Refleksi Sufistik atas Kelenyapan Mutlak dalam Perjalanan Menuju Allah
Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)
SURABAYAONLINE.CO – DI sebuah zawiyah kecil di pinggiran kota, seorang murid duduk bersimpuh di hadapan gurunya. Puluhan tahun ia menempuh jalan para pencari: siangnya diisi dengan puasa, malamnya dihidupkan dengan shalat dan tangisan, lidahnya basah oleh dzikir, hatinya berjuang melawan gelombang nafsu yang tak kunjung reda. Namun satu pertanyaan terus mengusik relung jiwanya yang paling dalam, pertanyaan yang tak berani ia ucapkan karena takut dianggap sombong, namun juga tak bisa ia pendam karena telah menjadi jeritan batinnya: “Wahai Syaikh, kapankah aku akan sampai? Kapankah aku bisa benar-benar dekat dengan-Nya?”
Sang guru, yang wajahnya memancarkan ketenangan tak terkatakan, menatap muridnya dengan pandangan yang seolah menembus ke dasar hatinya. Ia tersenyum tipis, lalu berkata, “Engkau bertanya tentang sampainya, padahal sampainya itu sendiri adalah hijabmu. Engkau masih menghitung langkah, masih menimbang amal, masih merasa sedang berjalan. Bagaimana engkau bisa sampai, jika engkau masih membawa dirimu?”
Jawaban ini, bagi sebagian orang, mungkin terdengar ganjil. Bukankah tujuan perjalanan spiritual adalah “sampai”? Bukankah kita beribadah, berdzikir, dan berjuang melawan hawa nafsu agar bisa dekat dengan Allah? Namun di sinilah letak rahasia yang hanya bisa disingkap oleh mereka yang telah menempuh jalan ini hingga ke ujungnya. Perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan menuju suatu tempat; ia adalah perjalanan meninggalkan diri sendiri. Dan puncak dari perjalanan itu bukanlah ketika kita merasa telah dekat, melainkan ketika perasaan “dekat” itu sendiri lenyap, berganti dengan kesadaran mutlak bahwa hanya Allah yang wujud, hanya Allah yang kekal.
Inilah yang dalam tradisi tasawuf disebut sebagai Fana’ul Fana’—kelenyapan dari kelenyapan. Sebuah maqam yang begitu tinggi dan begitu halus sehingga hanya sedikit yang mampu menguraikannya dengan kata-kata, dan lebih sedikit lagi yang mampu menapakinya dengan jiwa. Ia adalah puncak dari tauhid, titik kulminasi dari syahadat “La ilaha illa Allah” yang tidak hanya meniadakan tuhan-tuhan palsu di luar diri, tetapi juga meniadakan “aku” yang menjadi tuhan paling halus dalam diri manusia.
Memahami Akar: Apa Itu Fana’?
Sebelum menyelami Fana’ul Fana’, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu fana’. Secara bahasa, fana’ berasal dari bahasa Arab yang berarti lenyap, musnah, sirna, atau tidak kekal. Lawannya adalah baqa’, yang berarti kekal atau abadi. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Kullu man ‘alaiha fan. Wa yabqa wajhu Rabbika dzul jalali wal ikram”—”Segala sesuatu yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Al-Rahman: 26-27).
Ayat ini bukan sekadar pernyataan tentang kematian fisik. Bagi para arif, ia adalah penyingkapan realitas ontologis yang paling fundamental: segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya bersifat fana’—tidak memiliki wujud yang mandiri, tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri. Hanya Allah yang Baqa’, Yang Maha Kekal dengan kekekalan mutlak.
