SURABAYAONLINE.CO – Kunjungan resmi yang dilakukan oleh jajaran pimpinan Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI), mulai dari Ketua Prodi, Sekretaris, hingga para dosen, ke IBS PKMKK bukan sekadar pertemuan administratif formal, melainkan sebuah peristiwa sosiologis dan spiritual yang mendalam. Pertemuan ini menandai sebuah ikhtiar untuk menjembatani jurang antara teori akademik di ruang kelas dengan realitas organik di dalam pesantren. Langkah ini merupakan bentuk dialektika antara institusi pendidikan tinggi dengan institusi sosial keagamaan tradisional guna menciptakan sinergi pengetahuan yang aplikatif.
Agenda besar kolaborasi ini berfokus pada desain praktikum integratif yang menggabungkan tiga pilar keilmuan strategis, yakni mata kuliah Asesmen Problematika Santri, Teknik Bimbingan Konseling Pesantren, dan Praktikum Bimbingan Konseling di Pesantren. Upaya ini merupakan manifestasi dari keinginan untuk melahirkan konselor yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan rasa terhadap denyut nadi kehidupan santri.
Melalui skema ini, dua belas mahasiswa terpilih dari semester enam, yang terdiri dari tujuh mahasiswi dan lima mahasiswa, di beri kesempatan untuk melakukan “ziarah observasi” selama tiga hari dua malam. Observasi ini membawa misi untuk melakukan penggalian data yang mendalam melalui instrumen yang telah dirancang secara rigit untuk membedah realitas psikososial di pesantren. Observasi ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan sebuah perilaku spiritual untuk memahami manusia. Para mahasiswa ditantang dan tuntut untuk melihat melampaui permukaan santri, mereka tidak hanya mendata masalah, tetapi juga meresapi nilai-nilai yang hidup di balik tembok pesantren. Bekal pengalaman ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi mereka sebelum terjun ke dalam riset ilmiah yang sesungguhnya, di mana ketajaman analisis harus berjalan beriringan dengan empati yang jernih.
Para Mahasiswa ini di harapkan mampu mendalami nilai-nilai spiritualitas pesantren, hubungan antara guru dan murid sering kali menjadi pusat perhatian banyak orang. Di sini, narasi tentang “cinta kepada guru” mendapatkan pemaknaan ulang yang lebih substantif. Sebagaimana yang sering dipahami dalam tradisi pesantren, cinta seorang santri kepada gurunya bukanlah sekadar formalitas yang diuji melalui simbolisme cium tangan atau menundukkan kepala saat berpapasan. Tindakan tersebut memang merupakan norma kesantunan, namun secara esensial, cinta yang sejati hanya dapat diuji melalui kesetiaan pada nilai dan norma yang ditransformasikan melalui keteladanan. Mahasiswa diharapkan mampu menangkap fenomena bagaimana nilai-nilai luhur tersebut dapat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh santri melalui perilaku nyata sang guru di kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, praktikum integratif ini bertujuan untuk membentuk konselor masa depan yang memahami bahwa bimbingan dan konseling dalam bingkai Islam adalah sebuah seni kehadiran. Mahasiswa diajak untuk menyadari bahwa perubahan perilaku pada konseli (santri) seringkali bukan berasal dari teknik yang canggih semata, melainkan dari pancaran integritas dan keteladanan seorang pembimbing. Dengan mengobservasi bagaimana pola interaksi, pola asuh, dan pola penyelesaian masalah di IBS PKMKK, para mahasiswa semester enam ini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi jembatan bagi kemaslahatan umat. Mereka belajar bahwa menjadi seorang konselor pendidikan Islam adalah tentang merawat jiwa dengan penuh takzim, sebagaimana seorang santri yang mencintai gurunya dengan cara menghidupkan nilai-nilai luhur sang guru dalam setiap hela napas kehidupannya.


