar, dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, menyingkapkan rahasia yang lebih dalam lagi. Seluruh alam semesta, katanya, adalah tajalli—penampakan—dari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kekuatan yang kita lihat pada makhluk adalah tajalli dari al-Qawiy (Yang Maha Kuat). Kekuasaan yang tampak pada penguasa adalah tajalli dari al-Qadir (Yang Maha Kuasa). Kekayaan yang dimiliki oleh orang kaya adalah tajalli dari al-Ghaniyy (Yang Maha Kaya). Masalahnya, manusia seringkali berhenti pada makhluk yang menjadi mazhhar (tempat penampakan) itu, dan melupakan Dzat yang menampakkan diri. Ia mengagumi cermin, tetapi melupakan yang empunya bayangan. Di sinilah letak syirik. Menyekutukan Allah bukan berarti mengakui adanya Tuhan lain selain Allah—karena secara ontologis, tidak ada wujud lain selain Dia—tetapi berarti memberikan penghormatan, ketergantungan, dan penyandaran hati kepada sesuatu yang pada hakikatnya adalah ‘adam (ketiadaan).
Empat Pilar Istana Tauhid
Syair itu tidak hanya menghancurkan. Ia juga membangun. Setelah memerintahkan untuk tidak menuhankan selain Allah, ia memberikan empat pilar yang harus ditegakkan oleh setiap hamba yang ingin mencapai keimanan sejati: berikan kepercayaanmu hanya kepada Allah, berikan ketaatanmu hanya kepada Allah, berikan kerinduanmu juga hanya kepada Allah. Empat pilar ini adalah dinding dan atap bagi istana tauhid di dalam hati.
Pilar pertama adalah kepercayaan—tawakal. Tawakal bukanlah pasrah yang kosong. Ia adalah penyerahan total setelah usaha maksimal, disertai dengan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa yang menentukan hasil bukanlah usaha kita, melainkan Allah. Seorang hamba yang bertawakal sejati tidak lagi menoleh kepada sebab-sebab. Ia menggunakan sebab, tetapi hatinya tidak bersandar kepadanya. Ia berobat, tetapi tidak percaya bahwa obatlah yang menyembuhkan. Ia bekerja, tetapi tidak percaya bahwa gajilah yang menghidupinya. Hatinya hanya bersandar kepada al-Sebab al-Musabbib—Penyebab dari segala sebab. Maulana Ahmad Diyauddin Al-Kamasykhanawi, dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, menulis bahwa tawakal adalah salah satu maqam utama para wali. Beliau mengutip perkataan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: “Orang yang bertawakal adalah seperti mayat di tangan orang yang memandikannya. Ia tidak bergerak sendiri, tetapi digerakkan.”
Pilar kedua adalah ketaatan—tha’ah. Ketaatan kepada Allah berarti mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tetapi dalam perspektif sufistik, ketaatan memiliki dimensi yang lebih dalam. Ketaatan sejati bukanlah ketaatan yang disertai dengan perasaan berat atau terpaksa. Ia adalah ketaatan yang lahir dari cinta, ketaatan yang dirasakan sebagai kenikmatan, karena sang hamba tahu bahwa setiap perintah Allah adalah undangan menuju kedekatan dengan-Nya. Rabi’ah al-‘Adawiyyah, yang kisahnya direkam oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, adalah teladan dari ketaatan yang didorong oleh cinta. Ia tidak beribadah karena takut neraka atau mengharap surga. Ia beribadah karena rindu kepada Allah. Itulah ketaatan sejati.
Pilar ketiga adalah kerinduan—syauq. Kerinduan adalah api yang membakar segala sesuatu selain Allah dari dalam hati. Seorang hamba yang merindukan Allah tidak akan merindukan harta, jabatan, atau pujian manusia. Seluruh kerinduannya hanya tertuju kepada satu arah: liqa’ Allah—pertemuan dengan Allah. Kerinduan ini adalah penggerak utama perjalanan ruhani. Tanpanya, ibadah menjadi kering, rutinitas tanpa ruh. Dengannya, setiap sujud adalah percakapan intim, setiap tangis adalah surat cinta yang dikirimkan kepada Kekasih.