Dalam terminologi tasawuf, fana’ tidak diartikan sebagai kematian jasad. Ia adalah peristiwa batiniah yang begitu mendalam sehingga seluruh kesadaran seseorang akan dirinya sendiri—akan egonya, nafsunya, “aku”-nya—luruh dalam penyaksian akan keagungan Ilahi. Syaikh Ahmad Diya’uddin al-Kamasykhanawi, dalam kitabnya yang monumental Jami’ul Ushul fil Auliya’, mendefinisikan fana’ dengan sangat jernih: “Hakikat fana’ adalah hilangnya sifat-sifat yang hina, dan baqa’ adalah wujudnya sifat-sifat yang terpuji.” Definisi ini mengandung kebijaksanaan yang mendalam. Fana’ bukanlah peniadaan eksistensi manusia, melainkan transformasi eksistensial: pengosongan diri dari sifat-sifat tercela—sombong, iri, dengki, cinta dunia, takut mati, dan segala penyakit hati—dan pengisiannya dengan sifat-sifat terpuji yang merupakan pantulan dari Asma’ul Husna.
Al-Kamasykhanawi kemudian membagi fana’ ke dalam dua jenis: pertama, fana’ yang dicapai melalui riyadhah—latihan spiritual yang intensif dan berkesinambungan; kedua, fana’ yang terjadi melalui istighraq—penenggelaman total dalam keagungan Dzat Allah disertai musyahadah, penyaksian langsung. Yang pertama adalah jalur perjuangan, yang kedua adalah jalur anugerah. Dan dalam perjalanan seorang salik, keduanya sering bertemu: perjuangan menyiapkan bejana hati, anugerah Ilahi kemudian memenuhinya dengan Cahaya.
Dalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani merekam ajaran para sufi klasik tentang fana’. Imam al-Junaid al-Baghdadi, yang dijuluki “Sayyid al-Ta’ifah” atau pemimpin para sufi, menekankan bahwa fana’ harus berujung pada sahw—kesadaran jernih—bukan sukr—mabuk spiritual—yang permanen. Beliau mengkritik mereka yang berhenti pada pengalaman ekstase dan menganggapnya sebagai tujuan akhir. Bagi al-Junaid, sufi sejati adalah mereka yang telah melewati fana’ dan kembali ke tengah masyarakat dengan kesadaran yang justru lebih utuh, lebih tajam, lebih bermanfaat.
Hierarki Kefanaan: Tiga Anak Tangga Menuju Allah
Para sufi klasik, dengan ketelitian seorang dokter ruhani, memetakan tangga kefanaan ke dalam tiga tingkatan. Setiap tingkatan memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri, dan setiap tingkatan harus dilalui dengan sempurna sebelum melangkah ke tingkatan berikutnya.
Tingkat Pertama: Fana’—Peleburan Ego.* Pada tingkat ini, seorang sufi menghancurkan sifat-sifat buruk, nafsu duniawi, dan ego (kesadaran keakuan) di hadapan keagungan Tuhan. Ia melihat bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, bahwa amalnya tidak ada artinya, bahwa wujudnya bergantung sepenuhnya pada Wujud Allah. Ini adalah fase takhliah—pengosongan. Sang salik masih menyadari proses ini; ia masih merasa “aku sedang berjuang,” “aku sedang berusaha fana’.
Tingkat Kedua: Fana’ fi Allah—Peleburan dalam Tuhan. Pada tingkat ini, kesadaran akan diri sebagai pelaku lenyap. Sang hamba melihat bahwa tiada daya dan upaya melainkan milik Allah semata. Ia mencapai fana’ fi al-af’al—lenyap dalam perbuatan Allah, fana’ fi al-asma’—lenyap dalam nama-nama Allah, dan fana’ fi al-sifat—lenyap dalam sifat-sifat Allah. Namun, pada tingkat ini masih ada residu paling halus: kesadaran bahwa “aku telah fana’ fi Allah. Inilah jebakan spiritual yang paling berbahaya.
Tingkat Ketiga: Fana’ul Fana’—Peleburan dari Peleburan. Inilah puncaknya. Pada maqam ini, seseorang tidak lagi menyadari bahwa dirinya telah mencapai tingkat fana’. Jika seseorang masih merasa bangga atau sadar bahwa dirinya telah “lebur” dengan Tuhan, ia masih memiliki ego. Kesadaran akan kefanaan adalah hijab terakhir. Maka pada Fana’ul Fana’, kesadaran tentang “peleburan” itu sendiri ikut sirna, menyisakan kesadaran mutlak hanya kepada Allah SWT. Inilah makna harfiahnya: fana’ (lenyap) dan al-fana’ (kelenyapan itu sendiri)—lenyapnya kelenyapan.
