SURABAYAONLINE.CO, Probolinggo – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama ulama sekaligus tokoh sufi dunia, Al Sheikh Al Sayid Afeefuddin Al-Jailani menyapa ribuan santri dan santriwati Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, Senin (18/5).

Kehadiran Gubernur Khofifah dan Sheikh Afeefuddin disambut penuh antusias oleh para santri dan santriwati melalui lantunan salawat nabi. Kunjungan ini menjadi momentum penguatan nilai-nilai keislaman, pendidikan karakter, serta motivasi bagi generasi muda pesantren agar terus bersemangat menuntut ilmu dan menjaga akhlakul karimah.

Dalam kesempatan ini, Gubernur Khofifah menyampaikan rasa bahagia dan bangganya dapat kembali hadir di tengah keluarga besar Ponpes Zainul Hasan Genggong. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter, moral, dan peradaban bangsa.

“Sebagai salah satu ponpes tertua di Jawa Timur, Ponpes Genggong bukan sekadar lembaga pendidikan, namun juga tumbuh menjadi benteng pertahanan moral yang sangat kokoh bagi Jawa Timur dan Indonesia,” ujarnya.

Gubernur Khofifah menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak boleh dipandang sebelah mata. Pesantren telah terbukti melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial, sekaligus menanamkan nilai nasionalisme dan religiusitas sebagai fondasi utama menjaga keutuhan NKRI.

“Bukan sekadar tempat menimba ilmu, pesantren menjelma menjadi salah satu pusat tumbuhnya peradaban sekaligus identitas sebuah bangsa,” ungkapnya.

Sementara itu, Al Sheikh Al Sayid Afeefuddin Al-Jailani dalam tausiyahnya menyampaikan harapan besar agar dari Ponpes Zainul Hasan Genggong lahir generasi ulama dan pemimpin masa depan yang mampu membawa keberkahan bagi bangsa dan umat.

Ia menekankan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mampu mengangkat derajat seseorang melebihi harta maupun kedudukan. Karena itu, seorang penuntut ilmu harus memiliki semangat belajar sekaligus semangat mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada sesama.

“Walau nantinya tidak menjadi ulama tersohor dunia, namun kita akan menjadi santri yang cinta kepada Rasullullah SAW dan mendapat cinta dari Allah SWT,” tuturnya.

Menurutnya, para santri merupakan pribadi-pribadi yang dekat dengan rahmat dan kemuliaan Allah SWT. Kesungguhan dalam menuntut ilmu juga menjadi bentuk bakti kepada kedua orang tua serta jalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat luas.(*)

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version