Pilar keempat, yang menjadi fondasi dari ketiga pilar sebelumnya, adalah tauhid —pengakuan bahwa Allah adalah Esa, Kekuatan dan Kekuasaan-Nya tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Allah adalah Esa, Kekuatan dan kekuasaan-Nya tidak bisa dibandingkan dengan yang lainnya. DIA adalah kuasa yang tunggal, Yang memberi kekuatan dan kekuasaan pada makhluk-makhluk-Nya. Dalam Jami’ul Ushul, Al-Kamasykhanawi mengajarkan bahwa tauhid memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan paling dasar adalah tauhid orang awam: mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tingkatan berikutnya adalah tauhid khawash: menyaksikan bahwa tidak ada yang memiliki kekuatan dan kekuasaan selain Allah. Tingkatan tertinggi adalah tauhid khawash al-khawash: tidak menyaksikan apa pun selain Allah, sehingga semua penyaksian tentang “yang memiliki” dan “yang dimiliki” lenyap. Inilah tauhid yang menjadi gerbang menuju fana’.
Kekosongan yang Menipu
Syair itu melanjutkan dengan peringatan yang semakin tajam: _Sehingga engkau jangan percaya terhadap kekuatan dan kekuasaan selain dari pada-Nya, karena kekuatan dan kekuasaan selain dari pada-Nya adalah hampa._ Kata “hampa” di sini adalah terjemahan dari ‘adam—ketiadaan. Dalam ontologi sufistik, segala sesuatu selain Allah tidak memiliki wujud pada dirinya sendiri. Ia adalah mumkin al-wujud (mungkin ada), yang keberadaannya bergantung sepenuhnya kepada Wajib al-Wujud (Yang Niscaya Ada). Maka, menyandarkan diri kepada selain Allah adalah seperti bersandar kepada bayang-bayang. Ketika cahaya berpindah, bayang-bayang itu lenyap, dan orang yang bersandar kepadanya akan jatuh tersungkur.
Al-Qur’an memberikan perumpamaan lain yang sangat menggetarkan: ”Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, jika mereka mengetahui” (QS. Al-‘Ankabut: 41). Rumah laba-laba tampak seperti bangunan yang rumit dan kokoh, tetapi sebenarnya ia adalah struktur yang paling rapuh. Satu sentuhan jari saja sudah cukup untuk menghancurkannya. Demikian pula dengan jaringan kekuatan dan kekuasaan yang kita bangun di dunia ini. Ia tampak kokoh—harta kita, jabatan kita, koneksi kita, ilmu kita—tetapi satu tiupan takdir saja sudah cukup untuk meruntuhkan semuanya.
Al-Kamasykhanawi dalam Jami’ul Ushul mengaitkan pemahaman ini dengan maqam fana’ fi al-af’al: penyaksian bahwa tidak ada perbuatan sejati kecuali perbuatan Allah. Ketika seorang hamba mencapai maqam ini, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pelaku. Ia tidak lagi berkata, “Aku bekerja, maka aku kaya,” atau “Aku belajar, maka aku pintar.” Ia melihat bahwa semua itu adalah perbuatan Allah yang bertajalli melalui dirinya. Maka, lenyaplah kepercayaan terhadap kekuatan dan kekuasaan diri sendiri.
Kegelapan yang Nyata
Apa akibatnya jika seseorang tetap bersikeras menyandarkan diri kepada selain Allah? Syair itu memberikan jawaban yang mengerikan: Sesungguhnya orang-orang yang menggantungkan hidupnya kepada kekuatan selain dari pada Allah, dan menggantungkan nasibnya terhadap kekuasaan selain dari pada Allah, maka mereka adalah orang-orang yang tersesat, hidup mereka berada dalam kegelapan yang nyata.