Hijab Nurani: Musuh Terhalus yang Menyamar sebagai Cahaya
Di sinilah kita sampai pada salah satu konsep paling tajam dalam tasawuf: hijab nurani—hijab yang terbuat dari cahaya. Para sufi membedakan antara hijab dzulmani (hijab kegelapan) dan hijab nurani. Hijab dzulmani adalah sifat-sifat tercela yang jelas-jelas menghalangi seseorang dari Allah: sombong, iri, dengki, cinta dunia, riya’. Hijab ini relatif mudah dikenali—seperti lumpur yang mengotori cermin, ia terlihat dan bisa dibersihkan.
Namun hijab nurani jauh lebih halus dan jauh lebih berbahaya. Ia adalah kesadaran akan kebaikan diri, kebanggaan terselubung atas pencapaian spiritual, perasaan telah suci, telah sampai, telah fana’. Seperti cahaya yang terlalu terang hingga membutakan, hijab nurani menyilaukan sang salik sehingga ia tidak bisa melihat bahwa “aku yang suci” tetaplah “aku”—dan “aku” adalah tuhan kecil yang menghalangi penyaksian akan Allah Yang Maha Esa.
Bayangkan seseorang yang telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya. Ia berpuasa, bertahajud, berdzikir, dan merasakan manisnya ibadah. Lalu muncul bisikan halus di hatinya: “Alhamdulillah, aku sudah tidak sombong lagi. Aku sudah lebih baik dari orang-orang yang masih tenggelam dalam dunia.” Bisikan ini terasa nikmat, terasa “bercahaya,” tetapi di situlah jebakannya. Ia tidak sadar bahwa kesombongan telah kembali dalam bentuk yang lebih halus—kesombongan spiritual. Inilah hijab nurani.
Fana’ul Fana’ adalah mekanisme Ilahi untuk menyingkap hijab nurani ini. Ia melenyapkan bukan hanya sifat-sifat buruk, tetapi juga kesadaran akan sifat-sifat baik. Ia melenyapkan bukan hanya “aku yang jahat,” tetapi juga “aku yang baik.” Ia melenyapkan bukan hanya kefanaan, tetapi juga kesadaran akan kefanaan. Sebagaimana diisyaratkan oleh para arif: “Wujuduka dzanbun la yuqasu bihi dzanbun akhar”—keberadaanmu (kesadaran akan dirimu) adalah dosa yang tidak bisa dibandingkan dengan dosa lainnya. Dan Fana’ul Fana’ adalah taubat dari dosa eksistensial ini.
Landasan Kitab: Suara Para Wali tentang Kelenyapan Mutlak
Untuk memperkuat pemahaman kita, mari kita telaah lebih dalam apa yang tertulis dalam kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan utama kita.
Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’, Syaikh Ahmad Diya’uddin al-Kamasykhanawi menekankan bahwa ahwal (keadaan spiritual) adalah pemberian atau anugerah Ilahi, sedangkan maqamat (stasiun spiritual) diperoleh melalui usaha dan perjuangan. Fana’ul Fana’, dalam kerangka ini, lebih tepat disebut sebagai hal—anugerah murni—daripada maqam yang bisa diusahakan. Seorang salik bisa mempersiapkan dirinya melalui riyadhah dan mujahadah, tetapi pencapaian Fana’ul Fana’ tetaplah bergantung sepenuhnya pada tarikan Ilahi (jadzbah). Ini adalah pelajaran tentang kerendahan hati yang paling dalam: bahkan untuk “lenyap”, kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri. Kita hanya bisa mempersiapkan ketiadaan kita, dan Allah-lah yang mewujudkan ketiadaan itu.
