Oleh: Hadipras
SURABAYAONLINE.CO – Kulihat negeri ini sedang sakit.
Bukan sakit demam yang sembuh oleh obat.
Tapi sakit yang menjalar ke sumsum,
sakit yang membuat rakyat berteriak dalam bisu.

Hukum? Hukum hanyalah kuda tunggangan penguasa.
Tajam ke bawah untuk kesalahan kecil si miskin,
tumpul ke atas untuk dosa besar si kaya.
Keadilan dipajang seperti lukisan di ruang tamu —
di belakangnya, ada kamar gelap bernama tebang pilih.

Kecilkan mulutmu, rakyat!
Protes adalah bibit kriminal.
Bersuara adalah peta menuju tahanan.

Dan Tuhan?
Kami tak tahu Engkau sedang apa.
yang kami tahu: keluhan ini tak kunjung sampai,
atau sudah sampai, tapi tenggelam dalam kesabaranMu. Semoga Engkau sedang menumpuk bara murkaMu diatas kepala para penguasa munafik.

Kebaikan jadi ilusi yang kita genggam erat
agar bisa bernapas esok hari.
Kita bisikkan: “Sabarlah, sabar itu indah.”
Tapi kesabaran punya batas.
Dan batas itu sudah lama usang.

Hati pilu menjadi menu harian.
Tangisan menjadi lagu pengantar tidur.
Kehidupan macam apa ini?
Di mana orang jujur disebut naif,
orang korup disebut cerdik,
dan mereka yang melawan disebut pengganggu stabilitas?

Aku ingin berteriak seperti burung pecah kandang.
Tapi burung itu mati, kehabisan suara.
Maka kubiarkan sajak ini yang menjerit —
karena sajak adalah bahasa kegundahan
yang diteriakkan ke ruang kosmos tak bertepi.

Tuhan Pemilik Alam Semesta,
kalau Engkau masih mendengar di langit yang muram ini:
jangan beri kami ilusi lagi.
Berikan kami kemarahan yang suci,
bukan harapan yang rapuh.
Karena negeri ini sakit —
jiwanya digerogoti yang serakah,
tubuhnya diinjak sepatu bot kekuasaan.

Hei, rakyat Indonesia,
bangunlah dari tidur panjangmu.
Jangan biarkan tangisan jadi lagu pengantar tidur.
Jangan biarkan kepiluan jadi menu harian.
Karena saat semua ilusi runtuh,
hanya mereka yang berdiri
yang bisa menggenggam fajar.

(Esai puitis ala W.S. Rendra)
Surabaya, April 2026

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version