“Kegelapan yang nyata” adalah oksimoron yang sangat indah. Bagaimana mungkin kegelapan disebut “nyata”? Bukankah kegelapan adalah ketiadaan cahaya? Justru di sinilah letak kedalamannya. Kegelapan di sini bukanlah kegelapan fisik yang bisa dilihat dengan mata kepala. Ia adalah kegelapan spiritual, hijab yang menutupi hati, sehingga hati tidak bisa melihat kebenaran meskipun kebenaran itu ada di depan mata. Kegelapan ini “nyata” karena ia benar-benar dirasakan oleh jiwa. Orang yang menggantungkan diri kepada selain Allah akan selalu gelisah. Ia akan selalu dikejar oleh kecemasan. Bagaimana jika hartaku habis? Bagaimana jika jabatanku dicabut? Bagaimana jika kesehatanku menurun? Ia hidup dalam ketakutan yang terus-menerus, karena apa yang ia sandari bersifat fana’. Ia seperti orang yang membangun istana di atas pasir. Ketika ombak datang, istananya runtuh, dan ia tenggelam dalam kepanikan.
Al-Ghazali menjelaskan fenomena ini dengan sangat mendalam. Hati, katanya, diciptakan untuk mengenal dan mencintai Allah. Jika hati tidak diisi dengan cinta kepada Allah, ia akan mencari pengganti. Dan setiap pengganti adalah palsu. Ia tidak akan pernah memberikan kepuasan sejati. Orang yang menyandarkan diri kepada harta akan selalu merasa kurang, berapa pun banyaknya. Orang yang menyandarkan diri kepada jabatan akan selalu haus akan kekuasaan yang lebih tinggi. Ini adalah kegelapan yang nyata: hidup dalam ilusi, mengejar bayang-bayang, dan tidak pernah sampai kepada kepuasan sejati.
Api yang Membakar dari Dalam
Klimaks dari syair ini adalah peringatan tentang azab: Allah akan memberi azab terhadap orang-orang yang menyekutukan-Nya. Allah juga akan melaknat orang-orang yang menduakan-Nya. Sungguh Allah akan melemparkan mereka kelak di akhirat nanti ke dalam jurang api neraka yang dalam. Bagi sebagian pembaca, kata-kata ini mungkin terdengar menakutkan, bahkan mungkin terasa bertentangan dengan citra Allah Yang Maha Pengasih. Tetapi para sufi memahami ancaman ini secara berbeda. Bagi mereka, neraka bukanlah sekadar tempat penyiksaan fisik. Neraka adalah simbol dari kondisi batin yang paling menyakitkan: keterpisahan dari Allah.
Abu Nu’aim al-Ashfahani, dalam Hilyatul Auliya’, merekam banyak perkataan para wali tentang hakikat neraka. Salah satunya adalah perkataan Dzun Nun al-Mishri: ”Neraka yang paling panas bukanlah api yang membakar tubuh, tetapi api kerinduan yang tak terpenuhi, penyesalan abadi karena telah berpaling dari Kekasih Sejati.” Rabi’ah al-‘Adawiyyah, dengan bahasa cintanya yang terkenal, berkata: ”Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka-Mu. Aku menyembah-Mu karena Engkau layak disembah. Tetapi jika Engkau menjauhkanku dari-Mu, maka itulah neraka yang sesungguhnya.”
Maka, ancaman dalam syair ini harus dipahami sebagai panggilan cinta. Allah memperingatkan manusia tentang neraka karena Dia tidak ingin hamba-Nya jatuh ke dalamnya. Dia ingin hamba-Nya kembali kepada-Nya, mendekat kepada-Nya, dan akhirnya bersatu dengan-Nya dalam ma’rifah dan mahabbah. Api neraka adalah api yang membakar hijab-hijab yang memisahkan hamba dari Tuhannya. Dan hijab terbesar, sebagaimana telah dijelaskan, adalah kepercayaan kepada kekuatan dan kekuasaan selain Allah.