Al-Kamasykhanawi juga menguraikan bahwa dalam perjalanan menuju Allah, seorang salik wajib menjalani fana’ fi al-mursyid (peleburan dalam bimbingan guru), kemudian fana’ fi al-rasul (peleburan dalam sunnah Nabi), sebelum mencapai fana’ fi Allah. Ini menunjukkan bahwa jalan menuju Fana’ul Fana’ adalah jalan yang terbimbing, bukan jalan yang ditempuh sendirian. Guru spiritual (mursyid kamil) berperan sebagai cermin yang memantulkan keadaan murid tanpa distorsi, termasuk memperingatkan tentang jebakan hijab nurani yang sering tidak disadari.
Dalam Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani merekam kehidupan lebih dari dua ratus wali dari generasi pertama Islam. Di sana kita menemukan kisah-kisah yang menjadi saksi bahwa Fana’ul Fana’ bukanlah teori abstrak. Uwais al-Qarni, misalnya, adalah seorang tabi’in yang hidup di pelosok Yaman, menggembala kambing, merawat ibunya yang buta. Ia tidak pernah bertemu Nabi secara fisik, namun Nabi bersabda tentangnya: “Sesungguhnya aku mencium bau Rahman dari arah Yaman.” Uwais tidak dikenal manusia, tetapi dikenal langit. Ia adalah perwujudan dari “lenyapnya kelenyapan”—tidak ada kesadaran akan diri sebagai wali, tidak ada klaim spiritual, tidak ada eksistensi sosial. Ia hanya ada untuk Allah, dan keberadaannya di bumi adalah rahasia antara dirinya dan Tuhannya.
Demikian pula Rabi’ah al-Adawiyah, yang berjalan dengan obor di satu tangan dan kendi air di tangan lain, ingin membakar surga dan memadamkan neraka agar manusia beribadah karena cinta, bukan karena takut atau harap. Rabi’ah telah melampaui pamrih ukhrawi—yang juga merupakan bentuk hijab nurani—dan mencapai cinta murni yang tidak disadari sebagai “cintaku”, melainkan sebagai cinta Allah yang mengalir melaluinya.
Al-Junaid al-Baghdadi, yang ajarannya banyak direkam dalam Hilyatul Auliya’, memberikan kerangka yang paling kokoh. Ia menekankan bahwa pengalaman fana’ harus kembali kepada sahw, kesadaran jernih. Sufi yang telah mencapai Fana’ul Fana’ tidak lantas menjadi manusia yang tidak sadar atau lepas dari tanggung jawab duniawi. Sebaliknya, ia kembali ke dunia dengan kesadaran yang justru lebih utuh, karena kini ia melihat realitas sebagaimana adanya—sebagai tajalli Ilahi. Inilah baqa’ billah, kekekalan bersama Allah, yang menjadi buah dari Fana’ul Fana’.
Fana’ul Fana’ sebagai Puncak Tauhid
Sekarang kita sampai pada inti argumentasi: mengapa Fana’ul Fana’ adalah puncak tauhid? Untuk menjawabnya, kita harus memahami bahwa syahadat “La ilaha illa Allah” memiliki tingkatan-tingkatan pemaknaan.
Pada tingkat paling dasar, syahadat ini adalah penolakan terhadap berhala-berhala fisik—patung, api, matahari, dan sesembahan material lainnya. Pada tingkat yang lebih dalam, ia adalah penolakan terhadap segala sesuatu yang dipertuhankan oleh hawa nafsu: harta, jabatan, popularitas, dan keinginan-keinginan duniawi. Namun pada tingkat yang paling dalam—tingkat Fana’ul Fana’—syahadat ini mencapai maknanya yang paling radikal: penolakan terhadap “aku” itu sendiri sebagai tuhan kecil yang mengklaim eksistensi terpisah dari Allah.
