SURABAYAONLINE.CO – Bandara Soekarno-Hatta malam itu dipenuhi koper, doa-doa, dan wajah haru para calon jamaah umroh.
Di antara rombongan itu, ada seorang wanita paruh baya bernama Bu Henny. Kerudungnya sederhana. Tasnya kecil dan sudah kusam di bagian pegangan. Sandalnya pun tampak murah dibanding jamaah lain yang sibuk memamerkan koper mahal dan parfum Timur Tengah.
“Bu, koper umrohnya cuma satu?” tanya seorang ibu sambil tersenyum tipis. “Iya, Bu… seperlunya aja…” jawab Bu Henny pelan. Beberapa jamaah lain saling melirik. “Anaknya gak ikut nganter?” celetuk seseorang lagi. Bu Henny hanya tersenyum kecil. “Anak saya lagi kerja…” Jawaban itu dianggap biasa saja. Tak ada yang tertarik bertanya lebih jauh.
Padahal sejak suaminya meninggal belasan tahun lalu, Bu Henny sendirilah yang membesarkan anak laki-lakinya dengan berjualan nasi uduk di depan gang sempit setiap subuh. Ia pernah kehujanan sambil mendorong gerobak. Pernah juga menahan lapar agar anaknya tetap bisa sekolah. Bahkan saat anaknya masuk sekolah penerbangan, Bu Henny menjual satu-satunya sawah warisan keluarga. “Biar kamu sekolah tinggi, Nak… Ibu gak mau kamu hidup susah kayak Ibu…” Kalimat itu masih diingat jelas oleh anaknya sampai hari ini.
Pesawat tujuan Jeddah akhirnya siap berangkat. Bu Henny duduk di dekat jendela. Tangannya terus menggenggam tasbih kecil. Sementara beberapa jamaah lain sibuk foto-foto. “Kalau anak saya mah kerja di perusahaan minyak…” ucap seorang ibu dengan nada bangga “Kalau anak saya dokter spesialis…” Bu Henny hanya diam sambil tersenyum.
Tak lama kemudian suara pilot terdengar dari pengeras kabin.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam para jamaah umroh. Perkenalkan, saya Kapten Alif Pratama yang akan menerbangkan perjalanan anda menuju Jeddah malam ini…”
Semua mendengarkan biasa saja. Namun beberapa detik kemudian, suara sang pilot berubah pelan. “Dan malam ini… izinkan saya menyampaikan sesuatu yang sangat pribadi…” Para jamaah mulai saling pandang. “Di pesawat ini… ada ibu saya tercinta yang akhirnya bisa berangkat umroh setelah bertahun-tahun berjuang membesarkan saya…” Suasana mendadak hening. Bu Henny terdiam. Tangannya gemetar. “Saya hanya anak penjual nasi uduk. Ibu saya yang membiayai sekolah saya sampai saya bisa duduk di cockpit hari ini…”
Beberapa jamaah mulai menoleh ke segala arah. “Saya tahu Ibu pasti malu disebut… tapi malam ini saya ingin seluruh penumpang tahu… bahwa yang paling hebat di pesawat ini bukan pilotnya… melainkan ibu saya…”
Dua pramugari kemudian berjalan mendekati kursi Bu Henny. “Assalamualaikum, Ibu Henny ya Bu?” Bu Henny bingung lalu mengangguk pelan. “Kapten meminta kami menjaga Ibu selama perjalanan…” Mendadak seluruh jamaah menatap Bu Henny dengan wajah tak percaya. “Ibu itu… ibunya pilot?” bisik seseorang. “Masya Allah…”
Seorang ibu yang tadi sempat meremehkan langsung menunduk malu. Bu Henny sendiri sudah menangis pelan. Untuk pertama kalinya dalam hidup ia merasa perjuangannya benar-benar dihargai.
Saat pesawat stabil di udara, Kapten Alif meminta izin keluar sebentar dari cockpit setelah prosedur memungkinkan. Ia berjalan menuju kursi ibunya. Semua jamaah spontan memperhatikan.
Kapten Alif lalu berlutut di hadapan Bu Henny. Mencium tangan ibunya lama sekali. “Ibu… akhirnya Alif bisa menerbangkan Ibu ke Tanah Suci…” Tangis Bu Henny pecah. “Ibu cuma jualan nasi uduk, Nak…
gak nyangka Allah kasih hidup sejauh ini…”
Kapten Alif menggenggam tangan renta itu erat. “Justru karena nasi uduk itulah Alif bisa sekolah… bisa jadi pilot… dan bisa membanggakan Ibu…” Beberapa jamaah ikut menangis haru. Ada yang diam-diam menghapus air mata. Ada pula yang mulai malu karena tadi sempat memandang rendah Bu Henny hanya dari penampilan.
Di atas langit malam menuju Jeddah semua orang akhirnya sadar: bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari pakaian mahal, koper mewah, atau banyaknya cerita tentang jabatan anak.
Kadang wanita sederhana yang duduk diam dikursi pojok itulah orang tua paling hebat. Karena di balik tangannya yang kasar ada doa, air mata dalam sembah sujudnya itulah lahir anak yang mampu menerbangkan ratusan bahkan ribuan manusia menembus langit menunaikan salah satu rukun Islam.
“Jangan pernah malu dengan kesederhanaan orang tuamu.” Sebab bisa jadi, doa dan air mata merekalah yang membuatmu terbang setinggi langit.”