Fana’ ul-Fana’: Puncak Pembebasan
Kini kita tiba pada pertanyaan yang paling mendalam: bagaimana seorang hamba bisa benar-benar terbebas dari syirik, termasuk syirik yang paling halus? Bagaimana ia bisa “tidak menuhankan kekuatan dan kekuasaan selain Allah” secara total? Jawabannya adalah melalui maqam fana’ ul-fana’—lenyap dari lenyap.
Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Al-Kamasykhanawi menguraikan tingkatan-tingkatan fana’ secara rinci. Fana’ tingkat pertama adalah fana’ fi al-af’al: lenyapnya penyaksian terhadap perbuatan selain perbuatan Allah. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi melihat bahwa ia memiliki kekuatan untuk berbuat. Semua perbuatan yang muncul dari dirinya ia saksikan sebagai perbuatan Allah. Fana’ tingkat kedua adalah fana’ fi al-sifat: lenyapnya penyaksian terhadap sifat-sifat selain sifat Allah. Sang hamba tidak lagi melihat bahwa ia memiliki keberanian, kasih sayang, atau pengetahuan sendiri. Semua itu adalah tajalli dari sifat-sifat Allah. Fana’ tingkat ketiga adalah fana’ fi al-dzat: lenyapnya penyaksian terhadap wujud selain Wujud Allah. Sang hamba tidak lagi menyaksikan dirinya ada. Yang ada hanyalah Allah.
Namun, perjalanan tidak berhenti di sini. Setelah mencapai ketiga tingkatan fana’ ini, sang hamba mungkin masih memiliki kesadaran: “Aku telah fana’. Aku telah mencapai tauhid. Aku tidak lagi menuhankan selain Allah.” Kesadaran ini, meskipun tampak mulia, adalah residu terakhir dari ego. Ia adalah ‘ujb khafi—kesombongan tersembunyi yang paling halus. Selama masih ada “aku” yang merasa telah bertauhid, selama itu pula masih ada dualitas. Maka, diperlukan fana’ ul-fana’: penghancuran terhadap kesadaran kefanaan itu sendiri.
Al-Kamasykhanawi menyebut maqam ini sebagai mahw al-mahw—penghapusan terhadap penghapusan. Dalam maqam ini, sang hamba tidak lagi merasa bahwa “aku telah memberikan kepercayaanku hanya kepada Allah,” karena “aku” yang memberi kepercayaan pun telah lenyap. Ia tidak lagi berkata, “aku taat kepada Allah,” karena “aku” yang taat telah sirna. Ia tidak lagi merasakan, “aku merindukan Allah,” karena “aku” yang merindukan telah lebur dalam Samudra Yang Dirindukan. Yang ada hanyalah Allah: DIA yang memberi kepercayaan, DIA yang taat, DIA yang merindukan Diri-Nya sendiri melalui cermin hamba-Nya yang telah hancur.
Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah menulis dengan bahasa yang sangat menggetarkan: “Fana’ adalah ketiadaanmu dalam dirimu. Dan fana’ dari fana’ adalah ketiadaan pengetahuanmu tentang ketiadaanmu. Inilah baqa’ sejati, karena engkau tetap dalam Wujud al-Haqq tanpa dirimu.” Dalam konteks syair ini, fana’ ul-fana’ adalah ketika peringatan _”jangan engkau menuhankan kekuatan dan kekuasaan selain Allah”_ tidak lagi terdengar sebagai perintah dari luar, tetapi telah menjadi kenyataan dari dalam—bahkan tidak ada lagi “dalam” dan “luar”, karena semuanya adalah Dia.