Selama masih ada “aku”—dalam bentuk apa pun, bahkan dalam bentuk “aku yang beriman,” “aku yang beribadah,” “aku yang fana’”—maka syahadat kita belum sempurna. Karena “aku” adalah sekutu tersembunyi yang paling halus. Ia berbisik, “Akulah yang beriman, akulah yang beramal, akulah yang dekat dengan Tuhan.” Bisikan ini, meskipun tampak sebagai pengakuan atas nikmat, bisa berubah menjadi klaim kepemilikan. Dan klaim kepemilikan adalah syirik khafi—syirik yang tersembunyi.
Fana’ul Fana’ membersihkan jiwa dari syirik khafi ini. Ketika seorang salik mencapai maqam ini, ia tidak lagi merasa “aku beriman,” karena iman telah menjadi sifat Allah yang tercermin dalam dirinya. Ia tidak lagi merasa “aku dekat,” karena “dekat” dan “jauh” adalah kategori-kategori makhluk yang telah lenyap dari kesadarannya. Yang tersisa hanyalah illa Allah—hanya Allah.
Inilah makna firman Allah: “Wa ma ramaita idz ramaita wa lakinna Allaha rama”—”Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (QS. Al-Anfal: 17). Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang peristiwa Perang Badar. Ia adalah prinsip ontologis: setiap tindakan makhluk, pada hakikatnya, adalah tindakan Allah. Fana’ul Fana’ adalah realisasi eksistensial dari prinsip ini. Sang hamba menyaksikan—bahkan tidak lagi menyaksikan, melainkan “menjadi saksi tanpa kesadaran sebagai saksi”—bahwa seluruh gerak-geriknya, seluruh ucapannya, seluruh diamnya, adalah Allah yang bertindak melaluinya.
Paradoks Kelenyapan: Mati Sebelum Mati
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Mutu qabla an tamutu”—”Matilah engkau sebelum engkau mati.” Hadis ini adalah undangan untuk mengalami kematian eksistensial sebelum kematian fisik. Kematian eksistensial adalah kematian ego, kematian nafsu, kematian kesadaran diri yang terpisah dari Allah.
Fana’ul Fana’ adalah realisasi paling sempurna dari hadis ini. Pada maqam ini, sang salik tidak hanya “mati” dari ego kasarnya, tetapi juga “mati” dari ego halusnya—ego yang merasa telah mati, ego yang merasa telah fana’. Ia mati dari kematiannya. Ia lenyap dari kelenyapannya.
Metafora yang sering digunakan oleh para sufi adalah tetes air yang jatuh ke lautan. Ketika setetes air jatuh ke lautan, ia kehilangan bentuk, batas, dan identitasnya sebagai “tetes air.” Inilah fana’. Tetapi pada tahap ini, masih ada kesadaran bahwa “pernah ada tetes yang jatuh ke lautan.” Fana’ul Fana’ melangkah lebih jauh: bahkan ingatan akan tetes itu lenyap. Tidak ada lagi “yang jatuh” dan “yang menerima.” Tidak ada lagi subjek dan objek. Yang ada hanyalah lautan dalam ke-lautan-annya yang mutlak.
Dalam bahasa tasawuf, ini disebut sebagai al-jam’u ba’da al-farqu—penyatuan setelah perbedaan. Sang salik telah kembali ke kesadaran setelah pengalaman fana’, tetapi ia kembali tanpa “aku.” Inilah baqa’ billah: kekekalan bersama Allah. Ia hidup di tengah manusia, makan, minum, bekerja, berinteraksi, tetapi seluruh eksistensinya adalah manifestasi dari kehendak Ilahi. Ia telah mencapai apa yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai “fa yakun”—”maka jadilah ia”—menjadi hamba yang sepenuhnya selaras dengan Kun, titah penciptaan Ilahi.
Fana’ul Fana’ dan Maqam KUN: Kembali ke Titik Nol Penciptaan
Maqam KUN adalah maqam tertinggi dalam tradisi tasawuf—kembalinya seorang hamba kepada titik nol penciptaannya. Jika kita ingat firman Allah: “Innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu kun fa yakun”—”Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia” (QS. Yasin: 82). Kun adalah firman penciptaan, kehendak mutlak yang menjadi sumber dari segala yang maujud.
