Surabayaonline.co, – SAMPANG – Kepala Bidang (Kabid) PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF/PNFI) Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sampang, Dewi Trisna mengatakan, Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Sampang tahun ini menyisakan refleksi sosiologis yang mendalam. Di balik kemeriahan simbolis di berbagai daerah, muncul peringatan serius mengenai pergeseran peran ibu sebagai pendidik utama yang mulai tergerus oleh dominasi teknologi digital.
“Jika dahulu ibu adalah pemegang otoritas moral pertama bagi anak, kini posisi tersebut menghadapi tantangan berat dari apa yang disebut sebagai “ibu-ibu baru”—yakni perangkat teknologi atau gadget”, Ujar Dewi saat di temui diruang kerjanya, Senin (20/04/2026).
Perkembangan teknologi yang masif di tengah masyarakat Sampang tanpa disadari mulai mengeliminasi interaksi personal yang hangat antara orang tua dan buah hati.
Perempuan cantik yang dikenal Smart (pintar, cerdas, atau tajam pikiran) ini juga menjabat pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang juga dikenal aktif dalam memimpin peningkatan mutu PAUD melalui akreditasi, memimpin program AKSI PAUD, serta aktif mendorong inovasi guru melalui Anugerah Guru Prima 2025.
“Peran-peran ibu kini banyak tergantikan oleh teknologi, seperti gadget, untuk itu, saatnya peran ibu lebih di tingkatkan dalam keluarga, khususnya bagi buah hatinya guna menguatkan karakter yang baik” ujar Dewi menambahkan.

Fenomena ini dinilai sebagai alarm bagi ketahanan karakter generasi masa depan bangsa, karena Sekolah sebagai dunia pendidikan akademis dan Daycare Bukan ‘Gudang’ Karakter seutuhnya.
Bagi perempuan karier, tuntutan profesionalitas sering kali memaksa mereka mengalihkan peran pengasuhan ke satuan pendidikan seperti daycare, PAUD, hingga sekolah formal. Namun, terdapat penekanan kuat bahwa lembaga-lembaga tersebut hanyalah media pendukung.
Pembentukan moral dan karakter tetap menjadi tanggung jawab utama ibu di rumah yang tidak boleh tergantikan.
Sementara Lembaga formal yang terbatas hanya berfungsi membantu dan tidak bisa menggantikan ikatan batin dalam pendidikan keluarga.
Untuk itu, Hari Pahlawan Nasional Ibu Kartini harus menjadi momen untuk merebut kembali takhta ibu sebagai garda terdepan pendidikan anak, dan Ibu Pahlawan dalam keluarganya.
Perjuangan perempuan modern di Sampang saat ini bukan lagi sekadar mencari pekerjaan, melainkan menjaga keseimbangan. Menjadi perempuan yang melek teknologi dan sukses berkarier adalah sebuah keharusan, namun pendidikan karakter anak di ruang tamu sendiri tidak boleh dikorbankan.
Kesadaran akan peran vital ini menjadi kunci agar cita-cita luhur RA Kartini dalam memajukan bangsa melalui pemberdayaan perempuan tidak hanya berhenti pada jargon, tetapi terwujud nyata dalam kualitas generasi mendatang.
Sekedar mengingatkan, Raden Ajeng Kartini adalah Pahlawan Nasional Indonesia dan pelopor emansipasi wanita pribumi yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan hak-hak perempuan.
Melalui karya tulis Kartini melalui surat-surat tentang kritik sosial dan pendidikan yang kemudian dibukukan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”, harus menjadi semangat bagi kaum perempuan dan tidak terkecuali para Ibu.(Yat/F-R)