Menjadi Cermin yang Telah Hancur
Pada puncak perjalanan, setelah melalui fana’ dan fana’ ul-fana’, sang hamba mencapai baqa’ billah: ketetapan bersama Allah. Ia kembali ke dunia, tetapi dengan kesadaran yang sama sekali baru. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai entitas yang terpisah. Ia adalah cermin yang telah hancur, dan yang tampak hanyalah Cahaya Ilahi yang memantul dari serpihan-serpihannya. Dalam keadaan inilah ia benar-benar menjadi muwahhid—pengesa Allah yang sejati.
Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ merekam kisah seorang wali yang mencapai maqam ini, yaitu Abu al-Hasan al-Nuri. Suatu ketika ia ditanya, “Siapakah dirimu?” Ia menjawab, “Aku adalah buku yang telah dihapus tintanya. Tidak ada lagi huruf, tidak ada lagi kata. Yang ada hanyalah kertas putih yang menanti tulisan Sang Penulis.” Ini adalah jawaban dari seorang yang telah mencapai fana’ ul-fana’. Ia tidak lagi memiliki “aku”. Ia tidak lagi memiliki “kepercayaanku” atau “ketaatanku”. Yang ada hanyalah Dia, Yang Menulis, Yang Berkehendak, Yang Bertindak.
Maka, jika kita kembali kepada syair yang kita kaji, kita akan memahami bahwa perintah-perintah di dalamnya—berikan kepercayaanmu hanya kepada Allah, berikan ketaatanmu hanya kepada Allah, berikan kerinduanmu hanya kepada Allah—adalah tangga yang harus kita daki. Tetapi di puncak tangga itu, kita akan menemukan bahwa tidak ada lagi “kita” yang mendaki. Tangga itu sendiri lenyap. Yang tersisa hanyalah Samudra tanpa tepi, tanpa nama, tanpa “yang menyembah” dan “Yang Disembah.”
Penutup: Kembali kepada Samudra
Syair yang telah kita renungkan ini adalah kompas yang mengarahkan hati kepada satu-satunya arah. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kali kita merasa kuat dengan harta kita, berkuasa dengan jabatan kita, atau aman dengan ilmu kita, kita sedang berada di tepi jurang syirik. Ia memanggil kita untuk melepaskan semua sandaran itu, satu per satu, sampai tidak ada yang tersisa kecuali Allah. Dan pada akhirnya, ia mengundang kita untuk melepaskan bahkan “kita” yang sedang melepaskan.
Jangan engkau menuhankan kekuatan dan kekuasaan selain dari pada Allah. Kalimat ini adalah la ilaha illa Allah yang diterjemahkan ke dalam bahasa hati. Ia adalah deklarasi pembebasan. Bebas dari perbudakan harta. Bebas dari perbudakan jabatan. Bebas dari perbudakan pujian dan celaan. Bebas dari perbudakan masa lalu dan kecemasan akan masa depan. Bebas dari perbudakan diri sendiri.
Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman, yang memberikan kepercayaan, ketaatan, dan kerinduan hanya kepada-Nya. Dan semoga, di ujung perjalanan yang panjang ini, kita semua dipanggil dengan panggilan mesra: “Yaa ayyatuha al-nafs al-muthma’innah, irji’ii ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibadii, wadkhulii jannatii”—Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Surga itu adalah liqa’ Allah. Surga itu adalah fana’ ul-fana’ itu sendiri. Dan jalan menuju ke sana adalah dengan menanggalkan satu per satu pakaian kekuatan dan kekuasaan yang kita sangka milik kita, sampai kita telanjang di hadapan-Nya. Dan dalam ketelanjangan itu, kita akan diselimuti oleh Cahaya-Nya. Cahaya yang tidak berasal dari timur atau barat. Cahaya yang adalah Dia sendiri. Allahu Nur al-samawati wa al-ardh. Allah adalah Cahaya langit dan bumi.
Wallahu a’lam bi al-shawab.