Fana’ul Fana’ adalah pintu gerbang menuju Maqam KUN. Mengapa? Karena selama masih ada “aku” dalam bentuk apa pun—termasuk “aku yang fana’”—sang hamba belum sepenuhnya menjadi manifestasi murni dari kehendak Ilahi. Masih ada distorsi, masih ada jeda antara Kun dan fa yakun. Fana’ul Fana’ melenyapkan distorsi terakhir ini. Ketika kesadaran akan kefanaan lenyap, yang tersisa hanyalah aktualisasi murni dari Kun. Hamba itu “menjadi” sebagaimana Allah menghendakinya “menjadi”—tanpa hambatan, tanpa jeda, tanpa distorsi.
Inilah makna hadis qudsi yang masyhur di kalangan sufi: “Tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku-lah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.” Pada Maqam KUN yang dicapai melalui Fana’ul Fana’, Allah sendiri yang menjadi “alat-alat” hamba-Nya. Seluruh tindakan hamba adalah tindakan Ilahi—bukan dalam arti hamba telah menjadi Tuhan (ta’ala Allah ‘an dzalika), melainkan dalam arti kehendak hamba telah sepenuhnya selaras dengan kehendak Ilahi.
Menjaga Akidah: Antara Fana’ul Fana’ dan Klaim Ketuhanan
Tentu saja, konsep setinggi ini tidak luput dari potensi penyimpangan. Sejarah mencatat kasus-kasus di mana pengalaman fana’ disalahpahami sebagai ittihad—penyatuan ontologis antara hamba dan Tuhan—atau hulul—inkarnasi Tuhan dalam diri manusia. Al-Hallaj dieksekusi karena ucapannya “Ana al-Haqq” (Akulah Kebenaran). Bayazid al-Bisthami dalam keadaan mabuk spiritualnya mengucapkan “Subhani, ma a’dhama sya’ni” (Mahasuci Aku, betapa agungnya Aku).
Bagaimana para sufi Sunni yang otoritatif merespons hal ini? Mereka memberikan kerangka yang sangat ketat:
Pertama, Fana’ul Fana’ adalah pengalaman syuhudi, bukan wujudi. Yang lenyap adalah kesadaran subjektif, bukan entitas ontologis. Ketika seorang sufi dalam keadaan Fana’ul Fana’ mengatakan “tidak ada yang wujud kecuali Allah,” ia sedang mengungkapkan pengalaman kesaksiannya, bukan membuat pernyataan metafisis bahwa dirinya tidak ada. Tuhan tetap Tuhan, hamba tetap hamba. Hanya saja, dalam pengalaman itu, sang hamba kehilangan kesadaran akan perbedaan itu.
Kedua, Fana’ul Fana’ harus berujung pada sahw, bukan sukr permanen. Sebagaimana ditekankan oleh al-Junaid, sufi sejati adalah mereka yang kembali ke kesadaran jernih setelah pengalaman fana’. Mereka tidak terus-menerus dalam keadaan mabuk spiritual, melainkan kembali ke dunia untuk membimbing, mengajar, dan menjadi rahmat. Ucapan-ucapan ganjil yang keluar dalam keadaan sukr tidak boleh dijadikan landasan akidah.
Ketiga, syariat tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan. Al-Kamasykhanawi menegaskan bahwa kewalian tidak mungkin dicapai dengan mengabaikan syariat. Justru syariat adalah fondasi yang di atasnya bangunan ruhani ditegakkan. Siapa yang mengaku mencapai Fana’ul Fana’ tetapi meninggalkan shalat, zakat, atau hukum-hukum syariat lainnya, maka pengakuannya adalah dusta. Para wali sejati adalah mereka yang paling ketat dalam menjalankan syariat, karena mereka memahami bahwa syariat adalah jalan yang mengantarkan kepada hakikat.



