Oleh: Hadipras

SURABAYAONLINE.CO – Dalam filsafat politik klasik, Plato memperkenalkan konsep Noble Lie atau “Kebohongan Mulia”—sebuah narasi buatan penguasa yang disebarkan demi menjaga harmoni dan stabilitas sosial. Di era modern, konsep ini bertransformasi menjadi Systemic Preservation (Pelestarian Sistem). Logikanya sederhana namun berwajah dingin: demi mencegah kepanikan pasar dan chaos sosial, narasi optimisme harus terus diproduksi, meskipun fondasi ekonomi di bawahnya mulai retak.

Kepemimpinan sejati, seperti kata Vaclav Havel, seharusnya menghadirkan harapan di tengah penderitaan dan peluang di tengah kehilangan. Aura kepemimpinan yang bijak dan heroik dapat dipahami masyarakat, jika dan hanya jika pemimpin tersebut tidak mengambil langkah ugal-ugalan serta jujur berpihak pada mereka yang lemah.

Bagi kelas menengah Indonesia, narasi optimisme ini kian hari kian terasa seperti fatamorgana. Data berbicara lebih keras dari retorika: sepanjang 2019-2024, jumlah kelas menengah anjlok sebanyak 9 juta orang, dan pada tahun 2025 saja, menyusul 1,1 juta orang lainnya yang terlempar dari zona nyaman mereka. Ironisnya, belum terlihat respons serius dari pemegang otoritas.

Di tengah laporan pertumbuhan PDB yang konstan di angka 5%, terdapat realitas yang tidak tertangkap oleh radar statistik sektoral: sebuah deplesi daya beli yang sistematis. Menggunakan kacamata ekonomi spasial, kelas menengah adalah “lahan produktif” yang terus dipanen tanpa jeda pemulihan. Mereka adalah pembayar pajak yang patuh dan konsumen yang loyal, namun menjadi kelompok yang paling minim menerima subsidi negara.

Beban biaya hidup—pendidikan, kesehatan, hingga cicilan hunian—meningkat jauh lebih cepat daripada kenaikan pendapatan riil. Inilah yang kita sebut sebagai fenomena Tired Soil (Tanah Lelah) dalam struktur ekonomi kita. Nutrisi ekonomi kelas menengah terus diperas untuk menopang defisit anggaran dan ambisi pembangunan infrastruktur masif, sementara daya regenerasi finansial mereka melemah.

Akibatnya, alih-alih naik kelas, banyak yang justru tergelincir kembali ke zona “rentan miskin.” Indikasi Bank Dunia bahwa kemiskinan di Indonesia sebagai negara berkembang menengah atas sekitar 60% menjadi makin tidak bisa dipungkiri.

Di titik inilah Middle Income Trap bukan lagi sekedar teori, melainkan ancaman eksistensial. Kita terjebak ketika keunggulan upah murah hilang, namun inovasi nilai tambah tinggi belum tercapai. Narasi “hilirisasi” memang gencar, namun tanpa literasi publik dan kualitas SDM yang radikal, kita hanya berpindah dari mengekspor bahan mentah menjadi bahan setengah jadi yang nilai tambahnya tetap dinikmati pemilik modal besar atau entitas asing.

Tekanan kian berat dengan ketimpangan Balance of Payments (BOP) dan pembengkakan utang luar negeri. Untuk menutupi defisit, instrumen pajak kian agresif menyasar konsumsi. Saat daya beli turun, mesin pertumbuhan domestik melambat. Di sinilah Noble Lie berperan sebagai “obat penenang”; angka kemiskinan dipoles melalui pergeseran indikator agar kegagalan struktural tidak memicu mosi tidak percaya.

Dalam kondisi Post-Truth, validasi kebijakan tidak lagi dicari melalui debat rasional, melainkan melalui penguasaan narasi media sosial. Kritik mengenai utang atau penurunan daya beli sering kali dibenturkan dengan sentimen nasionalisme sempit atau dialihkan dengan isu populis. Padahal, secara intelijen ekonomi (klasifikasi A1 hingga B2), data menunjukkan masyarakat sedang melakukan dissaving (menggerus tabungan) demi kebutuhan pokok. Ini adalah alarm merah bagi stabilitas jangka panjang.

Akhirnya kita harus mengakui bahwa membongkar seluruh lapisan “Kebohongan Mulia” secara frontal berisiko melahirkan chaos. Namun, terus-menerus membius publik dengan narasi “semua baik-baik saja” di saat kelas menengah sedang “kehabisan napas” adalah bentuk pengabaian yang berbahaya.

Literasi publik menjadi krusial agar masyarakat menjadi subjek yang kritis, bukan sekedar objek kebijakan. Kita membutuhkan transparansi, bukan sekedar pelestarian sistem yang kaku. Sebab, sistem yang bertahan dengan cara mengorbankan pilar penyangganya sendiri pada akhirnya akan runtuh oleh beban ketimpangannya sendiri.

Sebagai catatan penutup: “Dalam statistik resmi, kita melihat angka kemiskinan turun karena garis batasnya diletakkan di lantai. Namun di dunia nyata, kelas menengah sedang sibuk berjinjit dan berusaha agar hidung mereka tetap berada di atas permukaan air yang terus naik.”

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version